Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Teror


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Setiap harinya selalu saja ada kiriman buat Santi entah itu sekedar ucapan selamat pagi dari sepucuk surat di meja luar atau bunga bahkan makanan yang di antar kurir.


Agus merasa risih begitupun Santi. Saat keduanya berencana mencari tau karena awalnya di anggap tidak penting tapi lama-lama membuat Agus muak.


Saat di kantor juga Agus terus kepikiran takutnya apa yang di katakan Zihan itu benar.


Pagi ini Agus menyuruh seseorang untuk memasang CCTV di tiap sudut luar rumahnya.


Saat malam tiba Agus dan juga Santi memperhatikan CCTV itu. Dengan mimik muka yang kesal Agus terus memperhatikannya dengan jeli.


Terlihat di layar handphone ada sosok laki-laki yang memakai pakaian serba hitam, dengan topi lebar yang menutupi sebagian wajahnya. Tidak menunggu lama Agus dan Santi segera membuka pintu utama tersebut mereka sengaja memantau di balik pintu utama.


"Sial. Kemana larinya orang itu?" Ucap Agus kesal.


"Kita lihat ulangan CCTVnya aja mas," ucap Santi.


Disana terlihat seorang lelaki itu menaruh bunga dengan cepatnya, seperti hembusan Angin.


"Oke, malam ini kita gagal. Kita lihat lagi besok malam" ucap Agus seraya meninggalkan Santi di luar sendirian.


Ketika mereka sibuk memperlambat vidionya dengan hasil yang sama sekali tidak membuahkan hasil.


Agus pun pergi ke kamar Zihan karena Agus terus kepikiran dengan ucapan Zihan.


Dan di saat Santi menemui kliennya di sebuah resto yang lumayan agak jauh dari rumahnya, ia tersermpet sebuah mobil mewah hingga mobil itu lecet-lecet.


Yang mengendarai mobil itu akhirnya memberhentikan Santi untuk memintai pertanggung jawabannya, tapi Santi juga kekeh dengan keadaan yang menyatakan bahwa dia korban serempetan mobil jadi seharusnya yang mengendarai mobil itulah yang tanggung jawab atas semuanya.


Keadaan Santi baik-baik saja ia pun tidak terjatuh tapi ia tidak mau di manfaatkan sama orang asing.


Lelaki itu kemudian meminta maaf dan malah meminta nomor handphone kepada Santi. Santi kebingungan ia tahu ini pasti sebuah modus seorang penjahat yang bisa dikatakan begal itu.

__ADS_1


Dengan taki-taki Santi mulai memasang kuda- kuda buat lari dari lelaki itu, tapi dengan mata lincahnya lelaki itu tahu akan niat Santi yang ingin melarikan diri.


Tanpa basa-basi lelaki itu mencium bibir Santi dan segera meninggalkan Santi sendirian. Akhirnya Santipun mengejarnya ia tidak terima telah di lecehkan sembarangan oleh lelaki asing.


Jalanpun sepi sangat jarang orang yang lewat jalan sini, ini adalah jalan kampung yang sangat sepi rawan begal juga kalau malam, santi memilih jalan ini karena jalan ini paling cepat membuatnya sampai di resto tempatnya ia ketemuan.


Mobil yang di bawa lelaki itu memang pesuruh dari nayla, nayla sedikit memperlambat penderitaan Santi, mobil itu tidak di lengkapi dengan plat nomor yang menyusahkan Santi untuk melapor polisi.


Nayla menyewa seorang mahasiswa yang mempunyai gerak lari sangat cepat ia juga tampan, ia menerima tawan Nayla karena ia sangat butuh buat biaya hidup dan untuk bayaran kuliahnya.


Santi masih merasa kesal, saat Agus pulang mata Santi menajam melihat kedatangan suaminya.


"Bagai mana kabar selingkuhan kamu itu, tadi ada lagi ngga?" Ucap Agus sembari melepaskan sepatunya dan sedikit mengatur napas panjang.


"Selingkuhan aku mas!? Oh.. jangan-jangan ini akal-akalan kalian berdua menyuruh seorang laki-laki mendekatiku dan kamu bisa seenaknya menceraikan aku kan mas?" Ucap Santi dengan nada gemetar.


"Istri munafik!" Agus ngeloyor pergi ke kamar Zihan.


Hatinya yang masih jengkel akibat perbuatan lelaki asing tadi sampai terbawa sampai ke rumah.


Sekarang Santi mulai sibuk sering keluar rumah makanya ia memiliki baby sitter untuk menjaga anaknya, baby sitternya pun tetangganya jadi sering kali juga el di bawa kerumahnya, kebetulan juga tetanggaan jadi memudahkan Santi untuk tetap memantau anaknya itu. Ia menitipkan el dari jam 8 sampai jam 8 lagi kadang kalau Santi tidak ada kerjaan ia meliburkan baby sitternya.


"Santi!" Teriak zihan.


"Ya, ada apa?" Jawab Santi.


"Ambilkan baju nya mas Agus dong. Mas Agus kayaknya tidak mau lagi deh tinggal sama kamu. Udah jijik sama istri tukang selingkuh" ucap zihan meledek.


Mama papa juga sepertinya udah termakan perkataan dari zihan, sikapnya mulai berbeda.


Langit sore begitu cerah tidak seperti biasanya Santi duduk di halaman pojok dengan secangkir teh hangat dan melamun, melamunkan nasibnya yang penuh lika-liku.


Ia tidak tahu apa alasan ada seseorang menerornya hampir setiap hari.

__ADS_1


"Paket!"


Teriak kurir di halaman depan.


Santi langsung mendatangi kurir itu, di tanyanya kiriman dari siapa, dan kurir itu hanya menjawab dari orang yang dulu pernah ada.


Santi marah pada kurir itu dan ia memperingati supaya ia tidak balik lagi ke rumah ini.


Santi marah dengan meledak-ledaknya pada kurir itu. Agus, Zihan dan mama pun ikut melihat keluar.


Rasa kecewa Santi pada Agus dan juga rasa marahnya pada Zihan ia lampiaskan pada kurir itu.


Si abang kurir yang tidak tau apa-apa hanya bengong dengan kata-kata Santi yang amat dalam atas kepahitan hidupnya.


"Mba, saya cuma kurir saya tidak tau apa-apa tentang masalah rumah tangga mba. Mba yang sabar aja ya mba," ucap abang kurir menyerahkan sebuah kotak tanpa data pengirim itu.


Santi meraung-raung menangis seperti anak kecil dan berjalan ke kamarnya, dunia memang tidak pernah berpihak padanya.


Agus dan yang lainnyapun bengong melihat aksi Santi yang meluapkan emosinya dengan penuh drama.


Mama mengikuti Santi masuk ke dalam sambil menggelengkan kepalanya, mama juga seringkali merasa iba ketika melihat apa yang di lakukan Santi, Santi tak pernah mengeluh sedikitpun saat disuruh ini itu tapi kali ini mama mendengar suara isi hati Santi yang memperhatinkan.


"Mas kok aku kasihan ya melihat Santi seperti itu." ucap Zihan dengan tatapan mata yang kosong.


"Iya tapi kita tidak tahu apa maksud di balik semua ini" jawab Agus.


"Ya sudahlah kita masuk yuk mas" ajak Zihan.


Seketika rumah itu menjadi sepi.


Suasana begitu hening, semua berdiam di kamarnya masing-masing. mama mertua yang merasa tersindir dengan ucapan Santi tadi sore menjadikan ia tidak nafsu buat makan malam, begitupun dengan yang lainnya.


Zihan juga merasa bersalah atas apa yang telah dia ucapkan pada Agus waktu itu, ucapan yang selalu memanas-manas keadaan.

__ADS_1


__ADS_2