
Tak dirasa tubuh yang sudah lengket oleh keringat. Rasa lelah dan penat yang dirasa Nayla dan Zidan tak membuat keduanya tertidur bahkan beristirahat sebentar saja. Sesekali Nayla dan Zidan mengambil camilan sebuah roti yang sudah dibeli sebelumnya dikantin rumah sakit hanya untuk mengganjal perut mereka yang belum terisi nasi.
"Mas apakah kau pernah mendengar Nikita membicarakan seorang pria ?"
"Tentu tidak Nay. Dia sangat menghargaimu sehingga tak berani mengajakku berbicara jika tak ada kamu disisi ku. Apalagi untuk bercerita mengenai pujaan hatinya yang selama ini ia sembunyikan. Kita setidaknya harus mengurus jenasah Nikita secara layak dan membuat pria yang ia cintai datang kepemakanan nya nanti"
Nayla menganggukan kepala dan mulai tersenyum kearah suaminya.
Tak lama kemudian keduanya kini sudah berada dihalaman villa yang begitu sepi tanpa ada seorangpun disana. Sekian lama mereka menempati villa ini bersama Nikita dan Hamdi, sekarang villa itu terasa sunyi tanpa keduanya.
"Kuatkan hatimu Nay" gumam Nayla pelan.
Zidan menggenggam erat tangab istrinya dan mulai berjalan beriringan disampingnya. Udara yang begitu dingin serta suasana villa yang begitu sepi membuat Nayla merasa sedikit takut akan suasana baru di villa tersebut.
"Jangan takut Nay, takan ada yang berani mengganggu kita jika kita tak mencari gara gara. Lagi pula kita hanya ingin mencari tahu tentang pria yang dicintai Nikita disini. Dan tak mungkin arwah Nikita menganggu kita sebab orang yang sudah tiada takan bisa bergentayangan apalagi menganggu orang yang masih hidup. Hanya jin yang menyerupainya yang menganggu serta menjahili manusia"
"Iya mas aku tahu. Tapi aku takut karena disini sangat minim pencahayaan mas. Aku juga yakin kalau Nikita sudah tenang dialamnya sana"
Nayla memegang erat tangan suaminya yang mulai mencari saklar lampu. Hingga detik kemudian Zidan menghidupkan lampu dan membuat Nayla sedikit lega.
"Ayo kita pergi kekamar Nikita Nay" ajak Zidan dengan lembut.
Zidan dan Nayla kini tengah berjalan pelan menaiki anak tangga dan menuju ke kamar yang selalu Nikita tempati saat mereka berada di villa tersebut. Tak ada canda tawa serta keseruan yang selalu Nikita lakukan dirumah ini. Hanya keheningan dan suasana yang sepi, kini menyelimuti villa mewah yang berada dikawas berudara sejuk.
Kaki Zidan yang berangsur pulih kini mulai bisa berjalan tanpa bantuan Nayla walaupun terkadang ada sedikit rasa ngilu dibagian pahanya.
Perlahan lahan Nayla mengusap setiap jengkal pernak pernik yang tersusun rapih di atas meja rias Nikita. Jam tangan, make up, serta beberapa miniatur gitar kecil tersusun rapih berjejer disamping foto cantik seorang anak perempuan yang sedang duduk bersama seorang anak laki laki.
Nayla merasa terenyuh melihat penampakan foto kedua anak kecil yang tersenyum bahagia difoto tersebut. Tak terasa air matanya menetes kala mengingat kegembiraan dan keceriaan yang Nikita tunjukan, padahal kenyataannya ia memiliki masa lalu yang begitu menyakitkan.
Nayla membuka foto tersebut dari figuranya dan melihat apakah ada petunjuk mengenai siapakah anak lelaki yang berada disamping Nikita saat kecil. Hingga saat ia melihat tulisan dibelakang foto, ia melihat ada nama Hamdi disana.
"Mas coba lihat betapa cantiknya Nikita. Memang benar, kecantikan yang ia miliki sudah ada sejak ia masih kecil. Dan mas kau tahu ini foto Nikita dan Hamdi saat kecil. Apakah Hamdi adalah orang yang selama ini ia cintai?"
"Tentu saja bukan Nay. Mana mungkin Nikita mencintai Hamdi yang notabene adalah sepupunya sendiri. Lagi pula itu foto kan memang saat mereka masih kecil. Dan kau juga tahu bahwa Nikita dan Hamdi sering sekali bermain saat itu. Jadi wajar saja jika Nikita memajang foto tersebut"
"Hemh iya mas, mungkin aku terlalu bersemangat hingga menganggap bahwa Nikita mencintai Hamdi"
__ADS_1
Dalam lubuk hati Nayla yang paling dalam, ia sedikit mulai menaruh curiga bahwa orang yang Nikita cintai adalah Hamdi sebab ia bahkan rela melakukan apapun hanya untuk Hamdi. Ia kemudian memasang kembaki foto tersebut kedalam figura dan mengusap pelan foto tersebut.
"Kita cari dilemari bajunya Nay, siapa tahu dia menyimpan foto atau kertas apapun yang mengarah pada laki laki itu"
Nayla berjalan kearah lemari diiringi dengan Zidan yang berjalan pelan disampingnya. Keduanya kini tengah sibuk menurunkan satu persatu pakaian Nikita didalam lemari keatas kasur untuk mencari sebuah petunjuk. Hingga tak sengaja Zidan memegang sebuah kain berbentuk segitiga berwarna merah menyala. Ia kemudian melemparkannya dengan rasa malu dan canggung pada Nayla.
Seketika ia pun menarik nafasnya dalam dalam dan melirik kearah istrinya yang saat ini diam mematung dengan wajah yang datar.
"Jangan bertindak tak sopan dikamar ini mas. Ingat! Nikita sudah tiada dan kau tak boleh memikirkan apalagi bertingkah laku tak baik" Nayla yang kesal kini menurunkan pakaian Nikita sendirian dan mengeser tubuh kekar Zidan kesampingnya.
"Sudah! biar aku yang mencari disini. Kau cari saja dilaci atau dibawah kasur"
Zidan mengangguk dan mulai membuka satu persatu pintu laci. Beberapa surat yang berisikan catatan penting mata pelajaran kuliah kini Zidan perhatikan satu persatu. Hingga hatinya begitu ikut terenyuh dengan kata kata motivasi yang Nikita tulis dibagian belakang salah satu proposal kuliahnya.
...Gapailah mimpimu ketika seribu orang berusaha menjatuhkanmu....
...Kau harus kuat terbang tanpa sepasang sayap yang berada dibelakangmu....
...Jika kau lelah, lihatlah siapa yang selama ini membantu hidupmu....
...Terkadang, cahaya yang membuat kita tak merasa ketakutan justru berada dari luar sama halnya dengan mentari yang berusaha membantu menghangatkan jiwamu....
Beberapa setifikat pengahargaan atas nama Nikita tersusun rapih disebuah map yang kini dibuka oleh Zidan. Tangannya begitu oelan membuka setiap lembaran lembaran kertas tersebut sebab takut bahwa akan ada informasi mengenai pria tersebut yang akan ia lewatkan.
Disaat Zidan membuka lembaran kertas yang berada dimap. Nayla yang saat ini tengah menurunkan pakaian Nikita tak sengaja menjatuhkan sebuah lukisan kertas yang Nikita buat dengan pensil.
"Lihat mas ini wajah pria yang Nikita lukis"
Sontak saja perkataan Nayla menbuat Zidan bangkit dan berjalan kearah sang istri.
"Sepertinya wajah ini tak asing Nay" jawab Zidan seraya meneliti lukisan tersebut.
Tanpa diduga duga foto Nikita dan Hamdi semasa kecil yang tadi Nayla simpan kembali diatas laci terjatuh keatas lantai dengan keras, hingga membuat kaca figuranya pecah berhamburan padahal disana tak terdapat fentilasi udara sehingga tak mungkin ada angin yang masuk kedalam kamar selagi pintu balkon tertutup.
Nayla dan Zidan sontak saja terkejut dan saling pandang hingga tak lama keduanya perlahan menghampiri foto Nikita dan Hamdi yang sudah tergeletak dengan serpihan kaca.
"Apakah ini sebuah petunjuk mas?" tanya Nayla dengan ragu.
__ADS_1
"Mungkin saja Nay. Tapi coba kita perhatikan lagi lukisan yang digambar Nikita apakah mirip dengan wajah Hamdi atau tidak"
Nayla mengambil kembali lukisan wajah pria yang sempat ia simpan diatas kasur karena terkejut dan kemudian mencoba melihat lebih detail lukisan tersebut. Zidan meneliti setiap inci gambar wajah pria tersebut hingga ia menemukan sebuah huruf huruf yang Nikita susun dengan menyamarkannya diantara garis rambut pria yang ia lukis.
"Nay coba perhatikan rambut lukisan ini"
"Apa mas maksud rambutnya terlihat gondrong?"
"Bukan itu maksudku Nay. coba kau lihat lebih detail lagi garis halus rambut pria ini yang Nikita lukis membentuk sebuah huruf M. Dan dibagian sebelah kanan telinga sang pria terlihat jelas bahwa Nikita menggambar rambutnya membentuk huruf A"
Nayla dan Zidan kini sibuk mencari huruf huruf yang Nikita samarkan dibagian rambut lukisannya. Hingga kemudian mereka mencoba menerka nerka nama yang Nikita maksud.
"...A....M...I" gumam Nayla pelan.
"Ini ada huruf H Nay"
"H...A...M...I...D"
"Hamid? siapa pria itu Nay?"
"Kukira yang dimaksud Nikita bukan Hamid mas melainkan Hamdi mas. Aku yakin sekali bahwa selama ini Nikita sangat mencintai Hamdi sehingga ia rela membantu misi ini agar Hamdi merasa bahagia"
Zidan tertunduk merenungi yang dikatakan Nayla.
"Sepertinya adikku datang membuat hatinya Nikit hancur Nay. Hamdi mencintai Siska tapi ia tak mau melihat sedikitpun cinta dimata Nikita. Kasihan Nikita yang harus berusaha kuat ketika orang yang ia cintai mencintai orang lain"
"Kadang cinta itu butuh pengorbanan mas. Jika Allah tak menakdirkan mereka untuk bersama, maka Allah sudah ciptakan kebahagiaan yang lebih indah untuk makhluknya. Sesakit apapun hatimu dikala patah hati, percayalah bahwa Allah akan memberikanmu obat yang bisa membuatmu lupa akan rasa sakit itu. Nikita begitu baik dan sabar, aku yakin Allah pasti akaj menempatkannya di tempat yang paling baik dan terbaik"
"Amiin" jawab Zidan pelan.
"Ya sudah mas. Kita harus segera berganti pakaian dan juga menyiapkan pakaian untuk Hamdi dirumah sakit. Sekarangkita tahu bahwa Nikita begitu mencintai Hamdi dan kita harus mengatakan itu semua pada Hamdi disaat yang sudah tepat. Biarkan Hamdi tenang dulu dan jika memungkinkan , kita suruh saja Siska datang kesini untuk membuat Hamdi jauh lebih baik" sambung Zidan pada Nayla.
"Tapi mas, bayi Siska masih kecil, tak mungkin jika ia harus naik pesawat"
Zidan terdiam mendengarkan perkataan Nayla yang memang benar adanya.
"Ya sudah, kita pikirkan nanti saja maslah itu. Sekarang kita buat dulu Hamdi merasa lebih baik dan kita harus membuat Nikita bahagia dengan menyatakan cintanya pada Hamdi diwaktu yang tepat"
__ADS_1