Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Mencoba


__ADS_3

Andi tersenyum licik memikirkan bagaimana dia akan hidup bahagia bersama Siska. Ia begitu bersemangat untuk mendapatkan Siska seutuhnya walaupun ia harus dipenjara seblumnya.


"Sebelum aku ditangkap dan di adili oleh polisi, akan ku buat Siska jatuh cinta dan bertekuk lutut dihadapanku. Aku bersumpah tak ada yang bisa bersanding dengannya selain diriku"


Andi membasahi seluruh tubuhnya dengan air keran yang membasahi rambut serta tubuhnya.


Air keran yang dingin membuat suasana hatinya menjadi lebih baik dan berbunga bunga.


Hari ini ia begitu bahagia karena berhasil melacak keberadaan Siska dan melihat pujaan hatinya sedang bersama buah cintanya sebelumnya.


Andi mengganti pakaiannya dan mulai berjalan menuju dapur untuk memasak makanan. Ia pun kemudian memasak makanan favoritnya dengan senandung yang ia nyanyikan sebagai tanda rasa senangnya.


*******


Nayla yang saat ini bersama Siska sedang mencuci piring didapur tak henti hentinya saling bertukar cerita dan bercanda bersama. Keduanya nampak akrab sekarang berbeda dari dulu dimana saat Nayla menjadi istri kakak kandungnya sendiri yaitu Bian.


"Mbak hamil sudah memasuki bulan berapa?" tanya Siska dengan serius.


"Entahlah mbak lupa lagi Sis. Karena fokus menjalankan misi kemarin mbak pun sampai tak sadar bahwa sudah lama mbak tak datang bulan" jawab Nayla.


Siska pun menahan tawa kala mendengar penuturan kakak iparnya.


"Berarti mbak keseringan tuh sama Mas Zidan sampai sampai bisa lupa" ucaonya seraya menahan tawa.


Pipi Nayla memerah seketika mendengarkan ucapan Siska. Dengan pelan Nayla memukul pundak adik iparnya menahan malu.


"Ish kamu ini ya bisa saja"


Nayla kembali fokus mencuci piring sebab ia rasa bahwa saat ini pipinya begitu panas karena menahan malu.


"Sudah cuci piringnya belum?" tanya Ibu Widya yang tiba tiba saja datang seraya membawa bayi Siska dipangkuannya.


"I..iya bu ini sudah" Siska segera mencuci tangannya dan mulai berjalan menghampiri ibunya.


Bayi yang tadi berada digendongan Ibu Widya kini berada didalam dekapannya karena Siska rasa bayinya mulai merasa haus.


"Cup cup cup sayang, sayang" ucap Siska menenangkan bayinya yang menangis dengan keras.


"Oh ya bu, aku sama mbak Nayla mau oergi belanja keperluan dapur dulu ya"


"Iya, kamu pergi aja. Sekalian ajak anakmu itu, biar dia gampang jika merasa haus, kasihan jika harus diberi susu formula"


Siska pun mengangguk dan mulai berjalan bersama Nayla dan bayi dalam pangkuannya meninggalkan ibu Widya untuk pergi menuju pasar tradisional didekat villa tersebut.


Selang beberapa saat, Nayla dan Siska yang sudah rapih akhirnya berpamitan dengan Ibu Widya yang terlihat sedang menatap jendela.

__ADS_1


" Ibu, Siska pergi dulu ya sama Mbak Nayla"


"Iya nak. Hati hati dijalannya dan jangan lama lama. Jangan lupa juga untuk tetap berada di dekat Nayla agar kau tak terlalu kesulitan jika bayimu rewel disana"


Siska mengangguk dan mulai menyalami tangan ibunya. Nayla yang berada disampingnya pun ikut berpamitan pada mertuanya itu.


"Aku pergi dulu ya bu. Assalamualaikum" ucap Nayla dengan lembut.


"Waalaikumsalam Nay. Hati hati jangan angkat yang berat berat, ingat, ada bayi didalam perutmu itu" Ibu Widya tersenyum melihat kedua wanita muda dihadapannya yang kian berjalan menjauh.


Ibu Widya pun pergi berlalu karena merasa lelah dan ingin segera merebahkan dirinya diatas sofa ruang tamu. Diusianya yang mulai senja ia bahkan sekarang tak ingin memikirkan suaminya dan anaknya yang kini masih didalam sel penjara. Terlebih lagi ia tahu bahwa suaminya telah lama hilang kabar dan ia pun sadar mungkin suaminya sudah memiliki wanita lain.


Ia begitu maklum dengan tabiat suaminya yang tak bisa setia dengan satu wanita saja sejak mereka berpacaran. Namun Ibu Widya tetap bertahan bahkan menikah karena dulu ia pun mencari lelaki dari isi dompetnya yang tebal saja.


Cucunya sendiri pun dari Clara dan Bia ia tak begitu perduli. Terlebih lagi setelah mengetahui menantu pilihannya sudah bermain gila dengan suaminya sendiri. Entahlah, dia tak merasakan apapun kini kepada anaknya Bian. Apalagi dendam dan rasa benci di hatinya masih bersarang dan mungkin takan pernah luntur.


"Bu, lihat Hamdi gak?" tanya Zidan yang melihat ibunya sedang bersantai diatas sofa.


"Enggak, ibu gak lihat. Tadi selesai makan ia katanya pergi keluar. Mungkin sekarang ia sudah di kamarnya. Memang mau apa cari Hamdi?"


"Ini bu, aku lupa mau tanyakan kata sandi laptop milik Nikita. Pemakamannya dua hari lagi dan kita tak tahu siapa orang yang sebenarnya Nikita cintai. Kami ingin membuat orang istimewa itu tahu, betapa besar cinta Nikita sebab kita pun berhutang banyak padanya"


Ibu Widya menganggukan kepala dan mulai bangkit dari atas sofa.


"Sebaiknya kita segera cari tahu siapa sosok pria itu. Karena kita pun sudah berhutang banyak pada wanita itu. Kasihan sekali Nikita, karena ia mau membantu Siska, nyawanya pun tak tertolong"


Tak berselang lama, terlihat Hamdi yang tengah menuruni tangga dan berjalan menghampiri Zidan yang tengah berbincang dengan Ibu Widya.


"Sedang ngomoin apa bu?" tanya Hamdi yang baru saja tiba.


"Ham, seberanya aku sudah temukan laptop milik Nikita dikamarnya"


"Lalu?" ucap Hamdi singkat.


"Apa kau lupa dengan keinginan kita mendatangkan pria yang Nikita cintai dihari pemakamannya?"


Hamdi bergeming mendengarkan ucapan Zidan. Ia sebenarnya lupa akan hal itu sebab ia begitu senang bisa terus bermain dengan bayinya Siska.


"Aku lupa. Jadi apa yang ingin kau katakan sebenarnya padaku Dan?"


"Aku sejak semalaman bersama Nayla mencoba membuka sandi laptop milik Nikita namun terus saja gagal. Aku ingin bertanya padamu tengang sandi yang mungkin Nikita gunakan, seperti tanggal lahirnya ataupun kode tertentu yang mungkin hanya kau tahu"


Hamdi mulai mengerutkan kening mendengarkan setiap perkataan Zidan yang seolah olah menjadikannya sebagai acuan Nikita.


"Apa kau mengira aku tahu sandinya Dan? tentu aku tak tahu akan sandi itu, sebab aku telah lama tak berjumpa dengannya"

__ADS_1


"Tapi apa salahnya kita mencoba Ham. Lagi pula ini juga demi Nikita. Supaya ia pun lega dengan rasa cintanya pada pria itu setidaknya bisa tersampaikan"


Hamdi pun menghela nafas dan mulai mengangguk. Ia kemudian mengajak Zidan untuk menunjukan dimana laptop milik Nikita.


"Sekarang kita coba dulu siapa tahu bisa terbuka" Zidan pun berjalan didepan Hamdi dan mengajaknya untuk mengikuti langkahnya.


Hamdi yang megekor dibelakangnya hanya bisa terdiam tak menjawab apapun, sebab lukanya kembali terbuka lebar kala mendengar nama sahabatnya tersebut.


******


Sore telah tiba, dengan angin yang berhembus kencang dikamar Zidan dan Nayla. Hamdi yang saat ini tengah berdiri dibelakang Zidan melihat setiap kode yang ia masukan selalu saja salah.


"Coba nama ibunya Nikita Ham"


"Dawiah Priani" jawab Hamdi dengan tatapan fokus kelayar laptop.


Gagal


Kembali usaha mereka gagal. Dari siang Hamdi dan Zidan terus saja mencoba membuka sandi tersebut tetap saja kunci di laptop Nikita tak mau terbuka. Dari nama keluarga besar Hamdi dan Nikita sudah semua coba, bahkan nama teman mereka pun sudah Hamdi dan Zidan coba namun tetap saja gagal.


Siska dan Nayla yang sejak siang sibuk berbelanja kebutuhan rumah tangga akhirnya pulang dan mendapati Ibu Widya yang tengah terlelap diatas sofa.


"Bu. Bangun. Kenapa ibu tidur disini?" tanya Siska meggoyangkan tubuh ibunya.


"Emhhh, Siska, Nayla kalian baru pulang" jawab Ibu Widyan yang mulai terduduk.


"Iya bu, tadi aku beli dulu mainan untuk bayiku ini. Dan Mbak Nayla pun tadi membeli beberapa makanan untuk stok didalam kulkas. Ibu istirahat dikamar saja biar lebih enak dan biar ibu tak masuk angin"


Ibu Widya yang masih merasa ngantuk, mengangguk dan pergi berlalu meninggalkan Nayla dan Siska diruang tamu.


"Oh ya, dimana Mas Hamdi dan Mas Zidan bu!?" teriak Siska kencang.


"Mereka ada dikamar Zidan sedang mengotak ngatik laptop milik Nikita" jawab Ibu Widya yang tetap berlalu meninggalkan mereka berdua.


Siska menatap Nayla dan dengan isyarat, mengajaknya untuk pergi menemui Zidan dan Hamdi didalam kamar.


Saat ini Zidan dan Hamdi yang sedang mencoba membuka sandi mulai merasa frustasi dan kesal, hingga keduanya memutuskan untuk berbaring diatas ranjang.


"Sial! laptopnya tak mau terbuka"


"Iya Dan. Oh ya, bagaimana jika kita bawa saja ke tukang servis Dan?" usul Hamdi dengan tersenyum.


"Tuan Hamdi yang pintar nan cerdas, saya Zidaini yang bodoh dan tak berguna ini ,ingin memberimu informasi mengenai suatu hal yang penting ini"


"Apa?"

__ADS_1


"Tuan Hamdi yang terhormat, jika kita bawa laptop ini ke tukang servis maka tak menutup kemungkinan laptop ini bisa terbuka dan dalam aplikasinya bisa kita akses, namun data dan berkas yang ada didalamnya akan hilang dan tak bisa memberi kita petunjuk apapun te tang pria itu. Kau sungguh pintar Ham hingga aku pun ingin menangis mendengar usulanmu yang jenius itu"


Hamdi hanya bisa tersenyum dengan gigi yang terlihat. Hamdi lupa bahwa jika ia membawa laptop tersebut ke tukang servis, maka data yang ada didalam latop akan hilang, dan usahanya sejak tadi akan sia sia saja.


__ADS_2