Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Datang


__ADS_3

Pagi ini Siska sudah mengemas semua pakaiannya untuk pergi menyusul Hamdi, Zidan dan Nayla. Ibu Widya yang mengetahui akan tekad Siska hanya bisa menuruti perkataannya dan ikut pergi dengan putrinya tersebut.


Ibu Widya mengemas pakaiannya serta cucu pertamanya. Hingga akhirnya ia, Siska dan cucunya mulai berjalan menuju mobil yang terparkir dihalaman untuk pergi kebandara.


Perjalanan yang cukup jauh membuat Siska khawatir pada anaknya, namun ia sangat ingin melihat baji*ngan yang selama ini menjadai pusat trauma yang ia alami selama ini. Ya, dia memang egois karena melakukan perjalanan jauh dengan membawa seorang bayi. Usianya yang masih muda, serta ucapan ibunya yang ia acuhkan karena sifat kekanak kanakannya membuat Siska tak bisa mengalahkan keras kepalanya sendiri.


Dengan seizin dokter dan tentunya konsultasi pada seorang dokter, Siska diperbolehkan membawa bayinya pergi melakukan perjalanan dengan pesawat terbang ke Bali.


Kini hati serta pikirannya sedang berkecamuk dengan semua prasangka dan praduga yang selama ini menjadi bagian terkelam dalam hidupnya. Setelah perjuangan yang berat ia lakukan agar bisa terlepas dari kejadian mengerikan itu, kini ia harus dihadapkan dengan hal itu kembali.


Perih sudah pasti. Saat ia sudah bisa menerima semua luka dalam hidupnya, dirinya kembali harus mengorek luka itu kembali dan menuntaskan semua masalah yang sudah membuat hidupnya hancur berantakan.


Masa muda, masa depan dan hidupnya sudah hancur seiringan dengan kejadian mengerikan itu. Hanya dorongan dari keluarganya serta Hamdi ia mampu menjalani hidup dan menerima kehadiran bayi yang entah siapa ayah biologis darinya.


"Apa kamu baik baik saha nak?" tanya Ibu widya pada Siska.


"Tentu bu. Aku baik baik saja. Aku harus bisa berdamai dengan kejadian dulu dan harus mendapatkan keadilan yang diperjuangankan oleh Mas Zidan, Hamdi serta Mbak Nayla. Bahkan demi keadilan untukku ada nyawa yang ikut terenggut oleh baji*an itu bu" Siska mentap kaca jendela didalam pesawat.


Perjalanan kali ini Siska lakukan bukan untuk melakukan liburan ataupun untuk menghilangkan penat yang ada. Namun, perjalanan kali ini ia lakukan untuk penegakan keadilam yang ia harus dapatkan dan anaknya dapatkan, jangan sampai pengorbanan orang orang yang menyayanginya sia sia begitu saja.


Apalagi ada nyawa yang ikut hilang dalam pencarian bukti aksi pelecehan yang menimpanya.


*****


Kaki yang putih dan jenjang kini menapak sempurna ditanah pulau yang memiliki keindahan alam yang alami. Dengan bayi yang ia gendong dipangkuannya, Siska memejamlan mata dan mulai membaca doa agar hatinya kuat dan mentalnya tak goyah ketika berhadapan dengan para ib*lis tersebut.


Ia tak ingin sampai ada korban lagi yang harus kehilangan masa depan seperti dirinya akibat para penjahat tersebut tak diadili. Ia bahkan tak menelpon kakak serta kakak iparnya bahwa dirinya sudah sampai di kota yang sama degan mereka.


"Ayo jalan" ucap Ibu Widya seraya menepuk pelan pundak putrinya.


Siska membuka mata dengan perlahan.


"Bismillah" ucapnya pelan.

__ADS_1


Siska dan Ibu Widya berjalan dengan cepat menuju lobi bandara dan berjalan menuju parkiran mobil. Siska merogoh saku di pakaian yang ia kenakan kemudian mengeluarkan sebuah ponsel untuk menelpon Hamdi yang notabene adalah kekasihnya sendiri.


"Hallo" ucapnya datar.


"Ya, ada apa sayang?" ucap Hamdi yang terkejut mendapatkan panggilan mendadak dari Siska.


"Dimana kamu sekarang?"


"Emh aku, aku, aku ada di..." ucapnya menggantung.


"Cepat katakan aku tak punya waktu lama" Siska memotong perkataan Hamdi yang lamban.


"Aku ada di Rumah Sakit Bakti Kencana sedang ada urusan bersama klien. Memangnya ada apa kok mendadak menanyakan hal tersebut?"


"Aku hanya ingin tahu saja. Aku hanya berfikir mungkin kau sedang berlibur bersama gadis cantik di pantai. Ya sudah, aku matikan dulu telponnya. Dah"


Panggilan pun Siska akhiri. Ia tahu bahwa lokasi yang Hamdi katakan memang benar adanya, karena ia kini sudah bisa melacak keberadaan kekasihnya lewat GPS yang ia hubungkan dengan ponselnya sendiri. Tak perlu menunggu banyak waktu, Siska dan Ibu Widya menghentikan sebuah taksi dan pergi menuju rumah sakit yang Hamdi maksud.


Ketika taksi yang mereka tumpangi sudah sampai dihalaman rumah sakit, Siska yang sedang menggendong bayi disalah satu tangannya dan satunya lagi menarik sebuah koper berukuran sedang, berlari menuju resepsionis untuk menanyakan ruangan yang Hamdi gunakan.


"Maaf nyonya siapanya pasien?" tanya salah satu perawat yang bertugas.


"Saya tunangannya pasien. Dan ini ibu saya mbak"


"Baiklah kalau begitu, Pasien yang bernama Hamdi Wijaya sedang dirawat di ruangan sebelah kanan dekat mushola dilantai dua. Ruangannya tepat dibagian paling ujung lorong rumah sakit"


"Terimakasih" ucapnya singakat kemudian berjalan beriringan bersama dengan ibunya sendiri.


Siska dan Ibu Widya berjalan cepat menuju ruangan tempat Hamdi dirawat. Dengan sebuah tas cukup besar yang Ibu Widya bawa, serta sebuah koper sedang yang Siska tarik dibelakangnya, cukup membuat semua perawat memakluminya sebab mereka berfikir bahwa Siska dan Ibu Widya akan membawa pakaian untuk berlibur namun salah satu kerabatnya malah mengalami kecelakaan.


Saat dirinya sudah berada didekat pintu ruangan tempat Hamdi berada Siska memberikan bayinya pada Ibu Widya dan tas serta koper mereka simpan dilorong tersebut. Tanpa basa basi Siska mendorong pintu tersebut dengan kencang dan berjalan menuju Hamdi yang saat ini tengah menatap kosong kearah jendela.


Hamdi yang sadar akan kehadiran seseorang begitu terkejut ketika mengetahui siapa orang yang masuk kedalam ruangannya.

__ADS_1


"Siska" pekiknya pelan.


Siska memeluk tubuh Hamdi dengan sangat erat tanpa tahu bahwa punggung Hamdi masih terluka akibat peluru yang Frans dan ayahnya tembakan kearah Hamdi.


"Ashhhhh" rintih Hamdi ketika Siska menekan bagian punggungnya dengan telapak tangan cukup keras.


"Kamu kenapa?" tanya Siska ketika menyadari bahwa kekasihnya sedang kesakitan.


"Tanganmu menyentuh bagian punggungku yang sakit sayang" jelas Hamdi dengan senyuman yang ia ukir diwajahnya.


"Punggung? punggungmu kenapa? sini biar aku obati. Maafkan aku, aku tak tahu" Siska yang panik segera melihat bagian belakang punggung Hamdi mencoba melihat luka dibalik baju kekasihnya tersebut.


Hamdi tersenyum kecil melihat tingakah Siska yang begitu panik dan terlihat menggemaskan.


"Aku baik baik saja sayang. Aku hanya mengalami kejadian kecil ketika melawan baji**n itu" terang Hamdi tanpa beban.


Sampai ia tak sadar bahwa Siska sudah membuatnya lupa akan kesedihan yang selama ini ia rasakan akibat kehilangan Nikita.


"Sayangnya papah sini gendong" Ucap Hamdi seraya mencoba meraih bayi Siska dipangkuan Ibu Widya.


Dengan senang hati Ibu Widya memberikan cucunya pada calon menantunya tersebut. Hamdi tak lupa menyalami calon ibu mertuanya yang saat ini berdiri tepat disamping ranjangnya.


"Ibu gimana kabarnya sehat?"


"Alhamduillah Ham ibu sehat. Terimakasih karena sudah melakukan begitu banyak hal untuk Siska dan bayinya" ucap Ibu Widya dengan mata yang berkaca kaca.


"Itu sudah kewajiban saya bu. Saya hanya tak ingin baj**n itu berkeliaran bebas diluaran sana, sedangkan Siska harus tertekan dengan kejadian yang menimpanya dulu. Aku hanya ingin dia dan bayinya ini mendapatkan keadilan atas tindakan yang para ib*lis itu lakukan"


Hamdi menciumi seluruh wajah bayi Siska dengan gemas. Hingga pertanyaan Siska sontak saja membuatnya begitu bingung, apakah harus mengatakan kehamilan Nayla sekarang.


"Kemana Mbak Nay dan Mas Zidan? kenapa mereka tak menjagamu ketika aku tak ada?"


"Mereka sedang berkonsultasi dengan dokter diruangan sebelah"

__ADS_1


"Hemh...Aku ingin sekali melihat wanita yang kehilangan nyawanya akibat Frans, dan mengucapkan permintaan maaf serta terimakasih padanya" ucap Siska dengan lesu.


Sontak saja Hamdi menatap wajah Siska dan kembali teringat kembali pada Nikita. Wanita yang tak lain adalah sahabat sekaligus keluarganya.


__ADS_2