
Saat ini Bian tengah mendekam dibalik jeruji besi akibat ulahnya yang melakukan kekerasan terhadap Clara.
Hamdi datang kekantor polisi dengan memegang sapu tangan yang sudah ia bungkus dengan plastik dan meyerahkannya ke penyedik. Setelah dia mendapat perintah dari Zidan untuk meyerahkan barang bukti tersebut, ia langsung pergi ke kantor polisi dan membuat keterangan serta meminta agar pihak berwajib membuka kembali kasus Arumi.
Didalam sel tahanan Bian kini tengah merutuki nasibnya yang berantakan karena kesalahan yang ia perbuat.
"Andai saja aku tak mau menikahi ja*alang itu ,mungkin saat ini hidupku bahgia bersama Nayla"
Pintu sel dibuka oleh beberapa anggota polisi yang berpakaian rapih.
"Maaf sodara Bian, bisa ikut kami keruang introgasi"
"Ke...kenapa saya harus kesana pak? saa.. saya mau diapakan pak?"
"Sebaiknya anda ikut saja kami keruang introgasi. Kami hanya akan mengajukan beberapa pertanyaan pada anda mengenai kasus pembunuhan atas nama nyonya Arumi"
Mata Bian terbuka sempura, ia merasa takut dan terkejut ketika mendengar nama Arumi. Setelah ia mendapatkan hukuman atas kesalahannya kepada Clara dan Nayla, mana mungkin dia kini harus bertanggung jawab atas pembunuhan yang ia lakukan dulu pada calon kakak iparnya.
"Sa..saya gak tahu apa apa pak mengenai kasus itu. Saya hanya mengantar Mas Zidan kepanti dan dulu juga saya kan ikut Mas Zidan kekantor polisi"
"Nanti bapak bisa jelaskan disana, sekarang ikut saja dengan kami"
Bian diseret paksa oleh dua orang anggota kepolisian dan mendorongnya agar masuk kedalam ruangan yang sudah terdapat kursi serta seorang pria kekar berpakaian lengkap anggota polisi.
"Silahkan duduk pak" ucap datar seorang ria didepannya.
Tubuh Bian bergetar hebat dan keringat dingin telah membasahi seluruh pakaian yang ia kenakan.
"Anda sodara Bian kan ?"
"Iy..iya pak saya"
"Baik kalau gitu. Saya hanya ingin anda menjawab pertanyaan yang saya ajukan dengan sejujur jujurnya"
"Ba..baik pak"
__ADS_1
Polisi kini menunjukan laptop yang memutar rekaman cctv kejadian yang menimpa Arumi.
"Bapak ketika pergi kerumah saudari Nayla, apakah bertemu dengan laki laki yang mendekati nyonya Arumi?"
"Sa..saya pulang dari rumah Nayla pukul sembilan, ehh maksud saya jam 10 malam pak. Jadi saya gak lihat korban ataupun pelaku"
"Oh jadi jam sepuluh malam ya pak. Apakah bapak memiliki penyakit glukoma ataupun mata bapak minus?"
"Sa..saya gak punya masalah ataupun penyakit mata apapun pak"
Polisi yang memberikan pertanyaan pada Bian hanya mengangguk serta tersenyum. Dari gestur tubuh dan cara Bian menjawab semua pertanyaan yang ada, polisi sudah dapat mengambil kesimpulan.
"Kalau begitu, kenapa anda tak dapat melihat Arumi ditempat tersebut? padahal anda bilang bahwa anda pulang pukul sepuluh malam"
Bian yang tak mampu menjawab pertanyaan polisi hanya bisa ketakutan dengan kejahatan yang selama ini dia sembunyikan.
"Baik bapak Bian, sebaiknya anda katakan yang sejujur jujurnya? apakah ada kaitannya, bapak dengan kasus kematian Arumi?"
"Sa...saya tidak tahu pak!"
"Dari tadi saya sudah bilang, katakan yang sejujurnya! Sarung tangan ini buktinya, terdapat DNA anda disini. Jika bapak tak mau mengakuinya maka terpaksa saya akan melakukan tindakan keras. Ajudan tolong ambilkan saya setruman listrik!" ucap pria kekar dihadapan Bian.
Bian yang sudah ketakutan hanya bisa pasrah dan mulai menjawab pertanyaan dengan sejujur jujurnya. Sapu tangan yang dengan DNA dirinya disana, menjadi bukti kuat hingga dia tak dapat mengelak.
"Ba..baik pak, ya salah bersalah pak! sapa bersalah! saya sudah melenyapkan wanita kampung itu" isak Bian tersedu sedu.
"Mengapa bapak tega membunuh gadis malang itu?! jawab!"
"Sa..saya saat itu tak sadar pak. Saya merasa bahwa Arumi seharusnya mau menjadi kekasih saya dan bukannya memilih kakak saya. Sebelum dia mengenal kakak saya, jauh dari itu dia sudah mengenal saya ketika kami tak sengaja bertemu di toko kue. Dari situlah saya mulai tertarik padanya dan ingin menjadi kekasihnya. Tapi dia wanita tak tahu diri! saya sakit hati karena saat saya menyatakan perasaan saya dan mengajaknya pacaran, dia malah menolak dengan alasan agama yang melarangnya berpacaran. Dia adalah wanita cantik pak, saya ingin memilikinya. Kakak saya sudah merebutnya dari saya pak! saya sayang sama Arumi dan tak ada yang bisa mendapatkan dia selain saya. Maka darinitu saya menyusun rencana, bagaimana saya bisa mendapatkan Arumi sebelum dia disentuh laki laki lain, termasuk kakak saya"
Polisi yang memberikan pertanyaan hanya bisa menggelengkan kepala merasa tak percaya dengan alasan yang dimiliki Bian. Karena cinta yang dikatakan Bian bukanlah cinta yang sesungguhnya. Melainkan hanya nafsu dan obsesinya terhadap kecantikan yang Arumi miliki.
"Bagaimana bapak bisa melakukan hal keji seperti itu pada wanita tak berdosa?"
"Saya sakit hati pak pada dia. Sekian lama saya mendekatinya dan menyatakan cinta untuknya, dia malah menolak saya mentah mentah. Tetapi saat kakak saya mendekatinya dan mulai menyatakan niatnya untuk serius pada Arumi, Arumi setuju dan mau. Sedangkan saat saya menyatakan perasaan saya ,dia menolaknya. Wajah saya dan harta saya juga banyak pak tapi dia terlalu sombong hingga tak mau menjadi kekasih saya"
__ADS_1
"Lalu, apakah kakak bapak tahu bahwa bapak sudah mengenal calon istrinya sebelum dia"
"Dia tidak tahu pak. Arumi juga mungkin tidak mengatakannya, karena memang dia menganggap saya orang asing baginya. Jadi saya pura pura tidak kenal, ketika diajak oleh kakak saya bertemu dengan gadis yang mau dinikahinya. Sebenarnya hati saya sakit ketika melihat gadis yang kakak saya maksud adalah orang yang saya ingin miliki. Tapi kedudukan kakak saya dikeluarga saya adalah pemilik harta seutuhnya, jadi saya hanya bisa tunduk tak bisa berbuat apa apa dan mengatakan sejujurnya. Lain lagi dengan wanita sombong itu, dia tahu bahwa saya sangat mencintainya tapi dia malah menerima lamaran dari kakak saya"
Mata Bian mulai memerah menahan perasaan yang berkecamuk di hatinya. Perasaan menyesal, marah dan sedih menjadi satu.
"Saya menyesal pak" ucapnya pelan.
"Ya sudah sekarang bapak bisa masuk lagi kedalam sel tahanan, tunggu saja saat nanti pengadilan membuka lagi kasus kematian Arumi, bapak harus mengatakan sejujurnya kepada hakim dan kepada seluruh anggota keluarga korban"
Bian sangat terlihat kusut, pakaian khas tahanan yang dia pakai menambah kesan bahwa dia adalah narapidana yang siap disidang.
Sakit hati yang dia alami membutakan cintanya yang besar kepada Arumi. Bian dengan tega menghancurkan masa depan Arumi, mengambil mahkota yang selalu ia jaga, dan mengambil nyawanya dengan begitu tega.
Tubuh Bian diseret paksa oleh dua orang anggota polisi menuju ke sel tahanannya. Tak ada sedikitpun kata yang terucap dimulutnya, hanya jeritan hati yang mungkin ia sedang lakukan. Hidupnya hancur sekarang. Kemewahan yang selalu ia rasakan kini lrnyap bersamaan dengan terungkapnya kejahatan yang ia lakukan. Andai saja dia tak memilih jalan yang salah, mungkin saja hidup yang selama ini ia jalani akan berjalan baik baik saja.
...Cinta yang kau punya bisa membutakan semua yang baik menjadi buruk....
...Yang salah menjadi benar....
...Hatimu yang terluka dapat membuat dirimu lupa akan rasa kasih sayang sesama manusia dan dapat membuat dirimu berubah menjadi monster yang menakutkan....
**********
Disisi lain, Calra yang masih nerada didalam rumah Atmaja sedang bersembunyi dan memikirkan bagaimana caranya dia mendapatkan uang yang banyak untuk kemewahan yang selama ini ia miliki.
Dengan langkah yang pelan, Clara mulai melangkah pergi menuju dapur dan memasak mie yang tersedia diatas laci.
Skandal yang dimilikinya bersama Bian serta ayah mertuanya tak membuat Clara merasa malu apalagi merasa bersalah pada ibu mertuanya serta Nayla. Clara malah merasa bangga dengan dirinya yang mampu membuat pria pria beristri mencintainya serta memberikan apa yang selama ini dia mau.
Uang baginya adalah alasan dia hidup saat ini. Tak leduli dengan statusnya sebagai istri dan anak yang telah dia lahirkan. Bagi Clara, hidunya adalah hal yang harus ia nikmati walaupun cara yang dia lakukan selama ini salah.
"Sekarang bagaimana caranya agar aku mendapatkan uang yang banyak. Pria tua itu sekarang sedang sekarat dan anaknya yang si*lan kini memdekam didalam penjara. Aku masih bisa membuka jasa pada pria hidung belang diluaran sana dan mendapatkan banyak uang. Tapi aku tak bisa jika terus terusan melaya**i pria asing. Oh ya aku tahu, Mas Zidan pasti mau denganku. Secara wajahku kan cantik, pasti dia mau" guman Clara seraya menyuapkan sesendok mie instan kemulutnya.
Terbayang lagi olehnya tubuh Zidan yang belum sempat ia lihat seluruhnya. Bagai candu baginya, tubuh Zidan yang kekar dan bersih membuat Clara larut dalam bayang bayang jika sampai dia bisa mendapatkan kakak iparnya.
__ADS_1
"Aku harus bisa mendapatkan Mas Zidan. Harus!"