Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Dijebak


__ADS_3

Sore menjelang, Nayla kini sedang duduk termenung diteras luar rumahnya memikirkan kemantapan hatinya memilih Zidan dan masalahnya bersama Asti disekolah. Hingga tak lama Ibu Aisyah datang dan menegur putrinya yang cantik.


"Lagi mikirin apa Nay kok bengong gitu?"


Nayla menarik nafasnya dalam dalam.


"Nay hanya memikirkan teman Nay. Seminggu kedepan, teman Nayla tak akan mengajar karena mendapatkan masalah disekolah Bu"


"Kalau itu salah dia, maka memang hukuman tegas harus dilakukan untuk membuat efek jera padanya. Selain itu, jika memang dia merasa bersalah, maka dia akan merenung atas tindakan yang sudah ia lakukan serta memperbaiki dirinya sendiri"


"Lalu Bu, jika boleh tahu apakah kita salah jika merasa marah pada seseorang akibat perlakuan tidak adil yang dilakukan lingkunganya?"


"Apa ini ada kaitannya denganmu nak?"


Nayla menatap sendu sang ibu. Jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa sedih dengan semua tindakan yang Asti lakukan padanya. Dilain sisi Nayla juga merasa bersalah dengan semua pujian serta kebaikan yang orang orang berikan kepadanya. Dulu Asti adalah sahabat terbaiknya yang selalu ada disetiap suka dan duka.


Setiap hari ia dan Asti akan menghabiskan waktu bersama setelah mengajar hanya untuk membaca buku di perpustakaan serta mengunjungi anak anak kurang mampu di pinggir jalan. Asti dan Nayla akan memberikan pelajaran secara gratis pada mereka dan memberikan roti pada semua anak yang mau mengikuti kelas gratisnya.


Namun siapa sangka, bahwa setelah beberapa tahun ia tak bertemu dengan Asti, justru sikap Asti jauh berbeda dengan dulu. Sekarang apapun yang Nayla lakukan pasti akan membuat Asti iri dan merasa cemburu dengan apa yang ia dapat.


"Bu, Nay mau pergi dulu ya sebentar. Ibu telpon saja aku jika membutuhkan sesuatu. Aku akan pergi menemui teman sesama guru disekolah tempat aku mengajar untuk membicarakan masalah yang terjadi secara baik baik"


Ada perasaan tak rela dihati Ibu Aisyah kala Nayla meminta izin untuk pergi menemui temannya. Namun pikiran serta prasangka buruk itu, jauh jauh dibuang oleh Ibu Aisyah.


"Kalu begitu hati hati nak. Jika terjadi sesuatu hubungi ibu atau Zidan. Semoga saja masalah mu dan dia cepat selesai. Amin"


"Iya bu amin, Nayla pamit dulu ya, Assalamualikum"


"Waalaikumsalam"


Dengan gamis berwarna biru, Nayla mulai menjalankan sepeda motornya menembus jalanan ibu kota menuju rumah Asti . Hingga saat ia sudah sampai didepan rumahnya, ketukan pintu serta salam yang Nayla ucapkan tak mendapatkan respon apapun dari dalam.


Diambilnya ponsel dan mulai mengirim pesan pada Asti untuk bertemu dan berbicara baik baik mengenai permasalahan yang tengah terjadi diantara mereka.


[ Assalamaualaikum Asti, bisakah kita ketemu hari ini? aku sudah ada didepan rumahmu. Kumohon tolong keluarlah, mari kita bertemu dan selesaikan masalah ini dengan bicara baik baik. Kumohon ]


Ceklis dua.


Pesan yang Nayla sampaikan tak dibalas ataupun dibaca oleh Asti. Hingga beberapa saat kemudian, pesan dari Nayla dibaca oleh Asti dan tak lama akhirnya Nayla melebarkan senyum mendapatkan jawaban dari Asti.


Lama Nayla menunggu, dan akhirnya Asti keluar dengan pakaian terbuka dan tak mengenakan hijab dikepalanya.


"Asti?" pekik Nayla kaget.


"Ikut aku atau masalah ini takan pernah selesai!"


Nayla mulai mengikuti Asti didepannya yang sama sama menggunakan sepeda motor.


Didalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada perasaan sakit dan kecewa pada Asti yang kini melepaskan hijab yang selama ini selalu Nayla lihat melekat rapih dikepalanya. Jalan yang berbelok belok masuk kedalam kampung membuat Nayla sedikit kesusahan menjalankan sepeda motor yang ia kendarai.


Motor Asti berhenti tepat di sebuah lapangan kosong dengan danau yang luas didepannya.


"Mau ngapain kita kesini As?"

__ADS_1


"Katanya mau ngomong baik baik. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk kita bicara Nay. Jadi apa yang ingin kau bicarakan dengaku? apakah pembicaraan yang ingin kamu lakukan dengan ku itu cukup penting? sampai kau mau mengikutiku sampai kesini"


"Aku hanya ingin meminta maaf padamu As. Karena ku kau bisa berubah sejauh ini. Maafkan aku yang sudah membuatmu merasa dibedakan oleh lingkungan sekitar" ucap Nayla menunduk.


"Apa aku tak salah dengar Nay? aku yang telah berbuat salah padamu tapi kau yang meminta maaf. Kau itu naif atau bodoh?! seharusnya aku yang mengatakan itu padamu Nay" jawab Asti yang mulai mendekatkan tubuhnya kearah Nayla.


"Aku sudah memaafkanmu As"


Asti yang mendengarkan perkataan Nayla mulai tertawa terbahak bahak dan melakukan tepuk tangan dengan keras.


"Nay! Kamu tahu gak ?! selama ini aku suka sama Amar! dan setelah kedatangan kamu disekolah Amar berubah gak seperhatian dulu sama aku! kamu tahu gak aku cinta sama Amar! dan kau ambil semuanya dariku! Pujian, hadiah, perhatian, dan kasih sayang dari orang orang yang dulu selalu ada untukku kini beralih padamu Nay apa kau sadar bahwa aku sekarang tak berarti apa apa dimata mereka!"


Nayla terpaku mendengar semua perkataan dari mulu Asti. Selama ini Asti menyimpan rasa pada Amar, namun Amar selalu memberikan perhatiaannya pada Nayla.


"Ma..maafkan aku As. Aku tak tahu bahwa kamu suka sama Amar. Aku sama sekali tak tahu akan hal itu As"


"Tak tahu kau bilang Nay? mana mungkin kamu tahu tentang cerita hidupku sekarang! Aku sekarang sudah menjadi sebatang kara Nay! ibuku sudah lama meninggal dan kau bahkan tak tahu akan hal itu. Aku sengaja tak datang saat pernikahanmu karena hari itu juga ibuku tiada Nay. Aku stres, aku depresi. Ibuku adalah pelita satu satunya yang aku miliki setelah ayah berselingkuh dengan seorang ja*lang. Hingga saat Amar selalu ada untukku, aku sangat senang dan nyaman berada didekatnya. Dan sekarang saat kau hadir diantara kami, kau ambil segalanya dariku Nay, segalanya!"


Nayla bergeming mendengarkan penuturan Asti. Tak pernah disangka bahwa ibunya Asti yang dulu sering memberikan bekal untuk Nayla sekarang sudah tiada. Keputusannya untuk keluar dari sekolah itu telah membuat hubungan Nayla dan Asti merenggang hingga tak saling bertukar pesan walaupun sekedar menanyakan kabar.


"Maafkan aku As, maafkan aku karena telah membuatmu seperti ini. Aku mohon kembalilah seperti dulu dan kita perbaiki hubungan persahabatan kita"


"Hahahaha, kau sudah terlambat Nay! aku sudah berubah sekarang. Aku Asti Mahadewi akan membuat hidupmu menderita sama sepertiku! aku akan ambil kebahagiaanmu agar bisa merasakan apa yang selama ini aku rasakan"


Ponsel disaku gamis Nayla terus saja berdering. Hingga saat Nayla melihat nama orang yang ia cintai memanggilnya beberapa kali, Asti dengan segera mengambil ponsel Nayla dan memasukannya kedalam saku celana jeansnya.


"Kembalikan ponselku Asti!"


"Maaf Nay, hidupmu sekarang tergantung keinginanku. Kau pasti akan dikucilkan dan dibuang oleh orang orang yang sangat kau sayang sama sepertiku!"


Mereka saling mendekatkan wajah dan melakukan hal yang haram untuk dilakukan. Nayla memalingkan muka merasa jijik dengan Asti yang kini tengah melakukan hal tak senonoh dihadapannya.


"Kenapa kau memalingkan mukamu seperti itu Nay?! apakah kau merasa jijik melihatku hah! jijik! mulai saat ini kau juga akan menjadi hancur seperti ku Nay"


Seorang pria kembali muncul dibalik semak semak dan mulai membekap mulut Nayla dengan sangat kencang.


Pandangan Nayla mulai kabur dan perlahan kesadarannya pun ikut menghilang.


Tawa Asti dan kedua pria yang datang bersamanya kian terdengar keras dilapangan kosong yang luas ini. Nasib Nayla kini sedang diambang kehancuran yang dibuat oleh sahabatnya sendiri. Depresi yang Asti alami, telah merubahnya menjadi sosok yang menakutkan.


****


Disisi lain, Zidan yang sedang berada dipanti asuhan terus saja mencoba menghubungi ponsel Nayla yang tak kunjung ada jawaban darinya.


Beberapa kali Ibu Aisyah terus saja berzikir dan berdoa agar anaknya selalu berada didalam lindungan Allah SWT.


"Apa ada jawaban dari Nayla nak?"


"Belum ada bu. Memangnya tadi Nayla sebelum berangkat bilang mau pergi kemana?"


Ibu Aisyah hanya bisa mengingat ngingat semua perkataan Nayla.


"Nayla hanya bilang mau pergi menemui temannya. Hanya saja sebelum itu, dia bicara bahwa ada masalah disekolahnya.

__ADS_1


"Pria breng**ek itu pasti yang sudah membuat Nayla menghilang"


"Siapa nak? Amar? tak mungkin dia melakukan itu. Tapi coba kamu tanyakan dulu saja pada nak Amar, karena tadi pagi Nayla berniat untuk menolak lamaran yang Amar ajukan padanya"


"Amar sudah ditolah Nayla bu?"


"Iya nak. Karena dia lebih memilih kamu"


Mata Zidan membulat sempurna mendengar perkataan Ibu Aisyah. Ia seakan tak percaya bahwa Nayla telah memilihnya sebagai suami.


"Alhamdulillah bu, ternyata Nayla memiliki perasaan untukku"


"iya nak, Nayla sudah mantapkan hatinya untukku dan malam ini rencananya dia akan membicarakannya denganmu. Tapi sejak tadi Nayla tak bisa dihubungi. Ibu khawatir dengan Nayla nak. Ibu mohon tolong carikan dia"


"Aku akan segera mendatangi rumah Amar dulu bu untuk memastikan apakah pria tidak waras itu telah melakukan sesuatu pada Nay karena telah menolaknya tadi"


"Iya nak, hati hati dijalan. Ibu yakin pasti Amar juga tak tahu keberadaan Nayla saat ini, sebab yang ibu tahu Amar itu baik"


"Orang yang kita angggap baik tak menutup kemungkinan memiliki sifat asli yang baik pula. Dan orang yang kita anggap buruk terkadang tak memiliki sifat yang buruk pula. Kadang penilan kita terhadap seseorang itu bisa salah dan dipatahkan dengan kenyataan yang pahit.


Orang yang kita anggap baik bisa jadi memiliki sifat yang buruk dan sebaliknya orang yang kita anggap buruk bisa jadi memiliki sifat asli yang baik"


Ibu Aisyah merenung mendengarkan perkataan Zidan yang memang benar adanya. Dulu Nayla dan Ibu Aisyah juga telah salah menilai Bian yang bersikap baik didepan namun buruk dibelakang. Mereka telah tertipu dengan sifat yang ditunjukan Bian selama mendekati Nayla.


Zidan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Amar. Hingga saat ia sudah berada di depan pintu rumahnya, Zidan dengan keras berteriak serta mengetuk ngetuk pintu rumah Amar dengan kencang.


"Amar buka pintu!"


Amar yang mulai membuka pintu rumahnya terlihat kaget dengan kedatangan Zidan yang tiba tiba.


"Ada apa ini Pak Zidan?"


"Kau jangan banyak bicara pria breng*sek. Cepat katakan dimana Nayla sekarang?!"


Cengkaraman kuat tangan Zidan dikerah baju Amar membuat tubuhnya Amar sedikit terangkat.


"Aku sungguh tak tahu Nayla berada! aku berani bersumpah kalau aku tak melakukan apapun pada dia"


Sedikit demi sedikit Zidan mulai merenggangkan cengkaraman tangannya pada Amar. Zidan menatap nanar pria dihadapannya dan mulai mengeluarkan semua keresahan dihatinya.


"Nayla tak bisa dihubungi Mar. Sore tadi Ibu Aisyah mengatakan bahwa Nayla pergi menemui teman sesama guru disekolah tempat ia mengajar. Ku kira teman itu adalah kau sebab katanya ia sedang memiliki masalah dengan orang tersebut"


"Teman sesama guru? masalah?" Amar mulai mengernyitkan kening mendengarkan perkataan Zidan.


"Itu Asti ! dia pasti orang yang Nayla temui hari ini!"


Zidan menatap Amar dengan penuh tanya.


"Apakah Asti orang yang dulu aku antar pulang waktu itu Mar? rumahnya kan disamping rumahmu ini"


"Iya Pak. Dia adalah orang yang kemarin bapak antar. Tadi saya dengar suara mesin motornya. Namun aku hiraukan karena memang tak tahu bahwa dia pergi bersama Nayla. Kalau begitu mari kita lihat rekaman cctv didepan rumahku siapa tahu jika memang benar Nayla pergi bersama Asti"


Zidan dan Amar masuk kedalam rumah untuk melihat rekaman cctv sore tadi. Terlihat bahwa wanita yang mereka yakini Nayla tengah berbincang dengan Asti dan tak lama mereka pergi menggunakan sepeda motor yang berbeda.

__ADS_1


Zidan yang mulai panik mulai menelpon Hamdi untuk mencarikan lokasi keberadaan Nayla saat ini. Wajahnya begitu panik ketika memikirkan Nayla yang tadi tiba tiba mematikan ponselnya saat dipanti.


"Kuharap kau baik baik saja Nay" gumam Zidan pelan.


__ADS_2