
Nikita yang akhirnya bisa bebas dari ikatan ditangannya dengan cepat menjerat leher Frans dengan kencang hingga membuat pria tersebut kesulitan bernafas.
"Lep..askan aku jala****!" suara Frans yang mulai tercekat membuat Nikita tersenyum puas.
Ayah Frans beserta beberapa pria dihadapannya mencoba mencari celah ketika Nikita lengah agar bisa membebaskan Frans dari ikatan kencang dilehernya.
"Lepaskan anakku pel***! dasar wanita tak tahu diri !"
Para pria suruhan Frans segera mengeluarkan senjata api dari balik pakaian mereka masing masing. Nikita tersenyum puas melihat kepanikan diwajah mereka akan keselamatan Frans.
"Kalian kira aku lemah hah? tidak! aku tak selemah yang kalian kira. Aku Nikita ! wanita yang sering kau hina dan caci maki akan membalaskan kesakitan ku selama ini"
Nikita semakin mengencangkan jeratan dileher Frans hingga membuat pria itu lama kelamaan terkulai lemas.
"Aku akan memberikan kesepakatan untukmu. Aku akan melepaskan anak set**n ini tapi kalian harus membebaskan juga Nayla dan Zidan! bagaimana? bisa"
"Takan pernah kubiarkan mereka selamat dari maut! aku akan membunuh kalian dan mengirim kalian ke neraka!"
"Baiklah jika itu memang pilihanmu. Aku juga akan mengirimkan anakmu ini ke neraka!" Nikita menyeret tubuh Frans yang lemas menuju pojok ruangan yang terdapat sebuah jendela besar. Tak lama kemudian ia memukul kaca tersebut dengan keras hingga membuat kaca tersebut pecah dan tangan putihnya ikut terluka dengan darah yang mulai menetes.
Nikita duduk seraya tetap memegang ikatan dileher Frans dan mulai mengambil pecahan kaca ditangan satunya lagi. Hingga akhirnya ia menggoreskan pecahan kaca tersebut dipipi mulus Frans dan membuat pipinya mengalirkan darah dengan deras.
Bukan tak memungkinkan Frans berontak akan aksi yang Nikita lakukan. Namun keahlian Nikita dalam bela diri serta cekikan dileher Frans yang kencang sejak tadi, membuat Frans tak bisa berkutik dan lemas.
"Ahhhhhhh " pekik Frans dengan kencang, ketika merasakan goresan kaca dipipinya.
__ADS_1
"Kenapa sayang? enak? kenapa kamu lemas sekali? apakah kamu sakit?"
"Dasar jal**ng sialan! aku akan menjebloskan mu ke penjara atas kasus penganiayaan"
"Silahkan tuan. Dengan senang hati aku akan masuk sendiri ke dalam sel yang anda minta"
Nikita tersenyum menyeringai melihat kepanikan serta ketakutan yang ada dimata Ayahnya Frans.
Pria bertopeng yang menjadi suruhan ayahnya Frans saat ini tengah menyiapkan siasat untuk melukai Nikita. Dari kejauhan Hamdi yang sejak tadi melihat setiap tindakan yang Nikita lakukan hanya bisa memantau kegiatan yang akan dilakukan oleh Nikita.
Hingga pada akhirnya saat Hamdi akan menghampiri Nikita, Suara tembakan dibelakang Nikita berhasil membuat Hamdi berteriak dengan kencang dan berlari menuju tempat Nikita berdiri.
Peluru yang dilepaskan oleh salah satu pesuruh ayahnya Frans berhasil melukai lengan kanan Nikita hingga membuatnya jatuh dengan lengan yang banyak mengeluarkan darah.
Hamdi yang segera berlari menuju Nikita tak memperhatikan ancaman yang akan ia hadapi saat ia masuk kedalam ruang eksekusi tersebut.
Hamdi mengeluarkan senjata api yang sering ia gunakan untuk latihan tembak. Walaupun peluru yang ada didalamnya tak seperti senjata api asli.
"Kalian akan segera kukirim keneraka terlebih dahulu" ayah Frans mengeluarkan pistol dan dengan cepat menembak punggung Hamdi hingga membuatnya juga ikut jatuh tersungkur. Nikita yang berada didalam kondisi setengah sadar, hanya bisa menangis dan meringis kesakitan ketika melihat Hamdi saat ini terluka.
Sampai pada akhirnya ia kemudian mencoba bangkit dan diam diam mengambil senjata api milik Hamdi dan menembak satu persatu pesuruh ayahnya Frans tepat dibagian kaki.
Dengan luka yang hanya menghambat mereka untuk berjalan. Pria pria tersebut masih bisa menembaki peluru kearah Nikita dan Hamdi walaupun semua peluru tersebut meleset.
Nikita yang melihat Hamdi kesakitan ,segera memapahnya untuk menjauh dari sana dengan cara berlari kecil dan menembaki beberapa kali penjahat dengan pistol yang ia miliki.
__ADS_1
****
Disisi lain, Zidan yang akan keluar melalui jendela tak sadar jika ada salah satu penjahat yang bersembunyi dibalik pintu kamarnya dan dengan mendadak menusukan sebilas pisau tajam kearah kakinya. Hingga membuat Zidan berteriak kesakitan.
"Ahhhh!"
"Mas!" Nayla yang panik melihat Zidan hanya bisa menangis serta memikirkan cara agar suaminya tersebut bisa selamat.
Zidan yang merasakan kesakitan segera turun dan mencoba melawan penjahat tersebut dengan tangan kosong. Hingga kemudian ia teringat akan pisau lipat yang ia miliki dan menusukan pisau tersebut ketangan penjahat.
Pukulan serta tusukan yang Zidan berikan kepada salah satu penjahat tersebut berhasil melumpuhkannya dan membuat ia bisa naik kejendela dengan aman walaupun darah mengalir dengan deras.
"Hei Kepa**t tunggu! akan kulenyapkan kau!" teriak salah satu penjahat yang datang menuju kamar Zidan setelah mendengar keributan didalam kamar Zidan.
Sirine polisi yang baru saja datang membuat ketiga pelaku yang akan menolong salah satu pelaku, kabur kocar kacir meninggalkan orang tersebut.
"Mas itu polisi. Ayo kita kerumah sakit untuk mengobati kakimu dan aku akan segera menyusul Hamdi ketempat ayahnya Frans membawa Nikita"
Nayla memapah suaminya yang meringis kesakitan. Tak henti hentinya Nayla meneteskan air mata ketika melihat orang yang ia cintai terluka.
"Tak usah Nay. Aku baik baik saja. Kita akan kesana berdua aku tak ingin kau kenapa napa. Kau bisa kembali villa dan tunggu aku di sana. doakan agar aku bisa membawa Hamdi dan Nikita dengan selamat"
"Tidak mas! aku ingin kau yang istirahat dan mendapatkan perawatan atas luka tusukan dikakimu! aku akan baik baik saja mas. Aku akan kesana bersama polisi dan kau bisa menyusul kami setelah lukamu diobati"
Zidan terdiam memikirkan ucapan Nayla. Hingga akhirnya ia pun berjalan menuju salah satu polisi dan mengatakan rencana istrinya. Beberapa polisi terlihat mengepung rumah tersebut hingga tak lama kemudian terdengar suara tembakan yang menggema disertai teriakan dari arah samping rumah.
__ADS_1
****
Hamdi dan Nikita yang saat ini sedang disekap hanya bisa menahan sakit atas siksaan yang terus menerus mereka dapatkan dari anak buah Frans serta ayahnya. Cambukan yang diberikan kepada Nikita berhasil membuat wanita itu menangis dan berteriak dengan kencang hingga memekakan telinga yang mendengarnya.