Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Sidang


__ADS_3

Clara yang kesal dengan ucapan Anyelir segera melenggang pergi menuju dapur dan menyeduh mie instan yang selalu tersedia dirumah Zidan.


Tanpa sedikitpun rasa malu didalam dirinya, Clara tetap menikmati setiap fasilitas yang ada didalam rumah suaminya yang jelas jelas sudah tak sudi menjalin hubungan lagi dengannya.


Rencana Clara kali ini hanya untuk mendapatkan hati Zidan agar bisa menjadi ladang emas selanjutnya.


*****


Pagi menjelang menampilkan cahaya mentari yang terang. Zidan , Anyelir dan Rio sudah bersiap siap untuk segera datang kepengadilan menghadiri sidang perdana kasus pembunuhan Arumi.


Mobil yang dikendarai oleh Zidan menembus jalanan ibu kota yang terlihat padat. Anyelir dan Rio yang sekarang merupakan teman Nayla ikut serta mengawal keadilan untuk Arumi.


Satu setengah jam mereka menempuh perjalanan yang lumayan ramai kendaraan. Hingga saat mobil terparkir di halaman kantor pengadilan, mereka melihat Nayla dan Ibu Aisyah yang juga baru sampai.


Nayla yang begitu tampak cantik dengan balutan gamis berwarna hijau, terlihat pucat dengan mata yang sembab. Sekuat apapun Nayla mencoba untuk sabar dan tegar, pasti hatinya begitu sakit menerima kenyataan pahit ini.


****


Sidang resmi dibuka, terlihat Ibu Widya dan Siska menangis sesegukan melihat Bian dengan penampilan kusut, serta luka lebam diseluruh wajahnya.


Zidan yang duduk disamping Nayla hanya bisa menatap ibu serta adiknya dari kejauhan sebab dirinya kini sedang berada dikubu Nayla untuk memperjuangkan keadilan bagi Arumi.


Hakim melontarkan gugatan serta bukti bukti yang ditemukan seperti sampel DNA di sapu tangan yang terdapat noda darah Bian, luka bekas cakaran yang tak kunjung hilang dibelakang telinga Bian, serta ponsel Arumi yang ditemukan di gudang belakang rumah dengan pesan terakhir berisi amarah yang dikirim dari nomor ponsel Bian.


"Ponsel Arumi ditemukan Nay? sejak kapan?" bisik Zidan pada Nayla.


"Hamdi yang menemukannya saat mas masih diluar kota " ucap Nayla datar.


"Mengapa kamu tak memberitahuku Nay? dan kenapa Hamdi juga tak bilang bahwa dia memasuki rumahku?"


"Apa mas lupa bahwa ponsel mas kerap tak bisa dihubungi? Aku dan Hamdi beberapa kali mencoba menghubungi ponsel mas, namun sama sekali tak bisa dihubungi"


Zidan mulai ingat bahwa kerap sekali ia menunggu kabar dari Nayla namun tak ada tanda tanda sinyal yang tertera diponselnya.


"Terus kenapa saat aku pulang kau tak memberitahuku secara langsung?"


"Aku tak ingin membahasnya mas. Sekarang yang lebih penting bukti yang kita kumpulkan cukup kuat untuk meyeret Mas Bian masuk kedalam penjara dan mendapatkan keadilan untuk Arumi"


Zidan tak menjawab perkataan yang keluar dari mulut Nayla. Zidan tahu bahwa saat ini Nayla tengah menahan emosi pada mantan suaminya sekaligus pembunuh sahabatnya sendiri.


Pertanyaan pertanyaan yang keluar dari hakim membuat Bian tak bisa berkutik. Bukti yang dimiliki Zidan serta Nayla sudah cukup kuat untuk membuatnya merasakan hukuman yang setimpal atas perbuatan yang dilakukannya.


Namun, sang pengacara yang dikerahkan Ibu Widya dan Siska mampu membalikan semua fakta serta bukti yang ada.


"Mohon waktunya sebentar, maaf klien saya tak mungkin melakukan hal itu apalagi pada calon kakak iparnya sendiri. Pak hakim yang terhormat bisa mengkaji ulang semua bukti yang ada dan mempertanyaan semua bukti yang terkumpul. Mungkin saja ada seseorang yang berusaha memfitnah klien saya agar nama baiknya rusak serta masuk kedalam penjara"


"Apakah anda punya bukti yang kuat bahwa ada seseorang yang mencoba memfitnah saudara Bian?" tanya hakim yang membuat pengacara Bian langsung diam tak bisa menjawab.

__ADS_1


"Emmh...un..untuk itu saya tak memilikinya pak. Namun bukti yang mereka kumpulkan sudah jelas tak tahu dari mana asalnya. Bisa saja itu hanya sebuah kebetulan saja Almarhumah Arumi sedang bermasalah dengan klien saya"


"Mana mungkin Arumi punya masalah sama pria brengs**k itu!? sudah jelas memang dia pria beja*d yang tak punya hati sehingga tega melenyapkan Arumi!" teriak Zidan emosi.


Nayla serta Ibu Aisyah mencoba menenangkan Zidan yang bangkit dan mencoba maju kedepan hakim. Anyelir dan Rio yang melihat Zidan terpancing emosi hanya bisa ikut menarik tubuhnya dari belakang agar tak membuat keributan.


"Jika memang benar bukti itu milik klien saya, lalu dimana orang yang mendapatkannya?"


Zidan dan Nayla baru ingat, bahwa Hamdi tak terlihat diruang sidang. Zidan mengirim pesan agar Hamdi segera datang kepengadilan dan menjadi saksi dalam kasus Arumi.


[ Ham kamu dimana? cepat datang kesini dan berikan kesaksian bahwa kamu menemukan semua barangbukti ini dirumahku, serta berikan kesaksian yang sejujur jujurnya]


Centang satu. Ponsel Hamdi sedang tak aktif.


"Kemana pria menyebalkan itu" umpat Zidan.


"Pak hakim yang terhormat, jika penuntut tak bisa membawa saksi yang menemukan setiap barang bukti yang ada, maka saya mohon pertimbang lagi kasus ini dan hukuman yang akan diberikan pada klien saya"


Hakim terlihat sedang berfikir dikursinya.


Hingga tak lama muncullah Hamdi dengan membawa pria oknum yang ditunjuk untuk mengidentifikasi barang bukti baju dan kalung liontin milik Arumi dulu.


"Saya disini pak hakim. Cepat kau katakan yang sebenarnya mengenai barang bukti yang terdapat sidik jari pria sialan itu!"


Nayla dan seluruh orang didalam ruangan menatap ke arah Hamdi dan pria disampingnya.


"Kau akan tahu bukti yang nyata Dan"


Bian dan pengacara mulai gelagapan dan salah tingkah.


"Sa...saya adalah orang yang disuruh untuk mengidentifikasi semua barang bukti milik nyonya Arumi. Sa...saat itu saya mengatakan kebohongan bahwa tak ada sidik jari pelaku yang tertempel di barang bukti itu. Se...sebenarnya saya berbohong, semua barang bukti itu ada sidik jari dari tuan Bian dan dan saya disogok sejumlah uang olehnya"


Bian tak menjawab ataupun menyangkal perkataan pria dihadapannya. Dia hanya menunduk dan tak berani menatap ke arah semua orang.


"Bohong! dia pasti disuruh oleh penuntut untuk mengakui semuanya dengan paksaan sehingga bisa memberatkan klien saya!" ucap pengacara Bian tak terima.


"Oh baik kalau begitu. Rekaman cctv di cafe ini dapat membuktikan bahwa orang yang sedang anda bela memang benar bersalah" Jawab Hamdi seraya memberikan kaset berisi rekaman.


Infokus segera diambil oleh petugas, diputarnya kaset yang dibawa oleh Hamdi hingga menampilkan pria yang merupakan oknum bersama Bian yang tengah bertemu.


Dalam rekaman tersebut terlihat jelas bahwa pria yang merupakan inafis meminta lagi uang kepada Bian.


Saat itu Hamdi yang kebetulan sedang berada di cafe setelah pulang dari kepolisian untuk memberikan DNA darah Bian yang berada di sapu tangan tak sengaja melihat keduanya yang tengah berbincang serius. Dari sanalah Hamdi tahu bahwa inafis yang ditunjuk untuk mengidentifikasi barang bukti telah bersekongkol untuk menutupi kejahatan yang dilakukan Bian.


Hamdi sengaja tak memberitahu Nayla dan Zidan mengenai pria tersebut sebab ia ingin mengetahui alasan yang jelas. Walaupun demikian, masalah ponsel yang ia juga tahu dari mulut Bian saat berbicara dengan inafis tersebut, ia katakan pada Nayla saat itu.


" Baik, bukti bukti yang memberatkan saudara Bian sudah ada didepan mata. Apakah anda masih mau membela klien anda yang jelas jelas diam? secara tidak langsung, klien anda menunjukan gelagat bersalah dan tak melontarkan pembelaan atas tuduhan yang diberikan kepadanya.

__ADS_1


Pengacara Bian hanya terdiam tak mampu menjawab pernyataan hakim. Hakim yang telah mendapatkan bukti serta pernyataan yang kuat akhirnya mendapatkan keputusan yang sudah disepakati bersama. Pengacara Bian hanya bisa membisu menatap para hakim didepannya. Dia takut jika masih saja membela kliennya, dia akan mendapatkan masalah.


"Keputusan sudah saya ambil. Jadi, saudara Bian Mahardika, anda terbukti bersalah telah melakukan tindak kejahatan kepada korban bernama Arumi Indah Pramita. Anda telah terbukti telah melakukan pelecehan kepada saudari Arumi serta membunuh korban tanpa sengaja dalam keadaan mabuk, dan terbukti melakukan penyuapan kepada inafis. Maka dari itu, anda akan dihukum kurungan selama 20tahun penjara dan denda 2miliar rupiah untuk kasus Arumi. Dan untuk kasus suap yang saudara Bian lakukan nanti akan kami rundingkan lagi serta untuk anda seorang inafis, saya benar benar kecewa dan akan melakukan sidang mengenai kasus anda. Selain itu jabatan anda akan kami copot secara tidak terhormat"


Tok..tok..tok..


Palu diketuk oleh hakim membuat semua orang didalam gaduh. Orang yang berada dikubu Nayla bersorak suka cita, walaupun sedikit kecewa dengan hukuman yang diberikan untuk Bian.


Lain halnya dengan Ibu Widya dan Siska yang sedih melihat Bian kini harus mendekam lama dibalik jeruji besi akibat kasusnya pada Clara dan sekarang harus dihukum karena telah terbukti bersalah mengenai kasus kematisn Arumi.


*****


Malam telah tiba, Ibu Widya dan Siska yang sedang mersakan kehancuran kini hanya menatap kosong kearah jendela mobil yang sedang mereka tumpangi.


"Pak tolong berhenti!" ucap Siska pada supir.


"Kamu mau kemana Siska?" tanya ibu heran.


" Aku mau pergi jalan jalan sebentar bu. Ibu pulang saja, nanti aku menyusul"


Ada khawatir yang ibu rasakan pada Siska yang perutnya sekarang sudah terlihat lebih besar, terlebih lagi ketika Siska meminta untuk turun dan akan pergi sendirian.


" Ibu ikut ya?"


"Gak usah bu, nanti aku juga pulang ko. Aku hanya ingin menenangkan diri sengan pergi ke rumah teman yang tak jauh dari sini bu. Ibu pulang dan istirahatlah"


Walaupun berat membiarkan Siska pergi malam malam sendirian , tapi ibu Widya merasa kasihan karena mungkin saja Siska memerlukan teman untuk mencurahkan segala kesedihan dihatinya.


Mobil pun melaju kembali, meninggalkan Siska ditrotoar dekat perumahan yang sudah sunyi.


Siska yang mulai frustasi akibat maslah dikeluarganya serta kehamilan yang tak pernah ia inginkan berjalan menyusuri jembatan penghubung sungai.


Otaknya yang sudah buntu dengan maslaah yang semakin rumit membuatnya ingin berhenti menjalani kehidupan ini dan pergi bersama anak yang dikandungnya.


Kini Siska berdiri diatas jembatan yang tinggi dengan aliran air sungau yang deras dibawahnya. Kesediahn serta tekanan yang ia dapatkan membuatnya depresi sehingga berniat untuk bunuh diri.


Ditariknya nafas dalam dalam dan segera memanjat pembatas jalan agar bisa berdiri tepat diatas tembok.


Matanya mulai terpejam, hingga saat tubuhnya akan jatuh, seseorang memeluk dari belakang dan menarik tubuh Siska agar segera turun.


INFORMASI: untuk part ini, saya cerita hanya dijelaskan secara garis besar tidak seditel ditelnya. Mengenai putusan hakim, diambil dari kisah nyata berita tentang pelecehan serta pembunuhan yang dilakukan tidak secara sadar (dalam keadaan mabuk) untuk informasi lebih jelasnya bisa di cek melalaui google mengenai kasus yang terjadi di salah satu kota. Untuk masalah hukum ,memang ada vonis yang mengatakan hukuman mati atau penjara seumur hidup.


Sekali lagi saya cuman menulis cerita fiksi yang beberapa partnya diambil dari kisah nyata serta informasi yang saya dapat dari beberapa sumber. Untuk masalah lain nya mohon maaf sebesar besarnya karena saya minim ilmu mengenai hukum untuk terpidana jadi saya hanya menuliskan apa yang saya dapatkan dari media lain.


Terimaksih


__ADS_1


__ADS_2