Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Meyakinkan


__ADS_3

Nayla dan Zidan saat ini tengah berada di rumah sakit dan tak tahu tentang teror mengerikan yang dialami Siska di dalam rumah. Bu Widya yang saat ini tengah menuju rumahnya sempat terkejut ketika melihat sebuah mobil yang tak asing tengah terparkir di depan rumahnya.


"Hamdi" gumam Bu Widya pelan.


Entah kenapa, Bu Widya merasa sangat aneh dengan kedatangan Hamdi yang begitu tiba tiba. Setelah sekian lama Hamdi dan Siska berpisah dan tak saling bertegur sapa, kini pria itu ada di dalam rumahnya.


Dengan langkah yang cepat Widya pun masuk kedalam rumah dan mendapati Hamdi tengah menggendong Cleo di pangkuannya dengan Siska yang saat ini tengah berada di dalam dapur menyiapkan secangkir kopi hitam untuk Hamdi.


Pria itu bahkan sadar akan kedatangan Bu Widya dan segera memberikan salam pada wanita paruh baya di depannya.


"Sejak kapan kamu kesini Ham?" tanya Widya dengan heran.


"Tadi ada yang masuk kedalam rumah ini bu, dan Siska menelpon saya karena ibu serta Zidan tak kunjung mengangkat telpon darinya. Oh iya, jika ibu tak keberatan Hamdi akan segera melamar Siska dua hari lagi. Boleh?"


Seketika Widya membulatkan mata mendengar perkataan Hamdi yang begitu mendadak. Apakah ini sebuah petunjuk yang telah tuhan berikan untuk kehidupan Siska? Mengingat buah hatinya yang semakin tumbuh tanpa sosok seorang ayah.


"Siapa yang masuk kerumah ini? Apakah Siska dan Cleo baik baik saja?" tanya Widya dengan panik.

__ADS_1


Hamdi tersenyum seraya menatap wajah Cleo yang berada di dalam pangkuannya.Ia benar benar takut kehilangan Siska serta Cleo setelah kejadian mengerikan yang menimpa mereka.


"Entahlah bu. Hamdi juga tak tahu. Tadi Siska bilang seorang pria yang tampak tak asing baginya masuk kedalam rumah dan mencoba mendekati Siska dan Cleo. Untuk saja Siska dengan cepat masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu sampai aku tiba di sini"


Tak lama, Siska yang telah siap dengan secangkir kopi di tangannya tampak terkejut dengan kehadiran sang ibu. Matanya seketika mengembun dan ia pun menaruh kopi tersebut di atas meja dan langsung memeluk tubuh wanita paruh baya di depannya.


"Ibu, Siska takut bu" Air mata mengalir deras di pipi mulus Siska.


Wanita itu terguncang setelah mengalami kejadian tak terduga di rumahnya yang saat itu sangat sepi.


"Kau tak papa nak?" tanya Widya seraya mulai menghapus air mata di pipi putrinya.


"Tadi ada seorang pria masuk kedalam rumah dan mencoba mendekatiku serta Cleo, bu. Aku beberapa kali menelpon ibu dan Mas Zidan namun tak kunjung terjawab. Hingga akhirnya Mas Hamdi datang dan orang itu pun pergi tak melakukan apapun pada aku dan Cleo"


Bu Widya menepuk pundak Hamdi dan tersenyum ke arah pria di sampingnya. Hamdi adalah sosok pria yang baik dan bertanggung jawab walaupun Widya tahu bahwa Hamdi masih belum bisa teguh dan percaya dengan kekuatan dirinya sendiri.


"Ibu setuju padamu"

__ADS_1


Seketika senyum sumringah menghiasi wajah Hamdi. Ia pun mencium kening Cleo yang saat ini tengah terlelap di pangkuannya bahkan membuat Siska bertanya tanya tentang kebahagian yang ada di dalam diri Hamdi.


"Apa yang ibu setujui?" Siska mulai bertanya memecah kebahagiaan di wajah Hamdi.


Pria itu tampak menggenggam tangan Siska dan mulai mengatakan niat baik pada gadis pujaan hatinya tersebut.


"Aku akan melamarmu dua hari lagi. Kau persiapkan dirimu untuk nanti bersanding di pelaminan bersamaku. Aku sudah mantap dengan keinginanku memperistrimu dan aku pun ingin menjadi ayah bagi Cleo. Maafkan aku karena telah mengabaikanmu dan Cleo sebelumnya. Aku terlalu takut menghadapi diriku yang lemah dan tak bisa menjagamu serta Nikita saat itu. Rasa trauma yang menimpaku, berhasil membuatku menjadi seorang pria pengecut. Hingga akupun mengabaikan dewi sepertimu. Maukah kau perbaiki semuanya bersamaku?"


Siska terdiam. Nafasnya seolah terhenti seiringan dengan detak jantungnya yang kian berdebar. Ia bahkan beberapa kali mencoba mencerna perkataan Hamdi yang terkesan tiba tiba dan terburu buru.


"Apakah kau serius dengan ucapanmu? Kau yakin memilihku sebagai pendamping hidup?"


Hamdi menganggukan kepala dan berusaha meyakinkan Siska.


"Aku telah sadar, bahwa dengan menjauhi orang yang kucintai akibat trauma itu, malah membuatku semakin hancur dan tak tahu arah tujuan. Kau harusnya kulindungi bukannya ku jauhi. Aku benar benar tak ingin kau terluka dan tak ingin kau dalam bahaya. Maka dari itu, hiduplah denganku dan terus berada di setiap langkahku"


Siska tersenyum dan segera mengelus pipi Cleo dengan lembut.

__ADS_1


"Sebentar lagi kamu punya ayah sayang"


__ADS_2