Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Pulang


__ADS_3

Angin berhembus menerpa wajah Nayla dengan lembut. Matanya sendu dan wajahnya pucat karena kelelahan. Tiga hari ini ia hanya termangu dalam kesedihan yang tiada akhir.


Bukan karena cintanya yang sudah terbagi entah berapa kali, namun kenyataan yang menyakitkan yang membuatnya jatuh terpuruk tanpa sandaran.


Arumi adalah satu satunya orang yang dia percayai, namun karena kelalainya dengan menerima lamaran Bian, justru membuatnya harus kehilangan seseorang yang paling berharga dihidupnya.


Semangatnya hilang dan hidupnya sudah hancur. Bukan karena cintanya yang dijadikan pelampiasan yang membuat Nayla sedih, hanya saja penyesalannya yang membuat ia merasa bersalah kepada Arumi.


"Andai saja aku tak menikah dengan pria baji*ngan itu, mungkin kau masih hidup.Hiks.." umpat Nayla.


sudah seminggu Zidan pergi meninggalkan Nayla untuk pergi menjalankan tugasnya dari kantor. Bukan karena Nayla tidak menjadi prioritasnya, namun kerjasama yang terjadi di perusahaannya dengan Anyelir tak mungkin bisa dibatalkan.


Hari ini adalah hari dimana Zidan akan pulang kembali ke rumahnya. Jas yang dipakai Zidan membuat dirinya terlihat jauh lebih tampan.


Wangi maskulin yang menyeruak diseluruh kamarnya membuat Zidan jauh lebih percaya diri. Langkah kakinya terdengar dan membuat Anyelir yang sedang menyantap sarapan dimeja makan seketika menoleh ke arah sumber suara.


"Waw kau sangat tampan" kedipan mata Anyelir membuat Zidan merasa sedikit kikuk.


"Aku memang tampan sejak lahir. Cepat kau habiskan makananmu karena kita sebentar lagi akan menuju bandara"


"Kau tak mau makan dulu?"


"Nanti saja dirumah. Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan pujaan hatiku" ucap Zidan seraya tersenyum.


Anyelir menggelengkan kepalanya dan tesenyum manis mendengar kata kata Zidan.


"Eh iya, nanti suamiku akan menjemputku dibandara. Kau jangan lupa bahwa kau akan bertemu dengannya dan mengucapkan terimaksih karena telah membantuku saat kau tak ada" ucap Anyelir girang.


"Iya, iya. Aku akan menemui suamimu dan mengucapkan banyak banyak terimaksih karena telah membuat wanita manja yang selalu menempel padaku sekarang menjauh" balas Zidan seraya tertawa.


"Idih dasar pria stres. Dulu memang aku sangat bodoh bisa mencintai pria batu sepertimu. Tapi sekarang aku sudah mendapatkan pria yang jauh lebih baik darimu" ucap Anyelir seraya menjulurkan lidah.


Zidan yang merasa bahagia karena sebentar lagi akan menemui Nayla, tak menghiraukan perkataan Anyelir. Karena memang benar bahwa Rio suaminya Anyelir merupakan pria yang baik.


Kini mereka pergi berlalu menuju mobil dan segera pergi menuju bandara agar tak telat melakukan penerbangan. Seperti sebelumnya, Anyelir duduk tepat disamping Zidan dan mereka larut dalam canda tawa menceritakan kehidupannya yang sekarang.


Empat jam penerbangan yang dilakukan Anyelir dan Zidan membuat mereka tak sadar bahwa sudah saatnya mereka turun dari pesawat.


Awan yang cerah dan udara yang selalu dirindukan oleh Zidan membuatnya tersenyum bahagia.


"Nay, aku pulang" ucapnya dalam hati.


Dari kejauhan terlihat sosok pria tinggi berkulit putih yang datang membawa bunga ditangannya. Dari cara dia memandang Anyelir, sudah dipastikan bahwa dia adalah Rio suaminya Anyelir.


Anyelir berlari kecil lalu memeluk erat tubuh Rio. Sungguh pemandangan yang menyejukan.


Terlepas dari masalalu serta kesalahan yang kami berdua lakukan, Rio terkihat begitu mencintai Anyelir tanpa celah dan tanpa batas. Mata Rio menyatakan bahwa dia sangat tulus mencintai Anyelir dengan segala kesalahan serta keburukan yang ia lakukan dimasalalunya.


"Bagaimana kabarmu sayang?" ucap Rio pada Anyelir.


"Alhamdulillah aku baik. Oh iya kenalin mas, ini Zidan yang selalu aku ceritakan padamu dulu"


Rio mengulurkan tangan dan disambut hangat oleh Zidan.


"Kenalkan aku Rio" ucapnya seraya tersenyum.


"Aku Zidan, senang bisa bertemu dengan anda"


Tanpa diduga Anyelir kini memegang tangan Zidan dan Rio secara bersamaan.


"Kaliankan sudah saling kenal jadi mari kita temui calon istrimu Zidan. Aku sangat penasaran dengan dia"

__ADS_1


Rio dan Zidan berjalan dengan tangan dipegang erat oleh Anyelir. Ada perasaan risih dan tak enak tengah menyelimuti hati Zidan.


Bukan karena ia masih menyimpan rasa pada Anyelir, namun dia hanya tak enak hati kepada Rio karena istrinya memengang tangannya yang jelas jelas berstatus mantan kekasih.


"Maaf Nye, bisa lepaskan tanganku. Aku tak enak pada suamimu"


Anyelir dan Rio tertawa secara bersamaan.


"Santai saja, aku tidak apa apa" ucap Rio seraya tersenyum.


"Tuan Zaidani Atmaja yang terhormat. Maafkan atas kesalahan saya karena telah memegang tangan anda yang dingin seperti es. Aku hanya merasa senang karena melihat kalian bisa akrab walaupun kalian merupakan bagian dihidupku"


"Aku hanya tak enak saja pada suamimu Nye. Aku harus menjaga perasaannya"


Anyelir paham akan maksud Zidan, begitupun Rio. Dia paham bahwa mungkin Zidan merasa canggung karena ada dia yang kini sudah berstatuskan suami dari Anyelir.


******


Zidan, Anyelir dan Rio kini sudah berada didalam mobil. Mereka menghabiskan waktu selama satu jam didalam mobil dengan berbincang dan tertawa bersama.


"Ngomong ngomong, calon istrimu tinggal dimana?" tanya Rio pada Zidan.


"Sebenarnya dia bukan calon istriku. Aku masih berusaha mendapatkan hatinya agar mau menjadi istriku" ucap Zidan malu malu.


"Oh jadi kamu masih tahap pendekatan gitu? ngapain nunggu lama lama. Kalo cinta bicara baik baik datang pada orang tuanya dan segera halalkan dia" balas Rio menyemangati.


"Jadi kamu masih tahapan berjuang gitu? kukira kau memang sudah mau menikah ternyata masih pendekatan toh" Anyelir menimpali.


Zidan yang mulai menatap kearah luar jendela ,kini menerawang jauh mengenai perasaannya pada Nayla. Hatinya kini telah berisi nama Nayla walaupun masih ada cinta yang tersisa untuk Arumi.


Lama mereka diperjalanan, hingga akhirnya telah sampai dipanti asuhan Ibu Aisyah.


"Kenapa kesini Dan?" tanya Anyelir heran.


"Apakah calon istrimu adalah anak.."


"Ya dia anak yatim piatu Nye" potong Zidan dengan cepat.


Rio menepuk pundak Anyelir pelan untuk mengingatkan agar istrinya tak bertanya lebih jauh.


"Maaf" ucap Anyelir pelan.


Akhirnya mereka pun turun dari mobil dengan disambut banyak anak kecil.


"Om Zidan!" teriak anak anak serempak.


Tak perlu menunggu waktu lama, kini tubuh Zidan dikerumini banyak anak kecil yang mulai mejabat tangannya serta memeluk tubuh Zidan.


"Anak anak dimana kak Nayla?" ucap Zidan.


"Kak Nayla sedang dikamarnya om. Sudah seminggu Kak Nayla tidak mau keluar kamar"


Kini hati Zidan mulai tak tenang kala mendengar bahwa pujaan hatinya sedang dalam keadaan tidak baik baik saja.


"Ayo masuk Nye, Rio" Ajak Zidan pada Rio dan Anyelir yang tengah memandang kearah Zidan dan anak anak.


Anyelir dan Rio berjalan tepat dibelakng Zidan. Mereka terlihat bahagia melihat anak anak yang bermain disekitar mereka. Mungkin perasaan sensitif mereka sebagai orang tua yang belum memiliki anak membuat mereka menjadi sangat senang melihat malaikat kecil berlalu lalang.


"Assalamualaikum Bu, Nay" ucap Zidan seraya mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam. Siapa ?" jawab wanita dengan pelan.

__ADS_1


Tak berselang lama, Nayla membuka pintu. Tatapannya yang sendu, serta wajahnya yang pucat sangat membuat Zidan sedih.


Nayla yang melihat Zidan dihadapannya, tak dapat mengendalikan diri. Selama sebulan ini Nayla menjadi sangat nyaman jika berada didekat Zidan. Hingga saat pria yang selalu menjadi teman disaat suka maupun dukanya datang, tanpa basa basi Nayla langsung memeluk Zidan seraya menangis.


"Kau pulang mas, kau pulang"


"Ya aku pulang Nay. Maafkan aku karena tak bisa menjadi sandaran bagimu selama ini"


"Hidupku hancur, jiwaku rapuh. Pria be**jad itu telah mempermainkan aku dan Arumi. Dia jahat mas, sangat jahat. Bahkan se*tan pun malu jika disamakan dengan dia" isak Nayla didalam pelukan Zidan.


Anyelir dan Rio yang melihat Nayla menangis hanya bisa terdiam dengan seribu tanda tanya dipikirannya.


"Hapus dulu air matamu Nay, kau tak seharusnya menangis karena baji*ngan itu. Sudah kubilang air matamu terlalu berharga untuknya"


Zidan mengusap lembut pipi Nayla yang basah karena air mata. Zidan tahu bahwa ketika Nayla memeluk tubuhnya, otomatis malaikat akan mencatatnya sebagai dosa. Namun saat ini mungkin Nayla tengah merasakan kesedihan yang ia alami. Zidan tahu bagaimana rasanya menyimpan sendiri semua kesedihan yang dia alami. Sungguh berat dan memang berat. Namun yakinlah bahwa Allah SWT takan pernah memberikan cobaan ataupun ujian diluar kemampuan hambanya.


"Maafkan aku mas karena telah lancang memelukmu. Silahkan masuk" ucap Nayla seraya menghapus kasar air mata yang terus saja mengalir di pipinya.


"Assalamualaikum "ucap Anyelir dan Rio bersamaan .


"Waalaikumsalam" Nayla menjawab seraya mulai mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Maaf anda siapa?" tanya Nayla mulai membuka pembicaraan.


"Perkenalkan sama Anyelir dan ini suami saya Rio. Kami temannya Zidan"


Nayla tersenyum seraya memperkenalkan namanya.


"Kalian mau minum apa? saya akan buatkan dulu, kalian tunggu dulu disini. Saya permisi" Nayla pergi berlalu menuju dapur.


Tak berselang lama Ibu Aisyah datang dan menyambut hangat kedatangan Zidan, Anyelir dan Rio dihadapannya.


"Eh nak Zidan sudah pulang? kapan sampai?"


"Iya bu, Saya baru saja pulang tadi pagi. Perkenalkan bu ini Anyelir dan yang itu suaminya Rio. Mereka teman sekaligus partner bisnis saya"


Dengan cepat Anyelir dan Rio mencium tangan Ibu Aisyah dan memperkenalkan diri.


"Kalian pasti lelah diperjalanan, silahkan kalian istirahat dulu didalam. Kebetulan ada satu kamar yang sering di pakai petugas jaga di panti ini. Walaupun ruangannya sempit tapi In Sya Allah mengenai kebersihan kami sering menjaganya. Kalau nak Anyelir bisa istirahat dulu dikamar bersama Nayla. Nak Rio gak papakan jika istrinya dipisahkan terlebih dahulu? " ucap Ibu Aisyah dengan tertawa kecil.


"Terimakasih bu. Maaf jadi merepotkan " ucap Anyelir sungkan.


"Gak papa nak. Ibu senang jika kalian datang kesini, setidaknya dengan kedatangan kalian dapat membuat kesedihan Nayla sedikit berkurang"


Nayla datang dengan membawa nampan berisi teh hangat untuk mereka semua. Mata Nayla yang masih bengkak dan wajahnya yang pucat, membuat Zidan terus khwatir.


"Nay apa kamu sakit?"


"Emmmh en..engak mas. Cuman kurang istirahat saja"


"Kamu yakin gak papa? itu wajahmu pucat sekali. Kalau perlu perawatan, aku bisa antar kamu kerumah sakit"


"Ekhem ada yang khawatir nih" poting Anyelir seraya tertawa.


Rio dan Ibu Aisyah hanya tersenyum melihat kepanikan diwajah Zidan.


"Ya iyalah khawatir, kamu lihat aja mukanya, jadi pucat kaya tepung terigu"


"Mas itu khawatir atau memang mengejek. Tak bisakah mas berhenti menjadi orang menyebalkan sehari saja?" jawab Nayla geram.


"Aku bukan menyebalkan Nay. Aku hanya memiliki sifat yang unik. Siapapun yang berbicara denganku pasti takan pernah memiliki riwat darah rendah"

__ADS_1


"Ya iyalah, orang mas bikin lawan biacara pada naik darah!" ucap Nayla ketus.


Zidan berhasil membuat Nayla tak menjadi wanita pendiam. Seribu satu cara akan Zidan lakukan agar Nayla tak terbelenggu dengan kesedihan yang tengah ia alami. Walaupun dirinya harus dibenci sebelum dicintai, tapi setidaknya usaha yang selama ini ia lakukan agar bisa terus bersama Nayla akan segera terwujud.


__ADS_2