
Angin membawa pesan sendu pada sang pemilik rindu. Tak ada tawa ataupun kebahagiaan yang selalu saja terpancar dari wajah cantik Nikita.
Nayla menggoyangkan badan Nikita dengan pelan dan mengelus pelan pucuk kepala sahabtnya yang tak lama ia kenal. Tak ada ocehan menyebalkan serta penampilan yang ala kadarnya ia tampilkan saat ini. Hanya wajah pucat serta kecantikan alami yang terpancar dari wajahnya kini.
"Kamu cantik Nik. Kamu memang benar benar cantik seperti bidadari. Ku yakin pria yang kau cintai selama ini sangatlah beruntung"
Nayla bergumam dengan air mata yang mengalir saat menatap Nikita yang hanya diam membisu. Zidan yang ikut bersedih hanya bisa mencoba menenangkan Nayla dengan matanya yang mulai terlihat memerah menahan sedih.
"Jika nanti Hamdi terbangun. Apa yang harus aku katakan Nay?" Zidan bertanya pada Nayla dengan raut wajah sedih.
"Aku pun tak tahu mas. Yang jelas pastinya Hamdi akan sangat terpukul atas kepergian sepupunya yang sangat baik ini" Nayla membelai wajah Nikita dengan lembut.
"Maaf jenasah pasien akan kami pindahkan keruangan khusus jenasah. Tuan dan nyonya bisa melihatnya lagi nanti. Kami ikut berduka cita atas meninggalnya pasien. Semoga anda diberikan ketabahan serta keikhlasan." Perawat yang menangani Nikita kini mulai menutup wajah serta badan Nikita dengab sehelai kain putih.
Nayla yang merasa sedih hanya bisa memeluk tubuh tegap suaminya dan mulai mencurahkan kesedihan dihatinya.
******
Disisi lain Perlahan lahan, mata Hamdi mulai terbuka dan menatap langit putih ruangan tempat ia dirawat. Tak ada siapapun disampingnya saat ini dan ia pun merasa heran dengan kondisi tubuhnya yang terasa sakit apalagi dibagian punggungnya.
Perawat yang kebetulan masuk ubtuk mengecek kondisi Hamdi, begitu senang ketika melihat pasien yang ia rawat telah kembali siuman. Hingga kemudian ia pun berteriak memanggil sang dokter.
"Dokter! Dokter! pasien sudah sadar"
Tak lama kemudian seorang pria paruh baya dengan jas berwarna putih muncul dan mengecek kondisi Hamdi yang saat ini masih kebingungan.
"Saya kenapa?" tanya Hamdi dengan suara pelan.
Dokter menyimpan stetoskopnya kembali setelah memastikan semuanya baik baik saja. Sang dokter kemudian tersenyum dan mencoba membantu Hamdi yang akan terduduk.
"Anda saat ini tengah menjalani perawatan setelah oprasi pengangkatan peluru. Saya harap anda jangan dulu banyak bergerak dan pastikan jika luka terasa sakit segera bicara pada kami"
Hamdi tertegun dan mencoba mengingat semua kejadian yang sebelumnya terjadi. Hingga kemudian ia ingat dengan kejadian dimana dirinya pergi kesebuah rumah didalam hutan dan melihat Nikita yang disakiti oelh Frans.
__ADS_1
"Nikita" gumam Hamdi pelan.
Seketika ia kemudian mencoba untuk bangkit dan mencari sosok sepupunya yang selama ini mengorbankan nyawa demi misi untuk keadilan sang kekasih, yaitu Siska.
"Anda sedang apa! jangan dulu bangun dan bergerak terlalu banyak!" ujar dokter seraya mulai menengkan Hamdi yang mencoba mencabut jaruk infus yang menempel di lengannya.
"Saya harus melihat kondisi sepupu saya dok. Dia pasti saat ini juga tengah dirawat akibat siksaan yang ia terima dari laki laki baji**n itu. Tolong bantu saya keruangan Nikita dok. Saya mohon " wajah Hamdi begitu terlihat memelas kepada dokter.
"Nanti anda bisa bertemu dengan sepupu anda jika kondisinya sudah sehat. Sekarang pulihkan dulu kondisi tubuh anda" Dokter yang mengetahui kematian Nikita mencoba mengulur waktu Hamdi agar tak mengetahui kematian sepupunya tersebut.
Sesak didadanya saat merasakan ada yang tak beres dengan situasi yang terjadi saat itu. Ia bahkan tak tahu apa saja yang terjadi pada Nikita saat dirinya jatuh pingsan.
"Sial!" gumamnya kesal kala mengingat dirinya pingsan dan tak menjaga Nikita.
"Apa yang harus kita katakan padanya mas?" ucap Nayla diluar ruangan Hamdi.
"Aku juga tak tahu Nay. Yang ku inginkan ia bisa segera pulih dan sadar agar bisa menhadiri pemakaman"
"Pemakaman? siapa yang meninggal Dan?"
Walaupun tak tahu siapa yang telah mati, namun Hamdi mencoba mencari tahu tentang sosok yang telah pergi saat kejadian kemarin.
"Apakah si tua bangka itu ataukah anaknya yang baji**n? ternyata Nikita memang handal juga dalam bela diri" Hamdi tersenyum memikirkan kematian Frans ataupun ayahnya.
"Aku harus memberikan penghargaan untuknya karena telah membuat salah satu ibl**is itu mati" dengan semangat ia bangkit dan melepas paksa jarum infusan yang menempel ditangannya.
Dokter yang panik melihat tetesan darah yang keluar dari tangan Hamdi mencoba menahan tubuhnya dengan sekuat tenaga. Namun apa daya, keinginan serta kekuatan Hamdi yang begitu besar membuatnya tak bisa menahan pasiennya.
Zidan segera menarik lengan Hamdi yang berjalan sedikit sempoyongan menahan sakit dipunggungnya.
"Lepaskan aku Dan. Aku hanya ingin memeluk Nikita sebagai rasa terimaksih atas kematian baji**n itu. Aku ingin mengucapkan beribu terima kasih padanya serta mewujudkan keinginanya untuk menikahi pria yang selama ini ia cintai"
"Nikita belum bisa dijenguk Ham. Tolong mengertilah"
__ADS_1
"Ya sudah jika memang seperti itu. Aku hanya ingin melihatnya dari luar saja dan memberikan suport untuknya agar bisa segera sembuh. Dan akan aku pastikan menyeret lelaki yang selama ini ia cintai untuk mau menikahi wanita preman itu" Hamdi tersenyum mengingat wajah Nikita yang begitu menggemaskan ketika marah.
"Oh ya, apakah Nikita terluka parah sehingga belum bisa dijenguk siapapun Dan?"
Nayla mulai menangis kembali dan menatap Zidan yang begitu sedih.
"Kenapa kau menangis Nay? Nikita wanita yang kuat. Kau belum tahu wanita srigala itu kuat seperti baja" ledek Hamdi.
Zidan melepaskan pelukan Nayla dan berjalan kearah Hamdi. Dokter yang melihat tingkah Zidan sangat tahu bahwa saatnya Hamdi mengetahui kematian Nikita kemudian pergi berlalu meninggalkan mereka.
"Kenapa kau begitu sedih Dan ? kau seperti gorila jika sedang bersedih. Hidungmu mengembang dan membesar" Hamdi mencoba menenangkan hatinya yang mulai sedikit takut dengan tingkah mencurigakan yang Zidan serta Nayla tunjukan.
"Ini akan berat bagimu Ham. Tapi kau memang harus tahu tentang kematian orang yang sejak tadi kau bicarakan"
"Aku tahu kehebatan Nikita Dan. Orang brengs**itu memang pantas mati dan masuk kedalam neraka!" hardik Hamdi geram.
"Tapi yang mati bukanlah orang yang kita harapkan Ham! orang yang mati sejak tadi kau anggap lelucon adalah Nikita Ham! Nikita!"
Tanpa diduga Hamdi segera melayangkan pukulan kewajah Zidan dengan keras. Sampai pria tersebut tersungkur jatuh kelantai.
"Apa apan kau Ham! mengapa kau memukul suamiku" Nayla yang tak terima dengan perlakuan Hamdi segera berlari kecil mencoba membantu suaminya untuk berdiri.
Luka dikaki Zidan masih begitu sakit hingga membuatnya sedikit kesulitan untuk berdiri sendiri.
"Suamimu sudah mendoakan sepupuku mati Nay! Dia pantas mendapatkan pukulan itu bahkan lebih keras!" dada Hamdi naik turun menahan emosi serta kekesalan akan ucapan yang Zidan katakan.
"Tapi memang kenyataannya Nikita sudah tiada Ham! kau harus menerima kenyataan itu"
Hamdi terpaku diam mematung mendengarkan ucapan Nayla. Hatinya begitu sakit dan tubuhnya terasa hancur tak bertulang ketika mendengarkan ucapan Nayla.
"Kau sama seperti dia Nay. Kau berbohong" lirih Hamdi pelan.
Hamdi yang tak terima dengan kenyataan ini segera bergegas pergi untuk mencari keberadaan Nikita. Tubuhnya yang semula terasa ngilu dan sakit, kini tak terasa apapun, hanya sakit dihatinya begitu nyeri. Baik Zidan maupun Nayla tak ingin mencegah Hamdi karena mereka tahu bahwa saat ini sangat sulit untuk menerima kepahitan ini dan sebaiknya Hamdi melihat kenyataan tersebut.
__ADS_1