Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Skandal Ayah


__ADS_3

Mata sembab dan noda merah dipipi Siska membuatnya hanya bisa larut dalam penyesalan yang ia rasakan.


Janin yang tumbuh dirahimnya tak membuatnya bahagia akan kehadirannya. Masa muda yang ia miliki, harus terenggut bersamaan dengan perutnya yang mulai berisi anak didalamnya.


Entah siapa yang menjadi ayah dari sang jabang bayi yang tengah ia kandung. Yang pasti ketika malam itu terjadi, dirinya meminum jus jeruk yang diberikan Frans hingga membuatnya lupa semua kejadian yang telah ia alami.


Saat ini seluruh keluarga Bian sedang larut dalam masalah yang membuat reputasi perusahaan milik ayahnya Bian hancur.


Saham yang ditanam oleh beberapa perusahaan besar, kini telah mereka batalkan dan mereka cabut sebab video Bian dan Clara tengah menjadi perbincangan hangat dijejaring sosial.


Pria paruh baya bertubuh gempal kini hanya memandang nyalang pada sang putra kesayangannya yang telah mencoret nama baik yang dia miliki akibat skandal video asusila yang tengah ramai menjadi tontonan.


"Sekarang bagaimana aku harus menutup semua kerugian besar yang perusahaan alami" gumam ayah seraya memijat pelipisnya yang mulai terasa sakit.


Siska hanya diam mematung sedangkan Bian mulai menghapus seluruh akun sosial media yang dia punya.


"Sial!" umpatnya kesal.


Clara yang mencoba menenagkan suaminya mulai mendekat dan mengelus punggung sang suami.


"Kita harus cari siapa dalang yang sudah menyebarkan video ini!" tegas Bian.


"Mungkin saja semua ini ulahnya Nayla mas. Sebab hanya dia yang tahu pernikahan kita" jawab Clara.


Mata Bian mulai memerah mendengar penuturan Clara yang jika dipikirkan memang ada benarnya juga. Diambilnya kunci mobil dan mulai menuju tempat Nayla berasal.


"Kau mau kemana?" tanya ayah.


"Aku akan cari perempuan tak tahu diri itu dan memberinya pelajaran!"


Dengan emosi yang memuncak, Bian pergi meinggalkan Clara beserta ayah, ibu dan Siska yang tengah berada dirumah sakit.


Hingga ayah mulai mendekati tubuh Clara yang duduk disampingnya dan mulai mengusap lembut paha wanita berpakaian minim disampingnya.


Ibu yang kini tengah memeluk tubuh Siska tak tahu bahwa tangan suaminya tengah bergerak liar ditubuh menantu kesayangannya.


"Ahhh" ucap Clara yang spontan membuat ibu dan Siska menoleh kearahnya.


"Kamu kenapa?" tanya ibu heran.


"Euh..ini..ini tadi ada semut gigit kakiku bu"


Ayah yang mulai panik hanya bisa menelan salivanya yang mulai terasa mengering. Aksinya terlalu ekstrim dilakukan dihadapan anak serta istrinya.


Hingga ide liar mulai memenuhi isi otaknya. Dikirimnya pesan kepada wanita disampingnya untuk segera pulang dengan alasan Algi yang ditinggal bersama babysitter.


"Ibu aku pulang dulu ya. Aku lupa kalau Algi dirumah hanya berdua sama baby sitter. Aku takut Algi rewel lagi karna kondisinya belum benar benar pulih. Ibu gak papakan disini sendiri?"


"Iya gak papa Clara. kamu pulang mau sama siapa? Ibu khawatir kalau kamu pergi diantar ojek online"

__ADS_1


Ide pria betubuh gempal akhirnya berahasil. Kini gilirannya untuk bermain sandiwara pada istrinya sendiri.


"Clara biar ayah saja yang antar pulang bu. Ibu tungguin Siska disini sebentar. Nanti ayah balik lagi sekalian bawa pakaian ganti"


Senyum manis terukir diwajah wanita paruh baya yang merupakan istrinya sendiri.


Ayah dan Clara bergegas menuju halaman rumah sakit dan mulai menaiki kendaraan roda empat diparkiran.


"Mas ngapain suruh aku pulang?"


"Mas pusing mikirin masalah ini sayang. Sekarang mas mau kamu layanin mas sampai puas karna pelayananmu pada Bian jauh lebih menggoda dibandingkan pada mas" rengek ayah pada menantunya.


Perlahan pria tua itu mulai mendekatkan wajahnya kearah wanita cantik berambut panjang disampingnya.


Tak ada perlawanan dari Clara mengenai perlakuan ayah mertuanya sendiri malahan ia ikut menikmati setiap sentuhan lembut yang menempel dibibirnya yang merah.


Tangan ayah mertuanya kini menempel dibagian tubuh Clara yang notabenenya adalah menantu sekaligus istri dari putra satu satunya yang ia miliki.


Ke*upan hangat kini turun menuju leher jenjang milik Clara hingga membuatnya merasakan sensasi yang selalu ia butuhkan.


"Ahh" ucap Clara dengan pelan


Tangan mertuanya sangat aktif berada di tubuh Clara hingga membuat nafas keduanya terdengar tak beraturan.


Dibukanya sedikit pakaian yang menempel ditubuh Clara dan mulai menikmati setiap inci tubuh putih miliknya.


"Cuku...up mas. Kita teruskan dirumah ya. Aku...aku takut jika ada orang lewat"


Dipangkunya Clara walaupun kesusahan kemudian merebahkannya di atas ranjang tempat peraduan.


Tanpa menunggu banyak waktu kini dua insan yang tengah dilanda hawa nafsu, mulai melakukan aktivitas yang haram dilakukan oleh pasangan yang bukan muhrimnya.


Suara menjijikan terdengar semakin kencang memenuhi ruangan tempat pelepasan rindu. Tanpa mereka sadari kini , sepasang mata tengah memandang aktivitas yang mereka lakukan dengan bantuan kamera cctv yang terpasang.


Entah karena bodoh atauoun lupa. Rekaman cctv yang beredar menampilkan Clara dan Bian tengah berbuat asusila terekam ditempat yang sekarang mereka gunakan sebagai tempat berc*inta.


Saat ini Zidan tengah melihat ayah serta istri kedua adiknya tengah berbuat mesum dirumahnya yang merupakan peninggalan kedua orang tua kandungnya.


Marah sudah pasti dia rasakan saat ini, hanya karna Nayla dia bisa menahan semua perasaan murka yang tengah ia alami.


"Nay lihatlah ja*lang ini tengah melayani pria tua " ucap Zidan seraya memberikan ponsel berisi rekaman cctv kearah Nayla.


"Astagfirullah!" teriak Nayla membuat banyak pasang mata menatap heran kepadanya.


Mulutnya tertutup, juga matanya mulai menghadap arah lain. Tak ada niat sedikitpun untuk menonton video mesum istri kedua suaminya tersebut.


Saat Zidan sedang menyalin video berisi Clara dan ayahnya, satu panggilan masuk kedalam ponsel miliknya.


Nama Hamdi tertera disana, membuatnya mengerutkan kening.

__ADS_1


Tanpa berselang lama, panggilanpun mulai tersambung.


"Halo Zidan! Aku dapat kabar baik mengenai kasus Arumi"


Senyum mengembang diwajah pria tampan dengan jambang yang menghiasi wajahnya.


"Kabar apa Ham?"


"Sekarang aku tak bisa mengatakannya ditelpon, kau datanglah keapartemenku di jalan Muara Blok A21. Akan aku jelaskan secara langsung padamu."


Nayla yang merasa bingung dengan perubahan ekspresi pada Zidan mulai penasaran.


Saat panggilan telpon sudah terputus. Zidan dengan cepat menarik tangan Nayla meuju parkiran mobil dan menyuruhnya untuk masuk kedalam mobil miliknya.


"Ada apa ini mas?"


"Jangan tanya dulu Nay. Nanti kau juga akan tahu. Urusanmu sudah beres dipengadilan, sekarang kau ikut aku untuk bertemu dengan Hamdi. Ada kabar baik mengenai kasus kematian Arumi"


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Kawasan pinggir ibu kota terlihat sangat ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang.


Disisi lain, Bian yang kini emosi telah tiba di panti asuhan Ibu Aisyah. Tanpa ucapan salam, pria bertubuh kekar masuk kedalam rumah dengan mendorong pintu sangat keras.


"Dimana kau wanita kampung!" teriak Bian membuat Ibu Aisyah datang dengan ketakutan.


"Ada apa ini nak? datang datang kok marah marah?"


"Dimana anak haram itu hah! Dimana?! dia itu wanita tak tahu diuntung. Tanpa rasa bersalah dia menyebarkan aib suaminya yang harus ia tutupi. Didikan apa yang anda berikan pada anak haram itu!"


Bulir bening menetes diwajah keriput Ibu Aisyah. Takut dan terkejut yang ia alami bercampur jadi satu.


Anak anak yang mendengar keributan didepan rumah Ibunya kini berlarian dan memeluk ibu mereka.


Bian yang kesetanan kini masuk kedalam panti asuhan dan mulai mengobrak ngabrik kamar yang ada untuk mencari Nayla.


Anak anak lelaki yang mulai tumbuh menjadi remaja, akhirnya tak tinggal diam saat rumah mereka diacak acak oleh suami dari kakaknya.


Mereka dengan segera mengambil sapu, panci, hingga beberapa perabotan dapur untuk memukuli Bian yang tengah kesetanan.


Bian yang mencoba masuk kedalam kamar Ibu Aisyah dihadang oleh beberapa anak dan mulai dipukuli habis habisan.


Pukulan demi pukulan mendarat dikepala serta tubuh pria kekasr yang kini tengah meringkuk didalam kerumunan anak anak.


Tak lupa, beberapa gadis membawa air dan menyiram tubuh Bian yang mulai memar memar akibat pukulan.


Ditariknya tubuh Bian oleh anak remaja bertubuh gempal dan mulai menutup wajah Bian menggunakan panci serta memukul seluruh tubuhnya mengunakan gayung serta spatula.


Keributan yang terjadi didalam panti asuhan, membuat beberapa tetangga berdatangan menuju kediaman Ibu Aisyah. Terlihat wanita paruh baya tengah mencoba melerai anak anak yang duduk diatas tubuh Bian.


Wajah Bian kini mulai terlihat bengkak dan memar. Banyak noda merah keungu unguan terdapat dibeberapa bagian tubuhnya.

__ADS_1


Pak Rt yang datang kerumah Ibu Aisyah, membawa Bian keluar panti dan menyuruhnya pulang.


"Tunggu saja pembalasanku! akan ku buat panti ini hancur!" ucap Bian yang disambut oleh teriakan warga sekitar.


__ADS_2