
Hari berganti hari. Kini Siska sudah pulih dan bayinya pun sudah dipersilahkan untuk pulang dengan syarat harus tetap kontrol ke rumah sakit untuk mengecek kondisi bayinya yang terlahir prematur.
Wajah Siska yang tampak bercahaya dan cantik membuat seluruh keluarganya senang dengan ketegaran yang wanita muda itu miliki. Tak ada tangis ataupun wajah murung terpancar didalam dirinya sekarang sebab ia telah menjadi sosok wanita kuat dan naluri seorang ibunya sudah tergerak.
Sedikit demi sedikit luka didalam hatinya serta trauma yang ia miliki kini telah pudar berganti dengan kebahagiaan yang ia rasakan dari seluruh keluarganya dan pria masa depannya.
Senyumnya terus mengembang kala mengajak bicara bayi didalam pangkuannya yang terlihat tertidur seraya sesekali terbangun.
"Anak ibu ganteng banget. Anak ibu yang pintar ya"
Siska berdialog dengan bayinya yang hanya membalas dengan gerakan tangan yang sesekali mengusap wajahnya.
Nayla dan Zidan tersenyum melihat kebahagiaan yang Siska rasakan saat ini. Tak ada kebahagiaan di hidup Siska selain ketika melihat bayinya yang bisa sehat dan selamay dari masa masa sulitnya kemarin. Walaupun ada kelainan yang dialami bayinya pada bagian jantung, tapi setidaknya dia bisa melihat anaknya hidup.
Hamdi tak henti hentinya mengajak berbicara bayi di pangkuan Siska walaupun sedang terlelap dengan pulas.
*****
Tak ada kebahagiaan yang dapat dibeli dengan harta ataupun kekayaan. Seberapa ingin kau mencoba untuk bahagia, jika ada setitik rasa iri, dengki, tamak dan serakah didalam hati, maka hidupmu akan sia sia dan percuma.
Hari ini keluarga Atmaja sedang berkumpul didalam ruang tamu hanya sdkedar bercengkrama dan tertawa bersama.
Dering telpon di ponsel milik Hamdi terus saja berbunyi hingga membuatnya terpaksa pergi berlalu meninggalkan Zidan, Siska, Nayla dan ibu di ruang tamu untuk mengangkat telpon dari seseorang yang sangat penting baginya.
"Ya hallo. Ada apa Nik?"
"Hallo Ham aku ada info penting untukmu"
"Info apa Nikita? cepat katakan jangan buat aku penasaran"
Hamdi dengan semangat mendengarkan pernyataan yang Nikita berikan untuknya.
"Jadi ayah bocah tengik yang sedang kau cari ini sedang mencari seorang asisten perempuan untuk si Frans. Dia mencari asisten rumah tangga yang khusus diminta untuk menyiapkan segala keperluan sehari hari anaknya saja dan kau tahu? aku sudah mencoba melamar pekerjaan itu dan aku keterima Ham!" ucap Nikita senang.
"Bagus Nik. Aku sangat bangga padamu. Antara kebetulan atau memang takdir, kau bekerja untuk mengurus anak set*an itu dan itu akan membuat urusanku semakin mudah"
__ADS_1
"Beritahu aku urusanmu itu, dan sebagai imbalannya kau bisa menyuruh apapun padaku tanpa membayar imbalan sedikitpun, karena gajiku saja sudah besar dari pejabat koruptor itu"
Hamdi menarik nafas dan mulai menceritakan semuanya pada Nikita sepupunya.
"Jadi itu alasannya kau menyuruhku untuk menemukan anak set*an itu. Kau tak perlu khwatir Ham, aku akan membuat bocah tengik itu menderita dan mempertanggung jawablan semua kelakuannya pada kekasihmu. Aku janji"
"Terimaksih banyak Niki. Kau memang satu satunya saudaraku yang baik. Kau hati hati ya jika bersama baji*ngan itu. Kalau sampai dia macam macam, bilang saja padaku. Akan ku pastikan dia membusuk di penjara"
"Iya Ham sama sama. Kau tenang saja. Aku itu adalah mantan guru karate jadi kau tak perlu khawatir dia akan macam macam. Seblum dia menyentuh wajahku yang cantik ataupun badanku yang menggoda ini, akan ku pastikan tangan serta matanya hilang dari tempatnya"
Hamdi tertawa renyah mendengarkan perkataan yang Nikita ucapkan. Hingga akhirnya mereka pun memutus panggilan dan Hamdi segera masuk kedalam rumah kembali.
"Siapa yang telpon Ham? ku lihat kau begitu antusias mengangkat telpon dari orang tersebut"
Siska langsung menatap tajam kearah Hamdi yang berdiri diambang pintu.
"Eh.. itu..itu sepupuku Dan. Dia Nikita"
"Sepupu atau sepupu hah! " ketus Siska.
Ucapan Hamdi sontak membuat semua orang terkejut tak terkecuali Zidan yang menyuruhnya untuk mencari tahu keberadaan Frans.
"Kau sudah tahu dimana dia sekarang Ham?"
"Tentu saja Dan. Aku adalah ahli dalam mencari seseorang. Sejauh apapun orang yang ingin ku cari sembunyi, aku pasti menemukannya walaupun kedalam sarang semut sekalipun"
"Kalau saya bagaimana?"
Suara itu tak asing ditelinga. Sosok pria yang kemarin pamit pergi kini datang lagi secara tiba tiba.
"Jelangkun datang" umpat Zidan kesal.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Ibu Widya ketus.
Ayah dengan santainya masuk kedalam rumah Zidan dan duduk disamping Siska yang tengah menggendong bayi didalam pangkuannya.
__ADS_1
"Ayah kemana saja kemarin?" ucap Siska datar.
"Ayah kemarin pulang dulu ada urusan sayang. Pabrik ayah sekarang menjadi pabrik terbesar di kota itu jadi ayah tak bisa berlama lama meninggalkan pabrik ayah"
"Oh pabrik ya. Kalu pabrik ayah lebih penting maka untuk apa ayah datang kesini? Bukannya ayah tak bisa meninggalkan penghasilan ayah?"
Seberapa kejam perlakuan ayahnya pada Ibu Widya, bagi Siska ayahnya tetaplah pria yang sangat ia butuhkan dimasa masa sulit seperti sekarang. Walaupun saat ini Siska sudah menjadi seorang ibu, tapi sifat kekanak kanakannya saat bersama ayahnya masih tetap ada.
"Maafkan ayah nak. Pabrik itu satu satunya penghasilan ayah saat ini. Jadi ayah takut jika ayah meninggalkan pabrik terlalu lama, akan terjadi sesuatu hal buruk disana. Lagi pula jika saja kau bisa mempercepat pernikahanmu dengan Hamdi, maka ayahkan tak perlu bekerja terlalu keras karena mendapatkan Cafe darinya"
Zidan menatap tajam kearah ayah kemudian menatap kearah Hamdi.
"Apa yang kau katakan?"
"Aku bilang aku akan mendapatkan usaha baru dari calon menantuku Hamdi jika Siska menikah dengannya"
Zidan bangkit dari sofa dan berjalan kearah Hamdi berdiri.
"Apa yang dia katakan benar Ham? kau memberikan salah satu usahamu pada pria tamak itu agar kau direstui menikah dengan Siska? iya! Kau kira, kau bisa membeli Siska dengan uangmu hah!" teriak Zidan sontak membuat bayi dopangkuan Siska menangis.
"Aku hanya memberikan itu sebagai syarat saja Dan. Kau jangan salah paham. Aku tak berniat membeli Siska darinya. Ibu juga tahu apa yang kami bicarakan dirumah sakit kemarin"
"Iya nak, Hamdi tak berniat seperti itu. Pria gila itu yang ingin mendapatkan harta dari Hamdi sebagai syaratnya merestui pernikahan Siska"
Siska dan Nayla pergi berlalu menuju lantai atas untuk menenangkan bayinya yang menangis karena terkejut dengan perdebatan yang terjadi.
"Apakah kau yakin Siska akan menerima lamaranmu setelah tahu bahwa kau memberikan hartamu pada pria ini" tunjuk Zidan pada ayah.
"Jangan kau acungkan tangan kotormu padaku. Aku adalah ayahmu, aku yang membesarkanmu sejak kecil. Kau bisa sopan sedikit padaku hah!"
"Maafkan aku, tapi bagiku kau bukanlah ayahku. Suatu kesalahan bagiku karena telah memanggilmu dengan gelar yang sebenarnya tak pernah pantas kau dapatkan. Lagi pula kau hanya pamanku bukan ayahku!"
Zidan pergi berlalu meninggalkan ayah dan Hamdi yang berdiri mematung. Ibu Widya menatap sendu pada Hamdi dan mengajaknya untuk pergi menemui Siska di lantai atas.
Lain halnya dengan ayah, yang mulai terduduk diatas sofa seraya memikirkan kemewahan yang akan ia dapat setelah putrinya menikah dengan Hamdi sang pengusaha muda bergelimang harta.
__ADS_1