Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Mertuaku


__ADS_3

Hari pertama berada di rumah mertua Santi seperti biasa mengerjakan pekerjaan yang sama seperti di rumahnya, mulai dari mencuci pakaian, membersihkan rumah sampai memasak untuk sarapan.


Sebenarnya Santi masih agak bingung dengan ruangan ruangan yang ada di rumah mertua tapi di telusuri saja, di bersihkan semua ruangan dan di rapikan semua yang berantakan.


"Sant." Suara mama mertua memanggil dengan nada yang sangat tinggi.


"Iya, Mah. Ada apa?" jawab Santi sambil buru buru menemui beliau.


"Kamu udah masak belum? mama mau nasi goreng tolong buatkan sekarang!" ucap mama sambil pergi ke arah kamarnya lagi.


"Iya, Mah.." jawab Santi singkat


"Biar ibu saja yang bikinkan nasi gorengnya, kamu bangunin suamimu saja, ajak sarapan bareng." pinta ibu kepada Santi sambil mengambil pisau dan mulai bikin nasi goreng permintaan besan.


Setibanya dikamar Santi mendapati suaminya telah berpakaian rapi dengan kemeja dan topi hitam yang menambah kegagahannya.


"Mas, mau kemana?" tanya Santi keheranan melihat Agus telah rapi sepagi ini padahal seharusnya seminggu ke depan ia masih ada cuti.


"Mas mau ngecek perkebunan." jawab Agus singkat.


"Hmm.. ya sudah kita sarapan dulu yu mas!" ajak Santi sambil maja memegang tangan Agus.


Tapi sepertinya Agus tidak merespon ajakan Santi, Agus hanya berbalik badan dan merapikan pakaiannya lagi.


Santi duduk di kasur sambil memandang suaminya, kini Santi mulai merengek mengajak Agus sarapan bareng bersama keluarga besarnya.


"Mas, ayo sarapan bareng. Inikan sarapan pertamaku di rumah ini." rengek santi sambil mengedip-kedipkan matanya.


"Ayo!" jawab agus langsung berjalan ke arah ruang makan.


Di meja makan sudah tersedia sarapan yang tadi pagi di siapkan Santi dan nasi goreng buatan ibunya buat mama mertua. Disana juga sudah terlihat papa dan adik ipar sedang menikmati sarapan.


"Agus kamu anterin ibunya Santi ke kampung sekalian kamu berangkat kerja." terdengar suara mama dari belakang yang berjalan menuju meja makan.


"Iya, Mah." jawab Agus singkat sambil duduk di pinggir papa nya.


"Kamu seharusnya cuti lebih lama lagi gus, toh perkebunan itu milik keluarga kita dan kita juga punya orang kepercayaan disana, jadi kamu tidak perlu kuatir. kamu ajak saja Santi jalan jalan." usul papa mertua yang selalu membuat Santi merasa senang, tidak seperti mama mertua yang sudah kelihatan tidak menyukainya

__ADS_1


"Lah sudah lah. Hus.. hus.. Pikiran jelek sana pergi.. aargh.." batin Santi yang selalu merasa bahwa mama mertuanya itu tidak menyukainya.


Sebelum ibu Santi berangkat, Santi memberikan uang untuk kebutuhan ibunya selama sebulan, karena setiap sebulan sekali Santi akan meminta izin pada suaminya untuk menjenguk ibunya di kampung.


Perasaan sedih menyelimuti hati Santi, rasanya Santi belum rela ditinggalkan sendirian oleh ibunya. Tapi inilah kehidupan yang telah dipilih Santi.


Karena sekarang Santi sudah menjadi istri dari seorang yang kaya maka kebutuhan Santi akan gampang terpenuhi, dan akhirnya Agus melarang Santi untuk berjualan online lagi. Padahal berjualan online tidak banyak menyita waktu dan lumayan penghasilan bisa buat ibunya di kampung.


Mas Agus dan ibu pun berlalu.


Santi pergi ke arah kamar membuka pintu kamar dan berniat beristirahat setelah semua pekerjaan selesai, rumah yang gede membuat Santi kelelahan membersihkannya sendirian.


Brrugg!


"Nih, cuci sampai bersih ya, kalau mau hidup disini jangan males-malesan!" teriak Dila sang adik ipar menaruh cucian segunung itu di tanganku.


"Tapi nanti siang asisten rumah tangga mau dateng, mba mau istirahat dulu sebentar." jawab Santi kesal dengan tingkah adik iparnya itu, kemudian Santi berniat membawa cucian kotor ke dalam kamarnya, segera Santi membuka pintu kamarnya.


Brrugg!


"Kamu disini itu menggantikan asisten rumah tangga. Ngerti!" matanya melotot hampir mau keluar.


Tanpa sepatah kata Santi langsung mencucikan pakainnya.


Plak.. plak.. plak..


Suara langkah kaki itu membuyarkan lamunan Santi yang sedang menunggu cucian dikeringkan.


"Santi sekarang kamu adalah bagian dari kelurga ini jadi semua pekerjaan rumah mama serahkan padamu, soal asisten mama sudah memberhentikannya. Sepertinya kamu sudah paham dengan kata kata mama, iya kan?" dengan senyum sinisnya mama mertua langsung berlalu.


Santi tak pernah mengira akan menjadi seperti ini. mama mertua dan adik iparnya memperlakukan Santi seperti asisten rumah tangga.


Semua pekerjaan telah selesai untuk mengisi waktu luang Santi mencoba baca-baca buku yang ada dikamar Agus, terselip di salah satu buku sebuah foto perempuan cantik berkerudung putih yang bertuliskan Zihan dibelakang foto itu. Seketika perasaan campur aduk di hati Santi. Ia takut dan ada sedikit rasa cemburu dalam hatinya.


"Siapa orang ini, apa hubungannya dengan mas Agus?" Santi benar benar bertanya dalam hati kecilnya


"Santi!" Teriakan itu kembali di dengar Santi. Santi yang terburu-buru menghampiri mama mertuanya sampai ia meletakan foto itu di kasur.

__ADS_1


"Iya, Mah. Ada apa?" jawabku


"Kamu ke pasar beli ikan sayuran dan buah buahan ini uangnya." sambil menyodorkan uang 200 ribu.


"Tapi inget kamu jalan kaki saja biar hemat ongkos sekalian olahraga biar ga di kamar mulu." tambahnya lagi.


"Jangan lupa kembalian dan minta bon biar kamu tau diri yang mencari uang itu susah payah jangan kamu hambur-hamburkan." Tambahnya lagi dengan mata yang selalu menatap penuh dengan kebencian.


Drett. drett.


suara getar ponselku menunjukan ada pesan masuk dan ternyata dari suamiku.


"Dek, ini ibu sudah sampai di rumah, mas lanjut balik saja sepertinya badan mas kurang sehat kalau harus bekerja." sebuah pesan singkat dari Agus.


"Iya, Mas terimakasih sudah mengantarkan ibu pulang." bales Santi singkat.


Santi langsung bergegas pergi ke pasar biar tidak ada alasan lagi mama mertua memarahinya.


Santi melirik ke arah jam tangannya dan ternyata jam sudah menunjukan ke jam 11 siang tapi Santi baru saja tiba di pasar. Tanpa istirahat Santi langsung menerobos pasar.


"Sepertinya sudah semua aku beli?" pikir Santi sambil membaca bon dan menghitungnya agar kembaliannya sama sepeti yang tertulis.


Jalan pulang tak terasa tiba-tiba saja sudah sampai gerbang rumah rasanya cape hilang langsung dan segera menuju dapur dan merapikannya menyusun dalam lemari. tak menuggu lama Santi langsung ketuk pintu kamar mama.


Tok.. tok.. tok..


"Mah." Santi memanggil dengan suara yang pelan.


"mana bon nya? awas ya kalau kamu berani bohongi mama!" ancam mama.


"Tidak mah tadi aku jalan kaki pulang pergi." Jawab Santi lantang.


"Ya, sudah bagus kalau kamu nurut." Sambil menutup kembali pintu kamarnya.


Brrugg!


Lanjut merapikan baju yang sudah kering dan mulai berperang lagi dengan kerjaan yang selalu menumpuk dan tak pernah ada habisnya.

__ADS_1


__ADS_2