
Pagi telah tiba menampilkan sinarnya yang masuk melalui celah jendela. Sesaat Nayla yang sudah bangun sejak subuh, kini tengah memotong sayuran didapur untuk sarapan pagi ini.
Zidan yang tengah asik berenang di kolam yang letaknya ada di samping villa, terus saja terdengar tertawa bersama Hamdi. Misi kali ini sungguh sangat menantang bagi Zidan, karena saat ini ia harus terlibat didalam lingkup orang besar yang memiliki jabatan kuat tetapi merupakan seorang bandar serta koruptor yang handal.
Tak ada yang mampu membuatnya senang kecuali dengan kehadiran Nayla dan Hamdi dikehidupannya saat ini. Masalah serta tanggung jawabnya dikantor bisa ia wakilkan pada tangan kanan kepercayaannya yang telah bekerja selama 30 tahun diperusahaan milik almarhum ayahnya.
Wangi masakan yang tengah Nayla siapkan didapur berhasil membuat perut Zidan dan Hamdi berbunyi menahan lapar. Nayla memang seorang istri yang bisa diandalkan. setiap masakan yang ia buat, selalu berhasil membuat lidah Zidan dan Hamdi merasa puas dengan rasa yang ada di makanannya.
"Mas Zidan ini sarapannya sudah siap. Ayo udahan dulu berenangnya. Kita makan dulu sebentar lagi mau siang!" teriak Nayla dengan kencang.
Sontak saja Zidan dan Hamdi yang mendengar suara Nayla berkata bahwa makanan sudah siap, segera berlari dengan hanya menggunakan handuk kimono yang mereka gunakan dan mulai duduk di ruang makan.
"Pakai dulu bajunya Mas!" bentak Nayla melihat suaminya yang mulai meminum air di dalam gelas.
"Tanggung Nay. Nanti juga aku mau renang lagi sama Hamdi. Kita udah lapar. Ayo makan dulu Nay" jawab Zidan seraya tersenyum.
Nayla hanya bisa terdiam mendengarkan perkataan suaminya. Piring dan sendok yang sudab tertata rapih diatas meja makan kini mulai terpakai oleh ketiga orang yang sedang asik tengah menyantap sarapan.
Dering ponsel Hamdi membuat Nayla dan Zidan seketika menghentikan aktivitas makannya dan mulai melihat kearah Hamdi yang sedang berbicara dwngn seseorang di ponselnya.
"Hallo. Iya Nik ada apa?" tanya Hamdi seraya menyuapkan sesendok besar makanan kemulutnya.
"Jadi baji***ngan itu sudah setuju untuk menjadikan Nayla dan Zidan sebagai supir dan ART disana?"
"Baik, baik. Bagus kalau begitu.Nanti sore akan aku antar mereka ke tempatmu. Kau sharelock aja tempatnya nanti. Dah"
Panggilan pun sudah terputus. Hamdi dengan senyum mengembang kemudian mengatakan bahwa rencana Nikita agar Nayla dan Zidan bisa masuk kesana dengan aman berhasil.
__ADS_1
"Nikita sudah memberi kabar bahwa kau Dan, akan menjadi supir pribadinya Frans dan Nayla akan menjadi pembantu disana"
Seketika Zidan menoleh kepada Hamdi dan mau tidak mau ia hanya mengangguk pasrah mendengarkan bahwa dirinya akan menjadi seorang supir dan isrinya yaitu Nayla akan menjadi pembantu dirumah pria yang sudah menodai Siska.
Ini semua demi keadilan yang harus Siska dapatkan atas semua penderitaannya selama ini.
"Ya sudah jam berapa kita harus berangkat Ham?"
"Nanti jam 3 sore kita berangkat ke rumah Frans. Aku akan mengantar kalian. Sekarang bereskan terlebih dahulu pakaian yang akan kalian gunakan selama misi ini berlangsung. Aku harap kalian akan cepat mendapatkan bukti yang kuat untuk menemukan siapa saja pelaku pelecehan Siska serta cepat juga mendapatkan bukti atas semua kejahatan yang Frans telah lakukan pada Siska"
Nayla menganggukan kepala dan mulai menyantap kembali sarapan yang ada dihadapannya.
Siang telah tiba, kini Nayla dan Zidan bersiap siap untuk pergi jalan jalan menikmati udara di sekitaran kota ini. Villa yang nyaman serta udaranya yang sejuk membuat keduanya pergi dengan mengendarai kemdaraan umum dan pergi menuju pasar tradisional disana.
Hamdi sengaja tak ikut sebab ia tahu bahwa misi ini akan sedikit menganggu pernikahan yang baru saja terjadi antara Nayla dan Zidan. Maka dari itu, sebelum mereka pergi menuju tempat Frans dan menjalankan semua rencananya, biarkan Nayla dan Zidan menikmati masa masa bahagianya berdua saja.
Tak pernah sedetikpun Zidan berpaling dari wajah Nayla yang sangat meneduhkan baginya. Aura kecantikan serta keanggunan di wajah Nayla begitu terpancar dengan budi pekertinya yang begitu sopan dan baik pada orang lain.
Dipasar, Nayla mencoba membantu seorang wanita paruh baya yang akan melintasi jalan ramai kendaraan. Zidan yang mengetahui niat baik sang istri justru membantunya juga untuk menyebrang jalan.
Keduanya begitu menikmati jalan jalan kali ini dengan tawa dan canda bersama, hingga saat sore telah tiba, keduanya segera pergi berlalu untuk pulang ke villa.
Hamdi yang tengah duduk bersama Nikita seketika menoleh kearah Zidan dan Nayla yang baru saja sampai didepan pintu.
Dengan pakaian yang minim Nikita berlari menghampiri Nayla dan Zidan yang tengah memandang tubuh Nikita sedikit terbuka.
"Kalian sudah pulang? syukurlah. Ayo kita pergi sekarang. Frans sudah menunggu kedatangan kalian dirumahnya"
__ADS_1
Tanpa menjawab sepatah kata pun yang keluar dari mulut Nikita, Nayla hanya bisa menutup mata suaminya dengan tangannya yang mungil.
"Maaf Niki. Bukannya aku tak sopan, tapi sebaiknya kau pakai dulu jaket soalnya ada Mas Zidan dan Hamdi disini melihat auratmu"
Seketika Nikita tertawa dan mulai berlari mengambil jaketnya yang berada diatas sofa.
"Hahaha,. aku lupa. Maafkan aku Nay, aku tak bermaksud menggoda suamimu"
"Tak papa Niki"
"Ya sudah, cepat ambil semua barang barang yang akan kalian bawa. Kita tak punya banyak waktu, mumpung du rumah masih ada si tua bangka ayahnya Frans. Oh ya, kalian tidak lupa kan? bahwa kalian harus membawa pakaian yang lusuh saja disana. Supaya tak ada yang curiga dengan identitas kalian sebenarnya"
"Tentu kami tak lupa. Aku hanya memiliki kaos saja dan Nayla pun tak banyak memiliki gamis. Jadi kau tak perlu khwatir bahwa pemyamaran kita tak akan bisa ditebak"
Hamdi yang mendengarkan obrolan antara Nikita dan Nayla, Zidan hanya bisa terdiam memikirkan rencana selanjutnya.
"Sekarang kita berangkat dulu kesana, dan jangan lupa bawa cctv kecil ini dan pasang di tempat yang takan disadari oleh orang rumah nanti. Aku akan memantau kalian dari cctv itu. Dan ingat, jangan sampai membuat mereka curiga dengan rencana ini. Aku percayakan pada kalian. Terutama kamu Niki"
"Kau bisa memegang janjiku Ham. Aku berjanji akan menjebloskan mereka kedalam penjara karena sudah menyakiti calon saudara iparku"
Hamdi tersenyum kearah Nikita yang tengah memakai jaket.
"Ya sudah, ayo berangkat"
Nikita mulai berjalan menuju mobilnya dan disusul dengan Zidan, dan Nayla yang membawa koper serta meletakannnya didalam bagasi mobil.
"Bismillah" gumam Nayla pelan.
__ADS_1