
Nayla tersenyum bahagia setelah mengetahui bahwa kini dirinya sedang berbadan dua. Tak ada kata kata yang mampu ia ucapkan selain rasa syukur pada Allah karena telah menghadirkan malaikat kecil didalam perutnya.
"Apakah kita harus mengatakan kabar bahagia ini pada ibu Aisyah, ibu dan Siska?" tanya Zidan seraya menyuapkan makanan pada Nayla.
Nayla menggeleng pelan sebab masih memikirkan keadaan Hamdi saat ini.
"Bagaimana dengan Hamdi mas? saat ini Siska tak bisa datang kesini jika mengetahui bahwa Hamdi mengalami musibah"
"Iya Nay aku tahu. Tapi bisa saja dengan Siska mengetahui musibah ini, Hamdi bisa sedikit ikhlas dengan kepergian Nikita sebab Siska pasti akan lebih memperhatikannya walaupun lewat sambungan telpon"
"Untuk itu terserah kau saja mas. Yang pasti, kini kau harus menemuinya agar ia bisa sedikit mengeluarkan semua keluh kesah serta beban pikiran yang selama ini ia pendam. Kau tahu bahwa kehilangan sosok yang begitu dekat dengan kita itu sangat menyakitkan. Aku dan kau pernah sama sama mengalaminya" ucap Nayla dengan pandangan mata yang sendu.
" Baiklah Nay. Kau tunggu disini. Jika terjadi apa apa atau kau ingin sesuatu cepat telpon aku. Aku akan datang kembali"
Nayla menganggukan kepala, hingga tak lama kemudian Zidan pun izin pamit pada Nayla yang saat ini tengah terbaring. Tak lupa Zidan mencium kening sang istri dengan lembut serta mengusap perut Nayla yang masih datar.
"Aku pergi dulu ya sayang. Istirahatlah yang cukup. Aku akan segera kembali"
Zidan pun akhirnya pergi berlalu meninggalkan Nayla yang kini mulai memejamkan matanya. Jenasah Nikita yang masih berada dirumah sakit masih belum bisa dikuburkan sebab otopsi yang dilakukan pihak kepolisian belum selesai. Selain itu, Hamdi yang saat ini masih terpuruk, juga belum bisa merelakan kepergian Nikita sehingga jika sampai dirinya masih belum ikhlas melepaskan orang yang selama ini mencintainya, bisa saja Hamdi megacaukan proses pemakamannya nanti.
*******
Andi yang kini diselimuti rasa bersalah pada Siska serta Nikita mulai menangis pilu dikamarnya yang sepi dan gelap. Tangisnya pecah kala mengingat semua dosa dosanya pada Siska karena telah ikut serta dalam kasus pelecehannya dulu. Ia begitu menyesal kala mengingat semua kesalahan yang ia lakukan pada gadis tak bersalah itu hingga membuatnya hamil dan melahirkan seorang putra tanpa kepastian siapa ayah biologisnya.
__ADS_1
"Akhhhhhh!" teriak Andi keras.
"Aku hanya seorang pendosa yang tuhanpun takan sudi memaafkanku!" maki Andi pada dirinya sendiri.
"Bagiaman mungkin aku bisa hidup selama ini setelah kejadian itu? aku benar benar merasa bahwa diriku adalah sesosok monster menyeramkan saat ini" Andi menutup wajahnya dengan kasar dan mulai bangkit berjalan menuju cermin besar dikamarnya.
"Lihatlah! wajah pendosa ini sungguh menjijikan! ku yakin, Siska pun takan sudi jika melihat wajahku setelah tahu aku ikut serta merenggut mahkotanya" Tak berselang lama, Andi memukul dengan kencang cermin dihadapannya, hingga menjadi serpihan kecil yang berserakan diatas lantai.
Darah segar mengucur dari tangannya akibat luka dari sayatan kaca. Tubuhnya bergetar, menangisi setiap kebodohan yang sudah ia lalukan.
"Kau bahkan diberikan kesempatan hidup oleh seseorang, hingga orang itu mati karenamu Andi!" teriaknya lagi.
"Kau sungguh benar benar seorang ibl**lis!"
Dikemudikannya dengan cepat, mobil sport pemberian Hamdi sebab ia meraih prestasi di universitasnya menuju ke rumah sakit. Hingga tak cukup memakan banyak waktu, kini Andi sudah sampai di halaman rumah sakit dan mencari ruangan tempat Hamdi dirawat.
"Maaf mbak. Saya mau tanya, dimanakah tempat pasien atas nama Hamdi Wijaya dirawat? saya kerabat pasien" tanya Andi pada seorang wanita yang sedang berada dibagian lobi rumah sakit.
"Tunggu sebentar ya pak. Saya akan mencari datanya terlebih dahulu. Maaf atas nama siapa?"
"Saya Andi mbak."
"Baik. Pasien yang bernama Hamdi Wijaya sedang dirawat di ruangan sebelah kanan dekat mushola dilantai dua. Ruangannya tepat dibagian paling ujung lorong rumah sakit"
__ADS_1
"Terimakasih" jawab Andi singkat.
Andi segera berlari menuju lift dan menekan tombol menuju lantai dua. Ia kemudian mencari cari ruangan yang dimaksud oleh wanita tadi, sampai akhirnya ia pun menemukan kamar tempat Hamdi dirawat.
Langkah kakinya terhenti akibat rasa takut akan ekspresi yang ditunjukan Hamdi pada dirinya nanti. Namun tanggung jawab serta rasa salahnya yang begitu besar membuat Andi begitu ingin membicarakan semuanya pada orang yang selama ini telah berbuat baik padanya. Ditariknya nafas dalam dalam dan menghembuskannya dengan pelan.
Pintu terbuka dengan lebar. Terluhat dua orang pria tengah berbincang tanpa saling pandang satu sama lain. Ya, dia adalah Zidan dan Hamdi.
Hamdi yang menyadari kedatangan Andi segera mecoba untuk bangkit, namun dicekal kuat oleh Zidan yang melihat amarah dimata Hamdi.
"Mau apa kau kesini pembunuh?"
"Dia bukan pembunuh Ham. Dia adalah orang yang sudah diselamatkan Nikita. Dia tak salah"
"Justru karenanya Nikita mati Dan. Karena menyelamatkan orang tak berguna sepertinya, sahabatku mati!" bentak Hamdi dengan gigi yang gemertak menahan amarah.
"Ak..aku kesini hanya ingin memberi tahumu bahwa mungkin esok aku ditahan sebab kasus pelecehan terhadap Siska sedang diusut. Tadi aku sudah dimintai keterangan dan juga sudah menceritakan semua detail kejadian secara jujur dan rinci. Aku harap kau mau memaafkan kesalahanku walaupun ku tahu itu sangat tak mungkin. Aku sudah menganggapmu sebagai kakakku dan aku sangat bersyukur sebab tuhan sudah mempertemukanku dengan orang baik sepertimu. Kumohon jangan bilang apapun pada ibuku sebab dia pasti akan sakit jika mengetahui bahwa aku seorang penjahat sekaligus ibl**s. Aku akan pergi kekantor polisi sekarang. Kumohon jaga ibuku tuan" Andi kemudian pamit dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut tanpa mendengar jawaban dari Hamdi atas ucapannya.
"Semoga lekas sembuh Bang Hamdi" lanjutnya dengan pelan.
Ia begitu yakin bahwa sebenci apapun Hamdi terhadap dirinya, ia takan pernah tega menyakiti ibunya apalagi membuat ibunya mengetahui bahwa kini ia tak lama lagi akan ditetapkan sebagai tersangka. Andi tak pernah berpikir sebelumnya bahwa hasratnya pada Siska akan membuatnya terjerat masalah serumit ini.
Cinta dan nafsunya yang sudah buta, membuat dirinya begitu tega ikut menghancurkan masa depan Siska tanpa rasa iba sedikitpun. Dipikirannya saat itu hanya Siska tak boleh mengandung anak para baj**n itu dan ia akui bahwa saat itu ketika melihat tubuh polos Siska, jiwa lelakinya mulai tergoda untuk ikut mencicipi Siska.
__ADS_1