
...Takan pernah bisa kita menilai seseorang dari penampilan luarnya saja....
...Terkadang apa yang kita lihat tak seburuk yang kita duga....
...Serta terkadang apa yang kita dengar tak seperti apa yang kita kira....
"Buka pintunya cepat!" suara lantang dari luar kamar Frans sontak membuat dirinya merasakan kesal dan bangkit dengan amarahnya.
Nikita yang merasa terselamatkan oleh suara dari luar, seketika terbangun dan merapihkan pakaiannya yang sempat tak karuan. Entah siapa pria yang berani menganggu Frans yang tenagh melakukan aksi bejatnya, yang jelas pria itu telah menyelamatkan Nikita dari cengkraman pria gila itu.
"Siapa!" teriak Frans dengan keras.
Tak lama pintu pun terbuka lebar menampilkan sesosok pria bertubuh gempal yang tak asing dihidup Frans.
"Ayah" pekiknya pelan.
"Ada yang ingin ayah bicarakan sama kamu. Ku harap kau bisa hentikan dulu aktivitasmu bersama wanita muraha**n itu"
Seketika Frans menatap Nikita yang tengah merapihkan bajunya didalam kamar.
"Ya sudah, nanti aku kesana. Aku akan pakai baju dulu" jawab Frans ketus.
Tak berselang lama, akhirnya Frans kembali kedalam kamar dan menc*um sekilas bibir Nikita hingga kemudian ia pergi berlalu meninggalkannya.
"Tunggu aku sayang, nanti aku kesini lagi. Kau persiapkanlah dirimu dengan baik"
Nikita terdiam mendengarkan perkataan menjijikan yang keluar dari mulut Frans. Ia kemudian segera berjalan menuju kamar Nayla untuk menanyakan perihal rencana yang telah mereka kerjakan.
Langkah gontai Nikita lakukan sebab mengingat kejadian yang baru saja ia alami. Bukannya menikmati, hanya saja Nikita merasa jijik sengan tubuhnya sendiri. Entah kenapa setelah beberapa kali ia tidur dengan pria , baru kali ini ia merasakan muak dengan tubuhnya sendiri. Ia tahu selama ini ia telah melakukan zina dengan banyak pria, hanya saja baru kali ini pikirannya kalut dan terbayang akan dosa dosa itu.
Nayla dan Zidan yang baru saja akan berjalan kekamar Nikita dikagetkan dengan penampilan wajah Nikita yang begitu murung.
"Kau kenapa Niki? kau baik baik saja kan?" tanya Nayla cemas.
"Aku tak papa Nay. Kau tak perlu khawatir, aku baik baik saja"
Tatapan kosong dari Nikita membuat Nayla tahu bahwa sebenarnya Nikita menyimpan sesuatu.
__ADS_1
" Kami sudah dapat berkas yang kamu maksud. serta aku juga dapat satu foto teman teman dari Frans sewaktu dia SMA" ucap Zidan bersemangat.
Nikita tersenyum senang hingga kemudian ia berinisiatif menggiring Nayla dan Zidan untuk segera masuk ke kamar mereka dan menelpon Hamdi.
"Kita telpon dulu Hamdi supaya dia cepat mencari identitas para pelaku. Selain itu kita kasih dia bukti rekaman video Siska dan suruh Hamdi untuk memperjelas rekaman tersebut.
Tak lama Zidan kemudian mengunci kamarnya dan mulai menelpon Hamdi.
"Hallo Ham. Dimana? aku ingin bicarakan sesuatu hal penting denganmu."
"Iya Dan, ada apa? sebentar aku mencari tempat sunyi dulu supaya tak ada yang bisa mendengarkan percakapan kita"
Tak lama kemudian Hamdi menyapa kembali Zidan yang diam.
"Apa yang ingin kau bicarakan Dan? apakah kau sudah berhasil mendapatkan informasi mengenai para pelaku pelecehan Siska?"
"Aku belum menemukan informasi mengenai siapa para pelaku Ham. Tapi setidaknya kami berhasil mendapatkan sesuatu bukti yang begitu penting untuk nanti di pengadilan. Aku akan kirim videonya nanti ke ponselmu dan kau carilah informasi mengenai para pelaku dalam video tersebut"
"Baiklah Dan. Oh ya, kemana gadis cerewet ? aku tak mendengarkan ocehannya. Apakah dia baik baik saja?"
Nikita terlihat senang dengan Hamdi yang menanyakan dirinya.
"Aku baik baik saja pria tua! mengapa kau menanyakan aku? tak seperti biasnya. Kau kangen ya sama aku?" ucap Nikita seraya tertawa.
"Idih nenek lampir, boro boro aku kangen. Justru aku lega karena kau tak selalu menempel padaku seperti dulu. Ya sudah aku tunggu video yang kalian dapatkan. Aku ada meeting mendadak, hubungi aku jika terjadi apa apa."
"Iya Ham. Wassalamualaikum"
"Waalikumsalam"
Panggilan pun ditutup. Nikita yang tadinya murung kini kembali ceria setelah mendengar Hamdi yang menanyakan kondisinya. Dengan hal seperti itu, semangat Nikita kembali bangkit karena rasa cintanya pada Hamdi tak perlu terbalaskan, cukup ia saja yang merasakannya.
"Oh ya, kemana baji**ngan itu Nik?"
"Dia sedang berbicara dengan pria tua bangka itu dikamarnya. Apa kalian tak berpapasan dengan mereka saat menyimpan kembali laptop milik Frans?"
"Tentu tidak. Ketika kami mendengar suara langkah kaki, kami bersembunyi dibalik tihang sehingga mereka tak menyadari kehadiran kami. Selain itu kami langsung turun menuju kamarmu karena takut terjadi apa apa" jawab Zidan santai.
__ADS_1
Nikita berjalan menatap kearah luar jendela kamar Zidan dan Nayla. Didalam benaknya dia bersyukur karena ia bisa terbebas dari kebejatan Frans yang akan memakai tubuhnya untuk melampiaskan nafsunya.
"Aku pergi dulu ya Nay. Aku takut ayahnya Frans dan Frans merasa curiga jika aku berada disini. Selain itu aku juga harus pergi agar Frans tak bisa menyentuh tubuhku nanti. Aku akan mengunci kamarku dan pura pura tidur"
Nayla berjalan kearah Nikita dan memeluknya dengan erat.
"Malam ini biarkan aku tidur bersamamu Niki, aku takut dia akan berbuat macam macam padamu. Setidaknya jika ada aku dikamarmu dia pasti takan berani menyentuhmu'
Nikita tersenyum mendengarkan rencana Nayla. Bagaimana pun dia begitu takut menghadapi nafsu Frans yang begitu menggebu pada dirinya.
"Ya sudah kalau begitu, Zidan bolehkan Nayla tidur dikamarku malam ini?"
Zidan mengangguk tanda ia setuju. Bagiaman pun ia juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga Nikita agar ia tak dilecehkan oleh Frans.
"Kalau begitu, cepatlah kalian pergi kekamarmu Nik, nanti keburu Frans selesai berbicara dengan ayahnya. Jangan lupa kunci pintunya agar ia tak bisa masuk kedalam. Dan kamu Nay, bawa ponselmu, jika terjadi sesuatu cepat telpon aku, aku akan datang"
"Iya mas, tentu. Kamu juga jaga dorimu disini. Kunci pintu kamarmu supaya dia tak bisa menggeledah kamar kita"
Zidan berjalan menghampiri istrinya dan memeluk tubuh Nayla yang mungil. Diciumnya kening sang istri dan berbisik lembut bahwa ia sangat mencintainya.
***
Dikamar Frans, ayahnya Frans begitu murka saat mengetahui jika putra semata wayangnya telah bermain gila bersama asisten pribadinya sendiri.
"Bagaimana mungkin kau ada main sama wanita itu hah?! apakah kau bodoh sampai bisa mengincar wanita murah**n sepertinya?"
"Terserah aku dong yah! ayah gak bisa melarangku untuk tidur bersama siapapun dimuka bumi ini! apa hak ayah untuk melarangku?! lagi pula ayah juga sama beja**dnya sepertiku!"
Plak
Tamparan keras tepat berada dipipi Frans. Nafas ayahnya naik turun setelah mendengarkan hinaan dari putranya sendiri.
"Lancang sekali kamu mengatakan hal itu padaku! aku ini ayahmu Frans!"
"Ayah? cih. Perset*n dengan kata ayah. Kau tak pernah bertindak seperti semestinya seorang ayah. Kau hanya fokus pada kekuasaan serta hartamu"
"Aku juga kerja keras untuk kau makan! untuk kau foya foya!"
__ADS_1
"Dan aku pun begini karena ayah! ayah suka mempermainkan hati ibu sampai akhirnya ibu pergi dari rumah! jangan salahkan aku jika aku sering bermain gila bersama wanita manapun karena ayah adalah contoh yang aku tiru!"
Seketika ayahnya Frans berjalan meninggalkan anaknya sendirian. Hatinya begitu memanas mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut Frans.