Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Terkejut


__ADS_3

Hamdi berjalan menuruni ana tangga hotel tempat ia dijebak Clara. Langkahnya kian cepat kala melihat jam di ponselnya sudah menunjukan pukul lima pagi. Perjalanan yang ditempuh Hamdi untuk sampai ke bandara akan memakan waktu sekitar empat puluh menit, dan perjalanan dari pesawat menuju Jakarta akan memakan waktu sekitar satu jam lebih.


Hamdi berjalan menuju jalanan yang tampak masih sepi dengan kendaraan. Kini Hamdi pun tak tahu dimana dirinya berada hingga tak lama kemudian ia pun menggunakan bantuan google map untuk mencari arah kembali ke hotel tempat awal ia di culik.


Dengan menggunakan ponselnya, Hamdi berhasil mendapatkan ojek online untuk mengantarnya ketempat mobilnya terparkir dan kini ia pun masuk kedalam mobilnya setelah membayar driver ojek tersebut.


"Sekarang aku harus pulang terlebih dahulu dan menceritakan semua yang terjadi pada Siska dan Zidan. Ku yakin pasti Zidan akan paham akan situasi ku, namun entah dengan Siska" Hamdi memukul kemudinya dan mulai melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Entah bagaimana Clara bisa melakukan hal selicik ini pada pria yang baru saja ia temui. Clara bahkan tak tahu jika Hamdi adalah kekasih Siska dan ia pun tak tahu seberapa kuat koneksi Hamdi untuk bisa membuatnya menderita.


Lain halnya dengan Bian yang justru tergoda dengan sikap Clara yang menggoda. Hamdi justru sangat muak dengan banyak gadis yang sengaja menjajakan dirinya untuk pria hidung belang hanya untuk mendapatkan kekayaan secara instan.


Perjalanan yang cukup melelahkan untuk Hamdi hari ini, sampai membuat tubuhnya tampak pucat karena kepalanya yang masih terasa berdenyut, serta perutnya yang lapar belum terisi.


Namun pikiran pria itu masih menerawang dan mengingat ngingat kejadian semalam yang telah ia lakukan bersama Clara. Hamdi benar benar tak tahu apa kah dirinya memang sudah melakukan hal menjijikan itu bersama Clara atau pun tidak. Hanya saja jauh dilubuk hati Hamdi, ia merasa bahwa dirinya bahkan tak berhasrat sekalipun dengan wanita semacam Clara.


*********


Di lain tempat, Siska saat ini tengah termenung menatap sang ibu yang tak kunjung sadarkan diri. Ia benar benar merasa menyesal karena bukan dia yang saat itu membukakan pintu dan mengecek siapa yang ada diluar rumahnya.


Siska juga sempat ingin mencari sosok misterius yang sudah menyakiti ibunya, namun ia dicegah oleh Zidan yang merasa khawatir dengan keadaan adiknya itu.


"Apa kau mendapatkan telpon dari Hamdi Sis?" tanya Zidan dengan pelan.


Pria itu mulai duduk di samping Siska dan mengelus pucuk kepalanya untuk membuat adiknya itu merasa tenang.


"Belum ada kabar dari Mas Hamdi" ucap Siska seraya menggelengkan kepala pelan.


Zidan menghela nafas kasar, ia tak tahu kemana Hamdi pergi hingga sampai saat ini pria itu belum sampai di rumah sakit tempat calon mertuanya itu dirawat. Zidan tak ingin jika terjadi hal buruk pada Hamdi, mengingat pernikahan antara Hamdi dan Siska sebentar lagi akan berlangsung.


"Ku harap kau bisa mengerti situasi Hamdi Sis. Hamdi mungkin terjebak macet ataupun dia sedang makan di perjalanan. Kau adalah seorang ibu yang tangguh, jadi aku percaya bahwa kau akan mengerti apapun yang terjadi pada Hamdi" ucap Zidan pelan.

__ADS_1


Zidan tahu bahwa Hamdi adalah pria yang baik . Hanya saja baik Zidan ataupun Hamdi, dulu pernah melakukan hal yang tak seharusnya mereka lakukan pada seorang gadis. Zidan pernah melakukan kesalahan bersama Anyelir sedangkan Hamdi pun pernah bercerita pada Zidan bahwa ia pernah menc**m seorang gadis saat dalam pengaruh minuman beralkohol.


Tapi sampai detik ini Zidan pun tahu bahwa Hamdi pria yang takan merusak wanita manapun sebab Hamdi telah berjanji bahwa ia akan mengubah hidupnya saat almarhumah neneknya datang kedalam mimpi pria itu dua tahun lalu.


"Aku memang sudah menjadi seorang ibu mas. Tapi sifat kekanakan ku belum juga hilang. Aku masih sering berpikir negatif pada Hamdi dan aku pun tak ingin jika dia melakukan hubungan gelap dengan wanita manapun" ucap Siska dalam hati.


Hari ini, cuaca sangat panas terik. Sampai sampai bunga yang ada di halaman rumah sakit pun terlihat banyak sekali yang layu walaupun sering di jaga dan di rawat dengan baik oleh para petugas. Nayla yang saat ini tengah menggendong Cleo tiba tiba saja dikejutkan dengan suara Hamdi yang memanggilnya dari arah belakang.


Sontak saja Nayla menatap pria yang berlari kearahnya dan mencoba menenangkannya.


"Kau baru sampai Ham? kenapa wajahmu begitu pucat?"


Hamdi terlihat menarik nafas dengan sedikit kesusahan. Antara lelah dan bingung kini tatapan mata Hamdi pun terasa asing terasa oleh Nayla.


"Apa ada sesuatu Ham?"


Insting Nayla sebagai perempuan pun tergerak. Walaupun keduanya tak memiliki ikatan, namun dari sorot mata Hamdi, Nayla tahu bahwa lelaki yang biasa ceria itu tengah menyembunyikan sesuatu.


Nayla hanya mampu terdiam dan mengalah dengan topik yang Hamdi coba alihkan sehingga wanita itu pun mulai berjalan menuntun Hamdi untuk mengikuti setiap langkahnya.


"Bagaimana perjalananmu Ham? apa disana ramai seperti disini?" tanya Nayla dengan santai.


Entah kenapa mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Nayla membuat Hamdi langsung teringat kejadian saat pagi tadi bersama Clara. Ia ingat wajah Clara yang berusaha menggodanya dan Hamdi pun ingat bagaimana saat ia terbangun dalam kondisi tanpa pakaian.


Hamdi menghentikan langkahnya dan itu pun membuat Nayla bingung.


"Kau kenapa Ham? apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?" tanya Nayla mencoba memastikan.


Kali ini Hamdi mulai mencoba untuk jujur pada Nayla karena ia tahu bahwa Nayla adalah satu satunya orang yang bisa ia andalkan.


"Sebenarnya aku telah dijebak Nay" ucap Hamdi dengan pelan.

__ADS_1


Nayla yang tak mengerti akan ucapan Hamdi, langsung mencecarnya dengan beberapa pertanyaan yang langsung mengarah pada keterlambatan Hamdi datang kerumah sakit tersebut.


"Dijebak? siapa yang berani menjebakmu Ham? dan apakah ini adalah penyebab kau datang terlambat kesini?"


"Iya Nay. Aku terlambat karena aku dijebak saat berada di hotek tempat aku tinggal di dekat perusahaan baru kita. Entah apa yang harus ku katakan pada Siska Nay, kemarin malam saat mendapat telpon dari Zidan aku langsung pergi menuju tempat parkir mobil ku untuk segera pulang kesini. Namun, saat aku hendak memasuki mobil, tiba tiba saja seseorang memukul kepalaku dengan keras hingga aku jatuh tak sadarkan diri"


Nayla menutup mulut mendengar ucapan Hamdi. Ia tak menyangka bahwa Hamdi pun mengalami hal yang hampir mirip dengan Ibu Widya dari seseorang.


"Mungkinkah orang yang menjebakmu sama dengan orang yang memukul kepala ibu Ham?"


Hamdi menggeleng dengan cepat. Ia yakin bahwa Clara tak melakukan itu pada Ibu widya sebab Clara melakukan hal itu pada Hamdi karena ingin membuatnya dan Siska berpisah.


"Ku yakin mereka bukan orang yang sama Nay sebab aku di jebak oleh seorang wanita gila yang ingin memisahkan ku dengan Siska"


"Lalu, kenapa kau yakin bahwa yang melakukan itu aalah seorang wanita?"


"Aku jelas tahu Nay, sebab saat aku tersadar, aku sudah berada di kamar hotel tanpa menggunakan pakaian atas dan ada wanita yang hanya menggunakan pakaian minim di depanku"


Nayla semakin terkejut mendengar penuturan Hamdi. Ia tak habis pikir dengan tindakan wanita yang disebut Hamdi sebagai wanita gila itu sehingga Nayla pun mulai penasaran dengan identitasnya.


"Apa kau kenal siapa wanita itu Ham? apa kau tahu wajah ataupun namanya?"


Hamdi menganggukan kepala dengan pandangan menunduk. Ia bahkan masih merasa tak percaya dengan kejadian yang menimpanya


"Ya aku tahu dia Nay, sebab sejak aku sampai di hotel yang Zidan pesan. Wanita itu tengah melayani seorang pria disana. Dan aku tanpa sengaja tinggal di samping tempat ia tinggal."


"Lalu, katakan siapa dia Ham"


Hamdi menghela nafas. Hingga nama yang selama ini sudah Nayla kubur dalam dalam harus ia dengar kembali.


"Wanita itu bernama Clara"

__ADS_1


__ADS_2