
Selama di perjalanan Hamdi terus saja menatap kosong kearah peti di depannya. Bunga bunga yang ia beli barusan menambah harum di seluruh ruangan didalam ambulan.
Hamdi tersenyum kala mengingat dirinya dan Nikita saat kecil yang selalu saja.bertengkar walaupun hanya karena sebiji permen pemberian neneknya.
Begitu dekat Hamdi dengan neneknya sampai sampai jika sang nenek memberikan sesuatu pada Nikita maka ia akan marah dan tak mau berbicara pada Nikita ataupun neneknya tersebut.
Susah senang ia lewati bersama, hingga akhirnya mereka harus terpisah karena suatu keadaan. Hamdi yang pekerja keras mendapat kehidupan yang layak sampai sampai ia melupakan sahabatnya yang bahkan Hamdi pun tak tahu bahwa Nikita sangatlah menderita karena ayah serta ibu tirinya.
__ADS_1
Hari ini adalah hari terakhir ia beryemu dengan Nikita sebelum Nikita di makamkan nanti malam. Perjalanan yang sangat jauh untuk ke rumah Zidan dan Nayla cukup membuat Hamdi bisa menikmari waktu berdua dengan Nikita walaupun Nikita hanya diam membisu tanpa mengatakan apapun.
"Kau adalah wanita pertama yang mencium pipiku Nik. Kau tahu saat itu aku sangatlah membencimu karena aku takut kau hamil dan aku harus menikahi wanita berandal sepertimu. Dulu saat kita kecil kau terjatuh dari pohon milik Pak Haji Kosim dan menimpa tubuhku. Tepat sekali kau mencium pipiku, ah tidak, tapi kau mengigit pipiku. Pipiku sampai berdarah karenamu. Hahaha" Hamdi tertawa tipis.
"Dulu aku membencimu karena takut kau hamil, dan aku berfikir demikian karena memang aku melihat film dewasa di rumah tetangga dulu. Saat itu sang wanita mencium pipi pria tersebut dan aku hanya melihat adegan itu karena pemilik rumah menutup jendela rumahnya saat tahu aku sedang menonton tv nya dari jendela. Bahkan esok harinya dengan bodoh aku bertanya pada tetangga itu kelanjutan film tersebut dan tetangga itu hanya menjawab bahwa sang wanita hamil. Hahaha aku percaya Nik. Aku mempercayai apa yang kulihat bisa membuat wanita itu hamil tanpa melihat kelanjutannya."
Perlahan lahan pintu belakang telah terbuka oleh petugas rumah sakit. Hamdi tersenyum dan menghapus air matanya dengan kasar.
__ADS_1
"Kita sudah sampai Nik. Ini rumah Nayla dan Zidan. Kau pasti sangat senang berada disini. Kau pasti betah disini apalagi ketika melihat anak kekasihku. Kau pasti sangat menyukainya"
Hamdi mulai turun dari mobil dan membantu petugas menurunkan peti jenasah Nikita. Beberapa tetangga rumah Zidan berdatangan dan bertanya mengenai siapakah orang yang berada di dalam peti jenasah.
Ibu Widya dan Siska juga Zidan memberitahu pada para tetangga bahwa yang meninggal adalah kerabatnya dan mereka di mintai untuk membantu proses pemakaman Nikita.
Gerbang rumah Zidan dibuka lebar dan peti pun mulai dimasukan ke dalam rumah digotong oleh petugas rumah sakit, Zidan dan Hamdi. Nayla, Ibu Widya dan Siska sibuk menyiapkan segala keperluan untuk melakukan pengajian di rumahnya untuk nanti malam.
__ADS_1
Tak lupa mereka pun mulai menelpon pihak pemakaman disalah satu daerah untuk tempat peristirahatan terakhir Nikita. Hamdi meminta pihak pemakaman menyiapkan satu liang lahat dengan posisi yang mudah di jangkau dan menyuruh untuk menyiapkan segala sesuatunya dengan lengkap. Tak perduli berapapun biayayanya, Hamdi hanya ingin yang terbaii untuk orang yang mencintainya itu dengan tulus.