
Beberapa hari setelah kejadian naas yang merenggut nyawa Nikita, Hamdi yang sudah pulih sekarang sudah dipersilahkan pulang oleh pihak rumah sakit yang menanganinya.
Tak lupa Siska yang senantiasa menemaninya dirumah sakit tampak senangmelohat kekasihnya kini sudah bisa berdiri tegak tanpa rasa sakit dipunggungnya.
"Hari ini kau bisa pulang dan beristirahat dirumah. Biarkan aku, Mas Zidan, Mbak Nayla dan ibu saja yang menunggu jenazah Nikita yang sedang pengambilan data oleh pihak kepolisian" ucap Siska pelan.
"Tidak Sis. Biarkan mas sama mbak mu saja yang disini menunggu jenazah Nikita yang belum diambil. Kau pulang saja bersama ibu dan Hamdi. Kasihan bayimu sudah tak ingin mencium bau rumah sakit" balas Zidan.
Hamdi hanya terdiam tak menimpali keduanya. Rasa sakit dipunggungnya memang sudah hilang, namun rasa sakit dihatinya masih saja membekas dan takan mungkin bisa hilang.
"Aku ingin pulang ke villa saja. Aku inhin mengemas barang barang milik Nikita untuk ku simpan di rumahku nanti. Dia sepupuku yang paling baik, dia rela kehilangan nyawanya demi membantuku"
Hamdi segera bangkit dibantu oleh Siska yang memegangi tangannya. Ibu Widya yang sedang menggendong bayi Siska pun ikut membantu Hamdi untuk berdiri.
"Jaga dirimu baik baik Ham. Aku disini akan menangani semua berkas ke kantor polisi dan memberikan beberapa keterangan untuk di pengadilan nanti"
Hamdi menatap Zidan sekilas dan tersenyum getir. Hatinya masih belum kembali tertata rapih. Apalagi setelah ia kehilangan semua orang penting dihidupnya. Andi, Nikita, mereka adalah keluarga yang dimiliki Hamdi.
******
Mobil putih berjalan menembus jalanan kota yang terlihat lenggang. Sedikit pengendara hari ini sebab kebetulan hari ini adalah hari bebas kendaraan bermotor.
"Kamu kenapa mas?" tanya Siska ketika melihat Hamdi disampingnya yang hanya melamun.
"Aku tak papa Sis. Aku hanya memikirkan Nikita"
Nyes
Sakit dirasakan oleh Siska. Namun ia cukup paham dan harus paham bahwa posisi Nikita hanyalah sepupu kekasihnya. Terlebih lagi Nikita harus kehilangan nyawanya demi menyelamatkan Hamdi dan membantu misi untuknya.
"Ikhlaskan Mas, kita doakan supaya dia bisa tenang dialam sana" Siska menundukan kepala dan memalingkan wajahnya kearah jendela.
Ibu Widya yang melihat raut kesedihan dimata anaknya hanya bisa menghela nafasnya saja. Ia tahu bahwa Siska merasa cemburu kepada Hamdi.
Tak terasa mobil mulai berjalan pelan menuju pekarangan villa. Siska, Ibu Widya dan Hamdi perlahan turun dari mobil dan mulai menuju pintu utama.
Kunci yang dipegang oleh Hamdi kini sudah ia pasang, dan tak lama, pintu kokoh didepan mereka terbuka lebar sehingga membuat Siska dan Ibu Widya takjub melihat isinya.
"Apakah kalian tinggal disini selama menjalankan misi?" tanya Siska penasaran.
"Kami hanya singgal disini dan sesekali membicarakan misi saja. Nikita, Zidan dan Nayla tinggal dirumah Frans, sedangkan aku tinggal disini dan sesekali menjalankan perusahaan dicabang kota ini. Hingga aku pun terkadang tidur dikantor"
__ADS_1
Siska mengangguk dengan membulatkan mulut tanda mengerti. Pikirannya sedikit demi sedikit mulai terbuka, bahwa ia tak boleh sama sekali berfikiran buruk pada Hamdi.
"Kamu cepatlah istirahat. Bantu Hamdi Siska!" perintah Ibu Widya pada anaknya.
"Iya bu" Siska kemudian berjalan disamping Hamdi dan mulai mengantarnya menuju kamar Hamdi.
Kamar dengan segala pernak pernik rapih tertata diatas nakasnya. Berkas berkas yang sangat tersusun rapih diatas meja kerja milik kekasihnya.
"Sayang istirahatlah dikamar Nikita saja. Disana sangat nyaman dan rapih" ucap Hamdi membuayarkan pandangan Siska yang tertuju pada sebuah foto kecil yang menempel dipojok ruangan kamar Hamdi.
"Iya mas baik"
Siska perlahan keluar dari kamar Hamdi dan mulai berjalan pergi. Hingga ia pun teringat untuk menanyakan dimanakah letak kamar Nikita.
"Oh ya mas dimana kamar Almarhumah Nikita?" tanya Siska.
"Maaf aku lupa memberitahu mu. Kamarnya ada disamping kiri dengan pintu bercat putih dan menempel tulisan inisial nama 'N'"
Siska pun mengangguk dan berjalan menuju ibunya yang berada diruang tamu bersama bayinya. Siska akhirnya menyuruh sang supir untuk menyimpan barang barang serta koper milik ibunya dan dirinya dikamar Nikita.
"Bu, kita istirahat dulu dikamar Nikita. Tadi kata Mas Hamdi kita istirahat disana sebab kamarnya rapih dan nyaman" Siska mulai mengambil anaknya didalam pangkuan sang ibu.
" Ya Sudah nak. Ayo kita istirahat dulu. Ibu sangat lelah"
Siska yang menggendong bayi dipangkuannya berjalan beriringan bersama ibu Widya menaiki anak tangga untuk menuju kamar Nikita. Tak lupa sang supir yang membawa kopernya mengikuti dibelakang.
Pintu kamar terbuka dengan pelan disertai dengan decitan pintu yang terdengar begitu nyaring.
"Asslamualaikum" ucap Ibu Widya dengan pelan.
Siska menatap sekeliling kamar yang begitu hening dan dingin.
"Bu Siska takut" bisiknya pada sang ibu.
"Tenang nak, tak ada apapun disini. Kau tak boleh takut"
Mata Siska menatap setiap inci kamarnya yang begitu rapih. Hingga tak lama kemudian matanya menangkap gambar yang sama persis seperti dikamar Hamdi sebelumnya.
Diambilnya foto diatas laci kamar Nikita dan mulai menatap kedua anak kecil didalamnya.
Foto dengan bingkai yang pecah tersebut membuat Siska penasaran dan mulai meyakinkan apa yang sedang ia pikirkan, bahwa memang benar bahwa Hamdi dan Nikita adalah sepupu dan teman dekat.
__ADS_1
Dibukanya figura foto yang pecah dan mulai membaca tulisan di belakang foto. Hamdi dan Nikita. Terbukti benar bahwa ini adalah foto mereka berdua. Siska menyela nafas dan mulai menghembuskannya dengan pelan.
"Kamu kenapa Siska?" tanya Ibu Widya heran.
"Oh bu.Tak papa. Aku hanya sedih saja memikirkan Mas Hamdi yang begitu murung kehilangan Nikita" jawab Siska.
"Dia adalah pria sederhana dan berasal dari desa. Dia hanya memiliki Nikita dimasa kecilnya sebagai pelipur lara dikala sedih selain neneknya. Kau pasti paham rasanya kehilangan orang yang kau sayangi dan kecewa dengan semua yang terjadi"
Siska mulai merenung dan mulai mencerna setiap ucapan ibunya. Jika dipikir pikir ibunya adalah wanita yang sangat luar biasa karena menahan sakit atas perselingkuhan yang suaminya lakukan, serta penghianatanyang dilakukan Clara dimasa lalu.
Siska berjalan meninggalkan foto tersebut diatas laci dan mulai membaringkan tubuh bayinya diatas kasur. Ia kembali menatap sekeliling dan mendapatkan sebuah laptop yng tersimpan dibawah lemari.
"Laptop. Kok ada disini?" guman Siska pelan.
Tak lama ia pun mencoba membuka laptop tersebut dan mendapati bahwa laptop itu adalah milik Nikita. Siska penasaran dengan apa yang Nikita simpan didalam latopnya tersebut. Terdengar sedikit lancang, namun siapa tahu Siska mendapatkan bukti yang bersangkutan dengan Frans.
"Disandi" ucapnya lagi pelan.
Ibu Widya yang penasaran kemudian berjalan mendekati Siska yang sedang terdudun diatas lantai.
"Sedang apa nak?" tanya Ibu Widya membuat Siska seketika terkejut.
"Astagfirullah bu. Bikin kaget saja. Ini Siska dapet laptop dibawah lemari, mungkin ini milik Nikita. Siska penasaran dengan isi laptop ini. Mungkin saja terdapat bukti didalamnya mengenai kasus ku bersama Frans"
Tak lama Siska kemudian mengekuarkan ponselnya dari dalam saku dan mulai menelpoj kakaknya.
"Hallo Mas"
"Iya da apa?"...
"Aku menemukan laptop milik Nikita dikamarnya dan laptopnya terkunci oleh sandi. Kira kira abang tahu gak sandinya apa? Aku ingin sekali megecek laptop ini sebab siapa tahu ada bukti yang bisa membuat hukuman baji"*n itu lebih berat"
"Mas tak tahu Sis. Tunggu saja kamu disana dan jangan lakukan apapun pada laptop itu. Jika Hamdi terjaga, maka kau tanyakan saja pada dia. Siapa tahu Hamdi mengetahui apa sandinya"
"Iya mas, nanti kalau Mas Hamdi sudah bangun akan aku tanyakan"
"Oh ya satu lagi. Jangan klik apapun didalamnya jika sudah kau tanyakan sandinya"
"Iya, iya . Mas kapan pulang"
"Sebentar lagi. Mas mau pergi dulu ke kantor polisi bersama pengacar untuk menindak lanjuti kasus ini. Kau tunggu saja Hamdi bangun dan tanyakan sandi laptop Nikita"
__ADS_1