Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Extrapart 3


__ADS_3

Aulia segera pergi, meninggalkan Bayu, dan menyusul Syifa dan Billy yang sudah berada dirumah sakit terlebih dahulu. Baru sampai di rumah sakit, Aulia sudah diminta dokter untuk menemuinya, Aulia pun segera pergi keruangan dokter.


Dokter menjelaskan tentang yang terjadi pada suaminya, kecelakaan itu membuat kaki Yoga, harus segera di amputasi. Kecelakaan besar itu membuat mobil Yoga bagian depan sebelah kiri hancur, hingga menekan kepada bagian kaki sebelah kiri, untunglah kaki sebelah kanan hanya terdapat luka kecil dan masih dapat disembuhkan.


Setidaknya untuk operasi membutuhkan biaya besar, tapi untungnya Aulia memang punya tabungan khusus keluarga. Dengan segera Aulia pun menandatangani surat persetujuan operasi, dan langsung pergi ke bagian administrasi, untuk membayar biaya operasi.


Aulia menangis tak henti-hentinya, dia mengingat perdebatannya dengan Yoga, saat dirinya memberi pinjaman pada Bayu. Aulia mulai gelisah, biaya untuk operasi sudah menguras setengah tabungannya, lalu bagaimana nanti kedepannya, hanya itu yang selalu Aulia pikirkan.


Aulia mencoba tenang, dan segera menghapus airmatanya, untuk kembali bertemu dengan anak-anaknya. Besok Yoga mulai melaksanakan operasi, namun di malam hari, Nisa dan anak-anaknya datang untuk berkunjung.


"Aulia, minta maaf Mbak, Aulia sadar, kehadiran Aulia sudah merusak rumah tangga kalian," ucap Aulia sambil menangis sesegukan.


"Sudah lah Lia, itu sudah masa lalu, Aku sudah maafin, bagaimanapun juga, mungkin itu sudah jadi takdir yang harus Aku jalani," ucap Nisa sambil mengusap tangan Aulia.


"Apa saat ini juga, sudah menjadi bagian takdir yang harus Lia jalani," ucap Aulia masih sesegukan.


"Ini hanya cobaan, Lia harus banyak-banyak berdoa, Insa Allah semua akan baik-baik saja."


Aulia menangis, dalam dekapan Nisa, dan Nisa pun, membelai rambut Aulia dan menyemangatinya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan. Karena jam besuk sudah habis, Nisa dan anak-anaknya pun pamit untuk pulang.


Keesokan harinya, operasi pun berjalan dengan lancar, tiga hari setelah operasi, Yoga pun mulai membuka matanya, dan melewati masa-masa kritisnya. Seminggu setelah itu, Yoga sudah diperbolehkan untuk pulang, semua teman-teman Yoga dikantor, mulai berkunjung satu persatu.


Sebulan sudah Yoga tidak masuk kantor, dan ini hari pertama Yoga untuk kembali ke kantor, dengan kursi rodanya, dan diantar taxi online. Namun siang hari, Yoga sudah kembali dengan sebuah amplop coklat dipahanya.


Melihat supir taxi online itu kerepotan, Aulia pun segera menghampirinya, dan ikut membantunya. Setelah selesai, Aulia pun membawa suaminya masuk kedalam rumah, dan membawanya kekamar.

__ADS_1


"Tumben, Mas pulang cepat," ucap Aulia sambil membuka jas yang dipakai Yoga.


"Ini," ucap Yoga sambil menyodorkan amplop coklat.


Aulia pun segera membukanya, isi nya terdapat sebuah kertas putih, dan itu adalah surat pemutusan kerja. Aulia meneteskan airmata saat membacanya, dan terduduk lemas diatas kasur. Aulia terus mengingat masa lalunya, inikah yang harus dia hadapi atas kesalahan dimasa lalu.


"Kita hanya bisa bertahan di rumah ini satu minggu, setelah itu ... perusahaan akan memberikannya kepada pengganti Mas di kantor," ucap Yoga menatap istrinya.


"Lalu, Kita akan tinggal dimana Mas?" tanya Aulia masih dengan airmatanya.


"Setidaknya perusahaan sudah memberi Mas uang pesangon, bisa kita gunakan untuk membeli rumah yang sederhana, asal kita tidak kehujanan dan kepanasan."


"Baik Mas, besok Lia akan cari rumah," ucap Aulia menghapus airmatanya.


Sudah beberapa hari ini Aulia terus sibuk kesana kemari, mencari sebuah rumah yang harga nya cocok dengan keuangannya saat ini. Billy dan Syifa belum tahu masalah ini, karena Aulia tidak ingin, anak-anaknya merasa sedih dan terbebani.


"Sayang, besok kita akan packing barang-barang kita semua, kita akan pindah," ucap Aulia saat sarapan tanpa menatap wajah anak-anaknya.


"Kenapa kita harus pindah Mah?" tanya Syifa penasaran.


Dengan menahan airmatanya, Aulia menceritakan kondisi Yoga saat ini, rumah dan fasilitas lain seperti mobil, akan di ambil kembali oleh perusahaan dimana Yoga bekerja.


"Iya Mah, Syifa besok akat bantu Mama packing," ucap Syifa sambil menahan airmatanya dan kembali melanjutkan makannya.


Aulia tahu betul, bagaimana Syifa, perasaannya hancur, namun dirinya tidak akan memperlihatkan kesedihan itu padanya. Keesokan harinya, mereka pun mulai packing, dan sore harinya, mereka telah siap menghuni rumah baru, yang lebih kecil dari rumah lamanya.

__ADS_1


"Maaf, hanya ini yang Mama dan Papa bisa kasih untuk kalian," ucap Aulia saat melihat Syifa yang tengah mengamati rumah barunya.


"Tidak apa Mah, Billy dan Syifa akan tinggal dimanapun, selama itu bersama kalian," ucap Billy sambil tersenyum.


Mereka pun memulai kehidupan seperti biasanya, namun Aulia mulai gelisah, karena tabungannya setiap hari harus terus keluar tanpa adanya pemasukan. Ditambah lagi biaya kuliah Billy tidaklah sedikit, bahkan sebentar lagi Syifa sudah akan lulus sekolah, dan itu memerlukan biaya besar juga.


Aulia pun mulai berpakaian rapi, dan hal itupun dilihat oleh Yoga.


"Mau kemana Mah?" tanya Yoga heran.


"Aku ... mau cari kerja Mas, tabungan kita sudah menipis, ada dua anak yang harus kita perjuangin," ucap Aulia menunduk.


"Mas malu, Mas sudah tidak berguna, bahkan selarang, Kamu harus memikul semuanya, padahal Kamu belum pernah bekerja sebelumnya," ucap Yoga.


"Tidak apa-apa Mas, Lia akan berusaha sekuat tenaga, untuk kalian."


"Apa ... jika suatu saat nanti Kamu merasa lelah, Kamu akan meninggalkan Mas?" tanya Yoga menatap Aulia.


"Mas adalah orang paling baik yang Lia kenal, Mas tidak pernah memukul apalagi marah pada Lia, meskipun itu melukai perasaan Mas, jadi ... tidak ada alasan untuk Lia pergi, meninggalkan Mas."


"Tapi Mas sudah tidak berguna."


"Lia akan selalu berusaha, untuk merawat Mas, dan anak-anak, Lia janji."


"Terimakasih, Sayang."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2