
Malam yang panjang membuat Nikita tak bisa terlelap dengan pulas. Pikirannya berkelana kala memikirkan semua perlakuan yang Frans lakukan padanya. Entah mengapa saat ia merasakan sentuhan yang Frans berikan atau dalam kata lain tubuhnya harus ia relakan demi misi ini terjalan, hatinya tergerak dan pikirannya terus berkecamuk mencaci dirinya sendiri.
Selama ini, walaupun ia memang seorang wanita nakal yang haus akan kasih sayang serta belaian dari seorang pria, tak pernah ia mengingat dosa dosa yang ia perbuat saat itu. Namun entah kenapa saat dirinya mulai selalu disentuh oleh Frans dirinya sering sekali berpikir bahwa tubuhnya sudah benar benar kotor.
Nikita berpikir bahwa memang apa yang ayahnya katakan tentang ia yang merupakan wanita muar*han adalah benar. Tak mungkin wanita yang baik baik, rela disentuh oleh banyak pria apalagi mereka bukan muhtimnya yang halal untuk menyentuh tubuhnya.
Sampai tak terasa, air matanya jatuh kala mengingat semua cacian serta perlakuan yang Frans padanya. Dosa yang selama ini ia lakukan tak pernah ia pikirkan sebelumnya.
Toktoktok!!
Pintu diketuk dengan kencang, sontak membuat Nayla terbangun dan segera mengenakan hijabnya. Selain itu Nikita yang sedari tadi tak tidur, ikut bangkit dan berbisik kepada Nayla.
"Itu pasti Frans yang ingin kembali menyentuhku. Kau pergi saja dari sini Nay" ucap Nikita dengan pelan.
"Tidak! aku tidak akan membiarkanmu disentuh oleh pria tak waras itu. Aku akan tetap disini bersamamu Nikita. Biar aku yang hadapinya, kau tunggu disini"
Tangan Nayla seketika dicekal oleh Nikita yang merasa takut.
"Tidak Nay. Aku tidak apa apa, biarkan aku menghadapinya sendiri. Kau pergilah kekamarmu dan beritahu Zidan untuk mengawasimu"
Nayla seketika terdiam mendengarkan perkataan Nikita. Ia cemas bahwa Frans akan melakukan sesuatu hal buruk pada Nikita.
"Buka cepat sayang! ayo kita lanjutkan yang tadi" teriak Frans terdengar menjijikan.
Tanpa sepatah katapun keliar dari mulut Nikita dan Nayla untuk menjawab teriakan Frans, keduanya lebih memilih untuk terus berdebat dengan pendapatnya masing masing.
"Cepat! buka pintunya!"
Dorongan serta ketukan yang semakin keras sontak saja membuat Nayla dan Nikita ketakutan. Dengab segera Nayla menelpon Zidan dan menyuruhnya untuk terus memantau kamar Nikita dari panggilan telpon yang tersambung.
Nayla yang sudah memiliki rencananya, langsung menyuruh Nikita untuk berbaring dan pura pura tertidur.
Pintu dibuka dengan pelan oleh Nayla, dengan kecerdikannya, ia sengaja membuat cekungan mata panda dan membuat bibirnya basah dengan air minum agar terlihat menjijikan.
"Iya ada apa tuan?" tanya Nayla seraya mengusap bibirnya yang basah dengan ujung kerudungnya.
Seketika Frans yang melihat penampilan Nayla kemudian merasa jijik sebab Nayla terlihat begitu jorok.
"Dimana wanita mura**n itu hah?! kenapa kau tidur disini bukannya ditempatmu?!"
"Maaf tuan saya disini menjaga Nikita yang sedang sakit. Tadi penyakit asmanya kambuh jadi saya coba temani dia takutnya kalo penyakitnya kembali kumat lagi tuan"
jawab Nayla seraya mengusap ujung matanya agar terlihat lebih jorok lagi dihadapan Frans.
__ADS_1
"Dasar wanita tak berguna! ada saja alasan untuk tak melayaniku. Minggir aku akan mengecek kondisinya sendiri"
Dengan tubuhnya yang kekar, ia berhasil masuk dengan menyingkirkan tubuh Nayla dari pintu.
Dengan sekali dorongan, Nayla menyingkir dari hadapan Frans yang mulai kesal dengan nafsunya yang tak bisa tersalurkan.
Dibukanya selimbut yang menutup tubuh Nikita. Nikita yang sudah lengkap menggunakan jaket serta rambutnya yang acak acakan membuat Frans kemudian menjadi tak berselera untuk bersama Nikita.
"Kau sakit beneran hah?! apa cuma pura pura saja!" bentak Frans dengan keras.
"Maafkan saya tuan, asma saya kambuh dan nafas saya terasa berat. Maafkan saya karena malam ini tak bisa melakukan apa yang tuan minta" jawab Nikita dengab suara yang dibuat parau.
"Dasar kau wanita tak berguna! penyakitan!" denagn kencang Frans kemudian mendorong tubuh Nikita dengan keras, hingga sontak saja membuat Nikita geram dengan tingkah laku majikannya tersebut.
Tangannya mengepal keras dan giginya gemertak mendapatkan perlakuan kasar dari Frans. Jika saja bukan karena misi ini belum selesai, mungkin saja ia sekarang sudah mematahkan tangan serta leher Frans agar tak bisa berperilaku seenaknya padanya.
"Tuan jangan seperti itu, Nikita sedang sakit dan dia harus istirahat total. Tuan bisa keluar dari kamar ini dan kembali lagi setelah dia sembuh" potong Nayla.
"Kau seenaknya menyuruhku untuk menunggu. Jika saja kau tak menjijikan seperti itu, kau juga akan aku jadikan pemuas nafsuku. Namun sayang, kau tak begitu menarik dihadapanku"
Nayla yang sedari tadi memegang ponselnya kemudian mematikan telpon hingga somtak saja membuat Zidan kembali khawatir.
Tanpa menunggu waktu lama saat Frans berlalu dari kamar Nikita, Zidan datang dengan mengendap ngendap dan kemudian masuk untuk melihat kondisi istrinya tersebut.
"Aku tak papa mas, aku baik baik saja. Harusnya Nikita yang kau tanyakan mas, sebab ia tadi didorong cukup keras oleh Frans"
Zidan seketika menatap Nikita yang sedang terduduk dengan matanya yang merah menyala menahan emosi.
"Ka...kau tak papa Nik? apakah kau terluka?"
Tanpa menjawab pertanyaan dari Zidan, Nikita terus saja menatap nyalang kearah pintu dan seketika melemparkan bantal dengan keras kearah pintu tersebut.
"Kurang ajar kau Frans! pria baj***n kau! se**n! lihat saja nanti, aku akan membuatmu membusuk dipenjara" ucap Nikita dengan amarah yang menggebu.
Zidan berlari kearah Nayla dan bersembunyi dibelakang tubuh istrinya tersebut.
"Dia kenapa Nay?" tanya Zidan pelan.
"Sudah kamu diam saja mas, mungkin Nikita kesal dengan kalakuan kasar Frans yang seenaknya. Untung saja tadi juga aku kelepasan membuat bocah itu menjadi rujak karena kesal" jawab Nayla dengan pelan.
********
Pagi telah tiba, menampilkan cahaya terang tepat mengenai wajah tampan yang Hamdi miliki. Pria bertubuh atletis yang kini tebangun seketika berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket oleh keringat.
__ADS_1
Gemercik air terdengar begitu deras didalam sana hingga membuat Hamdi begitu menikmati setiap aliran air yang mengenai tubuhnya. Sabun yang ia gunakan serta parfum mahal yang ia kenakan membuat dirinya begitu wangi saat keluar dari apartementnya.
Jas hitam serta kacamata yang berwarna senada ia sengaja kenakan saat ini ketika akan pergi kekantornya. Mobil mewah kesayangannya ia gunakan dan kemudian ia parkir dihalaman kantor.
Dari kejauhan terlihat seorang pria bertubuh kurus namun tingginya melebihi Hamdi, perlahan berjalan kearahnya dengan terlihat begitu tampan walaupun kacamata minus setia bertengger diwajah tampannya. Ya, dia adalah Andi, asisten serta orang kepercayaan Hamdi selama ini yang tak lain adalah salah satu pelaku pelecehan terhadap Siska.
"Selamat pagi Tuan" senyum manis dengan lesung pipit di pipi Andi tak membuat Hamdi goyah.
Selama ini ia selalu membalas senyuman itu dan menyapanya dengan ramah. Namun saat ia tahu bahwa Andi ikut andil dalam masalah Siska, ia takan sudi untuk dekat dekat lagi dengannya.
"Pagi" ucapnya datar dan kemudian pergi meninggalkan Andi yang sedikit keheranan.
Tak berselang lama, Hamdi segera pergi menuju ruang kerjanya dan memanggil Andi untuk segera masuk kedalam ruangannya.
"Permisi tuan. Ada yang bisa saya bantu" ucap Andi dengan ramah.
Hamdi yang sebisa mungkin menahan amarnya mulai tersenyum sinis kearah orang yang selama ini ia berikan kepercayaan penuh.
"Tak ada hal yang penting saat ini Di. Hanya saja aku hanya ingin menanyakan sesuatu mengenai masalah yang temanku hadapi"
"Masalah apa itu? jika boleh saya tahu"
Seketika Hamdi tertawa mendengarkan perkataan yang keluar dari mulut Andi.
"Hahahahah, Andi, Andi. Kau begitu ingin tahu masalah temanku. Baiklah kalau begitu. Lagi pula aku yang memintamu untuk mendengarkan. Jadi gini, aku memiliki seorang teman baji**ngan yang sudah terlibat dalam kasus besar yang mungkin dirinya pun tak merasa bahwa ini adalah masalah yang besar"
"Sahabatku telah melakukan pelecehan pada seorang gadis secara beramai ramai dengan temannya sendiri"
Andi yang mendengarkan cerita Hamdi sobtak saja batuk karena merasa bahwa cerita yang Hamdi katakan sama seperti kesalahan setahun lalu yang sudah ia kubur dalam dalam.
"Si..siapa nama orang tersebut tuan?"
"Untuk apa kau tanyakan itu? kau pasti takan pernah mengenalnya kan"
Andi seketika terdiam mendengarkan perkataan Hamdi.
"Sudah kau kerja lagi sana, nanti aku akan teruskan bercerita"
Andi menganggukan kepala dan mulai pergi berlalu meninggalkan ruangan Hamdi dengan wajah yang pucat.
Memang benar bahwa Hamdi telah menyekolahkan Andi dan ia pun telah lama mengenal anak tersebut. Tapi Hamdi tak pernah menyangka bahwa kepolosan Andi ternyata menyimpan kebeja**tan yang selama ini ia pun tak tahu. Bahkan pasti ibunya Andi pun tak tahu.
Selama ini Andi ia sekolahkan tak pernah sedikitpun Hamdi menerima laporan kenakalan tentang Andi. Namun siapa sangka bahwa kelulusan yang terjadi setahun yang lalu justru membuatnya begitu syok karena harus menerima kenyataan bahwa gadis yang baru beberapa bulan ia kenal merupakan adik kelas dari Andi dan telah Andi lecehkan.
__ADS_1
Hamdi sengaja menyekolahkan Andi di perguruan tinggi ternama karena prestasi Andi cukup baik dan mempekerjakannya dikantor hanya separuh waktu agar Andi bisa tetap fokus belajar dan menjadi orang sukses.