
"Permisi. Bu" Tepat jam 9 mila datang ke rumah Santi dengan tongkat kayu yang membantunya menopang untuk berjalan. Mila berdiri di depan pintu dengan perasaan yang penuh harap.
ceklek..
Bunyi pintu terbuka, Mila segera mengucap salam dan meraih tangan ibunya Santi untuk bersalaman dan menciumnya. Ibunya Santi mengerutkan dahinya dilihatnya mila dari ujung kaki sampai rambut wajah yang lugu itu seperti tak asing baginya.
"Neng siapa? Mau cari siapa?" Terlihat ibu masih mengingat wajah itu.
"Eh.. Ini sepertinya Mila ya temannya Santi?" Ucap ibu masih mengingat. 6 tahun terakhir Mila mengunjungi Santi masih dalam keadaan sempurna, kini mila mengagetkan ibu dengan kaki yang sudah tidak utuh lagi.
"Iya, bu ini Mila temannya Santi. Dulu waktu kecil sering maen bareng dan sudah sekitar kurang lebih 6 tahun mila tidak pernah kesini lagi bu, mila harus berobat di luar kota," ujar mila menjelaskan.
"Mila kamu udah dateng?" Santi langsung memeluk sahabatnya itu.
Santi tau cerita tentang kakinya yang tidak sempurna lagi tapi itu hanya sebatas cerita karena Mila malu menceritakan ketidak sempurnaannya, Santi menangis terkejut melihat langsung keadaan temannya itu.
Memberi arahan tentang pekerjaannya dan menetapkan gaji untuk Mila.
Santi segera pulang kerumahnya karena ini adalah hari minggu hari libur suaminya, kali ini Santi meminta Agus menemaninya untuk cek kandungan. Sudah hamil tua mengharuskan Santi sering cek ke dokter.
"Mas ayo!" Santi menarik tangan Agus dan tidak memperdulikan Zihan yang ada di samping Agus.
"Iya sayang." Ucap Agus berdiri melangkah mendekati Santi.
Zihan mengikuti sampai mobil dan masuk tanpa izin.
"Kamu ngapain?" Desis Santi jengkel.
"Mau ikut, sekalian cek kandungan juga!"
"Emangnya kamu hamil?" tanya Agus menggebu.
__ADS_1
"Ya belum tau, makanya mau di cek," jawab Zihan enteng karena ia tidak mau membiarkan Santi berduaan dengan Agus.
****
"Bapak bisa ikut saya sebentar!" Dokter mendekati agus dan berjalan menuju ruangannya.
"Kedua istri bapak sehat, bayi yang ada di dalam kandungan ibu Santipun sehat, tapi maaf untuk ibu Zihan sepertinya tidak akan pernah bisa hamil. sepertinya ibu Zihan ini terlalu sering menggugurkan kandungannya dan mengkonsumsi obat-obatan berbahaya. Jika bapak tidak keberatan saya sarankan untuk memeriksa ke rumah sakit dengan penanganan dokter yang bagus dan alat yang lebih canggih. Karena disini masih keterbatasan alat." Ujar dokter membuat hati Agus hancur.
Dalam perjalanan Agus masih teringat ucapan dokter tadi.
Di pernikahan pertamanya Zihan 3 kali hamil dan 3 kali pula ia menggugurkannya dengan alasan ia tidak mau mempertahankan rumah tangganya. Seorang anak akan menjadi penguat dalam rumah tangga dan Zihan tidak menginginkan itu semua, Suami pertama Zihan adalah seorang pemabuk dan juga sering kepergok selingkuh. Dari situlah Zihan tidak mau meneruskan rumah tangga yang sudah tidak sehat lagi. Bukannya Zihan tidak mau memakai kontrasepsi tapi saat memakai tubuhnya merespon negatif ia menjadi darah tinggi karena ketidak cocokkannya.
"Sayang," ucap Santi sambil menatap suaminya dengan mesra.
"Kamu kenapa, sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan?"
"Ngga ko sayang!" Jawab Agus terus fokus pada jalannya.
****
Agus dan Zihan tidak mengetahui penghasilan Santi yang besar setiap bulannya. Zihan seringkali meremehkan Santi.
"Gus!" Ucap seseorang di balik pintu. terlihat mama yang sepertinya sudah menangis dengan mata sayu dan merah, disebelahnya ada papa yang memakai kursi roda, dan di belakang terlihat adik kecil yang sedang memandang wajah Agus dengan penuh harapan.
"Kok kalian tidak memberitahu kalau mau kesini, nantikan bisa di jemput." Ucap Agus sambil melihat ke arah parkiran, tidak terlihat mobil yang terparkir di belakang mobilnya, Agus tau kalau mamanya paling anti naik taksi ia tidak mau duduk di bekas penumpang lain.
"Silahkan masuk mah pa." Ucap Santi menyalami keduanya.
Setelah keadaan tenang mama kembali bercerita, kalau papa itu masuk rumah sakit akibat serangan jantung ia mendapati rekan bisnisnya menipu dirinya. Mama menjelaskan bahwa belum sebulan ini perkebunan milik papanya telah dikuasai orang lain, Dan tagihan rumah sakit membengkak karena waktu itu mama memilih pengobatan spesialis yang paling mahal untuk menutupi itu semua dari mulai tagihan rumah sakit, tagihan kebutuhan rumah dan kartu kredit yang selalu dipake buat foya-foya mama mengorbankan rumah dan semua perhiasan miliknya. Kini keluarga papa surya jatuh miskin. Meminta bantuan pada Agus untuk menanggung semua kebutuhannya dan pengobatan papanya.
Agus tentu bukannya menolak tapi kalau perkebunan itu sudah jatuh ke orang lain tentu Agus hanya mengandalkan Gaji nya saja, selama ini Agus di jamin papanya. Agus hanya bekerja semaunya tapi di gajih full. Sekarang tentu saja berbeda.
__ADS_1
Sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Begitulah sekiranya keadaan Agus sekarang, baru tadi siang ia mendapat kabar tentang Zihan yang susah untuk hamil lagi dan sekarang kedatangan orang tua yang sungguh memperihatinkan.
Seperti biasa Santi bangun lebih awal dari pada yang lainnya, ia mengerjakan pekerjaan rumah sendirian, di tambah kini ada mertuanya ia dengan senang hati melayaninya dengan baik, Sarapan sudah tersedia rumah sudah rapi. Santi segera siap-siap ia akan pergi kerumahnya untuk mengecek pekerjaan mila selama ia tidak ada.
"Tidak salah lagi mila juga berbakat di bidang ini."
Ucap santi setelah melihat pekerjaan Mila semakin rapi.
Jadi Santi tidak perlu bolak-balik ke rumahnya, Mila sudah bisa di andalkan.
Tiba-tiba perut Santi terasa sakit, sakit yang seringkali muncul. Tanda melahirkan Santipun langsung menelpon Agus.
Owa! owa!
Suara tangisan bayi membuyarkan kecemasan Agus dan keduanya tersenyum saling menatap penuh kebahagiaan.
Terlihat malaikat kecil yang masih berlumur darah. Agus segera mencium kening Santi sambil meneteskan air mata kemudian Agus melangkah mendekati bayi itu lalu dia Adzan. Santi bersama bidan dan dokterpun kaget mendengar suara Agus yang begitu merdu dan sedikit bergetar, tak hentinya pula ia meneteskan air mata.
Seorang bayi laki-laki yang tampan dengan keadaan sempurna membuat Agus kagum ia tidak percaya ia akan sebahagia ini menjadi sosok seorang ayah.
"Nak, maafkan ibu, ibu tidak tau kalau kamu melahirkan, tadi ibu ke rumahmu disana ada mertuamu dan memberitahu ibu kalau kamu melahirkan disini," ucap ibu.
"iya, Bu tidak apa-apa mungkin Santi tidak sempat menelpon ibu." Jawab Agus segera menyalami ibu.
Sungguh bahagianya Santi. Agus ada di saat ia membutuhkannya.
Santi tersenyum melihat Agus dan ibunya sedang berdiri memandang bayi kecil.
"Semoga kamu bisa menerima dan mencintaiku mas, semoga keluarga kecil kita tetap utuh walaupun cintamu terbagi. semoga kamu bisa menjadi ayah yang bisa menjadi panutan bagi anakmu. Aku mencintaimu mas."
__ADS_1
Gumam hati kecil Santi.