Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Bersalah


__ADS_3

Pria itu menarik tubuh Siska secara paksa hingga Siska terjatuh namun menimpa tubuh pria dibelakangnya.


"Kau sudah gila ya! kalau ingin mati carilah cara agar kematianmu tidak terasa menyakitkan ! kau bisa membeli senjata dan melapaskan tembakan didalam mulutmu agar kau cepat mati! Dasar wanita gak waras!" bentak Hamdi dengan kasar.


Siska menangis sesegukan dihadapan Hamdi yang tengah membersihkan bajunya yang kotor.


"Sekarang nangis! cengeng amat!"


"Aku tak tahu harus berbuat apa sekarang. Hidupku hancur dan keluargaku berantakan. Untuk apa aku hidup didunia ini jika aku hanya akan menyusahkan ibu yang kini harus menopang tubuhnya sendiri."


"Kau tahu ibumu sekarang sendirian dan kakak serta ayahmu tak bisa berbuat apa apa. Kau seharusnya menjernihkan pikiranmu dan menguatkan dirimu sendiri. Jika kau mati, maka siapa yang akan menemani ibu mu hah ! Kau ingin mati dan berfikir bahwa kematian adalah jalan satu satunya agar kau tak merasa hancur? jangan mimpi! Kau juga pasti tahu bahwa melakukan bunuh diri itu dosa! Kau ingin bebas dari masalah dunia sedangkan kau akan tersiksa diakherat!"


Siska hanya mampu diam mendengarkan perkataan yang keluar dari mulut Hamdi. Entah apa yang harus ia lakukan saat ini, yang jelas masa depannya hancur karena kesalahannya sendiri.


"Kenapa kau mau melenyapkan dirimu sendiri hah?! putus cinta ? atau karena skandal ayah dan kakakmu?" tanya Hamdi ketus.


"Aku hamil! dan aku tak tahu siapa baji*ngan mana yang menjadi ayah anak diperutku! kau takan pernah tahu bagaimana hancurnya aku! kau takan pernah tahu! " air mata mengalir deras membasahi pipi Siska.


Hamdi hanya bisa diam mendengar luapan emosi Siska yang merupakan adik sahabatnya.


Entah ia merasa iba atau tepatnya merasa bersalah karena telah membentak wanita dihadapannya.


"Maafkan aku karena telah membentakmu! aku hanya geram saja melihat kau yang ingin melakukan bunuh diri, padahal kau tahu bahwa ada janin yang sedang tumbuh dirahimmu. Sekarang kau ikut aku untuk menenangkan diri. Kau tak perlu takut, aku teman Zidan dan aku berjanji tak akan macam macam"


Siska termenung menatap pria didepannya. Tak ada siapapun yang dapat meredakan emosi serta kesedihan dihatinya. Siska melihat tatapan Hamdi yang tulus padanya, hingga Siska pun mengangguk dan ikut menaiki mobil Hamdi.


Mobil berjalan menembus malam yang dingin. Hamdi membawa Siska ke taman yang ramai dengan lampu serta orang berlalu lalang disana. Hamdi yang merasa kesal dengan tindakan Siska yang akan melenyapkan dirinya sendiri, kini merasa kasihan dengan nasib tragis yang dialami Siska.


Hamdi membeli sebotol air minum dan memeberikannya kepada Siska yang tengah duduk dibangku taman dengan matanya yang masih sembab.


"Minum dulu supaya suasana hatimu sedikit lebih baik"


"Terimakasih" Siska mengambil air minum yang diberikan Hamdi untuknya.

__ADS_1


Hamdi menatap gadis belia disampingnya yang merupakan korban dari kebejadan beberapa pria. Entah siapa yang harus disalahkan saat ini. Yang pasti saat seperti ini, dukungan keluarga serta orang terdekat sangat dibutuhkan oleh Siska.


"Maaf jika boleh tahu memangnya berapa orang yang sudah melecehkanmu? emh...jika kau tak mau menjawab pertanyaanku tak papa, aku hanya ingin tahu"


Lama Siska terdiam dalam pikirannya, hingga dia memberanikan diri untuk bercerita pada pria asing disampingnya sebab saat ini dia hanya membutuhkan teman untuk menceritakan semua keluh kesahnya. Siska tak tahu harus berbicara pada siapa lagi, selain pada Hamdi. Sebab ia begitu malu jika harus bercerita pada Zidan ataupun Nayla yang merupakan mantan kakak iparnya.


Siska begitu malu jika harus menceritakan semua keluh kesahnya pada Nayla yang selama ini selalu ia benci.


"Sebenarnya aku tahu, jika ini salah. Tapi pada siapa lagi aku harus bercerita. Aku tak mau berbicara pada ibu karena dia saat ini juga tengah banyak pikiran. Skandal ayah, serta kasus Mas Bian yang ternyata merupakan pelaku pembunuhan. Aku hanya ingin bercerita, dan kau cukup mendengarkan saja. Jikapun ini tak penting bagimu, setidaknya tolong dengarkan semua keluh kesahku ini" Siska mulai menceritakan setiap kejadian yang menimpanya pada malam tahun baru bersama Frans. Dari mulai dirinya yang diberikan minuman yang sudah tercampur obat tidur, serta saat Siska terbangun dengan keadaan tanpa busana serta banyak pria tak memakai baju berada tepat diruangan dia tertidur.


Hamdi tak pernah menyangka bahwa Siska merupakan korban pelecehan yang dilakukan oleh pacarnya sendiri. Misalpun dia tahu bahwa Siska ikut bersalah sebab berpakaian kurang pantas bersama pria yang jelas jelas bukan mukhrimnya, tapi Hamdi cukup iba melihat kejadian tragis menimpa keluarga sahabtnya ini.


"Sekarang kau harus kuat menghadapi masalah ini. Kau tahu bahwa ayah serta kakakmu sudah menbuat ibumu malu serta reputasi keluargamu hancur. Presetan dengan reputasi, yang jelas kau harus tetap bertahan. Walaupun bukan untuk dirimu sendiri, tapi bertahanlah untuk ibumu. Sudah cukup kesedihan yang ibumu alami karena ayah dan kakakmu. Ku tahu hati ibumu juga hancur ketika mengetahui putrinya hamil diluar nikah, tapi ketahuilah bahwa ibumu masih sayang dan peduli pada mu. Sekarang kau perbaikilah hidupmu dan meminta ampun pada Allah serta ibumu. Kau tahu bahwa doa seorang ibu diijabah oleh Allah. Kau mintalah maaf padanya dan sayangi dia seperti dia menyayangimu. Bunuh diri itu dosa, dan tanpa ku beritahu kau pasti tahu. Kau rawatalah anak yang ada didalam rahimmu. Sayangi dia karena dia tak salah apapun"


"Makasih mas, karena sudah mau mendengarkan ceritaku. Mulai saat ini aku akan belajar menjadi lebih baik lagi. Aku tahu aku salah karena telah melakukan dosa dengan pergi bersama pria yang jelas jelas bukan muhrimku. Dan aku juga tahu, mungkin ini adalah karma yang harus aku terima karena sudah berlaku buruk pada mantan kakak iparku, serta karena aku selalu mengumbar aurat kepada pria yang jelas jelas tak boleh melihat tubuhku"


Hamdi tersenyum melihat Siska yang sudah sedikit membaik.


Hamdi bangkit dan mulai berjalan menuju mobilnya dengan diikuti Siska. Siska yang merupakan gadis yang memiliki selisih umur dengan Hamdi sekitar 7tahun terlihat nyaman saat berbicara dewasa seperti Hamdi.


Hingga saat mobil Hamdi terparkir dihalaman rumahnya, Siska turun dan melambaikan tangan kepada Hamdi.


"Terimakasih. Hati hati"


Hamdi menjawab perkataan Siska dengan senyuman. Baginya melihat gadis itu yang mulai terlihat lega adalah kebahagiaan tersendiri. Setidaknya dia sudah membuat seseorang mengagalkan aksi bunuh dirinya yang jelas jelas merupakan dosa besar.


******


Pagi telah tiba menampilkan cahaya terang tepat diwajah Zidan yang tertidur sehabis shalat subuh. Dengan langkah gontai, pria dengan tinggi 182cm itu mulai berjalan menuju kamar mandi dan mulai membersihkan diri.


Kaos berwarna hitam kini melekat ditubuhnya yang atletis. Wangi parfum maskulin menyeruak memenuhi kamarnya yang lumayan cukup luas.


Zidan melangkahkan kaki menuju dapur untuk memasak makanan untuk Anyelir dan Rio yang masih tinggal dirumahnya. Bagi Zidan dengan keberadaan mantan kekasihnya serta Rio merupakan kebahagiaan tersendiri. Sebab dengan adanya mereka setidaknya Zidan memiliki teman dirumah mewahnya yang setiap harinya selalu terasa panas dengan perdebatannya bersama ayah.

__ADS_1


Anyelir dan Rio yang baru keluar dari kamar, langsung menemui Zidan didapur dan mulai menbantunya memasak. Tak butuh waktu lama, hidangan kini telah tersaji dan akhirnya mereka pun makan bersama.


"Ada makanan enak nih" ucap Clara yang baru saja dan duduk disamping Zidan.


Anyelir yang merasa kesal dengan kehadiran Clara hanya bisa menatap Clara dengan malas seraya menyuapkan makanan kemulutnya.


"Ya iyalah enak, orang tinggal makan gak perlu ribet masak" jawab Anyelir yang segera mendapat tepukan pelan pada tangannya karena Rio.


Clara yang tak memiliki rasa malu, terus mengunyah makanan dimulutnya seraya terus menyendok nasi serta lauk pauk yang berada diatas meja.


Zidan yang mulai malu dengan tingkah Clara, langsung menhentikan makannya.


Anyelir yang merasa geli dengan cara makan Clara yang rakus akhirnya ikut berhenti makan dan mulai menyuruh suaminya agar mempercepat makannya.


"Kok pada berhenti sih? kalian udah kenyang? ya sudah, mas ini biar aku yang habiskan. Tenang saja nanti aku juga akan membersihkannya kok" ucap Clara dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Anyelir, Rio dan Zidan pergi meninggalkan Clara sendirian dan mulai berjalan keluar menuju mobil merah kesayangan Zidan.Hari ini Zidan ingin melihat bagaimana keadaan Nayla setelah menghadiri sidang perdana suaminya yang sebentar lagi akan resmi menjadi mantan suaminya.


Diperjalanan Zidan tak lupa membeli kue serta permen dan susu kotak untuk semua anak di panti asuhan Ibu Aisyah nanti. Anyelir dan Rio pun tak mau kalah, mereka membeli makanan ringan untuk diberikan pada anak anak disana.


"Zidan apakah setiap kamu datang kepanti asuhan, kamu selalu membawa makanan? padahalkan anak di pantikan banyak" tanya Anyelir ketika mobil mulai melaju kembali.


"Aku sangat suka anak anak Nye. Bagiku tawa serta kebahagiaan mereka adalah kebahgiaanku juga. Mereka anak anak tak berdosa yang tak tahu orang tua kandung mereka dimana keberadaannya. Mungkin ada yang orangtuannya meninggal, sengaja di buang, ataupun anak yang memang tak diinginkan kehadirannya"


"Kasihan sekali mereka. Pastinya orang tua seperti itu akan diberikan hukuman oleh Allah yang seberat beratnya. Kita aja yang ingin sekali memiliki anak sudah berusaha keras untuk mendapatkan amanah yang besar dari Allah sampai sekarang belum dikabulkan. Sedangkan mereka yang jelas jelas membuang bayi tak berdosa malah menyia nyiakannnya"


Zidan terdiam mendengar perkataan Anyelir. Walaupun ia tak tahu bahwa ujian yang dialami Anyelir adalah memang cobaan atau musibah karena kelakuannya bersama Zidan. Yang pasti sekarang Zidan merasa sangat bersalah pada anaknya yang telah meninggal.


Note: untuk karakter Nayla disini saya menceritakan sebagai seorang muslimah yang masih dalam tahap memperbaiki dirinya seperti ada dipart yang menceritakan Nayla selalu berbuat salah dan mengakui bahwa dirinya selalu lalai beribadah. Bertentangan dengan karakter Arumi yang paham akan agama serta larangannya.


Sebagian besar cerita disini ada hikmah yang tersirata agar tak dilakukan dalam kehidupan sehari hari. Jadi ambil sisi potifnya dan buang sisi negatifnya.


Terimakasih🙏

__ADS_1


__ADS_2