
Mentari cerah menyinari permukaan bumi yang penuh dengan gedung tinggi pencakar langit di ibu kota. Rio, Zidan, Anyelir dan Nayla kini tengah berada didalam mobil milik perusahaan Zidan yang sedang menuju mall terdekat.
Anyelir dan Nayla terdengar berbagi cerita yang mereka miliki, sedang Rio dan Zidan hanya mengobrol membicarakan kelanjutan usaha yang sedang digarapnya serta ayah meryua dari Rio.
Sesekali tatapan Nayla dan Zidan bertemu. Keduanya saling tatap dengan kecanggungan masing masing. Zidan yang mengagumi kecantikan Nayla kini lupa dengan kenangan manisnya bersama Arumi yang lama seudah tiada. Mungkin ini lah awal hidupnya yang baru akan dimulai dengan wanita yang masih berkaitan dengan masalalu namun kepribadian yang unik serta berbeda dari sang mantan kekasih.
Nayla memandang Zidan yang tengah berbicara dengan Rio dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Ada getaran yang tak biasa timbul dihatinya kala melihat mantan kakak iparnya kini selalu menemani setiap langkahnya.
"Nay, nanti kita beli baju yu? tenang nanti biar Rio yang bayar. Kamu gak usah khwatir. Iya kan sayang?" ucap Anyelir pada sang suami.
"Iya tentu. Kamu dan Nayla bisa memilih baju apapun yang kalian suka, membeli barang yang kalian mau" jawab Rio seraya tersenyum.
Zidan yang tak mau kalah ikut menimpali ucapan Anyelir yang membuat jiwanya sedikit meronta kala mendengar Nayla akan dibelikan barang oleh pria lain.
"Nayla gak usah dibelikan barang apapun pakai uang kalian. Dia bisa memilih barang apapun karena aku yang akan membayarnya, Iya kan sayang?" tanya Zidan polos.
Nayla yang kaget dengan panggilan sayang dari Zidan hanya bisa menatap pria didepannya dengan salah tingkah.
"Cie manggil sayang" canda Anyelir seketika membuat Zidan merasa malu.
"Keceplosan atau emang udah mau panggil sayang sayangan?" tanya Rio gemas.
Zidan dan Nayla yang salah tingkah hanya bisa menunduk dengan pipi yang bersemu merah. Entah hubungan ini benar atau salah. Yang jelas Nayal merasa sedikit khawatir akan kesalahan yang dia perbuat akibat memendam rasa pada mantan kakak iparnya sendiri sbelum dia resmi bercerai.
Sosok Zidan yang baik hati serta selalu ada disaat dirinya terjatuh dan terpuruk, membuat hati Nayla luluh akan semua perhatian yang Zidan berikan sepenuhnya pada Nayla.
******
Tak terasa mobil kini sudah sampai dihalaman mall mewah yang berada dipusat ibu kota.
Toko toko berjejer rapih menawarkan barang barang branded dengan harga yang lumayan fantastis.
Mata Nayla menatap takjub dengan semua barang yang terpajang dietalase beberapa toko didepannya. Anyelir yang notabenenya seorang wanita pencinta barang bermerek menarik tangan Nayal agar masuk kedalam salah satu toko pakaian yang menawarkan beberapa pakaian mewah dan elegan.
"Nay kamu mau pilih baju apa?" tanya Anyelir seraya memegang beberapa baju dihadapannya.
"Aku masih banyak baju dirumah Nye. Jadi aku gak mau beli baju apapun. Bajuku masih banyak dirumah nanti tak akan terpakai. Aku takut jika sampai aku membeli baju lagi, hisabku nanti akan berat diakhirat Nye"
"Kamu kan bisa kasih ke anak anak remaja yang ada dipanti Nay. Lagi pula gak papa kali beli satu aja baju. Ya Nay, please" Anyelir menangkupkan tangannya memohon pada Nayla.
Ada satu gamis berwarna biru langit menempel disalah satu manekin dipojok ruangan. Mata Nayla tak mengerjap kala melihat gamis cantik yang ada dipatung tersebut.
Sejurus kemudian, Anyelir yang sadar bahwa Nayla tengah memperhatikan baju yang ada dipatung tersebut, segera memanggil salah satu pelayan dan memintanya agar baju itu segera diambilkan untuk Nayla.
"Nay kamu mau itu?"
Nayla tak menjawab, dia malu jika harus mengatakan ia pada Anyelir.
Tak lama patung yang sedang ditatap Nayla diturunkan oleh pelayan. Dengan cekatan pelayan toko, membuka gamis yang terpasang pada manekin lalu memberikannya pada Anyelir.
"Ini bu bajunya" ucap pelayan seraya memberikan baju ketangan Anyelir.
__ADS_1
" Ini Nay, Kamu coba dulu diruang ganti dan tunjukan padaku"
Mata Nayla berbinar menatap gamis yang kini berada ditangannya. Dia tak pernah menyangka bahwa Anyelir akan berbuat sebaik ini padanya, padahal ia baru saja mengenalnya.
"Terimakasih Nye"
"Iya sama sama, sekarang kamu coba dulu diruangan yang ada dipojok sana, lalu kembalilah kesini segera. Aku ingin sekali melihatmu. Dan pastinya Zidan yang sedang menunggumu direstoran sebelah pasti ingin melihatmu juga mengenakan gamis yang cantik itu"
Nayla berajalan menuju tempat ganti, dan mulai mencoba gamis cantik yang ia pilih.
Dipatutnya tubuh serta wajahnya yang kini sudah memakai setelan gamis serta kerudung berwarna senada di cermin ruangan ganti. Sekian lama ia ingin membeli pakaian baru, baru kali ini ia bisa merasakannya. Selama ini Bian lah yang selalu membeliaknnya beberapa potong gamis mewah yang berwarna merah marun serta terkesan mahal.
Gamis yang kini ia pakai cukup sederahana dengan beberapa payet yang menempel dibagian kerudung serta warnanya yang cerah membuat wajah Nayla terkihat lebih cantik dan bercahaya.
Nayla melangkahkan kaki menuju Anyelir yang sedang menunggunya di kasir.
"Masyaallah cantik sekali kamu Nay" ucap Anyelir takjub.
"Amiin alhamdulillah, terimakasih" Jawab Nayla tersipu malu.
"Sekarang aku mau mengganti dulu pakaianku, kamu tunggu disini. Nanti kita bayar dan pergi menemui Zidan serta Rio disebelah sana"
"Iya Nye"
Anyelir melenggang pergi menuju ruangan ganti. Dikenakannya pakain yang baru ia pilih dan mungkin baru kali ini ia memakai pakaian tertutup ssperti ini. Wajahnya yang cantik alami, menambah kesan menawan pada pesonanya yang kini terbalut jilbab yang menempel menutup seluruh rambut indahnya.
Lama ia menatap cermin yang menampilkan dirinya yang jauh berbeda dari sebelumnya. Ada perasaan senang serta nyaman kala memakai kain penutup yang berada diatas kepalanya.
"Iya Nay, mulai saat ini aku akan mengenakan pakain tertutup dan belajar bertutur kata santun pada siapapun. Walaupun past sangat berat untukku mempertahankan keimananku yang sangat tipis ini, tapi In Sya Allah aku akan belajar menutup auratku yang hanya boleh dipandang oleh suamiku dan menjaga ibadku yang selama ini aku tinggalkan"
"Alhamdulillah Nye. Semoga kamu istikomah"
"Amiin Nay, tolong bimbingannya agar aku menjadi wanita shalehah dan menjadi istri yang baik untuk suamiku"
"Iya, In Sya Allah Nye. Kita akan sama sama memperbaiki ibadah kita dan keimanan yang kita punya saat ini"
******
Anyelir dan Nayla yang tampil sangat cantik dengan balutan gamis serta hijab yang menutup rambutnya kini berjalan menuju Rio dan Zidan yang sedang memakan bebetapa camilan didalam restaurant.
"Assalamualaikum" ucap Nayla dan Anyelir bersamaan.
Mata Zidan dan Rio kini menatap dari bawah sampai atas penamlilan Nayla dan Anyelir yang sangat cantik dan mempesona. Keduanya tak berkedip kala melihat dua wanita yang sangat berarti dihidup mereka dengan takjub.
"Sayang kamu berhijab?" tanya Rio tak percaya.
"Iya sayang. Mulai saat ini aku akan menutup auratku sebeba hanya mukhrimku saja yang halal melihat tubuhku bukannya orang lain" jawab Anyelir seraya tersenyum.
Zidan yang kagum menatap Nayla tak bosa berkedip sedikitpun. Wanita yang kuat dihadapannya sangat terlihat cantik hingga membuat dirinya seolah terbius.
"Masyaallah kamu cantik sekali Nay" puji Zidan pada Nayla.
__ADS_1
Nayal yang merasa malu hanya bisa menunduk dengan senyumnya yang terukir manis di wajah cantiknya. Pipinya yang mulai bersemu merah terlihat begitu menggemaskan bagi Zidan.
********
Pukul 14.00 siang. Nayla meminta kepada Zidan untuk dianatarkan pulamg kepamti asuhan karena harus segera siap siap membantu Ibu Aisyah memasak makanan untuk makan siang anak anak.
Dengan berat hati, akhirnya Zidan mengantarkan Nayla untuk pulang kembali ke panti dan segera bergegas pamit karena dia juga harus segera membereskan semua berkas kerjasama dengan Anyelir yang sudah selesai.
"Kalian mau mampir dulu?" ucap Nayla lembut.
"Enggak Nay, terimakasih. Sampaikan salam dari ku, Anyelir dan Rio untuk Ibu Aisyah dan anak anak. Maaf kami gak bisa mampir dulu. Aku pamit Nay, Assalamaualaikum"
"Iya mas, hati hati. Waalaikumsalam"
Mobil melaju meninggalkan pekarangan panti asuhan Ibu Aisyah. Zidan termenung memikirkan perasaannya yang selama ini ia pendam untuk Nayla. Tak pernah dibayangkan sebelumnya, wanita yang dulu selalu menyebalkan kini telah membuatnya jatuh hati dan bisa melupakan Arumi.
"Kalian tinggalah dirumah ku dulu sdbelum kembali ke Singapura" ucap Zidan pada Anyelir dan Rio.
"Makasih Dan, gak usah repot repot. Kami akan menginap dihotel saja"
"Sudahlah, tinggal saja dirumahku. Lagi pula dirumahku hanya ada adik perempuanku serta ibu saja. Jadi ada kamar kosong untuk kalian"
Anyelir dan Rio saling pandang, hingga akhirnya mereka menganggukan kepala tanda setuju.
Tak berselang lama, mobil kini telah tiba di halaman rumah mewah milik keluarga Atmaja.
Zidan membuka pintu, mempersilahkan Anyelir dan Rio untuk segera masuk kedalam rumah.
Tak terlihat ibu dan Siska diruang tamu, mungkin mereka sedang mengunjungi anak tersayangnya yang tengah menginap didalam sel penjara.
Tas serta koper milik Anyelir dan Rio dibawanya kekamar tamu yang berada dilantai atas. Selama ini, kamar tamu selalu saja dikunci oleh Zidan karena untuk menjaga kebersihan serta kenyamanan klien yang sering kali menginap dirumahnya. Hingga saat Clara dan Algi pun dulu tak pernah dibiarkan mengisi kamar itu.
Saat Anyelir dan Rio melangkah untuk menaiki tangga, Clara yang baru saja keluar dari kamarnya berlari menghampiri Zidan dengan Algi dipangkuannya.
"Ngapain kamu masih disini hah?!" ucap Zidan ketus.
"Ih kok mas marah marah sih. Aku kan belum resmi diusir bercerai sama adikmu. Lagi pula aku dan Algi tak punya tempat tinggal. Kasihan kan kalau Algi harus tinggal dijalanan"
Anyelir dan Rio memandang penampilan Clara yang hanya menggunakan pakaian minim dari bawah sampai atas.
"Siapa dia ?" tanya Anyelir.
"Dia istri adikku, Bian" jawab Zidan malas.
"Oh jadi ini pelakornya ya"
"Maaf ya mbak, aku bukan pelakor. Suamiku yang mau menikahiku dan meninggalkan istrinya. Jadi aku gak salah dong" sanggah Clara.
Anyelir sangat kesal dengan nada bicara Clara yang menyebalkan. Rio sebagai suami hanya bisa memegang erat tangannya serta tersenyum untuk mengingatkan istrinya agar tak membuat keributan.
"Kamu gak salah, cuman kelakuan kamu aja yang gak ada otak. Sudah tahu Bian punya istri, mau maunya dijadikan istri kedua , mana sembunyi sembunyi lagi"
__ADS_1
Clara yang kesal dengan ucapan Anyelir akhirnya pergi meninggalkan mereka menuju dapur. Rio, Anyelir dan Zidan hanya bisa mnggelengkan kepala melihat kelakuan Clara yang terlihat tak memiliki rasa malu.