
Mata Nayla terpejam merasakan sentuhan yang Zidan berikan disetiap inci tubuhnya. Hembusan nafas terdengar berat dari keduanya.
Lelah sudah pasti. Namun semangat di hati Zidan masih saja menggelora untuk melepaskan semua has*rat yang tertunda sejak tadi.
Bibir mungil Nayla kini dila**hap habis oleh Zidan yang sangat berna**su. Entah sejak kapan suara suara yang mereka keluarkan menjadi irama ditelinganya masing masing.
Ramuan minuman dari Ibu Widya membuat Zidan semangat untuk terus melakukan aktivitas itu dengan Nayla. Hingga saat tubuh Nayla mulai tak bertenaga, sejenak Zidan melihat wanitanya dan berhenti melakukan semua itu.
"Maafkan aku Nay" bisik Zidan ditelinga istrinya.
Kecupan hangat dikening Nayla seolah jadi penghentian aktivitas yang sedari tadi mereka lakukan. Nafas Zidan yang sedikit demi sedikit mulai teratur dan pelukan hangat yang ia berikan pada Nayla yang tertidur tepat disampingnya menjadi akhir pertempuran panas yang sejak tadi ia lakukan.
*****
Adzan subuh berkumandang, Zidan menatap lekat istrinya yang tertidur pulas kemudian mencium keningnya agar sang istri segera terbangun.
"Nay bangun, sudah subuh. Ayo kita shalat berjamaah" bisik Zidan dengan lembut.
Nayla sedikit membuka mata dan menggeliat mendengar bisikan Zidan yang membuatnya geli. Dengan tubuh yang terasa pegal, Nayla berusaha bangkit dengan selimbut yang menempel dibadannya.
"Bisa ambilkan aku baju dulu mas, aku malu"
Tanpa basa basi Zidan bangkit dan berjalan mengambil baju Nayla yang berserakan diatas lantai. Punggungnya yang kekar dan putih seketika membuat Nayla kembali memalingkan wajah karena gugup dan menelan salivanya karena menahan hasr**t ketika melihat tubuh suaminya yang menggoda.
Peluh yang sedari tadi menempel dibadannya, kini perlahan luntur dengan air yang mengalir dari shower diatas kepalanya. Sejenak Nayla menikmati setiap aliran air yang membasahi tubuhnya. Hingga saat seluruh badannya sudah bersih, ia pun segera keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melekat ditubuhnya.
Zidan memandang istrinya yang keluar dengan rambut basah. Ada perasaan yang tak nyaman disetiap tubuhnya kala terus memandang Nayla yang hanya menggunakan handuk saja.
"Cepat kau pakai baju Nay, agar aku tak merasakan kehausan ketika melihat tubuhmu"
Zidan berjalan memasuki kamar mandi dengan perasaan gelisah. Entah apa yang merasukinya kali ini, sehingga membuat dirinya begitu berga**rah setiap kali memandang tubuh Nayla.
Gemercik air dikamar mandi terdengar sampai keluar pintu. Nayla yang sudah lengkap dengan gamis dan mukenanya kini menunggu Zidan diatas sajadah untuk segera melaksanakan shalat subuh pertamanya sebagai suami istri.
"Keringkan dulu rambutmu dengan handuk dan jangan taruh handuk basah diatas tempat tidur" ucap Nayla kala melihat Zidan yang akan menaruh handuk bekas rambut diatas kasur.
"Iya, iya permaisuriku yang cantik"
Tanpa rasa malu kini Zidan membuka handuk dihadapan Nayla hingga membuatnya seketika menutup mata ketika melihat bagian bawah tubuh Zidan.
"Astagfirullah mas!" pekik Nayla dengan keras.
Zidan yang lupa bahwa Nayla berada didepannya segera mengambil kembali handuk diatas lantai dan memakainya.
__ADS_1
"Maafkan aku Nay. Aku lupa"
"Ya, iya gak papa. Cepat kau pakai celana dan kaos dikamar mandi sana" seru Nayla dengan wajah yang tertutup oleh tangannya.
Zidan segera berlari kembali kekamar mandi dengan pakaian yang ia pegang ditangannya. Hingga kemudian ia kembali berfikir, bahwa kenapa Nayla sampai berteriak ketika melihat bagian tubuhnya. Padahal sudah jelas bahwa kini status mereka adalah suami istri.
Zidan kembali keluar dari kamar mandi dan segera menegur Nayla yang masih menutup wajahnya.
"Nay! aku kan suami kamu. Jadi apa salahnya kamu lihat bagian itu? "
Nayla perlahan menurunkan tangan dari wajahnya. Sesaat ia berpikir lalu tertawa kearah Zidan.
"Aku lupa mas"
Zidan menggelengkan kepala dan mengambil peci didalam lemari. Kaos putih yang ia kenakan serta celana pendek yang kini tertutup dengan sarung menambah kesan maskulin serta tampak begitu tampan.
Zidan mulai berdiri didepan Nayla dan mengimami Nayla shalat subuh hari ini. Bacaan shalat yang fasih keluar dari mulut Zidan, menambah kesan khusu ibadah mereka.
Keduanya tampak berdoa dengan khusu setelah shalat samapi sampai tak terasa Nayla meneteskan air mata kala ia memohon kepada sang pencipta agar rumah tangganya kali ini berjalan dengan penuh kebahagiaan serta tak ada godaan apapun.
Selepas mereka berdoa, Nayla kemudian mencium punggung tangan Zidan yang dibalas dengan kecupan dikeningnya.
Zidan memandang wajah Nayla yang meneduhkan kemudian menc*ium bibirnya sekilas. Nayla tersenyum bahagia mendapatkan perlakuan lembut dari Zidan yang dulu sangat menyebalkan dihidupnya.
***
"Mas lapar?" tanya Nayla yang disambut dengan senyuman dibibir Zidan.
"Ya sudah, aku mau masak didapur dulu. Mas tunggu dimeja makan. Aku akan masak sarapan untuk semua orang dirumah ini. Ini hari pertama aku menjadi istrimu."
"Aku akan bantu kamu didapur Nay. Aku bisa mengiris sayur ataupun membuat sambal"
"Mas tunggu saja di meja makan. Sekalian bangunkan semua orang ketika nanti sarapan sudah siap"
Zidan mengangguk tanda mengerti. Keduanya kini keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju ruang tamu.
Nayla dengan sigap memotong sayur dan menumisnya hingga menimbulkan aroma yang sangat mengugah di hidung Zidan.
Perlahan lahan Zidan mulai berjalan ke arah Nayla dan memeluknya dari belakang hingga membuat Nayla sedikit terlejut dengan perlakuan suaminya.
"Mas lepaskan! nanti ada orang lihat"
Bukannya melepaskan pelukan, Zidan justru mengeratkan tangannya lebih kencang ke tubuh Nayla dan mulai men*cium tengkuk leher istrinya tersebut.
__ADS_1
Nayla yang merasakan geli,sesekali mengge*linjang dan mencoba melepaskan pelukan Zidan ditubuhnya. Hingga akhirnya suara batuk dari arah belakang membuat Zidan seketika melepaskan tangannya dari tubuh Nayla.
"Uhuk uhuk. Udah pagi masih aja semangat"
ucap Rio yang tengah berdiri bersama Anyelir menatap keduanya.
"Gak papa mas. Namanya juga pengantin baru. Wajar kalo bisa terus terusan tergoda. Ku rasa Zidan ketagihan Nay"
Pipi Nayla kembali memerah mendengar ucapan Anyelir membuat Zidan segera menarik tangan Rio dan meninggalkan Anyelir bersama Nayla didapur.
Tawa Rio terdengar keras membuat Zidan seketika salah tingkah.
"Kamu bangunnya kecepetan Rio!"
"Haha sorry bro aku jadi ganggu. Tadinya Aku dan Anyelir mau masak untuk kalian sebagai tanda terimakasih ya, walaupun tindakan kami akan dianggap tak sopan karena menggunakan fasilitas rumahmu tanpa izin. Tapi kami hanya ingin membuat kalian mersakan masakan yang kami buat."
Zidan menggelengkan kepala mendengar perkataan Rio.
"Kau anggap saja rumahku seperti rumahmu. Kau bebas melakukan apapun dirumahku selagi masih menganggapku teman. Tapi tadi kau datang diwaktu tak tepat Ri"
"Iya, iya maaf Dan. Aku kan tak tahu kalau kalian tengah.."
ucapannya mengantung seiring kedatangan Siska dan Ibu Widya.
"Kalian sedang apa?" tanya ibu dengan santai.
"Kami sedang membicarakan kekuatan super milik Zidan semalam bu" canda Rio dengan wajah tak bersalah.
"Kekuatan? kekuatan apa?"
"Itu loh bu kekuatan bikin anak. Masa ibu gak paham" jawab Siska dengan santai.
Zidan menatap tajam kearah Rio. Lain halnya dengan ibu dan Siska yang mulai menertawakan tingkah Zidan saat ini.
Nayla dan Anyelir datang dengan membawa makanan diatas tangannya. Harum aroma masakan membuat Siska bergegas duduk disamping meja makan dan mulai menyendok nasi kedalam piringnya.
"Mbak cepat sini. Aku lapar" rengek Siska manja.
Nayla dan Anyelir tersenyum melihat tingkah Siska yang menggemaskan kemudian menaruh semua masakan diatas meja makan.
Semua orang kini tengah menyantap sarapan dengan suka cita dan canda tawa bersama, hingga ketukan pintu membuat mereka terkejut dengan kedatangan seseorang berdiri di pintu.
"Aku pulang"
__ADS_1