Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Dinner


__ADS_3

Dinner.


"Sayang.. Ke kamar dulu dong🄰"


Pesan singkat itu datang dari Santi. Wajar saja kalau ada perlu apa-apa harus chat walaupun seatap, Santi selalu menghargai orang yang ada dirumah ia tak pernah pamer kemesraan didepan keluarga Agus.


Sebagai istri pertama Santi juga sadar diri tidak terlalu berlebihan dalam hal ingin memiliki suami seutuhnya, ia tetap seperti biasa berusaha adil kepada madunya, kecuali dalam situasi yang tak terduga kadang rasa egois Santi juga muncul tiba-tiba.


Tok.. tok.. tok..


Bunyi ketukan pintu itu sudah pasti Agus yang mengetuknya, Santi segera membuka pintu dan menyuruh Agus untuk menilai baju mana yang cocok untuknya.


"Mas. Aku cocok pakai baju ini atau yang ini?" Santi menunjukan long dress dan setelan baju.


"Aku bingung mas pilihnya," ucapnya lagi.


"Hmm.. menurut mas keduanya juga cocok di kamu tapi untuk dinner malam ini mas pilih yang long dress saja, biar kelihatan lebih elegan." Jawab Agus santai, dan mempercepat persiapan Santi.


"Makasih mas, tunggu aku di luar jam 8 ya. Aku juga udah ngomong sama mama buat jagain el. El sudah tidur takutnya nanti kebangun."


Santi mulai bertempur dengan alat make-up yang sudah lama tertutup rapi itu.


Sepertinya ia sudah tidur pulas.


Agus melihat kamar Zihan yang sudah gelap.


Ceklek.


Bunyi pintu terbuka, dilihatnya dari ujung kaki sampai kepala Santi sangat mempesona aura kecantikannya begitu terpancar.


"Ayo mas kita jalan!"


Suara Santi membuyarkan pandangan Agus. Agus salah tingkah ketika ia hendak menancap gas motor nya.


"Mas ikut!"


Terdengar suara si manja kedua merengek pengen ikut, Zihan sudah rapi dengan tas kecilnya.


"Mas kan naik motor, gak bisa bertiga sayang. Kamu di rumah aja dulu. Besok kita jalan berdua ya!" Bujuk Agus yang masih kesusahan menyalakan motor matic nya.


Agus sudah seperti ayah yang sedang mengasuh anak gadis manjanya saja. Setiap hari selalu saja ada keributan kecil seperti ini.


"Wleee.. bye bye Zihan," ledek Santi.

__ADS_1


Mereka berdua benar-benar seperti anak kecil kalau suasana lagi seperti ini.


Terkadang Agus juga merasa heran dengan perubahan kedua istrinya, selalu berubah-ubah.


"Kita makan di pinggir jalan saja mas, tempat pertama kali kita ketemu, kamu masih ingat ngga mas?" Tanya Santi


"Kamu yakin, kamu sudah dandan rapi begini cuma mau makan satenya bang boy?" Tanya Agus keheranan dengan tingkah konyol istrinya, pikir Agus dandan semenor itu mau ngajak makan di restoran mahal.


"Iya mas, aku sudah lama tidak makan disana bareng kamu." Santi mengencangkan pelukannya.


"Mas pesankan aku menu biasa ya," Santi langsung duduk di meja paling pojok.


"Mas, apa kamu benar-benar ingin hidup selamanya begini. Jujur ya mas, aku gak tahan kalau harus hidup berdampingan dengan maduku, jujur saja hatiku sakit mas. Tolong kamu pilih aku atau dia?" Ucap Santi serius dengan tatapan penuh cinta.


Agus hanya terdiam, tangannya tidak berhenti mengaduk kopi hitamnya. Lamunan terlihat diwajahnya.


"Kamu tidak bisa memilih ya mas, ya memang pernikahan itu ibadah dan perceraian pun di halalkan walau allah tidak menyukainya. Tapi aku hanya manusia biasa, aku juga punya rasa cemburu kalau aku melihat kamu mesra dengan istri keduamu. Jujur saja aku sangat menyesal telah merestui pernikahan kalian mas."


Agus masih terdiam, ia sama sekali tidak berbicara apa-apa tentang masalah itu, dengan kepintaran nya ia langsung mengalihkan pembicaraan.


****


Diperkebunan tak biasanya Jaya keliling melihat perkebunan secara langsung, tak jarang ia terlihat berhenti dan melamun.


Skertarisnya mengikuti dari belakang. Jaya dikenal sebagai pemilik baru yang ramah. Semua pekerjanya ikut bersedih melihat kemurungan Jaya.


"Iya pak. Ada apa?" jawab Agus segera mendekat.


"Kamu itu kan anak bapak juga, nanti biar bapak pindahkan kamu ke bagian lain ya."


"Iya pak. Terimakasih," jawab Agus.


Selang beberapa menit setelah bercakap dengan Agus, pak jaya mendapat panggilan dari rumah sakit. Ia harus segera kerumah sakit karena istrinya telah siuman dari koma.


Dirumah Sakit.


Saat pak jaya membuka pintu, pak jaya melihat istrinya sedang duduk di kasur menunggunya.


"Mas. bagaimana kamu sudah jadi pemilik perkebunan yang aku rencanakan?" dengan mata berbinar istri Jaya tak basi-basi ia langsung menanyakan misi yang telah lama di buatnya.


"Iya sudah sayang belum lama ini perusahan perkebunan itu sudah jatuh ditangan mas."


Jaya sedikit curiga kenapa istrinya langsung mempertanyakan masalah itu.

__ADS_1


"Anak kita sudah besar sayang," ucap Jaya mengalihkan pembicaraannya.


"Sinta? Dimana sinta sekarang mas, aku pingin ketemu." Nayla bersedih ketika pembicaraan telah di alihkan.


Jaya sengaja memberi nama anak kedua dari istri keduanya sinta karena untuk mengobati rasa rindu pada Santi anak pertamanya.


"Sinta sekarang baru menginjak 13 tahun sayang" ucap Jaya sambil memegang tangan istrinya.


"Selama itukah aku koma disini mas!" bentak Nayla.


"Mas sudah berusaha bawa kamu kemana-mana tapi hasilnya selalu nol besar, tak ada perubahan apa-apa sayang," ucap Jaya dan segera memberikan pelukan biar istrinya merasa tenang.


"Sekarang kamu istirahat jangan terlalu cape. Biar mas panggilkan bian biar dia bawa sinta kesini," ucapnya lagi.


Nayla masih tidak terima ia koma begitu lama, ia masih memikirkan misinya yang telah tertunda cukup lama itu, walaupun sekarang perkebunan itu sudah milik Jaya, suaminya.


"Mama.. Sinta kangen ma!" teriak sinta setelah ia membuka pintu, sinta menangis bahagia berlari memeluk mamanya.


"Anak bayi mama sudah menjadi gadis yang cantik." Nayla memeluk putrinya penuh cinta.


"Mama jangan sakit lagi, ayo kita pulang!"


"Sabar sayang nanti kita tunggu apa kata dokter ya sayang," ucap Jaya.


"Mba. Syukurlah mba sudah sembuh," ucap Bian.


Nayla mengangguk dan tersenyum.


Drett.. drett.. drett..


Bunyi telpon memecahkan susana haru itu.


"Hallo. kenapa gus?" Jaya langsung mengangkat telponnya.


"Bapak tidak apa-apa kan pak? saya lihat tadi bapak buru-buru pergi. maaf pak saya khawatir," ucap Agus jauh di sebrang sana.


"Tidak apa-apa gus, saya lagi dirumah sakit, istri saya sudah siuman dari koma panjang nya."


"Oh. Ya sudah pak, Alhamdulillah kalau begitu saya juga turut senang mendengarnya."


"Iya gus terimakasih." Jaya langsung mematikan ponselnya dan kembali bercerita suka citanya ia bersama putrinya.


"Mba. Mas, kalau begitu saya pamit pulang dulu ya, sekalian saya mau memberi kabar langsung pada keluarga kita atas kesembuhannya mba," ucap bian.

__ADS_1


"Iya makasih ya Bi," ucap Nayla dan Jaya.


Dan Bian pun berlalu pergi mengunakan mobil pribadinya, dia melaju sangat kencang karena tak sabar ingin memberitahu keluarganya secara langsung tentang kesembuhannya Nayla, kakak kandungnya.


__ADS_2