
Bersedih atau menyesal sudah tidak ada gunanya lagi. Kini yang Santi butuhkan adalah dukungan dari suami, karena menurut Santi hanya suaminyalah yang bisa melepaskan ia dari perlakuan mama dan adik iparnya itu. Dengan keadaan seperti ini Santi menawarkan diri untuk ikut mengontrak bersama Agus, suaminya. Sepertinya menjauh akan lebih daripada harus terus tinggal bersama dan menyakiti diri sendiri.
Tid!
Bunyi kelakson mobil membuyarkan lamunan Santi .
Santi langsung bangkit dan berlari ke arah kamar ia teringat dengan sebuah foto yang ditemuinya tadi siang dan sepertinya ia lupa tidak menaruh ke tempatnya lagi. Segera Santi membereskan semuanya, foto itu ia selipkan lagi di sebuah buku yang ia temukan.
Dengan wajah yang sedikit kumel karena dari pagi sampai sekarang belum sempat mandi, Santi menyambut kepulangan Agus dengan melebarkan senyumannya seolah-olah ia baik-baik saja. Santi belum mengetahui kalau Agus juga sudah tau mamanya seperti itu karena Agus bisa menebak dari kata-kata mamanya yang sebenarnya tidak pernah menyetujui pernikahannya kemaren.
"Mas, mau langsung mandi apa mau ngopi dulu?" tawar Santi pada Agus yang terlihat kelelahan berbaring di sofa.
"Mas mau langsung mandi." Jawab Agus masih berbaring dan sedikit mengatur nafasnya.
"Ya aku siapkan handuk dan airnya." Ucap Santi.
"Ya." Jawab Agus.
Diam dan saling tengok menengok kemudian sibuk dengan ponselnya masing-masing. Santi yang masih penasaran dengan foto itu berniat menanyakan pada Agus, tapi Santi masih kebingungan harus merangkai kata seperti apa biar suaminya itu tidak tersinggung atau merasa tidak enak.
Rasa sesak di dadanya karena takut akan kenyataan siapa yang ada di foto itu, Santi masih belum berani bertanya tapi jika dibiarkan berlama-lama diakhir nanti akan ada penyesalan.
"Mas, bolehkah aku bicara sebentar. Ada yang mau aku tanyakan." Ucap Santi ragu-ragu.
"Ya sayang boleh, mau nanya apa?" Jawab Agus sambil mendekat ke arah Santi dan memegang tangannya.
"Sebenernya kemaren aku menemukan sebuah foto yang terselip di sebuah buku yang ku ambil dari rak buku, kalau boleh aku tau siapa perempuan yang ada di foto itu?" tanya Santi sambil menunduk malu dan takut dengan kenyataan yang akan ia dengar.
__ADS_1
"Yang mana?" tanya Agus penasaran, karena sudah lama ini Agus tidak pernah membuka buka buku dan Agus juga lupa tentang foto itu.
"Ini mas!" santi berjalan menuju rak buku dan mengambil sebuah buku yang terdapat foto di dalamnya. Di keluarkanlah foto itu dan ditunjukan pada Agus.
"Maaf sayang, itu adalah foto mantan mas. Dia sudah menikah jauh sebelum mas kenal sama kamu, sudah lama mas tidak menyentuh buku-buku di rak itu makanya mas juga lupa ada foto dia di buku mas. Maafkan mas, mas tidak bermaksud menyakiti hatimu sayang" jawab Agus menjelaskan semuanya.
Tetapi dalam hati Agus masih ada rasa pada perempuan yang bernama Zihan itu, Agus jadi kepikiran dan penasaran tentang kabar Zihan sekarang. Sebelum Agus menikahi Santi, Agus mendapat kabar bahwa Zihan telah lama berpisah dengan suaminya hanya saja Agus tidak terlalu peduli akan hal itu, setelah Santi menunjukan foto itu Agus baru sadar kalau dia masih menyimpan perasaan pada Zihan.
Santi hanya diam dan sedikit agak lega setelah mendengar penjelasan dari Agus.
Waktu terus berjalan Santi yang di tinggal ngontrak sama suaminya selalu bergelut dengan pekerjaan rumah kecuali hari minggu ketika Agus ada di rumah karena Agus pulang seminggu sekali ke rumah untuk menemui sang istri, barulah pekerjaan Santi tidak seberat pas ditinggal Agus.
Santi merasa kecewa tidak diizinkan mengontrak bareng dengan alesan yang kurang masuk di akal menurut Santi. Untuk mengadu tentang sikap mama mertua dan adik ipar pun Santi masih belum berani. Santi berpikir bahwa tidak apa-apalah yang penting ikhlas dan rumah tangganya baik-baik saja.
Hari senin seperti biasa Santi sudah di tunggu segunung pekerjaan.
Di kantor, Agus yang masih penasaran dengan kabar Zihan terus mencari mulai dari media sosial sampai bertanya kembali pada temannya yang waktu itu pernah memberi tahu kalau Zihan telah berpisah.
"Halo, Roy. Bagaimana kabarnya?" Ucap Agus pada sebuah telpon yang tersambung pada teman baiknya yaitu, Roy.
"Baik, Gus. Ada apa ni tumben nelpon?" Jawab Roy di sebrang sana.
"Soal Zihan, ada kabar apa lagi tentang dia." tanya Agus penasaran.
"Waduh. kalau soal kabar aku kurang tau Gus, cuma sekedar tau dia sudah berpisah tidak lebih dari itu." ucap roy takut kalau dia menceritakan semuanya Agus akan semakin penasaran dengan kabar Zihan dan Roy takut nanti malah membuat kekacauan pada keluarga baru Agus, Roy tau dulu Agus begitu mencintai Zihan, hampir stres saat tau Zihan telah menikah karena perjodohan.
"Oh. Iya gimana kabar istrimu Gus?" Celetuk Roy mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Baik." jawab singkat Agus dan langsung menutup telponnya.
Matahari terasa berada di ubun-ubun siang ini, Santi tak tahan menahan haus ia langsung lari ke dapur untuk mengambil segelas air.
Gluk.. gluk.. gluk..
Segelas air dingin telah menyiram kehausan Santi.
"Enak ya kamu santai-santai disini!" bentak mama mertua membuyarkan ketenangan di saat cuaca panas terik begini.
"Tidak, Ma. Santi hanya minum segelas saja ini juga Santi mau langsung cabut rumput depan halaman rumah." Jawab Santi.
Di halaman rumah memang sudah banyak rumput liar yang tumbuh.
"Lho Santi kamu ngapain panas-panas begini nyabutin rumput, sudah sana bersihkan badanmu biar nanti papa yang urus semuanya, tinggal telepon tukang kebun saja ko malah kamu malah kamu yang ngerjain," ucap papa mertua mengagetkan Santi yang sedang kepanasan membersihkan halaman rumah. Papa mertua memang baik tidak seperti mama mertua yang hanya menganggap Santi benalu di kehidupan keluarganya.
"Iya, Pa." Jawab santi langsung menuju kamar mandi.
"Ma.. ma.. mama dimana?" teriak papa jengkel karena telah membiarkan menantunya membersihkan halaman di cuaca sepanas ini.
"Papa udah pulang, katanya pulang minggu depan kok sudah pulang lagi si pa?" tanya mama mertua kaget dengan kepulangan suaminya yang tiba.
"Sudahlah tadinya papa mau bikin kejutan atas kepulangan papa, tapi apa malah ini kejutannya. Apa jangan jangan selama papa tidak ada di rumah mama mengandalkan Santi untuk beresin semuanya sendirian. Ingat ya ma kita juga punya anak perempuan, mama tidak mau kan kalau nasib anak perempuan kita dibikin sengsara." Ucap papa yang kecewa dan menasehati mama.
"Tapi pa, Santi memang pantasnya seperti itu bersih-bersih, lagian dia udah terbiasa dengan pekerjaan yang seperti ini. Tidak punya pendidikan seperti Santi mana bisa menjadi istri yang baik." Jawaban mama membuat papa semakin marah.
"Terserahlah, Papa cape mau istirahat!" Ucap papa sambil berjalan menuju kamar.
__ADS_1