
Peluh membanjiri kedua manusia didalam sana. Clara dan ayah kini tertidur pulas tanpa dengan selimbut yang menutupi tubuhnya.
Kenikmatan sesaat membuat mereka lupa akan semua masalah yang tengah terjadi dan juga membuat mereka lupa akan dosa yang menanti.
Saat keduanya tengah tertidur dalam pelukan hangat yang diberikan masing masing, tanpa sadar bahwa Bian telah sampai di halaman rumah mewah milik keluarga Atmaja.
"Clara" teriak Bian saat masuk melewati pintu, diruang tengah kini dia duduk seraya terus memijat keningnya yang terasa sakit.
Mata Clara langsung terbuka lebar kala mendengar suara dari sang suami. Diambilnya ling*rie berwarna merah marun dan mulai membangunkan ayah mertuanya yang terlelap disamping tubuhnya.
"Mas Bian pulang!"
"Apa!?"
Tanpa aba aba kini ayah mulai mengambil baju serta celananya yang berserakan. Dipakainya dengan terburu buru lalu keluar dari kamar milik menantunya dan bersembunyi dibawah meja makan.
Bian yang tak mendapat jawaban dari sang istri kini berjalan menuju kamar yang selalu ia gunakan sebagai tempat melepas rindu pada istri keduanya.
Kreett
Pintu terbuka dengan lebar, menampilkan Clara dengan pakaian yang menggoda. Tak perlu menunggu lama, Clara berjalan kearah suaminya dan mulai merayu agar tak terlihat mencurigakan.
Diusapnya wajah serta tengkuk dari Bian dan mulai memajukan wajahnya kearah sang suami.
Bian yang tergoda dengan kelihaian Clara dalam merayu kini mulai bermain main dengan sang istri tanpa menaruh curiga sedikitpun.
"Kamu pinter sekali menggoda " bisik Bian ketelinga Clara.
Deru nafas tak karuan. Dua insan yang tengah dimabuk asmara kini tak memperdulikan bagaimana masalah yang tengah mereka hadapi.
Hingga saat Bian mulai bergerak lebih liar, dia menatap kearah leher sang istri terdapat noda merah yang selalu menjadi tempat favoritnya.
"Ini bekas apa?" tanya Bian menghentikan aksinya.
"Euh...Itu..Itu bekas digigit nyamuk mas" ucap Clara dengan terbata bata.
Tak berhenti disitu, mendengar penuturan sang istri yang logis membuatnya tak curiga.
Clara tak merasa lelah melakukan hal yang selalu membuatnya ketagihan walaupun baru saja ia melayani sang mertua.
Tanpa Bian dan ayahnya tahu, sebenarnya Clara masih saja membuka jasa bagi pria pria hidung belang yang memiliki banyak uang. Tanpa perduli bagaimana latar belakang sang konsumen baginya uang serta kepuasaan adalah hal yang paling utama.
Tubuh Bian kini basah dengan peluh, dici*mnya kening sang istri dan mulai mendekap tubuhnya erat erat.
Clara dan Bian lupa bahwa kamarnya selalu menjadi pantauan Zidan dan Nayla yang sengaja memasang kamera cctv kecil disudut ruangannya.
Zidan selalu memantau setiap pergerakan didalam rumahnya, apalagi itu mengenai Clara dan Bian.
Saat ini Zidan dan Nayla tengah pergi menuju apartement milik Hamdi untuk mendengarkan kabar baik mengenai pembunuhan Arumi. Ponsel yang ia simpan didalam saku kini berbunyi, membuatnya menepi dan mulai membuka notifikasi pesan dari sang pengirim.
__ADS_1
[Aku sudah menunggumu disini dua jam. Jangan lama lama, ini adalah hal yang penting jadi jangan sampai membuatku lebih lama lagi menunggu] pesan Hamdi yang terbaca oleh Zidan.
Tanpa membalas pesan yang sahabatnya kirimkan, dia lebih tertarik melihat rekaman lagi dikamar Clara yang tadi sedang bersama ayahnya.
Begitu Zidan membuka rekaman, dia sangat terkejut ketika pria yang sedang bersama Clara kini bukan ayahnya, melainkan Bian adiknya sendiri.
"Dasar jal*ng!" umpat Zidan.
Nayla dengan amarahnya kini memukul Zidan dengan sangat keras.
"Apa kau bilang hah?! berani beraninya ngomong kasar sama calon bidadari syurga"
"Kamu yang apa wanita gila! jangan ke gr an jadi orang. Nih lihat!" ucap Zidan seraya menyerahkan ponsel miliknya.
Mata Nayla hampir saja loncat dari tempatnya. Tak pernah dia bayangkan bahwa Clara sekotor itu.
"Apa ini Mas Bian?" ucapnya bergetar.
Anggukan kepala Zidan menyatakan bahwa memang benar bahwa yang saat ini tengah tidur bersama Clara adalah suaminya Nayla.
"Benar benar wanita mur*han dia! aku sebagai perempuan sampai malu melihat ulahnya. Setelah dia melayani ayah mertua, dengan santainya dia memberikan tubuhnya pada Mas Bian. Benar benar tak punya akal sebagai manusia"
"Sudah sabar Nay. Aku saja sebagai pria tak memiliki gair*ah saat melihat tubuhnya yang sudah banyak disentuh pria lain. Suamimu dan ayahku benar benar bodoh sampai sampai bisa tertipu dengan wanita sampah sepertinya"
Tarikan nafas yang Nayla lakukan hanya bisa membuat sedikit emosinya mereda. Zidan menaruh ponselnya kembali kedalam saku celana lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Jalanan sore ini terlihat rengang. Membuat Zidan dan Nayla dengan cepat sampai di apartemen milik Hamdi.
"Assalamualaikum Ham" ucap Zidan beriringan dengan Nayla.
Zidan dan Nayla masuk kedalam ruang tamu apartemen Hamdi lalu berusaha mencari sang empunya rumah.
Hening sekali membuat mereka merasa bingung kemana Hamdi pergi. Lampu yang gelap serta perabotan rumah yang tersusun rapih membuat mereka berdua panik akan keberadaan Hamdi saat ini.
"Ham kamu dimana? jangan main main ya"
Hening tak ada jawaban, hingga saat mereka mencoba menekan saklar lampu, Hamdi dengan siap berdiri dibelakang Zidan dan Nayla seraya membawa senter yang meyorot kearah mukanya.
"Whaa" teriak Hamdi membuat Nayla dan Zidan tersungkur.
"Dasar kau manusia onta! " ucap Zidan seraya meringis kesakitan.
Hamdi yang merasa bersalah pada Nayla, kini mengulurkan tangan dan membantunya untuk segera bangkit. Lain halnya pada Zidan, dia terlihat acuh dan membiarkan sahabatnya duduk menahan sakit diarea bo*kongnya.
"Maafkan aku Nay. Kau tak papa?" tanya Hamdi pada Nayla.
"Aku gak papa Ham"
Senyuman Nayla membuat Hamdi tak karuan. Dia mengigit bahu Zidan yang baru saja bangkit hingga membuat Zidan marah kemudia memukul kepalanya dengan pengaris diatas meja.
__ADS_1
"Awhh jadi sayang" ucap Hamdi manja.
Zidan menatap datar pada sahabatnya. Rasa kesal membuatnya ingin sekali menelan Hamdi bulat bulat agar tak selalu merayu Nayla.
"Lebay banget jadi laki! " bentak Zidan pada Hamdi.
Nayla yang melihat kekesalan diwajah Zidan membuatnya sedikit bingung, hingga akhirnya dia mendekat kearah Hamdi dan mulai memiliki ide untuk membuat Zidan tertawa.
"Hamdi kau sangat tampan sekali, bolehkan aku menjadi fans beratmu. Kau sangat tampan" ungkap Nayla seraya mendekat.
Bukannya merasa senang, Zidan malah bertambah kesal hingga menarik gamis milik Nayla agar dia sedikit menjauh dari Hamdi.
"Tampan darimana Nay? kau buta atau apa? Siluman onta kau bilang tampan hah, hahahah"
"Siluman onta kau bilang? Aku jauh lebih tampan darimu. Justru kau yang terlihat seperti siluman kera!" Jawab Hamdi tak mau kalah.
"Oh mulai berani sekarang hah?! dasar siluman onta. Lubang hidumu saja besar! mana mungkin kau tampan"
Hamdi mulai kesal. Diambilnya album foto saat sekolah menengah dulu, lalu menunjukan foto Zidan.
"Lihat Nay. Siluman kera saat sekolah terlihat culun sekali. Rambutnya yang klimis membuat dirinya seperti tikus basah" tawa Hamdi dengan keras.
Nayla mulai tertawa saat melihat foto Zidan masa sekolah dulu. Pria berkulit putih, berkacamata tebal dengan rambut yang disisir dan mungkin diberi pomade satu toples membuatnya terlihat seperti kutu buku.
Berbanding terbalik dengan Zidan saat ini, yang terlihat bersih dan rapih dengan rambut yang disusun seperti artis hollywood.
"Ini kau mas? hahahahahah, ke..kenapa kau selucu ini" tawa Nayla menggelegar.
Zidan menatap nyalang pada Hamdi dengan tangan mengepal. Malu sudah pasti dia rasakan saat Nayla mengetahui foto bahwa dirinya dulu seperti kutu buku.
"Kau bilang Hamdi yang terlihat culun. Nyatanya kau sama saja mas"
Zidan melangkah pergi menuju pintu keluar apartemen Hamdi. Malu dan kesal menjadi satu. Kakinya melangkah pergi namun dicekal oleh Hamdi dan Nayla yang mencoba menahan tawanya.
"Jangan marah mas, aku cuman bercanda"
"Bercandamu gak lucu Nay. Sekarang aku mau pulang. Kau bicaralah dengan siluman onta itu mengenai kasus Arumi. Jika sudah selesai hubungi aku, aku akan datang menjemputmu"
Nayla kini memegang erat tangan Zidan. Sehingga membuat darah Zidan mengalir deras dan jantungnya berdetak lebih cepat.
"Mas aku mohon jangan marah. Sekarang lupakan semua ini. Kita bicarakan kasus Arumi bersama Hamdi saja sekarang"
Ditariknya tangan Zidan kemudian menyuruhnya untuk segera duduk. Hamdi yang sedari tadi melihat Zidan marah, terus saja tertawa walaupun tawanya tertahan.
"Fyuhhhh, yasudah silahkan kalian duduk. Sekarang kita serius " ucap Hamdi.
"Jadi gini, saat dulu kita bertemu di restaurant untuk membahas rekaman cctv Arumi, tanpa diduga aku menemukan bukti baru didalam rekamannya. Saat pelaku mencoba mengambil kalung yang dipakai Arumi, tanpa dia sadari Arumi membuat gelang yang dipakai sang pelaku putus dan terjatuh kedalam selokan tempat mayat Arumi ditemukan. Dan saat aku meminta rekaman satu hari setelah Arumi ditemukan dalam keadaan meninggal, dalam rekaman terlihat seorang anak menemukan gelang itu dan memakainya.
Kemungkinan besar, gelang itu akan menjadi petunjuk terungkapnya pelaku pembunuhan Arumi. Sebab dengan gelang itu akan ada bukti baru selain sapu tangan milik tersangka. Oh iya, ngomong ngomong kalian sudah temukan sapu tangan yang kalian curigai?" sambung Hamdi dengan serius.
__ADS_1
Zidan mencoba mengingat ngingat saat dirinya memeluk tubuh Arumi yang sudah terbujur kaku dengan tangan mengenggam liontin yang ia berikan.
Tanpa mereka sadari, bahwa mungkin saja pelaku yang mereka cari memang benar berada didalam rumah milik Zidan dan bukannya orang lain, sebab sapu tangan yang mereka curigai belum dicari didalam gudang belakang rumah.