Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Masalah


__ADS_3

Sapu tangan yang menjadi bukti kematian Arumi kini menjadi barang yang sangat penting untuk dicari Zidan Nayla.


Selain terdapat kemiripan dari sapu tangan yang digunakan pelaku, sapu tangan yang terdapat dikediaman Zidan belum juga ditemukan siapa pemiliknya.


"Aku belum sempat mencarinya Ham. Nanti jika aku sudah pulang, akan kucari sapu tangan itu. Siapa tau masih ada dirumah"


"Iya. Kau cari sapu tangan itu dan simpan baik baik jika sudah ketemu. Jangan lupa kau cari tahu siapa pemiliknya dan jangan buat sang pemiliknya merasa curiga. Siapa tahu memang benar pelaku pembunuhan Arumi adalah orang terdekatmu"


Nayla diam mendengarkan percakapan dua pria didepannya. Dia mencoba berpikir bagaimana dia bisa kembali masuk kedalam rumah dan mencari sapu tangan itu sebab dia sekarang sudah mengajukan berkas perceraian pernikahannya dengan Bian.


"Tapi mas bagaimana aku bisa membantumu mencari sapu tangan itu? aku sudah keluar dari rumahmu, dan tak mungkin aku masuk lagi kerumah itu"


"Tenang saja Nay, nanti aku cari waktu yang tepat dan membawamu kedalam rumah unfuk mencari sapu tangan itu. Sekarang kita pulang dulu dan beritahu Aisyah mengenai perceraianmu. Kau tak perlu menangis apalagi bersedih"


"Tentu mas aku sudah tak sudi untuk menangis pria bre*ngsek seperti dia. Hatiku sudah kuat menerima kenyataan ini. Lagi pula aku akan membalas semua perlakuan mereka dengan main cantik tanpa mengotori tanganku"


Senyum terpancar dari wajah cantik Nayla membuat dua pria terpukau dan terpesona akan indahnya ciptahan tuhan dihadapan mereka.


Zidan dan Nayla akhirnya meninggalkan apartemen milik Hamdi unfuk segera pergi menuju panti Ibu Aisyah. Tak lupa mengucapkan terimakasih pada pria yang telah membantunya menemukan bukti baru mengenai kasus pembunuhan Arumi.


Sore beranjak malam. Ibu Widya dan Siska masih berada dirumah sakit, sedangkan ayah sudah pergi menuju kamarnya selagi Bian dan Clara melakukan aktivitasnya.


Bian dan Clara kini sudah menghilangkan bekas peraduan mereka. Sekarang mereka tengah menyantap makan malam bersama sang ayah diantara keduanya.


"Sekarang bagaimana perusahaan ayah?" ucap Bian dengan ragu.


"Sekarang ayah mengalami penurunan statistik keuangan diperusahaan. Ayah akan coba cari pinjaman ke perusahaan lain yang belum tahu tentang videomu dan Clara. Kau coba cari si wanita kampungan itu dan berikan dia pelajaran"


"Aku sudah cari dia di panti asuhan, hanya saja dia sedang pergi sehingga tak ada disana. Saat aku mencoba mencari wanita pembawa sial itu, anak anak tak tahu diri disana memukulku dengan sangat keras sehingga membuatku babak belur"


Bekas pukulan masih terlihat jelas diwahah putih milik Bian. Clara yang hanya mendengarkan percakapan Bian dan ayah mertuanya hanya bisa menatap dengan tatapan yang selalu membuat kedua pria itu merasa tertantang.


Kaki nakal ayah mertuanya sekrang mencoba menggapai kaki mulus milik Clara. Disentuhnya kaki sang menantu dengan lembut dan mulai melakukan gerakan yang membuat Clara merasa geli.


Bian yang menyadari ada yang aneh dengan sang istri mencoba bersikap tenang dan menatap ke arah ayah kandungnya.


"Kenapa sayang?" ucap Bian lembut.


"Euh..Enggak mas, enggak papa"


Diturunkannya kaki sang mertua agar Bian tak menaruh curiga.

__ADS_1


Ting


Sebuah pesan masuk kedalam ponsel milik ayah, kemudian disusul nada dering yang menandakan bahwa ada panggilan dari seseorang masuk kedalam ponselnya.


Ayah mengambil ponsel dalam saku celana dan mulai menghentikan makan malamnya.


"Ya ada apa?"


"Apa?! gak mungkin! ini gak mungkin!"


Tubuh ayah kini bergetar hebat, wajah yang mulai memerah dan ponsel yang terjatuh membuat Clara dan Bian ikut panik melihat kondisi sang ayah.


Dengan erat ayah memegang dadanya yang terasa sakit kemudian jatuh tak sadarkan diri.


"Yah bangun yah! ayah ! ayah kenapa?!" teriak Bian panik.


Diambilnya kunci mobil dan digotongnya tubuh pria paruh baya bertubuh gempal dibantu oleh sang istri.


Kepanikan melanda Bian dan Clara saat ini. Ayah menutu matanya dengan rapat dengan mafas yang terdengar berat.


Tujuan mereka saat ini adalah rumah sakit yang sama dengan Siska dirawat. Halaman rumah sakit terlihat begitu ramai dengan mobil mobil yang terparkir.


Berbagai macam alat kini menempel ditubuh ayah. Bulir bening menetes dipipi Bian. Kesedihan saat ini jauh lebih besar dia rasakan saat sang ayah tengah terbaring lemah diatas kasur rumah sakit.


Pelukan erat Clara membuat Bian semakin sedih. Hal apa yang membuat sang ayah jatuh sakit.


Diambilnya ponsel dan segera menghubungi sekertaris sang ayah.


"Halo. Anda biacara apa sama ayah saya hah!" teriak Bian.


Ekspresi marah diwajahnya kini berganting dengan keterkejutan. Ponsel digengamannya jatuh dan dia jatuh diatas kursi rumah sakit.


"Perusahaan ayah Clara. Perusahaan ayah!"


"Ada apa mas? kenapa perusahaan ayah?" jawab Clara bingung.


"Perusahaan ayah sebentar lagi hancur Clara. Pabrik produksi ayah kebakaran dan orang kepercayaan ayah membawa seluruh surat penting dan menjualnya kemusuh besar perusahaan"


Clara yang terkejut mundur beberapa langkah dari tubuh sang suami. Dia tak menyangka bahwa pria tua yang menjadi tambang emasnya kini jatuh miskin.


Dia harus cepat memutar otak agar bisa terus merasakan kemewahan dan tak merasakan kemiskinan.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi mas?"


tanya Clara panik.


"Aku juga gak tahu. Yang jelas saat ini sekertaris ayah sedang mencari orang kepercayaan ayah yang berkhianat dan mencari tahu penyebab pabrik ayah kebakaran"


Clara berusaha bersikap tenang dan mencoba sumaminya ikut merasa tenang.


Bian mencoba menelpon ibu yang tak jauh dari ruangannya agar sang ibu tahu kondisi suaminya.


Beberapa kali panggilan tak kunjung dijawab oleh Ibu Widya. Hingga ia memutuskan untuk menuju ruangan tempat adiknya dirawat dan memberi tahu keadaan sang ayah.


Langkaj kakinya yang panjang membuat Bian sedikit lebih cepat sampai diruangan tempat adik kesayangannya terbaring lemah.


"Ibu" ucap Bian kala membuka pintu.


Dua wanita yang ia sayangi langsung menatap kearahnya.


"Ada apa Bian ? kamu kelihatan panik sekali"


"Ayah bu. Ayah, Ayah dikena serangan jantung"


Mata Ibu Widya melebar sempurna, Siska yang sedang melamun pun ikut menatap kearah kakaknya karna terkejut.


"Kamu jangan bohong Bian! ayah pasti baik baik saja kan!" bentak ibu pada Bian.


"Perusahaan kita bangkrut bu. Pabrik kita kebakaran dan orang kepercayaan ayah berkhianat"


Ibu jatuh luruh kelantai. Siska yang sedikit pulih, berjalan kearah sang ibu dan mencoba menenangkannya. Ibu Widya bersimpuh diatas lantai dengan isak tangis yang terdengar begitu pilu.


"Kita jatuh miskin nak. Jatuh miskin! Bagaimana kita hidup kalau uang kita habis. Cepat kau panggil kakakmu Zidan, suruh dia untuk membantu dana perusahaan kita. Suruh dia tandatangan pengalihan salah satu asetnya agar perusahaan kita selamat"


Bukan suami yang dia pikirkan, melainkan harta yang selalu menyangga kebutuhannya. Tak perduli bagaimana kondisi suaminya, Ibu Widya bersikeras berpikir bagaimana kemewahan yang ia dapat jangan pernah menghilang.


"Sekarang ibu lihat ayah dulu. Kasihan ayah bu dia sedang diruangan UGD"


"Ya sudah ibu akan pergi kesana. Sekarang kau urus dulu administrasi ayahmu"


Harta yang mereka punya yaitu perusahaan yang diberikan mendiang ayah kandung Zidan kini hancur sudah. Bagaimana pun mereka mencoba mempertahankan perusahaan yang telah mereka kelola selama ini bagai diterjang ombak, hancur menjadi puing puing kecil.


Pengkhianatan yang dilakukan Bian serta kebohongan yang disembunyikan seluruh keluarga Bian takan pernah bisa sebanding dengan luka yang mereka berikan pada Nayla yang jelas jelas telah mereka dzolimi.

__ADS_1


__ADS_2