
Siska menoleh dengan cepat ke arah belakang tempat suara bariton itu berada. Matanya yang indah langsung menatap dengan gundah pada sang empunya rumah tempat ia tinggal dan dengan suara lirih Siska meminta kembali ponsel yang sebelumnya Zidan raih.
"mas, bisa kembalikan ponselku" pintanya dengan mata mengiba.
Zidan yang heran dengan apa yang sebenarnya Siska lakukan dengan cepat mengembalikan ponsel tersebut tanpa rasa penasaran. Pria itu bahkan lebih memilih duduk dan bertanya tentang apa yang sebenarnya Siska lakukan sendirian di halaman rumah sakit tersebut.
Zidan bukan tipikal pria yang semena mena dan juga keras kepala. Ia lebih ingin tahu apa yang Siska sembunyikan dari mulut gadis itu langsung, dari pada harus mengorek informasi tersebut dari hal yang cukup privasi miliknya.
"ada apa sis? Apa ada yang kamu sembunyikan dari mas?" tanya Zidan dengan lembut.
Siska terdiam. Ia dilanda rasa bimbang antara harus mengatakan hal yang cukup sensitif ini padanya atau tidak. Siska tak ingin jika banyak pihak mengetahui rahasia besar Naura. terlebih lagi wanita itu memang takut jika Hamdi kembali bersama dengan Siska lagi.
"Sebenarnya mas...ak..."
Belum sempat Siska menyempurnakan kalimatnya, Zidan dengan yakin bahkan berkata hal tersebut cukup Siska selesaikan sendiri sebab Zidan tak ingin jika Siska menjadi terlalu berhantu pada siapapun dan ia tak ingin jika Siska sampai terkuak kembali karena ulahnya.
"Jika ada hal yang ingin kau katakan pada mas, maka katakanlah jangan takut. Jika ada hal yang ingin kau sembunyikan dan menurutmu ini adalah privasi maka mas dukung apapun keputusanmu. Hanya saja mas mohon jangan sembunyikan lukamu itu. Insyaallah mas bisa bantu kamu bagaimanapun situasinya. Sekarang kamu makan dulu saja. Mas tahu kamu pasti lemas habis transfusi darah tadi"
__ADS_1
Zidan bangkit dan menggandeng tangan Siska untuk pergi menuju kantin rumah sakit yang tak jauh dari halaman tersebut.
Zidan bahkan membelikan banyak makanan untuk Siska dan menatap gadis itu yang saat ini tengah memasang mata berbinar.
"mas ingat betul saat kamu kecil. Kamu selalu merengek meminta uang lima ribu hanya untuk membeli es krim pinggir jalan. Saat itu mas bahkan sengaja mencuri uang milik ayahmu yang tergeletak begitu saja di atas meja kerja hanya karena tak ingin melihat kamu menangis"
Siska terkejut dan lantas menatap Zidan dengan makanan yang memenuhi seluruh rongga mulutnya.
"jadi mas mencuri uang ayah?" tanya Siska dengan susah payah.
"tentu saja mas mencuri. Bagaimana mas punya uang wong uangnya aja gak bisa mas pakai"
Zidan memanglah pemilik perusahaan Atmaja dan juga pemilik rumah tersebut. Namun semua harta kekayaan yang ia miliki tak bisa ia gunakan seenaknya sehingga dalam memakai uang pun, ia hanya di jatah sesuai dengan umurnya sebab pengacara ayahnya dulu sangat mementingkan pendidikan.
Selain itu Ibu Widya dan juga ayah Siska dulu begitu serakah dan tak membolehkan Zidan menggunakan uang terlalu banyak sebab Mereka takut harta kekayaan milik ponakannya akan cepat habis.
"Hahaha maafkan mas ya Sis, karena memberikanmu makanan dari hasil uang haram" ucapnya dengan santai.
__ADS_1
Siska hanya terdiam. Beban di pikirannya sedikit berkurang kala dirinya bersama dengan kakak sepupu yang sudah ia anggap sebagai kakak kandung.
"mas" panggil Siska dengan pelan.
"ya sis, ada apa? Mau jajan lagi?" tanya pria berkumis tipis di hadapannya.
"Emh Mas Bian gimana kabarnya ya? Apa dia rindu dengan putranya?"
Pertanyaan Siska berhasil membuat Zidan bungkam. Entah kenapa wanita itu bisa bertanya hal demikian yang tentunya Zidan pun tak tahu jawabannya.
"Mas Bian mu baik baik Saja. Maaf mas gak bisa mengajakmu menjenguknya sebab ia sendiri meminta mas untuk siapapun tak menjenguknya lagi. Dia merasa malu dan juga bersalah pada mas dan juga kamu. Apalagi ia merasa bahwa telah gagal menjadi seorang kakak tertua di keluargamu"
Siska termenung. Menundukan kepalanya kala mendengar fakta bahwa Bian merasa telah gagal sebagai seorang kakak.
"semua yang terjadi pada kami semuanya murni karena kesalahan kami masing masing. Dosanya dan dosaku jelas berbeda dan itu semua dilakukan atas dasar kesadaran masing masing. Mas Bian tak salah apapun padaku. Justru aku yang telah membuat beban di pundaknya semakin berat dengan aib yang aku miliki sampai saat ini"
*mohon maaf jika terlalu lambat dalam up cerita dikarenakan othor tidak baik baik saja dalam kesehatan. Insyaallah jika ada waktu luang maka akan up part selanjutnya. Terimakasih yang sudah setia menunggu kelanjutan cerita ini dan mohon maaf sebesar besarnya untuk kalian 🙏🙏🙏🙏♥️
__ADS_1