
"Ma."
Terdengar suara papa memanggil, mama langsung menghampirinya, selama ini papa tidak banyak bicara, papa masih merasa syok harus kehilangan semuanya.
Papa menjadi lebih diam dan sering mengurung diri di kamar. Sering kali Zihan dan mama mengajak papa berjemur sekalian menghirup udara kampung yang masih segar tapi papa tidak pernah mau.
"Papa mau bertemu Santi!" ujar papa sambil meraih tongkatnya.
"Pa. Papa kan belum bisa jalan jauh walaupun pakai tongkat itu," ucap mama sambil mendudukkan kembali papa ke kursi rodanya.
"Biar mama yang panggil Santi ke rumah ini. Papa tunggu saja." Ucap mana lagi.
Papa segera mengarahkan kursi rodanya ke arah taman kecil di halaman rumahnya.
Terlihat sedang melamun ditemani secangkir teh yang masih mengebul mengeluarkan asap.
"Mama pamit pa. Mau menemui Santi." Ucap mama dan berlalu pergi.
****
"Mama main ini yuk!" seru El pada Santi yang sedang sibuk packing barang, malaikat kecil itu menunjukan puzzle kesukaannya.
"Ya sayang" Santi meraih puzzle itu dan meninggalkan pekerjaannya.
Santi selalu sigap setiap El meminta sesuatu, nomor satu adalah anak. ia tidak mau melewatkan masa berharganya dengan anak.
"Sini biar sama nenek aja mainnya," ucap nenek seraya menggendong el.
"Tak apa-apa buk. Ibu istirahat saja!" sambil melemparkan senyum.
"Sini sayang main sama bunda. Mau maen apa El sayang?" tanya Santi pada anak semata wayangnya.
Seringkali melirikkan mata ke arah jalan berharap suaminya datang, berharap anaknya mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Santi tidak jarang menelpon Agus tapi tak pernah ada jawaban, sekedar pesan singkat pun tak ada darinya.
Bukan. Santi bukan mengharapkan Agus menemuinya melainkan menemui anaknya, hati Santi sudah terlanjur sakit dengan perlakuan mama mertuanya dan Agus yang tak pernah membela sedikitpun.
"Darimana dia mendapatkan uang sebanyak ini sampai bisa membuat toko segala"
Ucap mama dalam hati, ia kaget melihat perubahan rumah santi yang bisa dibilang megah dan besar, semenjak Santi pulang kerumah ibunya, mama dan Agus sekeluarga jadi enggan melewati rumahnya.
__ADS_1
"Santi!" teriak mama sembari melihat lihat ke dalam toko. Ia melihat baju yang di pajang itu menarik hatinya.
"Iya ma. Silahkan masuk." Ucap Santi merasa senang dan segera memanggil el.
"Mama ga lama disi, mama cuma mau memberitahu kalau papa ingin bertemu denganmu, ajak El juga. Mungkin papa kangen," ujar mama berlalu meninggalkan Santi tanpa mengucap salam.
Rasa benci yang selalu menyelimuti hati mama pada Santi tak pernah berkurang, sekalipun kini Santi telah menjadi orang yang bisa dibilang sukses itu.
Santi terdiam ia sebenarnya salah apa, masalah ia tidak berpendidikan itu sudah dijelaskan dari awal, dan masalah latar belakang keluarga pun Agus telah mengetahuinya bahkan mama juga mengetahui itu dari Agus, lalu kenapa ada ucapan pelamaran waktu itu. Kenapa harus ada pernikahan.
****
Setiap hari Agus bekerja banting tulang demi sebuah gengsi yang tak pernah hilang dari keluarganya. Setiap kali adiknya reuni dengan teman kampusnya dulu ia selalu meminta barang mahal pada Agus, ya walaupun akhirnya dijual lagi tapi harga jual tak seperti waktu ia membeli.
"Kalau saja kita bisa menyesuaikan pendapatan ku, kita juga pasti punya tabungan. kita pasti bisa makan enak setiap harinya dan pengobatan papa pun bisa dilanjutkan lagi," celetuk Agus saat semua berkumpul menonton tv.
"Maksudmu mas, kamu ga ikhlas ngasih adikmu ini uang!" bentak Dila seraya ia pergi ke kamarnya.
Semua nampak terdiam.
"Assalamualaikum." Ucap santi di balik pintu keluar.
"Pa. Bagaimana keadaan papa?" Seraya menyalami papa yang sedang berbaring di sofa.
"Baik nak. Papa kangen sama cucu Papa." Sambil tersenyum ke arah El yang masih lekat di gendongan ayahnya.
"Iya sukur pa." Ucap Santi yang kini duduk di sofa sendirian, Santi merasa tidak pantas untuk duduk di samping Agus.
"Anakmu biar aku yang rawat saja ya San." Ujar Zihan dengan nada lantang.
Semua nampak heran kecuali Agus, zihan yang menginginkan anak ia tidak menunggu waktu yang pas.
Sontak saja Santi mengambil kembali El dari pangkuan ayahnya, dan berlalu pergi meninggalkan rumah itu.
Mama dan Papa masih bengong dengan mata yang tertuju pada Zihan, pasalnya sewaktu El dirumah ini zihan tidak pernah mau didekati El apalagi sampai menggendongnya.
Ucapan Zihan mengagetkan Mama.
"Zi. Apa mama tidak salah dengar?"
__ADS_1
"Tidak ma. Zihan susah mendapatkan keturunan sampai sekarang pun belum ada tanda-tanda Zihan hamil kan. Lagian el itu darah dagingnya mas Agus?" Terang Zihan.
Mama menggelengkan kepalanya, Papa hanya bisa terdiam, menantu kesayangannya itu merasa kecewa dan pasti berpikir bahwa papa juga sekejam itu.
Klik.
Suara pesan masuk datang dari Santi.
"Mas urus saja perceraian kita, aku tidak akan membiarkan kamu mengambil el dari hidupku. cukup aku yang tersiksa menjadi korban mu. Biarkan el hidup bahagia bersamaku."
Pesan itu tak dihiraukan Agus, dalam hati Agus masih ada rasa cinta walaupun terhalang Zihan, yang tadinya hanya pelarian kini perasaan Agus lebih ke Santi.
Agus memikirkan bagaimana ia bisa bersatu lagi dengan santi dan anaknya el.
Santi yang sudah terlanjur kecewa dengan perkataan Zihan menganggap semuanya sama seperti Zihan, hanya menginginkan anak.
Waktu berlalu begitu saja.
Santi mengajak Mila dan ibunya beserta El liburan ke pantai yang jaraknya lumayan jauh dari kampungnya, ia merasa mumet dan sekedar menghilangkan penat saja.
Setibanya disana mata ibu tertuju pada Pria paruh baya yang seperti tidak asing baginya. dilihatnya dari ujung kaki sampai rambut, ibu menggelengkan kepalanya ia berpikir salah melihat orang, tapi hatinya berdegup sangat kencang.
Pria itu menggandeng perempuan kecil yang kalau dilihat sekilas mirip dengan Santi saat Santi seusianya.
Ibu, Mila, El dan juga Santi terlihat bahagia walaupun liburannya hanya sederhana
Ibu masih terbayang-bayang wajah Pria yang memakai kacamata hitam itu.
Saat santi sedang menikmati jusnya tiba-tiba seorang perempuan kecil tak sengaja menjatuhkan jusnya. Santi hanya tersenyum lalu memanggil pelayan membersihkannya.
Seorang laki-laki menghampirinya ternyata itu ayah dari anak perempuan itu, laki-laki itu meminta maaf atas apa yang di lakukan putrinya.
"Maaf mba, biar saya pesankan lagi!" ujar laki-laki itu.
"Tidak usah pak, tidak apa-apa biar nanti saya yang pesan sendiri," ucap santi.
"Terimakasih ya mba." Ucap laki-laki itu dan berlalu pergi meninggalkan santi yang sedang menunggu Ibu, Mila dan El.
Sepulangnya liburan ibunya Santi terlihat murung dan sering kali melamun.
__ADS_1