Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Ikhlas


__ADS_3

Awan yang begitu cerah serta mentari yang kian meredup, seolah mendukung suasana yang saat ini sedang dialami oleh Hamdi.


Di dalam ambulan ini, Hamdi hanya duduk menatap peti jenasah yang berisi tubuh Nikita sang teman sekaligus keluarganya yang selama ini sudah lama ia tak temui.


Bertahun tahun lamanya ia tak bertemu dengan gadis tomboy ini seolah membuat Hamdi rindu saat mendapatkan nomor ponselnya setahun yang lalu. Beberapa kali ia berkomunikasi dengan Nikita membuat Nikita benar benar sangat bahagia, walaupun terkadang pesannya hanya di baca oleh Hamdi.


Setelah setahun berkomunikasi melalui ponsel, akhirnya mereka pun dipertemukan dalam waktu yang singkat dan itu pun hanya untuk melakukan misi rahasia untuk membongkar kasus pelecehan yang dialami oleh Siska.


"Kenapa kau tidur Nik?" ucap Hamdi pelan.


"Kau tahu, aku sangat merindukanmu walaupun aku tak pernah mengucapkan semua hal itu. Kau tak pernah tahu, aku sangat ingin menjambak lagi rambut mu sama seperti saat kita kecil dulu. Kau selalu saja mengadukanku pada nenek, walaupun kau sendiri yang sudah membuatku marah padamu. Sejak dulu kau sudah jatuh cinta padaku dan itu adalah hal yang konyol Nik. Hahaha Itu sangat konyol. Kau mencintai pria lemah dan culun sepertiku. Kau sungguh membuatku geli Nik" Hamdi tersenyum dengan air mata yang mengalir deras.


"Aku sungguh pria yang cengeng Nik. Aku tak pantas di cintai oleh wanita kuat dan tangguh sepertimu. Sungguh kau sangat kuat Nik, kau bahkan tak menangis ketika peluru itu menembus kepalamu yang keras itu. Aku saja yang terkena peluru di punggung cukup lemah, samapi sampai aku pingsan karena kehabisan darah. Maafkan aku. Maafkan aku Nik! Aku sudah gagal menjagamu! Janjiku saat kita kecil sudah teringkari. Aku tak bisa menjagamu bahkan menemanimu disaat kau merasakan sakit yang luar biasa saat oprasi"


Jalanan yang padat menjelang sore, membuat mobil ambulan yang Hamdi tumpangi terjebak di lampu merah. Mobil Zidan bahkan sudah melaju di depan, karena mobil ambulan yang ia tumpangi tepat berada di barisan paling awal yang harus menunggu lampu merah usai.


Dari kejauhan terlihat seorang wanita tua sedang berjualan bunga indah di pinggir trotoar jalan raya. Hamdi yang melihat bunga tulip kesukaan Nikita saat kecil negitu senang dan menyuruh sang sopir ambulan untuk menunggunya sebentar untuk membeli bunga tersebut.

__ADS_1


Hamdi menghapus air matanya dan mulai keluar dari bagian belakang ambulan untuk membeli bunga tulip tersebut. Hamdi berlari dengan kencang dan mulai menghampiri pedagang bunga yang tersenyum sumringah ketika melihat Hamdi berjalan ke arahnya.


"Ibu beli ini ya" Hamdi mulai mengambil beberapa tangkai bunga tulip dan mawar yang berada di ranjang sang ibu penjual.


"Kamu mau beli semuanya nak?" tanya sang ibu meyakinkan"


"Tentu saja bu. Saya beli ini semuanya ya" Hamdi sengaja menyimpan dompetnya didalam saku untuk berga jaga sebelum ia berangkat dari villa. Ia mengeluarkan segepok uang berwarna merah dan memberikan semuanya pada sang ibu penjual tanpa menanyakan total semua harga bunga yang ia beli.


"Ini kebanyakan nak" ucap wanita paruh baya itu pada Hamdi.


"Sudah bu, saya buru buru. Itu kembaliannya ambil saja ya bu"


Hamdi yang sudah setengah berlari menatap wajah sang ibu penjual dengan senyum manisnya.


"Tentu saja bu. Cintanya padaku sangatlah abadi. Aku pun sudah sangat menyayanginya sejak lama. Terimakasih doanya bu. Ibu sehat sehat ya!" Hamdi berteriak dan masuk kemnali kedalam mobil ambulan.


Lampu hijau pun menyala, Hamdi yang sudah berada didalam ambulan segera mengunci slot pintu bagian belakang ambulan dari dalam dan mulai kembali menatap peti jenasah Nikita. Hamdi mulai tersenyum dan menaruh semua bunga tulip dan beberapa bunga mawar diatas peti Nikita.

__ADS_1


"Ini bunga yang kau sukai kan sejak kecil? Kau sangat menyukai ini sebab aku yang memberikannya dulu. Dan sekarang pun aku sudah memberikanmu banyak bunga untukmu Niki. Ku tahu kau sangat bahagia saat ini, benar bukan"


Hamdi terus saja berbicara dengan Nikita yang sudah terbujur kaku didalam peti. Tak perduli dengan supir ambulan serta petugas lainnya yang berada di bagian depan mobil yang sudah pasti mendegarkan ocehannya itu.


"Aku menyayangimu Nikita. Sangat menyayangimu. Walaupun status kita hanya sebagai seorang sahabat" ucap Hamdi dalam hati.


...Mencintai adalah hal yang sangat sulit dilakukan oleh sesorang yang sudah mengalami banyak trauma dihidupnya....


...Hubungan, status, dan kejelasan...


...Adalah hal yang sangat indah jika kita terikat dalam satu kata penuh makna yaitu cinta....


...Kau mencintai dia yang tak pernah mampu kau gapai sebelumnya...


...Tapi ingatlah kekuatan doa begitu besar sehingga mampu mendekatkan jiwamu pada pemilik kehidupan orang yang kau cintai....


...Jika kau mencintai sosok dia yang tak mungkin untuk kau miliki....

__ADS_1


...Maka dekatkanlah dan sebutkan dia didalam setiap doamu sebab suatu saat nanti akan ada orang yang melakukan hal yang sama untukmu, menyebut namamu dan mendoakanmu disetiap pertemuannya dengan tuhannya....


__ADS_2