Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
El Sakit


__ADS_3

Termometer menunjukan angka 39.1 derajat celsius, El tampak lemas, matanya terpejam tapi saat di tidurkan ke tempat tidurnya ia terbangun kembali.


"Buk. Tolong temenin aku bawa el ke bidan!" Ucap santi sambil menggendong anaknya.


Jarak kerumah sakit lumayan jauh, klinik pun harus melewati satu kampung tapi di jam 02.30 dini hari membuat Santi memutuskan memeriksanya ke bidan saja, kalau bidan bukanya 24 jam dan tidak jauh dari rumah Santi. Hanya keheningan dan cuaca dingin yang membuat jalanan seram, ditambah gerimis kecil menambah suasana semakin mencekam.


"Iya." Ibu segera meraih El dari tangan Santi.


Santi langsung melajukan motornya kencang.


"El mengalami gejala typus, ia harus di rawat buk," ucap bidan.


"Iya bu bidan, langsung di sini saja." Ucap Santi gemetaran ia khawatir El kenapa-napa.


"Maaf bu. Untuk saat ini tidak bisa disini, bidan yang suka membantu saya dia lagi cuti dan sebentar lagi juga saya mau berangkat ada pasien yang sudah menelpon saya," ucap bidan.


El hanya di beri obat penurun panas dan yang lainnya. Santi segera membawa El pulang dan mengompresnya dengan air hangat.


Rencana pagi ini Santi mau membawa El ke rumah sakit saja biar penanganan lebih baik.


****


Dirumah sakit


"Bu.Ibu tungguin El dulu ya Santi mau beli sarapan buat ibu juga Santi," ucap Santi.


Di kantin ketika Santi memesan makanan ada seorang gadis kecil yang juga sama memesan, Santi tertegun melihat gadis itu.


"Hai kaka cantik," ucap gadis kecil itu.


"Iya dek," Santi mengerutkan dahinya dan sedikit mengingat tentang anak itu.


"Aku yang menumpahkan jus mu waktu itu." Ucap gadis itu mengedipkan matanya genit.


"Oh. Iya ingat, kok kamu disini? sama siapa nak?" Ucap Santi sambil membungkukkan badannya ke arah gadis kecil itu.


"Mamaku sakit, dirawat dirumah sakit ini." Ucap gadis kecil menundukkan kepalanya. Ia terlihat sedih.


"Ya sudah kaka antar kamu ke ruangan mama mu ya,"


"Iya ka. Terimakasih." gadis kecil itu tersenyum kembali.

__ADS_1


"Mengapa setiap aku dekat anak itu seperti sudah mengenal lama, tak asing lagi bagiku. Perasaanku seperti kaka terhadap adiknya saja."


Ucap batin Santi.


Santi menceritakan semua pada ibunya.


Deg.


Denyut jantung ibu seperti berhenti, ibu berpikir kalau Santi telah bertemu dengan bapak kandungnya yang ia lihat tempo hari di pantai bersama anak gadis itu.


"Kamu beli apa nak?" Ucap ibu mengalihkan pembicaraan. ibu tak mau kalau yang dilihatnya itu nyata.


Terlalu sakit buat ibu mengenang kembali masa-masa sulit itu. dan jika benar itu suaminya yang dulu meninggalkannya ia tidak akan ridho jika dia mendekati Santi.


"Mas. El d rawat di rumah sakit biasa, jika kamu ada waktu tolong luangkan untuk menjenguk El. El panggil-panggil kamu terus"


Sebuah pesan singkat yang Santi kirim untuk Agus.


Di sebrang sana agus segera lari ke parkiran dan menjalankan motornya dengan sangat kencang, yang ia pikirkan hanyalah keadaan el, ia menyesal telah menelantarkan anak satu-satunya itu.


Saat tiba di lorong rumah sakit Agus bertemu dengan Wijaya Adi Kusuma sang pemilik perkebunan yang baru. Wijaya yang akrab di sapa pak Jaya itu terkenal baik dan sangat dermawan pada setiap karyawannya. Jaya memang baru beberapa kali datang ke perkebunan tapi semua karyawan di buat kagum olehnya.


"Istri saya dirawat dirumah sakit ini" jawab Jaya.


"Kamu disini mau ngapain gus?" Tanyanya lagi.


"Anak saya dirawat disini pak." Jawab agus terlihat sangat sedih.


"Di ruangan mana? biar nanti saya jenguk" ujar Jaya menepuk punggungnya Agus seraya memberi semangat.


"Dilantai 2 nomor 204," ucap agus.


Merekapun berlalu menuju tujuannya masing-masing.


"Assalamualaikum," Agus menghampiri ibu mertua dan juga santi.


"Bagaimana keadaan Ek sekarang?" ucapnya lagi.


"Sudah mendingan. tadi El terus mengigau panggil-panggil kamu Gus, walaupun kenyataannya el tidak dekat denganmu tapi batinnya sakit saat kamu tidak ada bersamanya, dia juga sakit harus berpisah dari ayahnya, dia sakit berada di keluarga yang tidak utuh. Tolong nak agus sering-seringlah menengok el. dia masih kecil takan mengerti apa-apa yang kita perbuat," ucap ibu sambil menangis dan mengelus-elus kaki El.


"Iya bu. Maafin Agus, Agus memang egois!" Agus tampak mengeluarkan setetes air bening dari pelupuk matanya.

__ADS_1


"Ya sudah ibu mau ke kantin dulu," ucap ibu meninggalkan Santi dan Agus.


"Sayang, kamu mau kan kembali tinggal bersama Mas?" ucap Agus


"Demi El apapun akan ku lakukan mas," jawab Santi.


Tok.. tok.. tok..


Bunyi ketukan pintu membuyarkan pikiran Santi, Santi takut ini pilihan yang salah, memilih tinggal kembali dengan keluarga Agus.


ceklek.


pintu dibuka oleh Agus, ternyata itu Jaya ia menepati janjinya untuk menjenguk anaknya yang lagi di rawat.


Santi bengong karena setiap bapak ini ada di dekatnya ia selalu merasa bahagia, rasanya ada yang menutupi kekosongan dalam hati Santi.


"Pak!" ucap santi memberhentikan ucapannya.


"Perkenalkan saya pak Jaya," ucap Jaya menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Dia bos besar di perkebunan," ucap Agus melengkapi dan memperjelas ke Santi.


"Rumah sakit ini sudah menjadi rumah kedua bagiku. Setiap hari bahkan aku tidak pulang hanya untuk menjaga istriku yang terbaring koma akibat kecelakaan tunggal 10 tahun lalu saat putriku berusia 2 tahun "


"Yang sabar ya pak," ucap Agus.


"Ya mungkin ini adalah sebuah karma atau dosa yang ku perbuat lebih dari 20 tahun yang lalu. Aku seorang lelaki bejat yang meninggalkan anak istrinya hidup susah, sudah susah di tambah aku juga meninggalkannya. Sungguh ini penyesalanku."


Ucap Jaya tiba-tiba ia curhat dengan kehidupannya.


"Ingin rasanya aku kembali pada istriku yang pertama dan aku juga ingin memeluk putri pertamaku tapi aku malu, aku masih belum siap jika aku ditolaknya nanti." Ucapnya lagi.


"Tapi pak jaya mencintai istri kedua pak jaya juga?" tanya Santi.


"Dulu setelah aku pergi meninggalkan istri dan anak pertamaku, aku hidup luntang-lantung di kota, tak berani aku mengabari istriku saat itu. Untuk bertahan hidup aku hanya berjualan koran di lampu merah dan tidur di emperan, tapi masih belum berani untuk pulang karena aku tak punya uang untuk dibawa. Sampai akhirnya aku bertemu dengan nayla istri keduaku yang merubah hidupku, aku diberikan jabatan di perusahannya aku di beri mobil itu semua ia berikan karena aku pernah menolongnya saat ia hendak bunuh diri, dari situ pula aku mulai lupa diri. Mungkin ini memang karma untukku."


Jaya menangis sesenggukan, selama ini ia tak punya teman curhat.


"Semoga bapak bisa segera meminta maaf pada istri bapak yang pertama," ucap Santi.


Santi berdoa dalam hatinya semoga ia ditinggalkan bapaknya dulu tak sekejam cerita Jaya.

__ADS_1


__ADS_2