
Hamdi menelan ludah kala melihat tatapan tajam dari Nayla untuknya. Ia tahu bahwa pakaian yang digunakan oleh sepupunya tak menutup kemungkinan menyebabkan Zidan tergoda.
Nayla segera mengapit lengan Zidan dan menjauhkannya dari hadapan Nikita dengan alasan lelah.
"Maaf ya. Kami pamit dulu mau membereskan pakaian kedalam lemari. Oh ya dimana kamar kami kalau boleh tahu?" tanya Nayla dengan ramah sebisa mungkin .
"Iya tentu silahkan. Kamar kalian ada di lantai atas sebelah kanan. Balkon kalian menghadap ke pantai dan aku sudah siapkan baju untukmu Nayla"
"Terimakasih banyak Niki. Maaf jika aku merepotkan"
"No problem Nayla. Kamu sudah ku anggap sebagai teman sebelum kita berkenalan. Hamdi sering sekali membicarakanmu dan Zidan. Apalagi dia juga katanya sedang mencoba mendekati adikmu. Ya kan?"
Nayla tersenyum dan memandang wajah Hamdi yang begitu tenang. Hingga detik kemudian Zidan dan Nayla bergegas pergi menuju lantai atas untuk segera mandi dan mengeluarkan pakaian didalam koper.
Langkah kaki keduanya yang begitu pelan, membuat keduanya cukup memakan waktu untuk sampai dikamar yang Nikita katakan.
Hamdi sengaja berada dibawah dengab Nikita untuk menanyakan perkembangan rencana yang telah ia lakukan kepada Frans.
"Bagaimana kondisi baji**ngan itu Nik?"
Nikita yang tengah asik menegak jus jeruk ditangannya segera menjawab pertanyaan sepupunya dengan santai.
"Dia baik baik saja"
"Bukan itu maksudku Nikita yang cantik jelita. Maksudku bagaimana kondisinya setelah kau masukan dia ke perangkap? apakah dia tergoda denganmu?"
Senyum sinis terpancar dari wajah cantik Nikita.
__ADS_1
"Kau meragukan keahlianku Ham. Apakah kau tidak pernah tergoda ketika melihat tubuhku yang indah ini?" Nikita mendekatkan tubuhnya kearah Hamdi. Hingga membuatnya keringat dingin sebab melihat keindahan tubuh sepupunya itu.
" Walaupun kita adalah sepupu Ham, tapi kau juga tahu bahwa aku bukan anak kandung dari adik ayahmu itu. Kau juga tahu, bahwa bisa saja kita berjodoh"
Hamdi mulai merasakan ketakutan dengan ucapan yang Nikita katakan. Pikirannya mulai berkelana mencerna setiap kata kata Nikita yang terngiang ditelinganya.
Hingga tawa Nikita pun meledak melihat ekspresi Hamdi yang begitu salah tingkah setelah kejadian tadi.
"Santai saja Ham. Aku hanya bercanda. Tapi memang benarkan kau juga laki laki normal yang takan mungkin tak tergoda melihat tubuhku"
Hamdi yang salah tingkah meninggalkan Nikita untuk pergi kekamarnya dan menetralkan semua pikiran kotor di otaknya. Dia hanya takut bahwa jiwa 'nakal' nya kembali lagi sedangkan dieinya sudah sangat mencintai Siska.
Bukannya dia hanya main main pada Siska, tapi namanya manusia yang tak luput dari kesalahan membuatnya takut bahwa ia akan kembali memilih jalan yang salah.
Malam semakin larut. Jam dinding menunjukan pukul 20.00. Nayla, Zidan, Hamdi dan Nikita kini tenagh menyantap makan malam dengan menu makanan laut yang membuat mereka fokus pada hidangan diatas meja makan.
"Mau tambah lagi Nay?" tanya Zidan lembut.
"Udah cukup mas. Nasiku masih ada dipiring belum habis. Nanti jika mau, aku ambil sendiri"
"Ya sudah kalau begitu. Makan yang banyak ya istriku, biar badanmu bulat kaya moci" ucap Zidan gemas.
Nikita dan Hamdi hanya diam mendengarkan keromantisan yang ditunjukan Zidan pada Nayla. Hingga membuat Nikita mencoba kembali menggoda sepupunya.
"Hamdi udah kenyang belum? kalau belum biar aku yang ambilkan nasinya lagi " ucap Nikita dengan senyum manis.
Hamdi hanya bisa bergidik ngeri melihat tingkah sepupunya yang lama kelamaan semakin menjadi.
__ADS_1
Hingga Zidan pun terbatuk dan mulai mengalihkan kecemasan yang dialami Hamdi.
"Ekh, maaf Nikita jika boleh aku bertanya, apakah sekarang Frans sudah ada didalam kendalimu ?"
Sejenak Nikita menoleh kearah Zidan, lalu kembali menyuapkan makanan kemulutnya.
"Oh itu. Dia sudah mulai masuk dalam perangkapku. Walaupun belum sepenuhnya dia mau menuruti perkataanku, tapi aku sudah bisa membuatnya tergila gila dengan tubuhku ini. Setidaknya lama kelamaan ia pasti akan merasa frustasi karena tak kunjung mendapatkanku, hingha saat itulah aku akan membuatnya bertekuk lutut dan mengatakan siapa saja orang yang sudah menodai adikmu itu"
Nayla menganggukan kepala mendengar perkataan Nikita yang masuk akal. Sampai tiba saatnya nanti, Nayla dan Zidan menyusup kerumah itu, ia pasti akan membuat perhitungan pada pria yang sudah membuat masa depan Siska hancur.
"Jadi sekarang apa yang bisa kami lakukan untuk membantumu?" tanya Nayla.
"Emh, untuk itu aku akan memikirkannya kembali karena kurasa situasu dirumahnya Frans cukup berbahaya untukmu. Ayahnya Frans si bangkot tua itu adalah pria breng*ek yang suka sekali membawa gadis sewaan kerumah sama seperti anaknya itu. Selain itu aku baru saja tahu bahwa sumber kekayaan keluarga Frans berasal dari uang hasil penggelapan dana bantuan serta dia juga turut ikut campur dalam penjualan barang barang ilegal"
"Jadi bagaimana kita bisa membantu? dan kenapa dia belum ditangkap?"
"Untuk itu kalian juga pasti tahu. Mudah sekali untuk terbebas dari hukuman serta lolos dari pengawasan pihak berwajib asalkan memiliki banyak uang dan kekuasaan yang kuat. Selain itu koneksi orang dalam di pihak berwajib bisa membantunya untuk selalu lolos dalam penyergapan apapun. Termasuk jika nanti kejahatan Frans sampai terbongkar hanya ada dua kemungkinan saja. Kemungkinan pertama adalah kasus akan dibuka lalu nanti ia akan dihukum dengan hukuman ringan bahkan bisa bebas dengan jaminan, serta kemungkinan yang kedua, rencana kita untuk membongkar kejahatan ini dan mengadukan ke pihak berwajib malah akan ditolak mentah mentah bahkan kita akan di tuntut dengan dasar pencemaran nama baik. Ini adalah rencana yang sulit"
Zidan mulai tertunduk memikirkan apa yang ia harus perbuat jika memang kemungkinan itu akan terjadi terhadap keadilan yang selama ini ingin ia dirikan untuk Siska.
"Aku akan siap dengan resiko apapun Nik. Yang terpenting kita coba saja dulu untuj membuat seta** itu menuruti semua perkataanmu dan buatlah kami bekerja di rumah Frans agar bisa menyusun rencana yang lainnya. Selain itu siapa tahu kami bisa menemukan barang bukti kejadian saat Siska dilecehkan olehnya. Walaupun kemungkinannya sangat kecil jika Frans masih menyimpan bukti bukti itu, tapi kita cari saja dulu siapa tahu ada titik terang"
Nikita memandang kearah Zidan, hingga detik kemudian ia pun menganggukan kepala dan setuju dengan rencana yang Zidan bicarakan.
Hamdi dan Nayla hanya bisa terdiam mengikuti setiap arahan dan rencana yang kini Zidan ucapkan dihadapan mereka dan mulai menyusun strategi dalam misi ini.
Mereka asik mengobrol hingga larut malam , dan akhirnya Nikita pun pamit kembali ke kamarnya untuk beristirahat karena besok pagi pagi sekali ia harus berada di rumah Frans agar tak membuatnya curiga.
__ADS_1