
"Ketika kau menatapku dalam sedalam ini kau tidak tau betapa rapuhnya aku mas." Ucap batin Santi.
Agus yang sedari tadi tak berhenti memandang Santi yang membuat keduanya merasa lebih canggung.
Santi masih berfikir kalau Agus itu adalah seorang yang hanya memanfaatkan kebaikannya saja, Sebenarnya Santi masih ada ragu dalam hatinya untuk kembali tinggal bersama keluarga Agus, tapi demi mempertahankan keluarga yang utuh Santi rela masuk kembali pada penderitaannya.
Santi tidak mau anaknya menjadi broken home, Santi mau tidak mau harus bersama Agus selamanya, kasih sayang seorang ayah sangat berperan dalam kehidupan anaknya nanti.
"Maaf pak. Apa anak saya sudah bisa pulang hari ini?" Tanya Agus.
"Sebaiknya dirawat sampai ia pulih betul pak," jawab dokter.
Dan dokterpun berlalu setelah memeriksa keadaan bocah yang sedang sakit saja masih tampak ceria.
Beberapa hari kemudian.
Surya tampak berlatih berdiri sendiri menggunakan tongkat kayu nya, perlahan ia melangkahkan kakinya. Tak terasa hari demi hari keadaan Surya kian membaik.
Begitupun keadaan Nayla dirumah sakit.
"Mas surya?" Ucap nayla pelan dengan mata yang masih tertutup rapat.
Jaya yang selalu setia menemani istrinya itu kaget ketika mendengar istrinya memanggil nama seseorang yang tak ia kenal sekalipun. Surya sangat asing ditelinga Jaya, tapi ia tidak memperdulikan itu ia senang istrinya sudah siuman.
"Nay! kamu sudah sadar sayang?" Ucap Jaya memegang tangan Nayla yang masih lemas itu dan berkali-kali pula ia menciuminya.
"Mas Surya mana?" Pertanyaan itu kembali ia lontarkan dari bibir yang sudah bertahun-tahun tertutup itu, Nayla pun masih memejamkan matanya.
"Ini aku. Jaya!" ucap Jaya dengan matanya yang berbinar.
Dengan hati yang senang Jaya langsung memanggil dokter, dan memberitahu keluarga besar Nayla, istrinya.
Tak lama kemudian, anaknya datang di antarkan Om nya.
Di luar tampak adiknya nayla Bian sedang duduk di kursi, Bian adalah om yang mengantarkan anaknya Jaya ke rumah sakit setelah ia mendapat kabar baik tentang perkembangan kakaknya yaitu Nayla.
"Bian. Apa kamu tau tentang surya?" tanya Jaya pada Bian yang masih duduk dan menyenderkan bahunya.
__ADS_1
"Surya!?" bian kaget tiba-tiba Jaya menanyakan orang yang telah melukai kakaknya itu.
"Iya. Nayla tadi menyebut-nyebut nama itu!" Ucap Jaya yang kini duduk disebelah Bian.
"Sepertinya saya tidak berhak buat menceritakan semua ini sama mas Jaya" ucap bian, ia terlihat sedikit murung dan menundukkan kepalanya.
"Kenapa? Saya suaminya. Saya berhak tahu tentang istri saya, bukankah begitu?" Jaya sedikit emosi.
"Iya tapi?" Bian menghentikan bicaranya, ia masih ragu untuk menceritakan semuanya.
"Cerita saja," ucap Jaya menepuk pundak yang bidang datar itu.
"Jadi jauh sebelum mba Nayla bertemu dengan mas jaya, mba nayla pacaran dengan seorang laki-laki yang sudah berumur tetapi lelaki itu mengaku masih bujang, sampai pada akhirnya datang seorang perempuan yang memaki-maki dan menghina-hina mba Nay, mba Nay kaget ternyata pacarnya yang telah melamarnya itu telah mempunyai seorang anak dan istri. Tidak hanya satu kali, perempuan itu datang berulang kali sampai menerornya untuk segera menjauhi suaminya itu. Waktu itu ego mba Nay sangat tinggi ia tidak mau mengalah sampai pada akhirnya ia depresi akibat teror yang selalu ia terima setiap hari.
Mba nay sempat kabur dari rumah selama seminggu untuk menenangkan diri, tapi selang seminggu itu Nay pulang bersama laki-laki yang katanya telah menolongnya dari aksi mba Nay yang ingin bunuh diri. Dan laki-laki itu adalah mas Jaya sendiri." Ucap Bian.
"Terimakasih Bian." Sambil tersenyum dan kembali pada istrinya.
"Dimana sekarang kau surya!" Ujar Jaya sambil duduk menunduk dan meremas rambutnya sendiri.
Untuk menghilangkan rasa stresnya Jaya pergi ke kamar El. Disana terlihat El sedang nyenyak tidur. Jaya mengurungkan niatnya untuk menemui bocah itu. Ia kembali ke kamar istrinya.
"Kamu balik aja bi. Maaf sudah merepotkan!" ucap Jaya pada Bian yang sedari tadi masih membungkuk di kursi luar.
Rasanya Jaya belum puas atas penuturan bian, Jaya masih bingung kenapa istrinya sampai memanggil-manggil nama itu, apakah itu artinya ia masih cinta atau terlalu dendam hingga terbawa ke alam bawah sadarnya.
Dirumah Santi.
Seperti biasa Mila dari pagi hingga sore disibukan dengan pekerjaan onlinenya.
Rara masih suka mengurung diri di kamar, ia terkadang masih teringat masa-masa dulu.
Dan Zihan yang kelabakan ditinggal Agus selalu marah-marah pada semua orang yang ada di rumah.
"Ma. Aku mau nyamperin mas Agus ke rumah sakit sekalian jenguk El," ucap Zihan dengan nada tinggi.
"Terserah!" Jawab mama tidak peduli.
__ADS_1
Zihan langsung keluar melangkahkan kaki dan menutup pintu dengan kerasnya.
Dengan mengendarai ojek tibalah Zihan di rumah sakit. Disana terlihat Agus sedang merokok di area bebas rokok. Dengan gaya centilnya ia langsung memanggil Agus dari kejauhan.
"Mas Agus!" Zihan melambaikan tangannya ke arah Agus yang sedang duduk santai.
'Haduh.. Ngapain sih ni orang pake kesini segala, bikin repot saja." Benak Agus.
"Iya." jawab Agus menoleh ke arah Zihan dan langsung membalas lambaian tangan istri keduanya itu.
Agus mulai jengkel karena sikap Zihan yang tak pernah sopan terhadap orang tuanya.
"Kamu ngapain kesini sayang?" Tanya Agus.
"Kangen." Zihan sedikit memonyongkan bibir tipisnya itu dan memeluk tangan kiri Agus.
"Apaan sih kamu kayak anak kecil saja." Agus menghempaskan pelukan zihan.
"Malu dilihat orang," ucapnya lagi.
Zihan makin memonyongkan bibirnya dan kini duduk di bawah pohon kecil ia seperti anak ayam yang kehilangan induknya, duduk dan menundukkan kepala ke dengkulnya. Agus hanya menggelengkan kepalanya dan segera menariknya untuk berdiri kembali.
"Sudah, kamu pulang saja ya," bujuk Agus.
Zihan hanya mengerutkan dahinya dan bergegas masuk ke lobi rumah sakit.
Zihan sudah mengetahui kamar El dari Agus, jadi sangat mudah ia masuk ke ruangan itu.
"Hallo El ganteng," zihan memasukan kepalanya terlebih dahulu.
Santi kaget atas kedatangan Zihan yang tiba-tiba.
"Ngapain kamu kesini, kamu mau mengambil paksa El dari aku? gak akan bisa! ngerti! mendingan kamu pulang saja, disini juga ga ada gunanya." Nada jutek Santi yang sama sekali tidak pernah Zihan dengar, Zihan hanya tau Santi itu lemah lembut tak pernah membantah apa- apa, itu yang Zihan tau saat Santi seatap dengannya.
"Oh ia lupa, nanti juga El sama aku bakal tinggal lagi di rumah mas Agus, mas Agus yang memintaku," ucap Santi sombong.
"Aku memang bukan cinta pertamanya tapi aku adalah cinta sejatinya!" Ucap santi lagi sambil mendekati Zihan yang masih kaku di belakang pintu. dan sedikit memainkan bola matanya untuk meledek Zihan.
__ADS_1
Zihan pun merasa kesal dan langsung pergi.
Santi akan terus berjuang demi keutuhan keluarga kecilnya.