Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Berangkat


__ADS_3

Pagi telah datang, cahaya mentari yang begitu terang tepat mengenai wajah Frans yang kini tengah tertidur bersama seorang wanita penghibur yang usianya terbilang cukup jauh diatasnya.


Sesekali Frans mengucek matanya yang begitu terasa lengket untuk terbuka. Pelukan hangat yang ia rekatkan di tubuh wanita penggoda yang ia sewa begitu terasa nyaman seakan enggak terlepas dari tempatnya.


Gerakan cepat yang dilakukan wanita disampingnya sontak membuat Frans terbelalak menatapnya.


"Waktuku sudah habis. Aku mau bayaranku sskarang! kau cepatlah berikan aku uangnya! hari sudah siang, aku bisa terlambat mencari klien selanjutnya"


Dengan tubuh yang masih belum mengenakan pakaian, Frans segera bangkit dan berjalan menuju laci tempat ia menyimpan uang dan segera memberikannya kepada wanita panggilannya.


"Ambilah uang ini dan jangan lupa, jika aku menginginkan tubuhmu lagi, kau datanglah segera sebelum aku murka!"


"Baiklah kalau itu maumu, aku akan datang dan memberikan pelayanan terbaik sebagai taruhannya. Kau harusnya jauh lebih tahan lama dalam melakukannya denganku agar seimbang. Dan saranku, kau jangan pernah memerintah apapun padaku karena aku melakukan semua itu hanya untuk uang. Paham"


Frans tersenyum kecut mendengarkan ocehan wanita penghibur yang ia sewa semalam. Jauh dilubuk hatinya, ia hanya menginginkan tubuh Nikita yang selama ini sangat menggoda dihadapannya.


Selang beberapa menit, wanita yang Frans sewa keluar dari kamarnya dan berpapasan dengan Nikita yang tampak begitu cantik dengan balutan kaos berwarna putih yang ia kenakan.


Sedetik kemudian ia pun masuk kedalam kamar Frans dengan membawa secangkir teh hangat dan roti ditangannya.


"Silahkan diminum tuan"


Frans begitu bersemangat melihat Nikita dihadapannya. Hingga sejurus kemudian ia bangkit dengan bertelanjang da*da dan hanya menggunakan celana pendek miliknya.


Direngkuhnya tubuh Nikita hingga berada diatas tubuhnya yang begitu atletis.


"Tuan Frans mau ngapain?! tolong lepaskan saya" Nikita berontak dengan pelan.


"Jika kau sudah tak lagi berhalangan layani saya dengan kemampuan mu dan saya akan membayarmu sepuluh kali lipat"


Frans mulai mendekatkan bibirnya ke tengkuk leher Nikita. Hingga membuat Nikita begitu kaget dan sesekali mengeluh dengan perlakuan Frans. Tak dapat dipungkiri bahwa Nikita yang notabene adalah wanita nakal selama ini, begitu menikmati setiap gerakan liar yang Frans lakukan diarea lehernya.


Walaupun demikian ia sadar bahwa ia tak boleh lengah dan membalas setiap perlakuan hangat dari Frans agar rencananya bisa berjalan dengan lancar.


Dengan sekali dorongan, tubuh Frans langsung menjauh dari dirinya dan terlihat Frans begitu kalut menahan gelora didalam jiwanya yang meronta ronta.


"Kenapa kau mengakhirinya? kita kan baru mulai?" ucapnya frustasi.


"Maaf tuan, saya takut bahwa tuan akan merasa jijik sebab saya sedang keadaan datang bulan. Saya permisi"


Nikita melangkah pergi meninggalkan Frans dengan wajah yang memerah padam menahan has*rat yang baru saja ingin ia salurkan.


"Kau jangan pergi! aku janji tak akan melampaui batas! aku hanya ingin sedikit menikmatinya, kumohon!" Frans teriak dwngan kencang, namun Nikita tetap melenggang pergi meninggalkannya.


****


Saat ini Nayla dan Zidan sedang berkemas kemas memasukan semua pakaian yang akan ia butuhkan dalam melancarkan misinya di Pulau Bali. Sesekali Zidan bergurau kepada Nayla dengan mengenakan hijab yang akan Nayla bawa diatas kepalanya.

__ADS_1


"Kau sangat cantik mas" puji Nayla dengan tawanya yang begitu ceria.


"Kau pun kalah cantik denganku Nay. Lihatlah halisku yang tebal dan bibirku yang merah alami ini. Begitu indah kan?"


Zidan mengerucutkan sedikit bibirnya dan mengedipkan sebelah mata. Hijab yang ia kenakan begitu tampak awut awutan diatas kepalanya membuat Nayla begitu terhibur dengan tingkah konyol suaminya.


"Mas sudahlah, jangan buat aku tertawa pagi pagi begini"


"Gak papa Nay. Justru kamu jika banyak tertawa denganku, maka orang orang akan menilai kita sebagai pasangan yang bahagia"


Zidan menatap manik indah istrinya dan mulai mendekatkan bibirnya keatas pucuk kepala Nayla.


"Terimakasih Nay, karena kau aku bisa bahagia seperti ini" ucap Zidan lembut.


"Aku yang terimaksih mas, karena kau hidupku sekarang lebih berwarna. Denganmu aku bahagia"


Zidan memeluk erat tubuh Nayla dan mulai melepaskan hijab yang sedari tadi menempel di kepalanya.


"Mas Zidan !" teriak Siska dari luar kamar.


"Mas! Mas Zidan bisa buka pintunya sebentar"


tok tok tok


Berulang kali Siska mengetuk pintu kamar Zidan, hingga membuat Zidan segera berlari kearah sumber suara dan membuka pintunya.


Dengan bayi yang berada dipangkuannya, Siska tersenyum kearah Zidan dan sekilas melirik Nayla dibelakangnya.


"Aku ganggu ya mas?" tanya Siska dengan senyum jahilnya.


"Enggak Sis, kamu gak ganggu. Ada apa?"


Zidan menarik nafas dan mulai mengusap lembut pipi keponakannya.


"Ini loh mas, ibu sudah masak sarapan untuk kita. Katanya mas sama Mbak Nayla mau pergi honeymoon, jadi ibu minta mas sama mbak cepat turun kebawah dan sarapan"


Nayla yang mendengar suara Siska dari luar kamarnya segera bangkit dan mulai berjalan kearah ibu muda yang sedang menggendong bayinya.


"Ponakan tante udah bangun ya? uhhh ganteng banget"


Nayla terus saja menghujani ciuma*n di pipi kanan dan kiri bayi Siska.


"Ada apa Sis? pagi pagi udah kelihatan senang banget kamu?" tanya Nayla penasaran.


"Ini loh mbak, ibu tadi nyuruh aku untuk membangunkan kalian agar cepat sarapan. Kata ibu kalian mau pergi bulan madu agar segera memberikan bayiku teman bermain"


Siska tertawa melihat ekspresi Nayla yang selalu bersemu merah jika malu.

__ADS_1


"Sudah ah, aku mau pergi temuin ibu dulu dibawah. Mas sama Mbak Nayla cepat turun juga, aku udah lapar"


Siska pergi berlalu meinggalkan Zidan dan Nayla yang masih tersenyum melihat kejahilan adiknya sendiri.


Gamis berwarna kuning yang Nayla pakai, begitu tampak serasi dengan kaos berwarna kuning juga yang Zidan kenakan. Keduanya begitu terlihat mempesona dan tampak serasi.


Ibu yang tengah menyiapkan makanan dan menata hidangan yang telah matang duatas meja, begitu bahagia melihat keharmonisan rumah tangga Zidan dan Nayla.


"Kalian udah siap siap?"


"Sudah bu. Kami sudah berkemas dan sebentar lagi akan pergi ke bandara"


Ibu menatap heran kerah Zidan dan Nayla.


"Loh, kok sekarang? bukannya nanti sore ya jadwal penerbangan pesawat kalian?" tanya Ibu Widya heran.


Zidan mengedipkan sebelah matanya kearah ibu agar ia paham bahwa ini awal rencananya agar Siska tak mengetahui misi yang akan mereka lakukan.


Siska yang tenagh fokus mengajak bicara bayinya tak melihat kode yang Zidan berikan untuk Ibu Widya.


"Itu loh bu, kami akan pergi ke panti asuhan terlebih dahulu dan menjenguk Ibu Aisyah sampai jadwal pemberangkatan tiba. Kami udah lama gak bertemu dengan dia, kata Nayla dia kangen ibunya" Jawab Zidan dengan kenyataan, walaupun memang ia tak akan lama pergi ke panti asuhan.


"Oh gitu. Ya udah salamin aja untuk Ibu Aisyah dari ibu. Kapan kapan, nanti ibu sama Siska main kesana"


Nayla tersenyum kearah ibu dari mantan suaminya. Entah sejak kapan ia begitu menyayangi Ibu Widya, apalagi sekarang ia yang diperlakukan istimewa setelah menikahi Zidan.


Denting sendok dan piring beradu menjadi nyanyian yang mereka dengar selama sarapan berlangsung. Masakan yang begitu lezat terhidang sempurna diatas meja makan hingga membuat Zidan beberapa kali menambah nasinya.


Setelah mereka selesai dengan sajian yang tersedia, Zidan dan Nayla segera pamit kepada Siska dan Ibu Widya untum pergi ke Pulau Bali.


"Siska, Ibu, Aku pamit dulu ya. Doakan semoga kami ceoat diberikan 12 anak yang cantik, tampan, sholeh dan sholehah amiin"


Celetuk Zidan sontak membuat Nayla membulatkan matanya yang disambut tawa dari Ibu Widya dan Siska.


"Iya nak, tentu ibu doakan agar kalian sehat, selamat dan cepat memberikan ibu cucu yang banyak. Amiin"


Nayla dan Zidan bergiliran mencium punggung tangan Ibu Widya dan memeluk tubuh Siska serta bayi yang ada dipangkuannya.


"Dadah anak manis, om sama tante pergi dulu ya" ucap Zidan.


Keduanya kini telah masuk kedalam mobil kesayangan Zidan dan mulai pergi melajukan kendaraannya menuju apartemen Hamdi untuk menjemputnya.


Hamdi yang sudah siap sedia didepan gerbang apertementnya tanpa basa basi segera masuk kedalam mobil Zidan yang baru saja parkir dihadapannya dan duduk di jok belakang.


"Ayo jalan!" perintahnya yang membuat Nayla dan Zidan menatap Hamdi dengan heran.


"Ayo kita jalan! ngapain lihat lihat aku? aku udah tahu kok aku ganteng" oceh Hamdi yang membuat Zidan menggelengkan kepalanya dan segera menancap gas menuju panti asuhan.

__ADS_1


__ADS_2