
Gaji Agus memang lumayan cukup besar tapi untuk biaya sehari-hari dan pengobatan papa sering kali kekurangan, akhirnya Agus meminjam pada atasannya di kantor. Setiap ia menerima gaji selalu terpotong cicilan hutang yang sudah menumpuk.
Zihan dan dila tidak pernah mau di ajak hidup susah mereka tidak bisa menyesuaikan kondisi keuangan saat ini. Makan selalu pengen sama yang enak, ke salon dan beli baju hampir tiap minggu. Saat Santi mengetahui Agus mempunyai banyak hutang Santi membatu meringankan beban Agus, Untuk biaya keperluan sehari-sehari Santilah yang mengeluarkan uang tabungannya. Sampai akhirnya semua hutang Agus telah lunas. Dalam jangka 3 tahun keadaan ekonomi membaik tapi mama tidak pernah tau tentang biaya pengeluaran selama ini.
"Gus sebaiknya kamu ceraikan saja Santi, disini ia hanya menumpang hidup." Keluh mama.
"Tapi Ma. Selama ini santi yang membantu Agus." Ucap Agus.
Agus sudah mulai mencintai Santi dia melihat Santi melakukannya dengan ikhlas, Setiap hari Santi yang merapihkan rumah, masak dan momong anak belum lagi menanggung biaya kebutuhan rumah yang besar setiap bulannya, Agus sangat tidak tega bila harus menyakiti Santi lagi.
"Membantu apanya?"
Preng!!
Bunyi pecahan kaca memecahkan susana. sontak semua berlari ke arah dapur. Terlihat Santi sedang memungut pecahan kaca itu, ternyata itu adalah setumpukkan piring yang tidak sengaja terlepas dari tangannya Santi. Santi terlalu cape mengerjakan ini sendirian sampai ia sakitpun tak ada yang peduli. Sambil menggendong anaknya Santi membersihkan pecahan tersebut.
"Tuh kan gus istri pertamamu ini bisanya menyusahkan saja," ucap mama sambil memutarkan bola matanya ke atas.
"Sudahlah mas, ceraikan saja nanti kamu juga akan punya anak dari aku." Ucap Zihan memeluk Agus manja.
Seorang anak kecil yang ada dipangkuan santi seolah-olah mengerti dengan suasana itu ia sama sekali tidak rewel.
"Cukup mas. Ma. Biar santi yang pergi dari rumah ini." Ucap Santi sambil mengusap air matanya yang spontan terjatuh ketika mendengar mama berbicara seperti itu.
Susana rumah begitu hening tak ada pembelaan dari Agus. Agus yang tidak punya pendirian membiarkan istrinya melangkah meninggalkan rumah.
__ADS_1
Ibu dengan senang hati menerima Santi dan El.
Demi kenyamanan cucu tercintanya ibu segera merenovasi rumah, dari hasil selama ini dia sering menabung, uang belanja yang dikasih setiap bulannya tidak pernah ia habiskan ia selalu menabung karena untuk hidupnya yang sendiri tak perlu banyak keperluan di beli. Di sebelah kirinya dibangun untuk sebuah toko baju dan perlengkapan lainnya, sengaja ibu membuatkan toko biar dagangan tertata rapi dan menarik pembeli langsung, kebetulan rumah Santi juga letaknya di pinggir jalan.
Mila yang masih setia mendampingi Santi sampai sekarang, bahkan telah menganggap Santi kakak nya sendiri dan ibunya Santi telah dianggapnya ibu. Menjadi seorang yatim piatu akibat kecelakaan membuat mila senang berada di keluarga Santi. Ia seperti menemukan keluarga baru dan sekarang mila sudah tidak memikirkan biaya sewa rumah ia kini tinggal di rumah Santi.
Hidup serba ada dan sekarang kerabat pun mulai berdatangan bersilaturahmi dan bangga pada keluarga Santi yang hidup dari bukan siapa-siapa kini Santi lebih dikenal.
Acara syukuran setelah selesai membangun Santi adakan secara sederhana ia mengundang tetangga termasuk Agus.
Setelah 2 bulan Santi meninggalkan rumah Agus, Agus kelabakan menanggung semua kebutuhan rumah itupun pengobatan papa diberhentikan kalau tidak mungkin Agus sudah terlilit hutang lagi.
"Zihan kamu minta duit dong sama papa kamu," ujar mama yang sembari mengiris sayuran dan zihan sedang menggoreng tempe tak ada lauk yang tersedia, setiap harinya hanya tahu tempe karena mereka malas dan tidak mau belajar masak yang lain.
"Tuh si Dila saja suruh mencari kerja biar hidupnya ada kegiatan percuma sekolah tinggi-tinggi kalau hanya untuk status doang." Bantah Zihan yang sudah saling emosi.
Menantu yang di bangga-banggakan kini melukai hati mama, mama jadi teringat Santi, Santi yang tidak berpendidikan tapi ia tau sopan santun ia tidak pernah mengeluh saat mama meminta apapun darinya. Ada rasa sedikit menyesal telah mengusir Santi.
****
Mama kangen sama El, bocah kecil yang meramaikan rumah tanpanya rumah begitu sepi, tidak ada yang menangis tidak ada yang tertawa kegelian ketika melihat film kartun favoritnya.
Dipeluknya bantal yang selalu El pakai ketika ia menonton tv, tak sadar air matanya keluar begitu deras.
Agus juga sebenarnya ingin bertemu dengan El tapi tingkat gengsinya lebih tinggi. ia sudah mendengar kabar toko Santi itu cukup ramai pembeli.
__ADS_1
Mengingat 3 tahun lalu Agus teringat ucapan dokter dan benar saja itu semua terbukti karena sampai saat ini Zihan tak kunjung hamil, sebagai orang yang tak mampu Agus belum sempat membawa Zihan ke dokter. Zihan pun enggan meminta bantuan keluarganya di kota. Zihan malu dengan keadaan dia yang sekarang setiap berkunjung ke rumahnya pun Zihan selalu menyewa sebuah mobil agar tetap kelihatan seorang yang kaya.
Hidup penuh gengsi akan menyusahkan diri sendiri, beruntung Zihan hidup di desa jadi tidak susah mengumpat dari keluarga dan teman-temannya.
"Sayang, kenapa kamu belum kunjung hamil juga?" tanya Agus memancing agar Zihan mengakui perbuatannya di pernikahan pertama.
"Rahimku kering mas." Ucap Zihan mengakui sambil menyusut air matanya sesekali ia menarik nafas panjang.
Zihan takut akan di tinggalkan Agus kalau Agus mengetahui keadaannya sekarang, Zihan terlalu egois ia tidak mau hidup sendirian, sebenarnya Zihan juga telah mengetahui keadaan rahimnya sebelum ia memutuskan mencari Agus.
Agus dijadikan teman hidupnya karena ia tau Agus begitu mencintainya jadi tidak akan sulit mendapatkannya kembali, lain lagi kalau Zihan menikah dengan orang lain pasti perceraian yang akan datang menimpanya. Setiap pernikahan yang dinantikan adalah seorang anak, pasangan akan lelah menunggu sampai akhirnya perceraiyanlah pada akhirnya.
"Karena keegoisanku yang tidak mencintai suamiku yang pertama dan tingkah buruknya selalu menjadi sebab aku memutuskan berbuat yang dilarang. Aku selalu menggugurkan kandungan ku mas." Ucap Zihan sambil memegang tangan Agus.
"Aku tau aku salah tapi aku tidak tau efeknya bakal seperti ini," sambil menangis sesenggukan ia menceritakan semuanya.
"Maafin aku mas." Ucap Zihan lagi penuh harap.
"Iya sebenarnya mas sudah tau tapi mas juga ingin memastikannya lagi padamu." Agus mengusap air mata yang semakin banjir dari pelupuk mata sang istri.
"Jangan tinggalkan aku mas, tapi jujur aku tidak mau menjadi istri kedua, aku mau aku yang jadi satu-satunya istrimu mas." Ucap Zihan menggebu
"Kita ambil saja el dari Santi, biar Santi menikah lagi dengan orang lain dan pasti ia juga akan punya anak lagi," ucap Zihan, matanya berbinar seolah-olah itu adalah idenya yang cemerlang.
"Sudahlah. Besok mas kerja, kita tidur. Masalah El biar ku pikirkan lagi." ucap Agus yang kurang setuju dengan pendapat Zihan. Itu akan menyakiti hati El, Agus tidak mau El tersakiti tapi tanpa ia sadar membiarkan Santi dan El di rumah ibunya juga itu suatu kesalahan yang mungkin membuat El sakit.
__ADS_1
Suami yang tidak mempunyai pendirian dan mengedepankan egonya akan kalah dengan sendirinya.