Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Izin


__ADS_3

Sesekali Santi menoleh ke belakang untuk melihat apakah Agus sudah tertidur apa belum, tapi setiap di tengok Agus kelihatan senyum-senyum sendiri di temani ponsel yang tak pernah lepas dari tangannya. Santi mulai curiga sikap Agus yang berubah dingin kepadanya pasti ada sesuatu di perubahannya.


"Mas bangun kita sembahyang bareng!" Ajak Santi kepada Agus yang masih tertidur pulas.


Ketika Agus bangun matahari sudah hampir berada di puncaknya, ia memarahi Santi karena ia pikir Santi tidak membangunkannya.


"Santi! Santi!" teriak Agus dengan nada emosi.


"Iya mas. Ada apa?"


"Kamu sengaja tidak membangunkan aku, ini udah jam berapa Santi kamu bener-bener tidak becus menjadi istri," ucap Agus kasar dan langsung pergi mempersiapkan diri.


Santi hanya bengong, mulutnya terkunci ketika ia hendak membela dirinya sendiri. Butir-butir bening itu membasahi pipinya ia sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi.


Saking keselnya Agus langsung pergi keluar tanpa pamit, Santi yang telah mengangkat setengah tangan untuk mencium tangan Agus tidak di pedulikan lagi, saat ini pikiran Agus tertuju pada Zihan, Agus menemui Zihan disebuah rumah kecil yang minimalis dengan penataan pohon dan bunga yang tampak sempurna menghiasi rumah itu.


Ting nong..


Bunyi bel dari Agus, Zihan langsung keluar dan mempersilahkan masuk.


"Kamu tinggal sendirian disini?" tanya Agus.


"Iya, mas. Tunggu ya aku ambil tas dulu biar kita langsung berangkat jadi nanti tidak terlalu malam pulangnya, kasihan istrimu pasti menunggu," jawab Zihan sambil tersenyum.


"Sebenarnya bisa aja sih aku menginap disini sampai beberapa hari, tinggal ku beri tahu saja istriku kalau aku pulang ke kontrakan." Canda Agus sambil sedikit menyuguhkan senyuman manis.


"Bisa saja kamu mas," Zihan tersenyum malu.


Tak menunggu lama mereka langsung berangkat jalan-jalan, mulai pendekatan lagi mulai mengenang masa lalu. Kini mereka berdua sudah sepakat untuk menikah dan Agus juga akan segera menalak Santi dan bercerai secara resmi.


Setibanya kerumah Agus melihat mamanya yang sudah rapi-rapi menunggu Dila pulang untuk bergantian menjaga papa di rumah sakit. Agus yang lagi mabuk kepayang persoalan cinta, sepertinya tidak terlalu menghawatirkan papanya. Sedangkan Santi yang hanya menantu di rumah itu telah meminta izin ingin ikut menjaga papa tapi sayang karena mama benci terhadap Santi jadi mama melarang Santi untuk ikut saling bergantian menjaga papa. Dikamar terlihat Santi sedang berbaring, wajahnya yang pucat dan badannya pun panas, Agus kaget ketika melihat istrinya terbaring sakit sendirian.

__ADS_1


"Kita ke dokter ya," ajak Agus.


Tanpa menunggu jawaban Santi, Agus menggendong Santi ke mobil, langsung tancap gas takut terjadi apa-apa pada Santi.


Di rumah sakit.


"Selamat ya pak, sebentar lagi bapak akan menjadi seorang ayah!" Ucap pak dokter setelah memeriksa Santi.


"A ay ayah. Maksud pak dokter istri saya hamil?" Jawab Agus masih tidak percaya, padahal ia sudah ada niat buat menceraikan Santi.


"Iya, jaga baik-baik kandungannya dan jangan biarkan ia kecapean."


"Iya dok. Terimakasih." Jawab Agus.


Agus bener-bener tidak percaya bagaimana ia bisa menikah dengan Zihan kalau Santi tidak dapat di cerai dalam waktu dekat ini.


"Sial. Kenapa malah rumit seperti ini, dulu aku sangat mencintai Zihan dan aku di khianati di tinggal nikah karena perjodohan sampai aku depresi, sampai aku dipecat dari perusahaan ternama yang susah payah aku mendapatkan posisi terbaik disana. Sampai aku bertemu Santi sang pengobat hati, ku kira aku benar-benar mencintainya tapi ternyata aku hanya menjadikan dia pelarian saja. Oh tuhan aku harus bagaimana ini. Apakah aku harus meninggalkan cinta sejati dan bertahan bersama keluarga kecilku, atau aku sakiti Santi demi kebahagian ku. aku sungguh egois." Keluhnya dalam hati dan sedikit mengepalkan tangannya erat.


Sambil menjambak rambutnya sendiri ia terus menerus merenung dan memikirkan jalan mana yang harus ia ambil.


Ceklek.


Agus membuka pintu ruangan Santi, dan langsung duduk menghela nafas dan berulang kali ia ambil nafas panjang lalu membuangnya.


"Kamu kenapa mas? Aku sakit apa?" Tanya Santi.


"Kamu hamil tapi maaf mas harus jujur ini padamu, mas akan menikah lagi dalam waktu dekat ini. Mas akan menikah dengan orang yang ada dalam foto itu, foto yang kamu temui dalam selipan sebuah buku." Ucap Agus.


Sungguh ini adalah kabar yang sangat ku nantikan, mempunyai anak dan menjadi ibu yang sempurna bagi buah hati, tapi berbarengan langsung Agus menyakiti hati Santi. Dada Santi terasa sesak diiringi dengan berjatuhannya air mata yang sangat deras.


"Maaf sayang aku tidak bisa berpisah dengan mu dan anak kita tapi aku juga tidak bisa melepaskan Zihan. Tolong restui aku menikah lagi." Agus menangis sambil memegang erat tangan Santi.

__ADS_1


Mulut Santi masih terkunci ia tidak bisa bicara, dada yang sangat sesak membuat Santi kembali drop dan langsung pingsan.


Kembali Agus menunggu di luar, dan keluarlah dokter.


"Bagaimana Dok?" Tanya Agus cemas.


"Silahkan masuk, Bu Santi hanya perlu beristirahat, jalan lama-lama mengajaknya berbicara, biarkan ia istirahat." ucap dokter dan dokter pun berlalu.


"Silahkan mas, Aku rela di madu!" Jawab Santi enteng karena Santi sudah menebak ini bakal terjadi dengan tingkah dan perlakuan Agus selama ini. Segera Santi membalikkan badannya menghindari Agus.


"Terimakasih sayang." Ucap Agus sambil memeluk Santi dari belakang.


**


"Ma." ucap Agus sambil membukakan pintu ruangan tempat papanya di rawat. Kebetulan Santi dan papa berada di rumah sakit yang sama.


"Iya gus. Masuk!" ucap mama.


"bagaimana keadaan papa ma?"


"Papa belum ada perubahan. Mama tidak tahu sampai kapan papa begini," jawab mama sambil menangis.


"Ma. Aku mau minta izin buat nikah lagi, nikah sama Zihan. Agus tidak bisa menunggu sampai papa sembuh karena pasti papa akan melarang." rengek Agus kepada mamanya seperti bocah yang sedang meminta mainan.


"Iya mama setuju, kamu urus saja sendiri waktunya." jawab mama.


Mama tersenyum bahagia mendengar kabar itu, senyum kembali menghiasai wajah yang sudah terlihat berkeriput itu.


Menangis sepanjang malam Santi tidak tau apakah ini keputusan yang benar, mendengar suami akan menikah lagi sangat menyiksa batinnya. Santi tidak tau harus menjelaskan dari mana saat nanti ibunya tau tentang masalah ini.


"Kalau saja aku tidak hamil pasti aku akan diceraikan mas Agus, aku tidak tau sesakit apa ibu mendengar anaknya yang baru menikah ini langsung dicerai begitu saja. aku harus bisa mempertahankan pernikahanku walaupun cintanya mas Agus kini telah terbagi."

__ADS_1


Ucap batin Santi.


__ADS_2