
Hamdi berjalan menuju kamarnya yang berada tepat di samping kamar Clara. Beberapa kali Algi bahkan ingin sekali Hamdi gendong. Namun pria itu memilih untuk tetao menjaga jaraknya dengan Clara sebab ia tahu sejauh apapun ia melangkah dan sejauh apapun ia pergi dari Siska, hatinya dan Siska akan tetap bersatu. Jadi apapun yang dilakukan oleh Hamdi pasti akan di ketahui oleh Siska.
"Kamu akan menginap di hotel ini berapa lama?" tanya Clara ketika hendak masuk kedalam kamarnya.
Hamdi menoleh wanita di samping pintunya dan menatap balita di pangkuan wanita tersebut. Tatapan Hamdi bahkan terlihat sangat dingin dan acuh.
"Ini bukan urusanmu jadi kau tak perlu tahu tentang diriku" Hamdi menjawab Clara dengan ketus dan pergi berjalan masuk kedalam kamarnya.
Clara hanya bisa terdiam mendapat perlakuan dingin dari Hamdi. Selama ini ia bahkan selalu berhasil mendapatkan pria manapun yang ia inginkan. Namun Hamdi benar benar sangat dingin sama seperti Bian saat dulu ia dekati dan ambil dari Nayla.
"kau pasti akan ku dapatkan Hamdi" gumam Clara pelan seraya mulai masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Malam ini Hamdi bahkan tak tenang untuk tidur. Entah kenapa ia sepertinya pernah melihat Clara disuaru tempat dan ia pun yakin bahwa Clara bukanlah orang biasa. Hamdi bahkan yakin bahwa Clara memiliki hubungan dengan orang terdekatnya namun Hamdi tam tahu siapa dia.
Hamdi berjalan menuju balkon dan mulai menciba menelpon Zidan. Namun beberaoa kali Hamdi menelpon sahabatnya tersebut tak satu pun panggilan darinya diangkat oleh Zidan. Hal tersebut sontak saja membuat Hamdi kesal dan mulai mencari sendir tentang Clara di dalam media sosial.
Hamdi mengetik nama Clara di kolom pencari sebuah aplikasi ternama dan tak satu pun menunjukan foto tentang wanita yang ia cari. Hingga Hamdi pun sadar bahwa Clara mungkin menggunakan nama samaran dan bukan nama aslinya.
"Sial! aku bahkan tak menemukan foto profil yang menampilkan wanita itu. Aku bahkan sangat yakin aku pernah melihatnya di suatu tempat. Namun aku tak tahu dia siapa"
Hamdi bahkan sudah menyiapkan tempat honeymoon terbaik dan gedung bagus untuk nanti melangsung pernikahan meriah denga Siska. Namun Hamdi sedikit bingung dengan bagaimana jika nanti ia mengucapkan ijab kabul dengan Siska saat menikah. Mengingat ayah Siska tak tahu dimana keberadaannya dan ia pun tak tahu bagaimana meminta restu dari calon mertuanya tersebut.
Hingga tak lama saat Hamdi mencoba untuk menetralkan pikirannya, tiba tiba saja ponselnya berbunyi dengan keras dan ternyata tertera dengan jelas panggilan itu berasal dari Zidan.
__ADS_1
Dengan cepat Hamdi menerima panggilan tersebut dan mencoba untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan. Namun Zidan justru memberinya kabar mengejutkan tetang ibu Siska yang tiba tiba saja diserang seseorang dan saat ini tak sadarkan diri di rumah sakit.
"Kau bisa pulang esok ke Jakarta. Siska saat ini bahkan tak mau makan dan hanya diam menatap ibunya yang terbaring tak sadarkan diri. Ku harap kau bisa datang kesini sebab ada yang ingin ku katakan padamu"
"Sekarang keadaan ibu bagaiamana Dan? kenapa kau baru mengatakan ini padaku? kenapa kau baru menghubungi ku?"
"Sejak tadi aku berada di rumah sakit mebghrus ibu dan tak sempat memegag ponsel. Ku harap kau bisa paham dengan situasiku. Yang terpenting sekarang kau bereskan tentang proposal dan rencana pembangunan bisnis kita di sana. Dan sisanya biar aku bicarakan dengan tangan kanan kita untuk ia handel . Kau bisa pulang besok"
"Lalu sekarang Cleo bagaimana? Siska bagaimana? tadi saat malan malam aku sempat menelpon Siska dan ia terdengar baik baik saja dan tak mengatakan apapun"
Zidan terdengar menghela nafasnya.
__ADS_1
"Ya memang tadi saat makan malam disini pun ibu baik baik saja. Namun saat pintu tiba tiba saja diketuk oelh seseirang ibu menjerit dengan keras dan saat kami mengecek keadaan ibu, ibu sudah dalam keadaan tak sadarkan diri di atas lantai dengan kepalanya yang berdarah. Aku bahkan sempat mengelilingi komplek dan mengecek cctv di depan. Namun aku tak melihat apapun selain pria misterius berpakaian serba hitam yang menghantamkan sebuah balok kayu tepat di kepala ibu saat ibu akan masuk kedalam rumah"