
Beberapa orang polisi kini sudah membawa Frans, dan ayahnya menuju bandara. Tak terkecuali beberapa pelaku yang merupakan teman Frans yang melakukan pelecehan pada Siska. Andi pun saat ini terlihat dengan santai berjalan dengan tangannya yang diborgol ke belakang disertai beberapa polisi yang mengawalnya.
"Hallo nyonya, kami dari kepolisian akan mengabarkan bahwa pelaku pelecehan terhadap anda dulu kini sudah kami tangkap dan akan segera kami berangkatkan ke Jakarta untuk melakukan sidang di kota tempat kejadian. Diharapkan anda bisa hadir dan memberikan kesaksian dengan jelas nanti di persidangan"
"Ba..baik pak saya akan hadir nanti di persidangan"
Siska memutuskan sambungan telepon dan menghembuskan nafas dengan gusar. Hatinya yang masih trauma seakan dihantui oleh rasa ketakutan yang amat besar terhadap para pelaku pelecehannya.
Bahkan ia masih ingat jelas di saat dirinya terbangun ditempat yang penuh dengan para pria tanpa busana disampingnya. Tak terasa air matanya pun mengalir merasakan ketakutan dan kehancuran.
Siska yang sedang menggendong bayinya tak keuasa menahan beban di dalam hatinya sehingga menangis dengan keras dan membuat ibunya yang panik segera berlari menuju kamarnya.
"Kenapa nak? kenapa? katakan pada ibu nak" Ibu widya memeluk tubuh putrinya yang terguncang.
Sesaat Ibu Widya melihat ponsel di atas ranjang dan kemudian mengambilnya untuk mencari tahu penyebab putrinya menangis.
Terpampang jelas nomor kepolisian sudah menelpon putrinya tersebut, hingga membuat Ibu Widya paham bahwa sudah ada informasi mengenai kasusnya yang akan melakukan sidang.
"Tenanglah sayang, semuanya pasti akan baik baik saja. Lihatlah seberapa kuat dirimu saat ini. Kamu bisa melewati semuanya dengan penuh perjuangan dan lihatlah bayimu ini yang selalu memberikan kekuatan serta kebahagiaan untukmu"
Siska menatap wajah mungil bayinya yang ada di dalam pangkuannya. Wajah bayi laki laki yang tampan dengan bibir mungil yang merah merona sspertinya. Ia pun bangkit dan menghapus air matanya dengan pelan.
"Ibu benar, selama ini aku mampu menyembuhkan luka ini dengan oenuh perjuangan. Jadi aku juga akan mempertahankan keadilan untukku dan menghukum semua para pelaku dengan seadil adilnya"
Tington!
Bel diluar Villa berbunyi disertai dengan ketukan dan suara dari seseorang yang cukup asing. Ibu Widya berlari menuruni anak tangga dan menghampiri asal suara tersebut.
Seorang pria dengan pakaian rapih ala kurir menenteng sebuah kotak besar dihadapannya.
"Permisi bu, Ini paket untuk Nona Siska" ucapnya ramah.
__ADS_1
Ibu Widya langsung mengambil paket tersebut dan menandatanginya karena ia yakin bahwa paket itu berasal dari Hamdi karena sejak semalam Hamdi pergi dari villanya entah kemana.
"Baik mas. Terimakasih"
Ibu Widya menutup kembali pintu dan berjalan seraya memegang kotak dus yang sangat besar dipangkuannya.
Ia segera berjalan menuju lantai atas dan membuka pintu kamar Siska dengan bersusah payah.
"Itu apa bu?" tanya Siska penasaran.
"Oh ini, ini mungkin hadiah dari Hamdi karena sudah pergi tanpa alasan kemarin malam. Cepat kau buka ibu juga ikut penasaran" ucapnya dengan bahagia.
Tanpa basa basi, Siska pun membaringkan tubuh putranya diatas ranjang dan segera membuka kotak besar tersebut. Tak ada nama pengirim atau pun catatan diatas kotak tersebut.
Dibukanya dengan pelan hingga terlihat isi ssbenarnya yang berada didalam kardus. Mainan bayi serta pakaian bayi laki laki yang sangat banyak dan bagus.
"Hamdi sangat tahu kebutuhan calon anaknya"
Lama Siska bergurau dan berbagu kebahagiaan bersama ibunya hingga ia pun mengambil secarik kertas dibagian kotak paling bawah.
Matamu mampu membiusku dengan tatapan itu sama seperti saat kau terlelap nyaman dipangkuanku
Putra kita sangat lucu dan manis
dan aku pun tahu dia adalah seorang jagoan yang sangat tampan sama sepertiku.
Terimalah dan bermainlah bersama putra kita sampai aku datang dan menemanimu bermain bersamanya*
Siska tersipu malu membaca surat tersebut. Ia begitu bahagia, ternyata Hamdi sudah mempersiapkan hadiah ini mungkin untuk permintaan maafnya karena meninggalkan Siska tanpa satu pun kata saat di kamar Nayla.
Hingga akhirnya ia pun memebereskan semua pakaian itu kembali kedalam kotak dan segera menunjukan beberapa mainan kepada bayi kecilnya.
__ADS_1
"Lihatlah sayang, ayahmu sudah memberikanmu hadiah yang sangat banyak. Kamu tumbuhlah dengan cepat agar kita bisa bermain bersama"
Ibu Widya yang merasa heran dengan pesan yang dikira Siska dari Hamdi mulai mengernyitkan keningnya. Walaupun memang sudah sejak lama Siska mengenal Hamdi karena memang sahabat kakaknya, tapi dulu ia begitu biasa saja ketika bertemu dengan Siska. Lalu mengapa Hamdi mengatakan bahwa Siska masih sama seperti dulu. Aneh pikirnya.
Tak lama pintu diketuk beberapa kali, Ibu Widya kembali turun tangga dan menghampiri sumber suara. Ketika pintu terbuka, nampaklah Hamdi dengan mata yang sembab serta pakainnya yang lusuh.
"Darimana saja nak? Siska sangat khawatir. Oh ya terimakasih atas hadiahnya, Siska sangat suka"
Sontak saja perkataan Ibu Widya membuat Hamdi membulatkan mata. Apa yang dimaksud calon mertuanya. Hadiah?
"Hadiah apa bu?" tanyanya heran.
"Ah jangan seperti itu nak. Ibu tahu kau sangat mencintai anaknya Siska dan juga mencintai Siska tentunya. Hadiah mainan dan pakaian bayi yang kau kirim sangat bangus bagus"
Seketika Hamdi berlari menaiki tangga menuju kamar kekasihnya. Dibukanya pintu dengan cepat dan nampaklah beberapa pakaian dan mainan didalam kotak.
"Mas kamu sudah pulang?" tanya Siska heran dengan tingkah laku Hamdi.
"Buang semua ini dan kunci pintunya!"
"Kenapa kau seperti ini? kau sendiri yang memberikannya dan sekarang kau menyuruhku untuk membuangnya?!"
"Sudah kubilang buang semua ini Siska!" Hamdi membentak Siska dengan sangat keras hingga membuat wanita itu seketika terdiam dan menangis.
"Kau jahat mas! kenapa kau kirim ini semua jika kau hanya ingin memberikan kebahagiaan palsu padaku" Siska yang akan memegang kotak itu segera dicekal oleh Hamdi.
Pria itu terlihat sangat panik sebab seseorang sudah mengirimkan semua hadiah itu pada calon anak serta calon istrinya tersebut.
"Ketahuilah Sis, itu semua bukan aku yang mengirimnya! Kita harus segera pergi ke Jakarta sebab ku rasa Frans ataupun pelaku lainnya sudah tahu keberadaanmu dan mengingkan bayimu itu!"
Siska membulatkan mata tak percaya. Baru saja ia mendapatkan panghilan dari polisi mengenai semua pelaku yang sudah ditangkap lalu mengapa salah satu dari mereka bisa mengirimkan hadiah untuk bayinya.
__ADS_1
"Tidak mas! kau pasti salah duga. Mumgkin saja ini dari sahabatmu yang mengetahui hubungan kita. Tadi pagi polisi sudah menelponku dan mengatakan semua pelaku sudah ditangkap"
"Kau terlalu polos dan naif Siska! Kau tahu apapun dengan uang yang mustahil bisa jadi nyata. Mungkin saja salah satu diantara pelaku itu tahu keberadaanmu dan bayimu sehingga menyuruh orang untuk mengawasi serta mengintaimu dan memberikan semua hadiah ini. Dirimu dan bayi kita sedang dalam bahaya. Kita harus cepat kembali ke Jakarta sebelum orang suruhan itu datang dan memberikan teror yang tidak tidak" Hamdi yang tadinya masih memikirkan cinta Nikita untuknya, segera panik dan melupakan semuanya karena seseorang yang sudah mengirimkan hadiah pada calon istrinya.