
Andi yang merasa aneh dengan sikap Hamdi hanya bisa terdiam tanpa mampu bertanya lebih lagi. Walaupun ia dan Hamdi sudah lama dekat dan sudah seperti keluarga, namun Andi sadar bahwa dirinya hanya orang asing yang mendapatkan keberuntungan bisa mengenal orang sebaik Hamdi.
Entah apa yang Hamdi maksud dari perkataannya, yang jelas Andi sekarang merasa bahwa ada hal tak beres sedang mengusik Hamdi. Dan ia akan mencari tahu hal itu sendiri.
Siang ini awan terlihat begitu cerah dengan mentari yang begitu terik bersinar. Hamdi mengeluarkan ponselnya dan segera menelpon Siska untuk menanyakan kabarnya serta bayi mungil anaknya.
"Hallo Sayang bagaimana kabarmu?"
"Waalaikumsalam mas"
Hamdi seketika tersenyum mendengar perkataan Siska yang tak sinkron dengan pertanyaannya.
"Maaf aku lupa, Assalamualaikum sayangnya aku. Bagaimana kabarmu?" ucap Hamdi dengan ceria.
"Waalaikumsalam mas, kabarku baik. Kamu bagaimana ?"
"Alhamdulillah kalau baik. Aku juga baik"
"Oh ya, mana Mas Zidan sama Mbak Nayla? aku ingin bicara sama mereka. Bisa bisanya gak ada kabar sedikitpun sama aku dan ibu" jawab Siska dengan kesal.
Hamdi hanya bisa terdiam mendengarkan perkataan Siska, karena memang saat ini dirinya sedang tak bersama Zidan maupun Nayla.
"Eumh Zidan sama Nayla sedang berbulan madu dan mereka tak mau ku ganggu" ucap Hamdi berbohong.
" Oh gitu, pantesan aja mereka tak menelpon aku maupun ibu. Titip salam untuk mereka dsriku dan ibu. Katakan kepada mereka agar sekali kali telpon kami karena kami sangat cemas takut terjadi apa apa. Mas sedang apa?"
"Iya nanti aku sampaikan. Mas lagi kerja sayang. Kebetulan salah satu kantor usaha mas jaraknya tak terlalu jauh dari tempat kami berlibur. Selain itu aku juga menyewa satu apartement khusus untuk pekerjaanku disini dan mungkin jika aku sudah selesai aku akan kembali ke villa bersama Nayla dan Zidan"
Takut Siska akan bertanya hal lain lagi, Hamdi kemudian segera mematikan ponselnya dengan alasan pekerjaan. Hingga kemudian ia segera memikirkan langkah selnjutnya agar Andi dapat mengatakan semua rahasia besar yang selama ini ia rahasiakan.
Tak perlu menunggu waktu lama, Hamdi segera bangkit dari kursinya dan segera pergi menuju ruangan Andi untuk menanyakan sesuatu hal penting tersebut.
Langkah kakinya yang panjang membuat Hamdi tak perlu banyak mengeluarkan energi untuk sampai diruang kerja Andi. Terlihat pria muda itu kini tengah duduk seraya memegang keningnya.
"Maaf aku masuk tanpa memberitahumu"
Suara Hamdi sontak membuat Andi kaget dan segera bangkit.
"Silahkan duduk tuan, tuan tak perlu meminta izin untuk masuk keruangan ini. Maaf jika saya tak menyambut anda dengan baik"
__ADS_1
Hamdi menghembuskan nafasnya dengan kasar dan mulai membuka pembicaraan agar tak berlama lama.
"Saya ingin bertanya padamu dan kau harus mengatakan hal sejujurnya padaku. Jika kau berkata bohong padaku, aku tak segan segan memasukan kau kedalam penjara. Tapi jika kau jujur kepadaku, maka kau akan terbebas dari semua masalah yang selama ini kau tutupi"
Andi membulatkan matanya mendengar ancaman dari Hamdi yang ia pun sendiri tak tahu tentang masalah yang sedang Hamdi bicarakan.
"Ma...maafkan saya tuan, apa yang tuan maksud saya tak mengerti"
Hamdi tersenyum getir mendengarkan perkataan Andi yang berpura pura polos dihadapannya.
"Kau tak perlu bertingkah polos dihadapanku. Aku sudah tahu kebusukan serta kebeja*tan yang selama ini kau tutupi"
"Maksud tuan apa ? saya tak paham?"
"Jadi kau masih tetap ingin bungkam hah! baik, baiklah kalau begitu. Apakah kau ingat hgadis ini hah?!" bentak Hamdi seraya melemparkan foto Siska yang selama ini selalu ia bawa didalam dompetnya.
Mata Andi seketika membulat sempurna ketika melihat sosok wanita yang pernah ikut ia nikmati saat pesta perayaan tahun baru. Ia tak pernah menyangka bahwa Hamdi kenal dengan Siska adik kelasnya.
"Sa...saya tak tahu siapa dia tuan" ucap Andi gugup.
Kebohongan yang Andi katakan sontak saja membuat Hamdi murka dan dengan tubuhnya yang kekar, mencengkram kuat kerah baju A di hingga membuat dirinya ketakutan.
"Maafkan saya tuan, maafkan saya"
"Aku tanya kamu sekali lagi dan jawab dengan jujur! apakah kau mengenali siapa gadis itu hah!?" bentak Hamdi dengan kencang.
Andi tertunduk lesu dan membenarkan posisi kacamata minusnya.
"Seb..sebenarnya dia adalah adik kelas saya tuan dan sungguh saya tak apa apa tentang ya" binar binar keluar dari mata Andi seakan memohon agar Hamdi tak terus mengintrogasinya.
"Tak tahu hah?! baik kalau begitu mari ikut saya kekantor polisi untuk menjebloskanmu masuk kedalam penjara. Aku memiliki bukti yang nyata agar kau bisa ditahan disana"
Hamdi mencengkaram tangan Andi dengan kencang dan membuat pria itu kesakitan.
"Ampun tuan, jangan jebloskan saya kedalam penjara. Jika saya masuk kedalam sana, bagaimana ibu saya. Ibu saya sudah memiliki riwayat serangan jantung. Jadi saya mohon untuk tak melakukan hal ini pada saya"
"Ok kalau itu maumu. Aku takan memasukanmu kedalam sel tahanan sekarang. Tapi dengan syarat kau sebutkan siapa saja pelaku yang telah membuat wanita tak berdosa itu hamil dan memiliki anak dari bajing**n seperti kalian"
"Hamil?" pekik Andi terkejut.
__ADS_1
"Ya hamil! perempuan yang telah kau renggut kehormatannya bersama sama telah hamil dan memiliki anak. Mana mungkin kau tahu sebab kau adalah baji*ngan tak bertanggung jawab"
Andi seketika kaku dan hanya bisa terdiam mendengarkan bahwa wanita yang telah ia lecehkan ternyata sudah memiliki anak.
"Tap..tapi apakah semua pelakunya sudah tahu bahwa Siska memiliki anak dari hasil..."
"Tidak! tidak ada satupun dari mereka yang Siska kenali selain Frans! ib**s yang sudah menghancurkan masa depannya"
"Lalu aku harus apa?"
Hamdi berdecak kesal mendengarkan pertanyaan polos yang keluar dari mulut Andi.
"Kau tanya padaku, kau harus apa? ck dasar to***l ! setelah kau melakukan hal buruk pada seorang gadis, kau masih bertanya apa yang harus kau lakukan hah!"
Andi terdiam mendapatkan bentakan bertubi tubi dari Hamdi yang sebelumnya tak pernah ia lihat.
"Kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan. Selain ini karena kasus kriminal, kau juga seharusnya bertanggung jawab pada Siska dan bayinya. Kau harus katakan siapa saja yang telah melakukan hal itu pada Siska saat kejadian kelam itu terjadi"
Andi terdiam mengingat kejadian kelam setahun yang lalu.
"Aku tak ingat persis siapa saja pelaku itu tuan"
"Bohong! kau hanya berpura pura so polos dihadapnku hanya agar mendapatkan simpatikan! aku tak sebodoh yang kau kira Di! kau katakan siapa saja pelakunya dan akan kupastikan hukumanmu lebih ringan dari mereka sebagai imbalannya!"
"Ak..aku, aku takut"
"Dasar bocah ! kau takut mengatakan siapa nama pelaku itu, tapi kau lihai sekali menghancurkan masa depan wanita tak bersalah! otakmu hilang apa dijual hah! cepat katakan siapa mereka!"
"Ak..aku akan mengatakannya nanti. Beri aku waktu untuk mengingat semua nama pelaku itu. Aku hanya mengingat wajah Frans, Dika, dan Leo disana. Dan empat orang lagi aku lupa siapa mereka, karena akupun baru satu kali bertemu dengannya"
Hamdi yang mulai frustasi segera berteriak diruang kerja Andi. Untung saja ruangan itu didesain kedap suara hingga tak akan ada satupun yang bisa mendengarkan percakapan mereka.
"Ya sudah jika kau memang lupa! setelah pulang kerja kau datanglah ke ruanganku dan katakan semuanya. Jika sampai kau tak mengatakannya, maka kau akan tahu akibatnya nanti! Dan ingat! jangan pernah kau hubungi para pelaku itu apalagi mengatakan bahwa aku akan membawa kasus itu kejalur hukum!"
Andi tertunduk lesu mendengar ancaman dari Hamdi. Hingga pikirannya berkelana bertanya tanya mengenai identitas anak yang telah Siska lahirkan.
"Maafkan jika saya lancang, tapi sekarang Siska dan bayi itu ada dimana? dan apa jenis kelamin bayinya?"
Hamdi yang akan berjalan pergi meninggalkan Amdi seketika berbalik dan menatap tajam kearahnya.
__ADS_1
"Kau tak perlu tahu akan hal itu!"
"Tapi mungkin saja itu anakku!" jawab Andi dengan lantang.