
Nayla melangkah menuju ruangan tempat guru guru berkumpul. Terlihat kepala sekolah yang sudah siap dengan beberapa guru lainnya untuk menyambut kedatangan Nayla.
"Assalamualaikum" ucap Nayla seraya membuka pintu.
"Waalaikumsalam Bu Nayla" jawab guru guru serempak.
Dengan senyum yang mengembang diwajah Nayla, kini ia mulai menghampiri satu persatu guru yang ada didalam ruangan serta mulai menyalaminya untuk berkenalan. Para guru pria yang melihat kecantikan Nayal hanya bisa menatapnya takjub seraya menangkupkan tangan diatas dada.
"Selamat datang kembali Bu Nayla yang cantik. Bagaimana kabarmu sehat? sudah lama kita tak bertemu ya" ucap Bu Asti.
Nayla memeluk erat tubuh sahabatnya yang selalu menemaninya dulu saat mengajar disekolah ini.
"Alhamdulillah baik. Gimana kabarmu bu ?"
"Alhamdulillah juga sehat Bu Nay. Sekarang kita bisa sama sama lagi ya Nay"
Belum sempat Nayla menjawab, Nadia selaku salah satu guru disana segera menegur Asti karena menyebut nama Nayla seperti berada diluar sekolah.
"Bu Asti, jika panggil sesama guru harus sopan saat berada dilingkungan sekolah. Setidaknya kalau dilingkungan sekolah ibu bisa panggil Bu Nayla dengan sebutan ibu terlebih dahulu. Lain lagi jika berada diluar sekolah, anda bisa memanggil Ibu Nayla dengan nama saja"
"Hal sepele gitu aja kok didebatin sih! aneh! lagian Nayla itu kan sahabat saya, dan orangnya pun tak merasa terganggu dengan sebutan yang saya berikan. Jadi kenapa anda yang sewot?!"
Ibu Kepala sekolah dengah cepat melerai keduanya karena merasa malu dengan penyambutan Nayla yang harus diselingi dengan keributan.
"Sudah sudah cukup! Bu Asti sebaiknya anda mendengarkan saja yang Bu Nadia katakan. Setidaknya dilingkungan sekolah anda harus membedakan panggilan nama pada Bu Nayla dengan keadaan diluar sekolah. Ini bukan masalah besar, tapi anda bisa menghormatinya selaku salah satu guru disini karena anak anak yang kita ajar merupakan anak anak yang masih kecil. Jadi terkadang mereka suka meniru apa yang kita ucapkan. Walaupun ini terdengar sepele dan tak bermanfaat sama sekali, tapi setidaknya jika kita mengatakan itu anak anak murid kita yang masih kecil bisa memanggil nama Bu Nayla dengan semestinya"
Asti tampak kesal karena ia disudutkan dan menjadi pusat perhatian setiap guru. Nayla yang merasa bersalah hanya bisa menunduk tak bisa mengatakan apa apa.
" Ya sudah Bu, sekarang anda sudah resmi menjadi bagian dari kami. Kami harap anda betah bekerja disini dan bisa mendidik anak anak disekolah ini"
"Terimakasih bu. In Sya Allah saya akan bekerja sebaik baiknya disini dan saya akan mendidik anak anak dengan baik. Saya minta kerjasamanya dari semua. Terimakasih"
"Sekarang Bu Nayla bisa duduk dibangku meja dekat Pak Amar yang ada disamping sana. Dan Bu Nayla disini akan mengajar dikelas 2 yang tempatnya akan Pak Amar tunjukan. Kebetulan sekolah ini sudah membangun beberapa ruangan baru jadi Bu Nayla tak tahu ruangan tempat ibu mengajar disebelah mana "
Nayla memandang wajah pria yang mengenakan peci didepannya. Terlihat pria itu tampak rapih dengan pakaian jas sekolah yang ia kenakan serta peci yang menutup sebagian rambutnya.
__ADS_1
Pak Amar menatap Nayla dengan hati yang berdebar debar sebab ini kali keduanya ia bertemu dengan Nayla selepas dulu ia masuk sebagai guru disekolah ini.
Dulu Nayla dengan baik hati menunjukan ruang guru pada Amar yang merupakan pengajar baru disekolah ini. Dan sekarang kebalikannya, Amar harus menunjukan Nayla ruangan kelas 2 tempat ia mengajar nanti. Memang benar, bahwa sekolah ini sudah terlihat lebih luas dan terdapat beberapa ruangan baru. Disekolah tempat Nayla mengajar, jarak antara satu ruangan dengan ruangan lain begitu jauh hingga akan lambat jika mencari kelas yang menjadi bagiannya mengajar satu persatu. Selain bangunannya yang bertambah banyak, bentuk kelas serta warna cat yang sekarang terlihat berubah berbeda dengan saat dulu.
Nayla menatao pria didepannya yang bernama Amar. Amar menangkupkan tangan diatas dada dan disambut dengan Nayla yang melakukan hal sama kepadanya.
"Maaf jika saya merepotkan" Ucap Nayla seraya duduk disamping meja Amar.
"Tak papa, ini sudah tugas saya"
"Maaf jika boleh tahu apakah bapak yang dulu saya antar menuju ruangan ini?"
"Iya bu, ternyata ibu masih ingat ya? padahal itu sudah lama sekali"
"Saya ingat karena dulu bapak adalah orang yang mengantar saya pulang padahal baru bertemu sekali. Itupun hari terakhir saya bekerja disini" balas Nayla seraya tertawa.
Amar menatap kagum wajah Nayla yang begitu cantik. Setelah sekian lama ia mencari Nayla, akhirnya ia bisa bertemu lagi.
"Maaf Bu Nayla, dulu kenapa anda keluar dari sekolah ini? padahal yang saya tahu dari cerita guru guru bahwa anda adalah salah satu guru berprestasi disini"
"Oh gitu, ya sudah gak papa. Sekaran Bu Nayla bisa menyimpan dulu tas dan bukunya di tas meja, saya akan antar ibu menuju ruangan tempat Bu Nayla mengajar nanti. Kebetulan jam pelajaran sebentar lagi dimulai"
Nayla bergegas merapihkan buku serta perlengkapan alat tulis diatas mejanya dan kemudian bangkit berdiri.
Amar yang melihat Nayla sudah beres, akhirnya berjalan dengan Nayla yang mebgekor dibelakangnya.
Amar menunjukan setiap ruangan yang ada disekolah ini dengan terinci. Nama serta lokasinya pun Amar jelaskan secara detail agar Nayla tak harus mencari lagi bangunan bangunan disekolah ini walaupun bentuk serta ukuran ruangan kelasnya sama.
"Sebenarnya Bu Nayla bisa mencari ruangan kelas disini tanpa tersesat walaupun ruangannya sama dan bercat sama juga. Tapi semua itu akan memperlambat Bu Nayla untuk menangkap denah ruangan ini secara cepat"
"Iya saya paham pak. Terimakasih banyak karena sudah membantu saya dan menjelaskan setiap patokan kelas dengan jelas"
Nayla dan Amar terus menyusuri ruangan kelas yang berada disekolah dasar ini. Dari kejauhan terlihat Zidan dengan mobil merahnya memarkirkan mobilnya dihalaman sekola.
Zidan yang baru saja keluar dari pintu, langsung disuguhkan pemandangan Nayla yang tengah asih bercengkrama dengan Amar didepan kelas.
__ADS_1
"Nayla!" teriak Zidan tanpa aba aba.
"Mas Zidan?"
Zidan berjalan mendekat kearah Nayla dan mulai menatap gadis didepannya tanpa berkedip sedikitpun.
"Cantik" guman Zidan pelang.
"Apa mas?"
"euh...eng...engga Nay"
"Mas ngapain kesini? ini kan jauh, lagi pulaas Zidan pasti mau berangkat kerja kekantor nanti telah loh"
Zidan menatap jam ditangannya. Dengan santai ia kemudian menatap Amar dengan tanda tanya besar dikepalanya.
"Dia siapa Nay?" tanya Zidan tiba tiba.
"Oh iya lupa. Mas kenalkan ini Pak Amar, salah satu guru serta komite disekolah tempat aku menagar ini. Dia adalah orang yang dulu baru pertamakali aku lihat mas sebelum aku berhenti bekerja disekolah ini. Pak Amar juga adalah orang yang dulu aku antar ke ruangan guru dan sekarang giliran dia yang disuruh Ibu Kepala Sekolah untuk mengantarku"
Zidan menatap tajam kearah Amar. Zidan tahu bahwa Amar terlihat begitu nyaman ketika berbicara dengan Nayla.
"Oh begitu. Jadi sekarang kau sudah tahu dimna ruangan kelasnya?"
"Belum mas, ini lagi lihat lihat dulu kelas yang lain"
"Nay, sebaiknya langsung saja ke ruangan tempat kau mengajar. Kalau mau lihat lihat bisa nanti. Sekarang sudah siang, sebentar lagi bel masuk pasti akan berbunyi. Jadi Pak Amar bisa anda tunjukan ruangan tempat Nayla mengajar?"
"Iya tentu Pak Zidan. Mari Bu Nayla"
Amar kini melangkah menuju ruang kelas tempat Nayla mengajar. Ia menunjukan ruangan kelas 2 kepada Nayla dan Zidan.
Zidan terus saja menatap Amar yang terlihat sedang memperhatikan Nayla.
Hatinya terbakar saat ini
__ADS_1