
...Cinta...
...Apa itu cinta?...
...Hubungan yang saling terikat tanpa ada rasa didalamnya bagaimana mungkin dapat bertahan lama?...
...Dia tak mencintaiku, dia hanya menutupi kesalahan yang ia perbuat padaku....
...Seharusnya dia tak perlu berpura pura menganggap hubungan yang kita jalani selama ini dengan serius....
...Untuk apa bertahan hanya karena rasa iba?...
...Bukannya bisa hanya dengan kata maaf dia bisa kembali dengan hidupnya tanpa melibatkan aku didalamnya?...
...Mengapa penyesalannya menyeretku terlalu jauh dihidupnya....
...Sakitku, senangku, bukan hal yang penting baginya....
...Aku hanya dijadikan penenang saat ia merasa kesepian, sedang aku menjadiakannya obat dalam segala ketegangan....
Pengadilan atas kasus kematian Arumi resmi dibuka kembali. Zidan yang saat ini masih mengerjakan proyek kerjanya besama Anyelir tak dapat menemani Nayla menghadapi semua pertanyaan yang dilontarkan penyidik mengenai status mantan suaminya yang kini menjadi seorang tersangka.
Tangis Bian pecah saya melihat Nayla dan Ibu Aisyah dihadapannya. Kepalanya tertunduk dan ia pun segera menghampiri kaki Ibu Aisyah seraya berlutut meminta maaf.
"Maafkan aku bu aku khilaf"
"Khilaf katamu? khilafmu sudah terlalu jauh nak! Cintamu terlalu buta untuk Arumi yang terlalu berharga menjadi milikmu. Mengapa kau tak sejak dulu menemuiku dan berkata kau menyukai Arumi? jika kau datang padanya dengan ajakan ke jenjang lebih serius, mungkin saja Arumi akan memikirkannya lagi dan mungkin saja dia mau menjadi istrimu. Arumi wanita baik baik, dia tak ingin menjalin hubungan yang statusnya hanya pacaran saja" ucap Ibu Aisyah lantang.
Nayla hanya bisa menunduk, menahan semua rasa sakit yang ia sembunyikan selama ini.
"Saat itu aku belum siap untuk menikah bu, maafkan aku"
"Lalu jika kau belum siap menikah, mengapa saat Zidan berencana meminang Arumi kau malah ikut ikutan meminang Nayla?"
"Aku....ak"
"Kau hanya menyakiti Nayla Bian! kau hanya menyakiti wanita yang jelas jelas sangat mencintaimu. Nayla adalah saudara Arumi walaupun orang tua mereka berbeda. Kau ingin meluapkan kekecewaanmu karena gagal mendapatkan Arumi dan menjadikan Nayla sebagai pengganti? apa kamu waras?! Kau datang dengan iming iming kata cinta padanya, namun kenyataannya, kau hanya menjadikannya pelampiasan!"
"Tatap mata wanita yang sudah kamu sakiti! Tatap! Cinta yang kau ucapnya ternyata hanya bualan saja. Ku tahu Nayla adalah wanita yang keras kepala dan hatinya tak mampu ditaklukan oleh pria manapun. Tapi saat kau datang bersama Zidan, Nayla berubah. Setiap hari dia menyebut namamu didalam doanya, setiap harinya ia menceritakanmu pada ibu dan Arumi. Kau sangat berarti baginya! kau adalah cintanya Bian !"
__ADS_1
Nayla terisak dalam tangisnya. Hancur hatinya kala mengetahui alasan Bian membunuh Arumi karena dia mencintainya. Selama masa mendekati Nayla dulu di panti, Bian selalu membawakan Nayla bunga dan coklat yang banyak. Tak ada kecurigaan apapun di hati Nayla, karena memang dia menganggap bahwa Bian tulus mencintainya.
"Sekarang kau menyingkirlah dari hadapan kami! kau harus bertanggung jawab atas semua kejahatan yang telah kau perbuat! kau ingat ini baik baik. Nayla akan bahagia tanpamu dan akan hidup lebih bahagia dibandingkan saat dia menikah denganmu! akan ibu pastikan Nayla dan Arumi mendapatkan keadilan atas kehancuran yang mereka dapatkan karena mu"
Nayla dan Ibu Aisyah kini pergi meninggalkan Bian yang masih menangis diatas lantai. Hati ibu mana yang tak hancur ketika mengetahui kedua putrinya dipermainkan oleh pria yang sama.
********
Mobil melaju dengan pelan. Nayla menatap nanar kearah kaca jendela dengan perasaan yang bekecamuk. Selama ini, perhatian yang Bian berikan untuknya, nyatanya hanya sebagai ungkapan rasa bersalahnya karena telah membunuh Arumi dengan keji. Nayla tak lernah menyangka bahwa cinta yang selama ini Bian katakan padanya, hanya ucapan tanpa arti sedikitpun.
Hatinya hancur berkeping keping. Belum sembuh luka penghianatan yang Bian lakukan pada Nayla, kini dia harus mendengarkan pahitnya kenyataan bahwa mantan suami yang selama ini ia pertahankan ternyata mencintai sahabatnya sendiri.
Lengkap sudah rasa sakit yang Nayla rasakan dari Bian. Kini hidupnya hampa tak tersisa.
************
Saat ini Zidan terus saja memandang langit yang gelap tanpa bulan sebagai pelengkapnya. Pikirannya berkecamuk memikirkan Nayla yang kini tengah berjuang sendiri mempertahankan keadilan untuk Arumi.
Ponsel yang sedari tadi ia genggam, tak menampilkan adanya sinyal sedikitpun. Kesal sudah pasti. Tak ada yang bisa ia lakukan sekarang. Bahkan hanya untuk menanyakan kabar Nayla saja ia tak bisa.
Sudah empat hari Zidan berada ditempat ini mengerjakan proyek kerjasamanya bersama Anyelir. Tak ada hal istimewa terjadi diantara keduanya dan takan pernah ada kesalahan apapun yang akan mereka lakukan lagi.
Pintu kamar diketuk pelan, seiringan dengan suara Anyelir yang membuyarkan lamunan Zidan.
Tok..Tok...Tok
"Zidan! buka pintunya"
Zidan melangkah gontai kearah pintu, kesedihan tersirat diwajahnya yang tampan.
"Ada apa" tanya Zidan datar.
"Emmh aku hanya ingin memberitahu jika sebenarnya ada yang hal yang ingin aku sampaikan padamu"
"Apa?"
"Sebaiknya kita bicara diluar saja" ucap Anyelir serius.
Zidan berjalan mengikuti Anyelir menuju kursi yang berada dihalaman villa. Anyelir menatap langit yang gelap dan tersenyum ketika melihat pria disampingnya.
__ADS_1
"Ada apa kau mengajakku kesini?" tanya Zidan tanpa basa basi.
"Sebenarnya aku ingin bilang padamu kalau sejujurnya saat dulu kita melakukan hal itu aku hamil Zidan"
Mata Zidan terbuka lebar dan langsung tertuju pada Anyelir. Ucapan Anyelir berhasil membuat Zidan terpaku dan merasakan penyesalan yang amat dalam.
"Ha...hamil Nye? ba...bagaimana mungkin ?""
"Aku juga tahu setelah satu bulan aku pindah ke Singapura dan aku terjatuh ditoilet kampus. Sahabatku yang kini menjadi suamiku adalah orang yang menolongku ke rumah sakit terdekat karena melihat darah segar mengalir diantara kakiku" ucap Anyelir dengan mata berkaca kaca.
"Lalu bagimana sekarang anak kita?"
"Anak kita meninggal Dan. Aku mengalami keguguran dan anak kita dikuburkan disana. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa hasil dari hubungan yang kita lakukan dulu telah meninggal. Maafkan aku yang tak segera memberitahu padamu dan berbohong mengenai hal penting tentang masa lalu kita" Anyelir kini menundukan kepala.
"Inalillahi Nye, aku yang harusnya meminta maaf padamu. Bahkan kata maafpun tak bisa menghabus kebeja*dan yang aku lakukan padamu. Maafkan aku Nye, maafkan aku. Aku pria tak bertanggung jawab"
bulir bening metes dipipi Zidan. Penyesalan yang dia alami sungguh sangat membuat hatinya terpukul.
"Tak apa Dan. Kita yang salah karena telah melakukan dosa besar hingga kita harus kehilangan anak yang menjadi hasil dari hubungan yang tak sehat. Maafkan aku karena tak memberitahukan tentang kematian anak kita sebab ayah melarangku untuk mengatakannya padamu. Aku hanya tak ingin menutupinya dari kamu yang jelas jelas ayah biologis dari anak yang tak sempat lahir kedunia ini. Setidaknya dengan aku memberitahukan tentang anak kita, kamu akan sering mendoakannya disetiap waktu karena sekarang kau adalah pria yang dekat dengan tuhan dan kau pasti akan selalu menyebutnya"
Zidan termenung menatap kosong kedepannya. Mengapa Anyelir dulu saat dipesawat tak mengatakan bahwa sebenarnya dia hamil dan mengalami keguguran. Namun Zidan sadar bahwa seorang ibu harus menguatkan hati serta jiwanya ketika bercerita mengenai anaknya yang tak dapat merasakan indahnya dunia.
"Apakah pertemuan itu yang membuat suamimu mengenal dirimu Nye?"
"Iya Dan. Dia satu satunya pria yang mau membantuku disaat darah segar membanjiri celana yang aku pakai. Dialah yang berpura pura sebagai pasanganku saat di rumah sakit hingga aku dapat melakukan kuretas pada bayi kita yang sudah meninggal didalam perut"
"Maafkan aku Nye, karena tak bisa bertanggung jawan atas perbuatan yang aku lakukan. Aku pengecut Nye! pengecut!" isak Zidan tak terbendung.
Manusia adalah tempatnya khilaf dan dosa. Hawa nafsunya yang memuncak tak dapat membuat otaknya jernih sehingga bisa sampai melakukan kesalahan fatal yang merusak masa depan keduanya.
"Sabar Dan, ikhlaskan. Aku juga butuh waktu yang lama untuk merelakan bayi yang baru saja kuketahui keberadaannya. Kesalahan yang dulu kita lakukan harus dibayar dengan harga sangat mahal. Suamiku Rio adalah pria satu satunya yang sangat peduli dan baik dari dulu sampai sekarang. Dia tak bosan bosan menghiburku, datang kerumahku dan memberika semangat hidup untukku yang mengalami depresi berat karena harus kehilanganmu dan anak kita. Sempat terlintas dibenakku untuk mengakhiri hidupku yang sudah hancur. Tapi dirinya selalu menjagaku dan meyakinkan bahwa dunia bisa memandang takjub pada orang yang mampu berubah. Aku sudah bisa bangkit dan merelakanmu pergi setelah memiliki Rio. Ku harap saat nanti kita pulang kau bisa bertemu dengannya dan berteman dengan suamiku itu"
"Tentu Nye, aku akan menemui pria baik yang telah menjagamu selama ini. Dia adalah orang baik dan kau tak boleh menyia nyiakannya. Maafkan aku yang telah membuat hidupmu hancur serta tak bertanggung jawab atas semua kesalahan yang aku perbuat padamu. Sekarang kita ambil hikmah dari setiap kejadian yang dulu kita alami. Dan apakah kamu mau menjadi temanku Nye? agar tali silaturahmi kita terjaga"
Anyelir menatap Zidan dan tersenyum manis.
"Aku mau. Apa salahnya jika kita berteman dan menjaga tali silaturahmi. Aku akan menjadi temanmu dan memberitahu suamiku bahwa dia juga harus berteman denganmu. Masa lalu kita memang sangat pahit dengan dosa yang kita lakukan. Tapi sekarang aku akan menjadi sepertimu yang dekat dengan Allah dan menjadi pribadi yang taat beribadah. Terimakasih karena dengan setiap hari melihatmu shalat dan menceramahiku, membuat hatiku tergerak. Selama ini aku selalu saja menolak kala Rio mengajakku sholat berjamaah bersamanya, tak pernah kupikirkan jika kelalaian dalam ibadahku Rio lah yang akan menanggung dosanya juga"
Kini Zidan dan Anyelir telah menjadi sahabat. Terlepas dari masa lalu yang terjadi diantara mereka, sekarang Zidan dan Anyelir sama sama sedang memperbaiki dirinya untuk senantiasa lebih dekat dengan sang penciptanya.
__ADS_1