
Hamdi terkejut bukan main. Ia memang tak suka dengan Naura, hanya saja ia pun tak ingin jika wanita itu sampai terluka karenanya. Nama baik serta reputasinya nanti akan hancur jika saja Naura sampai mengadu hal yang tidak tidak pada ayahnya..
"ke...kenapa kau berdarah Ra? Apa kau sedang datang bulan? Ma..maafkan aku, aku tak berniat untuk mencelakakanmu" ucap Hamdi dengan terbata yang tentu saja membuat Naura gelisah.
"akkhhb sakit Ham" erang Naura pelan yang tentu saja membuat Hamdi panik.
"sekarang kita ke rumah sakit. Kita akan obati rasa sakit datang bulanmu sekarang. Maafkan aku ya Ra" ucap Hamdi dengan terbata yang tentu saja membuat Naura senang..
Sejenak Naura merasa melayang kala tubuhnya kini bahkan terangkat di gendong pelan oleh Hamdi secara lembut. Namun ia pun teringat akan kata kata yang keluar dari mulut suaminya itu, yang berniat untuk membawanya pergi mengecek darah yang ia kira sebagai datang bulan.
Tentu saja ini akan menjadi masalah dan Naura tak ingin jika rumah tangganya hancur karena kehamilannya ini.
"ak...aku tak papa Ham. Aku baik baik saja. Ak...aku tak perlu ke rumah sakit. Ini datang bulan biasa dan kita tak perlu mengeceknya" jawab Naura pelan yang tentu saja membuat Hamdi keheranan..
Rasa takut dan juga bersalah yang Hamdi miliki cukup besar hingga ia pun memilih untuk menuruti apa yang Naura katakan dan kini kembali berjalan menggendong tubuhnya untuk masuk kembali ke dalam kamar dan membaringkannya di atas ranjang..
"aku akan memasak air hangat untukmu Ra. Maafkan aku karena telah melakukan itu padamu. Sekarang kau istrhatlah dan jika bisa ganti dulu saja ce...celanamu. Aku takut jika darahnya merembes ke atas kasur" titah Hamdi seraya mulai pergi berlalu menuju dapur.
Naura yang merasa bahagia mendapatkan perlakuan baik dari Hamdi justru tak dapat menyembunyikan rasa sakit yang ia alami saat ini. Wanita itu menelpon ayahnya dan mengatakan bahwa ia tak baik baik saja. Sehingga menyuruh sang ayah yang notabene belum tahu akan kehamilan yang ia alami saat ini untuk menjemputnya jalan jalan.
Naura berbohong pada sang ayah untuk mengirimkan supir pribadinya dari rumah mewahnya. Agar menjemput dirinya dan mengatakan bahwa saat ini ayahnya ingin menghabiskan waktu hanya berdua dengan Naura.
Yang tentu saja hal itu mendapatkan persetujuan dari sang ayah, yang kaya raya dan dengan cepat menyuruh bawahannya untuk segera menjemput Naura.
Tak lama kemudian, pintu di buka secara perlahan. Hingga tampaklah dengan jelas Hamdi tengah menenteng baki yang di bagian atas terdapat teko dan juga gelas di tangannya yang berisikan air hangat serta beberapa camilan untuk istrinya yang tak sengaja ia lukai.
Hamdi tampak canggung dan sedikit menurunkan ego yang ia miliki kala melihat kondisi Nuara yang masih saja memegang bagian perutnya.
"Apa masih sakit Ra? Ini minumlah dulu biar rasa sakitnya sedikit reda" ungkap Hamdi dengan lembut yang tentu saja tak mendapatkan respon apapun darinya.
__ADS_1
Hamdi teringat dengan kata kata bahwa wanita yang sedang datang bulan bisa sangat sensitif dan juga pemarah jika sampai seseorang melakukan kesalahan padanya. Ia juga ingat jika sakit yang di alami oleh wanita yang datang bulan itu sangatlah tak sebanding dengan sakit apapun. Sehingga Mau tak mau kini ia harus memahami kondisi Naura dan membiarkannya untuk sembuh setelah kejadian ini..
Tintong!
Bel rumah tersebut berbunyi nyaring hingga membuat Hamdi terkejut bukan kepalang.
Pria itu menatap Naura yang masih merintih kesakitan, hingga tak lama kemudian. Ayah dari isterinya itu menelpon Hamdi dan mengatakan jika hari ini akan ada acara penting di rumahnya yang tentu saja harus dihadiri oleh Naura selaku putri kesayangannya.
"Maaf yah, Naura saat ini sedang sakit dan saya juga tak bisa membiarkan untuknya pergi kemanapun di saat kondisinya seperti ini. Maaf" ucap Hamdi dengan canggung yang tentu saja mendapatkan jawaban menyakitkan..
"sejak kapan kamu peduli dengan anak saya Ham? Sejak kapan kamu perduli dengan kondisi anak saya hah?! Saya hanya ingin anak saya malam ini juga pulang dan temui keluarga kami yang sedang berkumpul disini. Oh ya, kamu tak perlu hadir sebab ini adalah acara penting yang sedang kami selenggarakan untuk membicarakan seratus harinya kematian kerabat kami. saya dan Naura tentu saja beragama sama sepertimu, namun karena ini acara leluhur kami jadi kamu tak bisa ikut akan prosesi yang akan jalani" terang ayah Naura yang sedikit membuat Hamdi curiga.
"ya sudah yah, jika itu sangat penting saya akan berikan izin pada Naura untuk pergi. Saya titip Naura ya yah. Nanti saya akan jemput dia jika acaranya sudah selesai"
Belum sempat ucapan Hamdi sempurna. ayah Naura dengan cepat mah memutuskan sambungan telpon tersebut hingga membuat Hamdi sedikit bingung.
"Emh Ra, ayahmu menelponku. Apa dia tahu kau terluka karena aku?" tanya Hamdi sepelan mungkin agar Naura yang masih duduk bersimpuh memegang perutnya tak marah dengan pertanyaannya.
Dengan sigap Hamdi menggendong tubuh Naura untuk turun ke ruang tamu. Dan menunggu supir suruhan ayahnya untuk menjemput Naura.
Tak butuh waktu lama untuk mereka menunggu supir ayah dari Naura..
Kini deru suara mobil dari arah luar bahkan bisa membuat Hamdi dan juga Naura terdiam seketika. Hamdi pun membuka pintu secara perlahan dan menyambut sang supir ayah mertuanya untuk masuk dan duduk sebentar.
"Saya kesini di suruh tuan untuk menjemput nona Naura" ucap supir pribadi ayah Naura yang tampak kaku dan juga dingin.
Hamdi yang terkejut hanya bisa menatap wajah istrinya yang kian terlihat pucat pasi.
"jika kau tak sanggup untuk pergi maka jangan memaksakan Ra. Nanti aku aka jelaskan pada ayahmu untuk membiarkan kamu istrhat malam ini sebab kaku sedang datang bula." usul Hamdi yang tentu saja di tolak mentah mentah olehnya.
__ADS_1
"maaf Ham. Kau dan aku memang seiman. Hanya saja tradisi yang akan kami lakukan di rumah merupakan kebiasaan yang selalu kami lakukan setiap tahunnya karena iman dari kakekku sangat berbeda. Kau tunggu saja disini aku akan pergi"
..Tentu saja Hamdi Takan membiarkan Naura pergi dalam kondisi seperti ini. Hamdi pasti akan di cap sebagai pria tak baik dan juga jahat jika sampai membiarkan Muara pergi dalam keadaan memprihatinkan begini. Apalagi celananya saja belum Naura ganti .
"tapi Ra, apa yang akan keluargamu katakan jika kondisimu bahkan seperti ini? Celana mu saja masih terdapat banyak noda merah Ra. Sebaiknya kita ke rumah sakit saja ya. Aku tak ingin kau kenapa Napa karenaku" bujuk Hamdi agar kondisi Naura bisa ia ketahui.
Jujur saja Hamdi sangat curiga jika ada sesuatu yang Naura sembunyikan darinya. Terlepas dari kejadian buruk yang menimpanya saat ini.
"apa ada yang kau tutupi dariku Ra?" tanya Hamdi yang tentu saja membuat Naura gelagapan..
Belum sempat Naura menjawab, supir suruhan Ayah Naura bahkan bersikap dingin dan ketus, meminta Naura untuk segara masuk ke dalam mobilnya.
"maaf tapi acaranya sudah dimulai dan saya rasa nada akan ada dalam masalah" ucap Supir tersebut yang tentu saja membuat Hamdi keheranan.
"Ya sudah buka pintunya saja Pak, biar saya antarkan dan tunggu Naura di dalam mobil yang terparkir di halaman rumah nanti saja" usul Hamdi yang masih saja mendapatkan tolakan dari negosiasinya.
"maaf pak acara ini cukup sakral dan tak ada siapapun yang boleh ikut masalah ini walaupun dalam radius enam kilo meter. Ini saya hanya di suruh eh ayahnya nona dan Anda tak di perkenankan untuk ke sana"
.Hamdi tahu bahwa ia hanya berasal dari keluarga tak mampu, dan tak selevel dengan keluarga besar ayah mertuanya seperti apa yang dikatakan Naura..
Tapi apa salahnya jika ia memata matai Naura saat pergi menuju rumahnya untuk tahu apa yang sebenarnya akan terjadi dan apa yang ia lakukan di rumah orang tuanya seperti ini.
Hamdi menggendong kembali tubuh Naura dan membaringkannya di jok belakang agar wanita itu berbaring dengan nyaman .
"Tolong jaga dia ya Pak" ucap Hamdi pelan dengan rasa bersalah yang memuncak.
...
Hingga saat mobil itu pergi cukup lama dari pandangan mata. Hamdi sengaja mengikutinya dari belakang, agar tahu dimana letak Naura setelah mendapatkan izin untuk pergi kerumah sang ayah. sebab Hamdi masih tak menyangka jika darah yang merembes dari sela sela paha Naura merupakan darah haid biasa.
__ADS_1
Mobil melaju dengan cepat membelah kesunyian malam. Hingga saat mobil di depan mobil Hamdi masuk ke sela pekarangan. Hamdi sengaja mematikan mobil dan menatap mobil gadis itu masuk ke dalam rumah mewah tersebut. sampai tak lama kemudian terlihat seorang dokter berjalan melewatinya.
"dokter?" gumam Hamdi pelan tentu saja dengan heran..