Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Lemah


__ADS_3

Tujuh hari berlalu. Kini acara pengajian terakhir nikita sudah.dilaksanakan dengan khidmat dan lancar. Hamdi yang selama tujuh hari ini menginap di kediaman Zidan hanya diam tak banyak bicara pada semua orang, termasuk pada Siska dan Ibu Widya.


Seluruh orang di rumah Zidan sangat paham dan memaklumi keadaan Hamdi yang saat ini masih terpukul oleh kematian Nikita yang secara mendadak itu. Hingga mereka pun tak banyak menegur tingkah Hamdi yang diam.


Pagi ini Hamdi sudah siap dengan kopernya yang belum sempat ia simpan di rumahnya sendiri. Dan kini ia sudah siap untuk pulang kerumahnya sendiri dan beraktvitas kembali seperti sedia kala. Wajahnya yang masih pucat dan lesu nampak jelas terlihat oleh Siska yang baru saja selesai berkutat di dapur bersama Nayla.


"Kamu mau kemana?" tanya Siska pada Hamdi yang sedang berdiri didekat sofa ruang tamu.


"Ah, aku rasa aku harus pulang Siska. Ini sudah terlalu lama aku tinggal disini, apalagi mengingat kita yang masih belum resmi menikah. Aku takut orang orang akan berpikiran buruk tentang keluargamu yang membiarkan seorang lelaki asing tinggal di rumah kalian"


"Untuk itu segera nikahi Siska Ham" ucap Zidan yang baru saja sampai di ruang tamu.


"Aku memang mencintai Siska Dan. Dan sangat mencintainya. Namun, hatiku masih belum yakin mengenai sebuah ikatan suci"


Siska terdiam, ia menatap Hamdi tak percaya. Apa yang sebenarnya ia maksud.

__ADS_1


"Maksudmu apa ? Apa kau hanya mempermainkanku?" tanya Siska dengan suara yang bergetar.


Hamdi mengehela nafas.


"Jika aku hanya mempermainkanmu aku takan melakukan semuanya untukmu. Aku takan pernah meminta sahabatku untuk membantu keinginanku"


"Oh, jadi kau tak ikhlas melakukan semuanya untukku? Baiklah. Berapa yang harus ku bayar atas semua jasamu?" Siska yang mulai emosi tak bisa mengendalikan ucapannya.


"Nyawa Nikita tak bisa kau bayar Siska. Aku hanya mengatakan aku belum siap. Dan itu bukan berarti aku mempermainkan dirimu. Apalagi mempermainkan perasaanmu paham"


"Kau tahan sedikit emosimu" ucap Zidan pada Hamdi.


Hamdi menoleh dan kemudian berpamitan untuk pergi.


"Aku akan pulang dulu Dan. Terimakasih banyak atas semua yang kalian berikan padaku. Terimakasih juga karena sudah mengadakan acara pengajian untuk Nikita. Aku pamit" Hamdi mendorong kopernya menuju luar pintu.

__ADS_1


Siska hanya bisa diam lalu pergi berlari menuju kamarnya dilantai atas dan menutupnya dengan sangat kencang.


Nayla menatap Zidan, tapi pria itu hanya tersenyum seraya menganggukan kepala. Zidan memberikan isyarat pada Nayla bahwa semuanya akan baik baik saja.


"Mereka..."


"Meraka akan baik baik saja sayang, tenang saja" Zidan segera memegang tangan Nayla dan menuntunnya kearah dapur.


******


Kamar yang sangat gelap, serta semua benda yang rapih tersusun dikamar Hamdi membuatnya menatap sekeliling dengan rasa hampa. Ia memang sudah mengikhlaska Nikita, namun ia masih sangat kesal dengan sikap Siska yang cepat salah paham dengan ucapannya.


Hamdi merasa bahwa ia belum siap menikahi Siska karena kemarin saja ia gagal menjaga Nikita, padahal sudah jelas Nikita adalah wanita kuat dan ahli dalam bela diri. Begitu lemah dirasa dirinya oleh Hamdi. Ia bahkan tak bisa menjaga sahabatnya tersebut.


Ia benar benar mencintai Siska, namun ua ragu dengan dirinya sendiri yang bisa melindungi Siska yang begitu banyak diincar oleh semua orang yang menginginkannya. Terlebih lagi kejadian kado misterius dulu mampu membuat Hamdi ketakutan kehilangan Siska dan bayinya.

__ADS_1


"Andaikan kau tahu aku sangat lemah dalam menjaga seseorang, Aku hanya pria lemah yang tak bisa menjaga siapapun. Aku ini pengecut Siska!" Hamdi berteriak dengan sangat keras dan membantingkan kopernya yang berisikan pakaian hingga patah.


__ADS_2