
Awan mulai menghitam dan hujan mulai turun dengan deras. Angin menerpa wajah Nayla yang kini sedang menatap sendu Zidan yang saat ini diobati oleh dokter akibat luka tusukan yang ia derita di bagian kaki.
"Sudah selesai tuan. Saya harap anda jangan dulu terlalu banyak bergerak dan diusahakan untuk tidak mengangkat beban berat terlebih dahulu"
"Memangnya ada pengaruhnya?" tanya Zidan penasaran.
"Luka yang anda derita cukup dalam tuan, hingga kemungkinan akan ada efek sakit ataupun ngilu yang anda rasakan nanti jika terlalu banyak melakukan aktivitas. Mungkin saat ini anda tak merasakan luka yang anda derita begitu sakit, namun tak menutup kemungkinan jika nanti rasa sakitnya akan bertambah. Dan jika pun anda terlalu banyak melakukan gerakan pada kaki, maka lukanya akan kembali robek dan terbuka"
Zidan hanya mengangguk mendengarkan perkataan yang dokter ucapakan padanya. Lain halnya dengan Nayla yang terlihat melamun sembari mengeluarkan air mata.
"Saya permisi dulu" ucap dokter seraya mulai pergi meninggalkan Nayla dan Zidan berdua didalam ruangan.
"Kamu kenapa Nay? aku tak papa kok. Kamu tak perlu menangis" Zidan menghapus air mata yang mengalir dipipi Nayla dengan lembut.
"Aku adalah wanita tak berguna mas. Kau terluka karena aku terlalu lambat keluar dari jendela. Dan saat ini kita tak tahu bagaimana kondisi Nikita" Nayla mulai menangis dengan kencang dipelukan Zidan.
" kita tak bisa masuk kedalam ruangan itu saat ini Nay. Kita tak bisa melihat Nikita yang saat ini tengah berada diantara hidup atau mati. Ayo kita pergi kemushola dan berdoa agar Nikita dan Hamdi cepat pulih"
Nayla menganggukan kepala dan mulai menuntun Zidan menuju mushola didalam rumah sakit. Para polisi yang berada dilorong rumah sakit segera berjalan mendekati Nayla dan Zidan yang akan pergi.
"Tunggu !" teriak salah satu petugas.
Nayla dan Zidan secara bersamaan menoleh kearah sumber suara.
"Tuan dan nyonya tak bisa pergi kemana mana untuk sementara waktu. Kami akan memberikan beberapa pertanyaan kepada kalian untuk data yang saat ini kami kumpulkan mengenai kasus yang menimpa sodara Frans beserta ayahnya"
"Kami hanya akan melakukan sholat pak. Apakah kami salah?"
"Maaf kami hanya ingin bertanya mengenai masalah yang saat ini sedang terjadi"
"Bapak bapak yang saya hormati. Saya dan istri saya hanya ingin melaksanakan ibadah di mushola dan meminta kesembuhan untuk teman kami yang saat ini bertaruh nyawa antara hidup dan mati. Apakah kalian tak memiliki kewajiban pada tuhan sehingga lebih mementingkan kewajiban kalian pada manusia? saya nanti akan memberikan keterangan sejelas jelasnya, tanpa paksaan, tanpa kebohongan dan saya juga akan memastikan bahwa saya beserta istri saya takan melarikan diri kemanapun. Paham"
Seketika ruangan itu menjadi hening. Nayla mengusap pelan pundak sang suami agar Zidan lebih sedikit tenang dan sabar.
"Sabar mas. Mereka hanya menjalankan tugasnya"
__ADS_1
"Maafkan saya pak. Saya salah karena terlalu terbawa suasana. Kami hanya ingin sembahyang dimushola itu saja" terang Zidan seraya mulai mengusap wajahnya.
Polisi pun tersenyum dan mempersilahkan Nayla dan Zidan untuk pergi. Tak lupa mereka pun ikut pergi menuju mushola dan melaksanakan sholat magrib secara berjamaah.
Malam kian larut. Kini Nayla dan Zidan sedang menunggu Hamdi diruangan rawat inap. Setelah operasi pengangkatan peluru dipunggung Hamdi berjalan dengan lancar, Hamdi yang masih belum sadar sampai kini tak tahu bahwa Nikita sedang koma.
Nayla tak henti hentinya berdoa pada Allah agar Nikita dan Hamdi bisa segera pulih. Terutama Nikita yang sampai saat ini masih belum sadar dari koma dan kondisi kesehatannya kian menurun.
"Apakah Nikita akan selamat mas?" tanya Nayla dengan mata yang sembab.
"Aku tak tahu Nay. Yang penting saat ini kita terus saja berdoa pada Allah supaya ia cepat melewati masa masa ini. Dia sudah berkorban demi misi yang kita lakukan selama ini. Bahkan ia yang bukan dari keluargaku dan merupakan orang asing yang baru saja kita kenal, rela mempertaruhkan nyawanya demi kita" Zidan yang mulai sedih hanya bisa mencoba sabar dengan penyesalan yang ia alami saat ini.
Setelah mereka memberikan beberapa keterangan pada kepolisian selepas sholat tadi, pihak kepolisian kini fokus pada introgasi terhadap Frans dan ayahnya. Tak lupa Andi yang ikut terseret dalam kasus pelecehan terhadap Siska yang saat ini juga sedang berada dikantor polisi.
"Kita akan memberikan keadilan untuk Siska, Hamdi dan juga Nikita Nay" ucap Zidan seraya mengelus pucuk kepala istrinya.
"Aku hanya ingin Nikita segera sadar dan bisa kembali bersama kita mas" lirih Nayla.
******
Suster dan dokter yang baru saja mengecek kondisi Hamdi berjalan mendekati Zidan dan Nayla untuk memberikan pernyataan mengenai kondisinya saat ini.
"Tuan Hamdi sudah menjalankan proses oprasi pengangkatan peluru dibagian punggungnya. Saat ini kondisi pasien berangsur membaik. Dan mungkin sebentar lagi pasien akan segera siuman"
"Syukur alhamdulillah dokter" ucap Nayla dengan senang.
Sesaat kemudian, seorang suster berjalan dengan tergesa gesa menuju arah dokter yang saat ini tengah berbicara dengan Nayla. Wajahnya nampak panik dengan nafas yang sedikit cepat.
"Dok...Dokter pasien atas nama Nyonya Nikita mengalami kejang dan saat ini denyut nadinya kian melemah!"
Nayla dan Zidan seketika terpaku mendengarkan ucapan suster yang telah memeriksa Nikita.
"Baiklah"
Tanpa banyak kata, dokter segera pergi berlalu dengan langkah ceoat menuju ruangaj tempat Nikita dirawat. Nayla dan Zidannyang ikut panik dengan segera membuntuti sang dokter namun ditahan untuk tetap berada diluar ruangan oleh salah seorang perawat.
__ADS_1
"Tuan dan nyonya bisa tunggu diluar. Kami akan melakukan penanganan untuk pasien. Diharapkan untuk tetap tenang dan berikan doa untuk pasien"
Perawat pun mulai berjalan masuk kedalam ruangan tersebut. Tangis Nayla pecah kala mengingat semua kebaikan yang Nikita lakukan untuknya selama berada dirumah Frans. Entah kenapa baru saja ia mengenal orang sebaik Nikita namun harus mengalami musibah sebesar ini.
"Nikita pasti baik baik saja kan mas?" ucap Nayla seraya memeluk Zidan dengab erat.
"Kita doakan saja supaya dia baik baik saja dan Allah segera menyembuhkan sakit yang ia derita saat ini" Zidan mencoba untuk tetap tegar agar Nayla tak semakin merasa sedih.
Kepanikan mulai terdengar didalam ruangan. Nayla dan Zidan berdoa dengan sedikit kencang dan tak henti hentinya berdzikir. Air matanya kian mengalir kala mendengar ucapan sang dokter mengenai langakh CPR yang mereka lakukan.
Dokter keluar dengan wajah yang Nayla dan Zidan pun tahu bahwa ia akan memberikan kabar buruk untuk mereka. Seakan detak jantungnya ikut terhenti, Nayla memegang erat tangan Zidan ketika dokter mengucapkan kata yang selama ini selalu ia tak sukai.
"Kami sudah melakukan yang terbaik, namun kehendak Allah pada pasien mungkin jauh lebih baik. Maaf Nyonya Nikita tak dapat kami selamatkan akibat pendarahan yang ia derita dari luka dikepala. Saya harap kalian bisa bersabar. Saya permisi"
Dokter tertunduk merasa sedih karena gagal menyelamatkan nyawa pasien. Sedangkan Nayla dan Zidan segera berlari masuk kedalam ruangan dan mematung melihat Nikita yang tertidur cantik diatas kasur dengan wajah yang pucat serta perban yang melilit bagian kepalanya.
Perlahan Nayla berjalan menghampirinya dan menatap wajah cantik Nikita yang terlihat pucat. Bibirnya yang begitu cerewet dengan lipstik merah yang biasa Nikita kenakan seakan luntur dengan warna merah asli bibir miliknya.
"Tanganmu mengapa dingin sekali Niki? apakah ruangan disini memakai AC?" tatapan polos dari Nayla begitu pilu terlihat oleh Zidan.
"Sudah Nay. Nikita sedang tidur. Kita tak boleh menganggu tidur cantiknya" Nafas Zidan begitu sesak kala melihat wajah Nikita yang kini memucat dihadapannya. Pengorbanan yang Nikita lakukan begitu besar demi keadilan untuk Siska.
"Niki sangat cantik ya mas. Ku harap dia bisa segera bangun dan memarahi Hamdi yang tak hati hati"
Bulir bening terus saja membanjiri pipi Nayla. Matanya yang sembab serta tatapannya yang kosong sangat menggambarkan bahwa saat ini ia tak ikhlas akan kepergian Nikita.
Perawat mulai melepaskan alat bantu bernafas yang terpasang dihidung Nikita serta melepaskan berbagai macam alat yang membantu Nikita bertahan hidup sedari tadi.
"Apa yang kalian lakukan hah! kalian ingin membunuh teman saya! pasang kembali alay itu!" Nayla seperti kesetanan, merebut serta memasang kembali alat yang para perawat lepaskan dari tubuh Nikita.
Zidan yang melihat istrinya melakukan hal tersebut segera memeluk dan mencekal dengan keras tangan Nayla agar tak menghalangi perawat melakukan tugasnya.
"Nikita sudah tiasa Nay. Kamu harus ikhlas"
"Tidak ! Nikita tak mungkin mati mas! dia adalah sahabatku. Aku tak rela jika ia harus pergi seperti Arumi!"
__ADS_1
Awan menghitam dan hujan turun dengan deras. Noda hitam yang Siska dapatkan dari mantan pacar serta teman temannya kini bisa tergantikan dengan keadilan yang ia dapatkan atas bantuan dari Nikita yang saat ini sudah tiada.