
Sesampainya dikediaman Atmaja, tanpa basa basi kini Zidan melangkahkan kaki dengan Nayla disampingnya.
"Bismillah" gumam Nayla dan Zidan bersamaan.
Ibu, Siska, Rio dan Anyelir yang mengikuti mereka dari belakang ikut berdoa dalam hati semoga saja kedepannya kehidupan keluarga mereka membaik dan jauh dari segala masalah.
"Nay, sekarang kamarmu ada disebalah sana" tunjuk ibu pada Nayla.
"Ba...baik bu"
Nayla dan Zidan beriringan masuk kedalam kamar Zidan yang sebelumnya sangat asing dikehidupannya.
Nayla berjalan memasuki kamar suaminya dengan hati yang berdegup kencang dan rasa gemetar yang menjalar diseluruh tubuhnya. Baru kali ini Nayla merasakan gugup yang sangat hebat padahal sebelumnya saat ia baru saja menikah dengan Bian tak ada gemuruh hebat didadanya kala bersama pria penghianat itu.
"Aku mau mandi dulu mas. Bisakah aku memakai kamar mandimu lebih dulu" ucap Nayla gemetar.
"Kurasa kau tak perlu meminta izin lagi dikamarku. Semua ruangan dirumah ini sekarang juga milikmu Nay. Hanya saja, kukira kau akan mandi bersamaku"
Perkataan Zidan sontak saja membuat Nayla merasa terkejut dan membulatkan mata dengan sempurna.
"Ak...aku mau mandi sendiri mas. Ak..aku..aku, tubuhku sudah lengket dengan keringat"
"Kalau badanmu lengket dengan keringat basuh saja dengan air di kamar mandi. Biarkan aku membantumu Nay. Kurasa kau tak bisa membersihkan tubuh bagian belakangmu"
Zidan mendekat kearah Nayla yang tengah berdiri dengan gemetar. Perlahan lahan, Zidan mulai mendekatkan tubuhnya ketubuh istrinya hingga membuat Nayla merasa terpojok dan terkantuk didinding ruangan.
Zidan mulai membuka satu persatu peniti dihijab yang Nayla kenakan dan mulai melepaskan kain hijab Nayla dengan perlahan.
Rambut indah milik Nayla kini terpampang jelas dihadapan Zidan. Membuat Zidan seketika terpana dengan kecantikan alami yang dimiliki Nayla.
Diciumnya kening Nayla dengan pelan dan mulai menghirup aroma rambutnya dalam dalam. Tangannya yang sekarang mulai membuka ikatan rambut Nayla, membuat Nayla seketika memejamkan mata dan merasakan sentuhan yang Zidan berikan untuknya.
Rambut indah Nayla kini terurai dihadapan Zidan. Pria itu kini menatap wajah Nayla dengan kagum dan mulai mengelus lembut pipi Nayla yang sejak tadi memejamkan mata.
Hingga saat bibir Nayla yang begitu menggiurkan bagi Zidan akan dilahap olehnya, ketukan didepan pintu kamarnya seketika membuat keduanya terkejut dan menghentikan aktivitas yang baru saja akan mereka lakukan sebagai pasangan suami istri.
Toktoktok
"Mas sudah magrib. Cepat shalat dulu dan turun kebawah untuk makan malam bersama kami. Janga lupa ajak Mbak Nayla" teriak Siska dengan keras.
__ADS_1
"Iya, iya bentar mas mau ganti baju dulu"
Nayla tersenyum melihat kekesalan yang terpancar diwajah suaminya kini.
"mengganggu saja" umpat Zidan kesal.
Zidan segera mengambil handuk dilemari dan memberikannya pada Nayla.
"Sekarang kamu mandi dulu Nay sekalian wudhu. Kita akan shalat berjamaah disini. Ini adalah sahalat berjamaah yang pertama kita lakukan setelah sah menjadi suami istri. Dan jangan lupa gunakan gamis dulu untuk kita makan malam dibawah. Nanti sesudah makan malam kita harus cepat kesini lagi dan lakukan aktivitas yang tadi tertunda"
Tanpa basa basi Zidan mengucapkan semua perkataan itu yang membuat Nayla langsung bergidik ngeri dengan nafsu suaminya tersebut.
Dengan wajah yang cemas, Nayla segera masuk kedalam kamar mandi dengan Zidan yang tertawa dibelakangnya.
"Nayla, Nayla. Kau begitu takut ku makan"
Malam telah tiba, Anyelir, Rio, Zidan dan Nayla kini tengah berada diatas meja makan menunggu masakan yang spesial dibuatkan oleh Ibu Widya dan Siska didapur.
Mereka bercanda gurau dimeja makan dan larut dalam suasana bahagia. Hingga saat hidangan makan malam telah datang, Anyelir dan Nayla dengan sigap membantu Siska dan ibu yang nampak kewalahan.
Anyelir dan Nayla bukannya tak mau membantu, namun saat mereka menawarkan bantuan justru ibu dan Siska menolak halus niat mereka dan mengatakan bahwa Anyelir dan Nayla adalah tamu serta menantu yang harus disambut dengan baik.
Denting sendok dan piring beradu, menjadi irama yang terdengar nyaring ditelinga. Mereka larut dalam suasana yang indah malam ini serta dengan hidangan yang lezat tersedia.
Saat semua makanan tandas habis. Mereka larut dalam canda tawa dan obrolan bersama.
"Pengantin baru makannya banyak amat. Siap. siap untuk tempur ya" ejek Anyelir pada Zidan.
"Ya iyalah makannya banyak. Toh nanti energinya terkuras habis, ya kan Nay" sahut Ibu dengan mengedipkan mata.
Nayla yang merasa malu hanya bisa terdiam dan tertunduk tak berani menatap sekitar. Zidan yang paham dengan rasa malu yang Nayla alami kini semakin menjadi memecah tawa dianatara semua.
"Sudah, sudah jangan buat istriku merasa malu dan takut padaku. Sekarang hari bahagia kami, jadi jangan buat aku dan Nayla tak saling sapa karena dia malu padaku"
Rio menggelengkan kepala mendengarkan perkataan istrinya, Ibu Widya dan Zidan yang tentunya membuat ia ikut bahagia.
Makan malam berjalan dengan penuh kecerian diantara mereka. Hingga saatnya waktu sudah menujukan pukul delapan malam, Anyelir, Rio, ibu dan Siska pergi menuju kamarnya masing masing.
Nayla dan Zidan saling pandang menatap malu malu satu sama lain. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk masuk kedalam kamar dengan degup jantung yang kian kencang.
__ADS_1
"Sekarang kita shalat isya dulu berjamaah Nay. Habis itu kita shalat sunat dua rakaat"
Nayla menganggukan kepala tanda mengerti. Sebelumnya memang ia juga pernah melakukan shalat sunat bersama Bian namun saat itu ialah yang mengajarkannya pada Bian.
Kali ini Nayla tersenyum kagum pada Zidan yang berusaha keras belajar menjadi imam yang baik sehingga in sya allah bisa membimbingnya menuju jalan yang benar.
Kedua insan itu kini tengah melaksanakan shlat isya berjamaah kemudian shalat sunat pengantin dua rakaat. Hingga diakhiri dengan doa yang dibacakan Zidan.
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺳْﺄَﻟُﻚَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ، ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﻣَﺎ ﺟَﺒَﻠْﺘَﻬَﺎﻋَﻠَﻴْﻪِ ، ﻭَﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّﻫَﺎ ﻭَﺷَﺮِّ ﻣَﺎ ﺟَﺒَﻠْﺘَﻬَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya (istri) dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan padanya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan apa yang Engkau ciptakan padanya.”***
Nayla menatap lekat bola mata pria dihadapannya. Perlahan lahan Zidan membuka mukena yang terpasang rapih dibadan istrinya dan mulai menganggkat tubuh Nayla keatas ranjang tempat peraduan yang selama ini ia nantikan. Degup jantung Nayla tak karuan kara Zidan mulai membelai lembut pipinya.
Baju tidur yang dipakai Nayla kini perlahan lahan tanggal dari tempatnya. Zidan mengecup kening istrinya dan Nayla mulai memejamkan mata menik**mati setiap sentuhan yang diberikan suaminya tersebut.
Deru nafas yang kian membara terdengar begitu menggebu keluar dari Nayla dan Zidan yang tengah dimabuk api asmara. Sesekali Nayla mele**nguh dengan perlakuan yang Zidan berikan untuknya. Hingga saat Zidan bersiap membuka pakaian yang ia kenakan, ketukan pintu diluar kamarnya terdengar begitu kencang.
"Mas buka, Mas!" teriak Siska kencang.
Dengan terburu buru Nayla kini menggunakab baju yang ia gunakan dan kembali memakai hijabnya dengan asal.
Zidan menghembuskan nafas dengan kasar dan mulai berjalan gontai kearah pintu.
"Ada apa Sis, malam malam teriak teriak?" ketus Zidan.
Siska yang melihat wajah Zidan memerah dengan beberapa noda merah juga dibagian lehernya tertawa terbahak bahak.
"Maaf mas aku ganggu ya? ini mas minuman dari ibu. Katanya kasih ke mas biar bisa tahan sampai pagi"
Zidan menatap gelas yang berada ditangan Siska kemudian meneguknya sampai tandas. Pait dan manis menjadi satu. Jamu yang ia minum pasti akan membuatnya tak merasakan lelah sedikitpun.
"Tolong bilang sama ibu terimakasih banyak. Ya sudah sana pergi, dan jangan ketuk lagi pintu ini sebelum pagi. Ingat! sebelum pagi!"
Siska tertawa dan mulai pergi meninggalkan kakaknya yang terlihat kesal.
Hingga saat Zidan mulai menutup serta mengunci kembali pintunya, ia melihat Nayla yang berpura pura tidur dengan selimbut menutupi seluruh badan serta kepalanya.
Dengan perlahan Zidan mulai membuka selimbut yang istrinya kenakan dan melu**at habis bibir istrinya yang begitu menggiurkan.
__ADS_1
Mata Nayla seketika terbuka karena serangan tiba tiba yang Zidan lakukan. Deru nafas kembali begitu panas antara Zidan dan Nayla beriringan dengan gerakan Zidan yang semakin liar pada Nayla.