Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Respon tak baik


__ADS_3

Bian saat ini merasakan sakit yang luar biasa didalam hatinya. Tak dapat dipungkiri bahwa hatinya saat ini tengah terbakar api cemburu karena Nayla yang sebentar lagi menjadi istri kakak sepupunya sendiri.


Berapa kali ia menyia nyiakan Nayla, membuat hatinya hancur karena perselingkuhannya dengan Clara, serta membuat Nayla kembali hancur ketika mendengar bahwa Arumilah yang selama ini ia cintai.


Penyesalan takan pernah berarti apa apa dihidupnya. Yang jelas semua kekecewaan serta amarah pada dirinya sendiri kini membara.


Pukulan keras ia layangkan kedinding sel tahanan, membuat seisi sel terganggung dan mulai memberikannya peringatan keras.


"Jika kau tak berhenti melakukan itu, maka kami sendiri yang akan memukul badanmu sampai kau lemah!"


Bian menatap tajam kearah pria bertumbuh gempal didepannya. Selama ini ia memang tak pernah aku dengan siapapun didalam sel tahanan. Hari harinya ia lewati dengan menyendiri dan diam tanpa mau berbicara pada siapapun termasuk penjaga sel.


"Pukul saja badanku ini! seberapa banyak pukulan yang kau berikan takan mampu membuat tubuhku merasakan sakit" jawab Bian penuh penekanan.


Rasa sakit didalam hatinya serta penyesalan yang mendalam telah mengubah tubuhnya menjadi kebal dengan rasa sakit. Bukan ia menjadi manusia yang lemah karena hati, namun amarahnya telah mengubah dirinya sendiri menjadi seorang manusia yang tak mengerti apa itu luka sesungguhnya.


"Ternyata kau punya nyali juga ya!"


Tanpa aba aba, beberapa pria kini mulai menendang serta memukul Bian diseluruh tubuhnya dengan keras. Darah yang keluar dari mulut serta hidungnya membuat Bian tertawa dengan semua sakit yang ia terima saat ini.


Penjaga sel yang mendengar keributan segera datang dan mencoba melerai Bian dari amukan tahanan lainnya. Darah yang keluar dari ujung bibirnya hanya diusap kasar oleh Bian.


"Jika kalian melakukan keributan lagi, aku akan mengadukan ini pada komandan dan kalian akan mendapatkan hukuman lagi, paham!"


Pria pria bertubuh kekar kini menatap Bian dengan nyalang. Tak sedikitpun mereka merasa iba dengan kondisi Bian yang banyak mengeluarkan darah dari mulutnya.


*******


Siang berganti sore, kini Zidan memacu mobilnya menuju panti asuhan bersama Siska yang menemaninya untuk bertemu dengan Nayla.


"Mas sudah bicara sama Mas Bian?" tanya Siska tiba tiba.


"Sudah Sis"


"Lalu bagaimana responnya ketika mendengar mas akan menikahi Mbak Nayla?"


"Kau pasti sidah dapat menebaknya kan. Tanpa rasa malu, ia malah meremehkan Nayla dan juga tak merasa menyesal sedikitpun"

__ADS_1


Siska menghela nafas mendengar penuturan Zidan. Ia tahu bahwa Bian adalah pria yang berwatak keras kepala seperti ayahnya dan yang tentunya Bian adalah pria yang tidak punya rasa bersalah sedikitpun. Bagi Bian, apapun yang ia lakukan adalah benar dan tak ada siapapun yang mampu mengubah sifat buruknya tersebut.


"Kalau begitu biarkan saja dia mas, toh dia kini sudah menerima karmanya pada Mbak Nayla. Biarkan saja dia membusuk dipenjara. Aku juga sudah muak dengan sikapnya yang tak sadar diri"


"Kau tak boleh berkata seperti itu Siska. Bagaimanapun dia adalah kakak kandungmu. Dia dulu juga pernah membela serta menjagamu sewaktu kamu kecil. Bahkan Bian rela dipanggil disekolah hanya untuk menghajar anak anak yang mengganggumu Sis"


Siska menundukan kepala merenungkan perkataan dari Zidan.


Tak lama keduanya sampai di halaman panti asuhan. Terlihat Nayla dan Ibu Aisyah sedang duduk mengawasi anak anak yang sedang bermain dihalaman panti.


"Assalamualaikum bu"


Siska dan Zidan berjalan kearah ibu dan Nayla. Keduanya mencium punggung tangan Ibu Aisyah dengan takzim.


"Waalaikumsalam nak. Gimana kabarmu baik?" tanya ibu kepada Siska.


"Alhamdulillah bu baik"


Nayla tersenyum dan mulai memeluk Siska.


"Bu saya mau biacara sebentar"


Nayla, Zidan, Siska dan Ibu Aisyah berjalan kedalam rumah. Siska dan Zidan kemudian duduk dikursi sedangkan Nayla berjalan kearah dapur dan mulai menyeduh teh manis.


"Jadi begini bu, saya sudah membiacarakan dangan keluarga saya perihal lamaran untuk Nayla. Dan sepertinya acara lamaran nanti akan dipercepat"


"Kalau begitu bagus nak. Sepertinya memang harus cepat agar tak timbul fitnah dari orang orang untuk kalian, serta biar nak Zidan tak selalu memikirkan Nayla"


Ibu Aisyah tersenyum melihat kegugupan pada diri Zidan. Baginya lamaran yang merupakan niat baik Zidan memang harus segera dilaksanakan. Terlebih lagi Zidan dan Nayla sering pergi berdua walaupun hanya untuk mengantar bekerja ataupun pergi saja yang namanya laki laki dan perempuan memang tak boleh terlalu sering berduaan.


Nayla yang sedang memegang gelas ditangannya langsung menaruh satu persatu dihadapan Zidan, Siska dan Ibu Aisyah.


"Jadi bagaimana pendapatmu Nay. Kata nak Zidan lamarannya akan segera dilaksanakan"


"Kalu Nay, nurut sama ibu saja, nurut apa kata baiknya" jawab Nayla malu malu.


"Ya sudah bu, mungkin lusa saya akan kesini bersama ibu dan Siska. Kami akan mempersiapkan dulu semuanya dengan matang dan kami akan segera datang lagi kemari"

__ADS_1


Senyum mengembang dibibir Nayla dan Ibu Aisyah. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika Zidan adalah pria yang akan meminang Nayla setelah kegagalan rumah tangganya dengan Bian.


"Bu saya pamit pulang dulu ya, kandungan Siska sudah semakin besar. Saya takut jika nanti terlalu lama diluar apalagi kalau pulang malam"


"Ya sudah kalo begitu. Hati hati di jalan ya nak"


Siska dan Zidan akhirnya pegi menuju mobil merah miliknya.


Malam ini begitu dingin. Tak terasa air mata Zidan mengalir kala dirinya bersimpuh dihadapan sang pemilik alam. Ucapan syukur tak henti hentinya keluar dari mulut Zidan.


Kehidupannya yang kian hari kian membaik dan membawa kebahagiaan dikehidupannya kini, membuat Zidan merasa begitu bersyukur pada Allah.


Doanya kali ini hanya ingin menjadi manusia yang lebih dekat lagi dengan Allah serta terhindar dari hal hal buruk yang akan merusak hidupnya lagi. Ia sadar bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari dosa serta kesalahan yang kapan saja bisa ia buat. Namun jauh dilubuk hatinya ia memiliki keinginan agar senantiasa istiqomah dijalan yang baik dan dijauhkan dari segala dosa besar yang kemungkinan terjadi lagi dihidupnya.


Malam ini ia bahkan tak dapat tidur dengan nyenyak sebab memikirkan bagaimana kehidupannya setelah menikah dengan Nayla. Ada perasaan takut jika hal buruk menimpanya kembali. Namun pikiran itu ditepisnya dengan cepat dan mulai memikirkan hal hal yang baik saja.


Ponsel yang sedari tadi disimpan diatas laci, sekarang berada digenggamannya. Diketiknya nomor telpon seorang pria paruh baya yang selama ini ia panggil dengan sebutan ayah dan mulai mencoba menghubunginya. Saat panggilan itu sudah tersambung, dengan cepat Zidan menarik nafasnya dan mulai mengatakan semua niat baiknya untuk meminta doa restu.


"Apa kau sudah gila Zidan! menikahi wanita yang jelas jelas bekas adikmu sendiri!" bentak ayah disebrang telpon sana.


"Dia bukan barang yang bisa seenaknya ayah bilang bekas. Nayla jauh lebih baik dibandingkan anakmu sendiri. Maaf jika aku lancang, tapi kau sama saja dengan anakmu yang merupakan narapidana itu. Tak punya etika dan tak bisa menghargai seseorang"


"Lancang sekali kamu! akan ku pastikan wanita itu memang tak pantas dimiliki siapapun. Dia hanya pembawa sial!"


"Maaf sekali lagi jika aku lancang. Nayla bukanlah pembawa sial, tapi prilakumu dan Bian lah yang sudah membuat hidup kalian menjadi sial! ini mungkin teguran dari Allah atas semua kebej**atan yang kalian lakukan. Seharusnya ayah memperbaiki diri atau intropeksi diri, bukan malah mengatai Nayla seperti itu. Aku hanya ingin meminta doa restu dari ayah bukannya meminta pendapat ataupun melakukan perdebatan. Maaf jika aku sudah menganggumu. Wassalamualaikum"


Panggilan diputus dengan kasar oleh Zidan. Gemuruh dihatinya tak dapat tertahan kala mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut pria yang ia panggil dengan sebutan ayah. Jika saja bukan karena kasihan pada ibu dan Siska, sudah ia pastikan adik dari ayahnya itu hidup dijalanan dan tak memiliki harta apapun dari mendiang ayahnya.


ucapan Istigfar hanya bisa ia lakukan agar hatinya kembali merasa tenang. Direncanakannya kembali acara lamaran Nayla dengan baik dan mulai menghubungi berbagai jasa untuk menyediakan jamuan serta pembuat pakaian yang indah untuk nanti ia pakai dan Nayla. Lain halnya dengan Nayla yang saat ini tengah memandang fotonya dengan Arumi didalam kamar yang selama ini mereka tempati berdua.


Ada perasaan sedih bercampur bahagia dihatinya kini. Tak pernah sedikitpun ia berniat menjadi calon istri dari orang yang paling dicintai sahabat baiknya dulu. Sedih dirasa Nayla kala mengingat kematian yang tragis menimpa Arumi. Mungkin jika Arumi masih hidup, ia juga akan bisa bahagia melihat Arumi bersanding dengan pria sebaik Zidan. Bagaimanapun Nayla juga sadar bahwa Arumi memiliki sebagian hati Zidan yang tak mungkin ia bisa gantikan, karena ia sadar bahwa dia dan Arumi sama sama memiliki tempat masing masing dihati Zidan. Rasa cintanya pada Zidan tak menutup kesedihannya mengenai kasus kematian Arumi. Bagi Nayla Arumi jauh lebih penting dari apapun termasuk lebih penting daripada Zidan yang jelas jelas merupakan orang asing.


**


Hari ini adalah hari bahagia yang telah dinantikan Zidan dan Nayla selama dua hari ini. Jas berwarna hitam sudah terpakai rapih ditubuh Zidan yang tinggi dengan dasi kupu kupu yang terpasang dilehernya. Acara lamaran kali ini, digelar sederhana dipanti asuhan dengan dekorasi yang telah dibuat oleh jasa yang Zidan sewa.


Ibu dan Siska yang sudah rapih menggunakan pakaian senada berdiri disamping Zidan dengan Hamdi yang juga terlihat gagah memakai kemeja berwarna biru.

__ADS_1


"Bismillah" gumam Zidan pelan.


__ADS_2