Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Berusaha


__ADS_3

Edgar sangat prihatin ketika melihat Santi di tarik paksa oleh seorang laki-laki yang mungkin saja itu adalah suaminya Santi.


Edgar dengan pandai nya ia mencari tahu lewat Rara, ibunya Santi.


"Oh iya, Buk. Kenapa Santi bertahan di rumah tangganya yang bisa di bilang tidak harmonis lagi," tanya Edgar penuh rasa penasaran.


Dengan lantangnya Rara menjelaskan semuanya.


Edgar sangat senang dengan penuturan Rara yang polos dan menganggap Edgar adalah teman baik putrinya.


"Ya sudah nak Edgar biar di temani Mila saja ya! Ibu mau masak di dapur, nanti kita makan bareng." Ucap Rara meninggalkan Edgar di ruang tamu sendirian.


"Mila kamu temenin Edgar dulu ya, ibu mau masak sebentar!"


Mila hanya mengangguk, dan segera duduk di kursi ruang tamu menemani Edgar.


"Mil. Menurut lo gue cocok ngga sih sama Santi?" Tuturnya dengan percaya diri.


Mila merasa heran dengan sikap Edgar yang terburu-buru.


"Maksud lo apaan sih Gar, lo tau sendiri kan kalau Santi udah punya suami dan anak!" Jawabnya masih terheran dengan pertanyaan konyol itu.


"Ya, itu maksud gue Mil, kalau cocok gue mau berusaha semaksimal mungkin."


"Sutt ahh. Nanti ibunya denger! Mendingan lo sama gue aja kali," ucap Mila menggoda dan hanya bercanda saja.


"Gue kan udah lama suka sama si Santinya,"


"Ayok nak kita makan bareng!"


Ucap Rara menyela pembicaraan mereka.


Edgar dan Mila saling menatap kemudian mereka tertawa dan segera menghampiri Rara yang telah menunggu di meja makan.


Berbagai menu telah tersedia disana.


"Cepat banget ibu masak sebanyak ini?" Kata Edgar dan matanya berkeliling melihat berbagai menu di meja.


"Iya kan ibu super mom!" Ucap ibu yang garing tapi membuat suasana menjadi riang.


Mereka dengan lahapnya menyantap makanan itu, tanpa ada rasa sungkan.


****


"Ya Allah. Apa yang harus hamba-Mu ini lakukan. Hamba tidak tahu apakah mas Agus masih sayang atau tidak, apakah rumah tangga ini harus berakhir atau harus di pertahankan?"


Pikir Santi dalam lamunannya, di temani suara hujan yang sangat deras, tak terasa air matanya menetes begitu saja.


"Kamu kenapa menangis?"

__ADS_1


Tanya Agus mengagetkan Santi yang sedang melamun melihat ke arah jendelanya.


"Mas kok kamu gak ketuk pintu dulu,"


Santi segera bangkit dari kursinya dan dengan refleks tangannya langsung menyeka air matanya juga.


"Aku tanya! Kenapa kamu menangis?" Bentak Agus.


"Tidak mas, aku tidak sengaja duduk disini dan melamun." Tutur Santi dengan wajah yang langsung di tundukkannya.


Agus menghela nafas panjang dan duduk di kasur.


"Maaf mas?"


Santi kebingungan kenapa suaminya tiba-tiba datang.


"Aku tuh kurang perhatian bagaimana lagi sih sama kamu? Kok kamu tega-teganya makan bareng dan janjian bersama laki-laki lain. Di hadapan aku pula!" Ucapnya penuh kelembutan.


Dengan harapan Santi akan mengemis cinta darinya.


"Makan yuk mas, aku laper!"


Santi mencoba mengalihkan pembicaraan.


Di meja makan ada Zihan yang lagi menyantap mskanan buatan mama mertuanya.


"Santi. Ngapain kamu makan disini? Bukannya kamu sudah ada pacar baru?" Suara mama datang dari belakang Santi.


"Masakan mama enak juga! Kalau begitu tiap hari mama saja yang masak, lagian aku setiap bulannya selalu menyetok bahan makanan."


"Mentang-mentang kamu yang urusin masalah dapur, kamu seenaknya ngatur mama seperti itu?" Ucap mama kesal.


"Iya nih. Seenaknya saja kalau ngomong," balas Zihan.


Santi terus fokus pada makannannya, Dengan lahapnya ia makan menggunakan tangannya.


Kemudian Santi bangkit dan segera mencuci piring bekas dia makan tadi.


Dengan tenang dia mengajak mama mertuanya duduk di sampingnya.


"Ma, Santi salah apa sama mama dan yang lainnya? Dulu Santi di lamar dan sampai menikah itu bukan atas permintaan Santi sendiri. Kemudian Santi di bawa ke keluarga ini, tapi mama kenapa mempermasalahkan status Santi yang tidak berpendidikan sedangkan sebelum menikah mama sudah tahu itu semua, tahu keadaan Santi yang sebenarnya. Kenapa tidak bilang saja dari sebelum kami menikah? Kenapa mama dan mas Agus menyakitiku?


Apa salah aku yang sebenarnya?"


Ucap Santi penuh haru.


Tak ada jawaban dari mama atau pun Agus.


"Ya sudahlah, tidak usah di bahas lagi percuma. Toh Santi disini juga ikut bantu dalam masalah keuangan tapi itu tidak masalah. Santi hanya butuh keadilan!"

__ADS_1


Dan Santipun pergi menuju kamarnya.


"Maafin aku ya mas, ma! Mungkin ini semua gara-gara Zihan, tapi keadaan sudah seperti ini ya mau bagaimana lagi selain kita introspeksi diri masing-masing,"


Zihan pun meninggalkan mama dan Agus.


Mama tidak bicara apapun begitu juga dengan Agus. Mereka juga bingung kenapa mereka tidak bisa bersikap baik pada Santi. Kenapa mereka selalu menghakimi sendiri dalam hal apapun itu.


"Ma, sudahlah jangan terlalu banyak pikiran!"


"Bodo amat lah gue emang sudah eneg duluan sama mantu yang satu itu!" Bisik mama dalam hatinya.


Kebencian yang tak tahu apa alasannya, hanya memojokkan masalah pendidikan.


Santi teringat dengan istrinya Jaya yang sempat salah sangka padanya.


"Aku harus bertemu dia! Tapi kalau aku ceritakan yang sebenarnya nanti takut malah dia mengincar Dila lagi, huh bagaimana ini?" Ucapnya sambil mondar-mandir di kamarnya sendirian.


Kemudian Santi siap-siap mau main kerumah ibunya bareng El juga.


Setelah pamitan pada Agus, Santi langsung menuju parkiran memakirkan motornya dan segera pergi menuju rumah ibunya.


Edgar yang sudah terlalu lama main di rumah Rara berpamitan untuk pulang.


"Buk. Edgar pamit dulu ya, Mil sampai ketemu di lain waktu ya!"


Ucap setelah menyalami mereka dan berlalu menggunakan mobil merah mewah kebanggaannya.


Tak lama dari kepulangan Edgar, Rara dan Mila kembali mendengar ketukan pintu yang membuat mereka saling menatap dan menghela nafas kencang barengan kemudian di ikuti tawa kecil dengan mata yang membulat dan kedua tangannya menutup mulut masing-masing.


"Tidak apa-apa biar ibu saja yang buka pintunya,"


"Mila saja buk!"


kemudian Mila berjalan dari dapur ke arah pintu depan.


"Ya!" Ucap Mila sambil membukakan pintunya.


"Eh ada El ganteng," Mila langsung meraih El dan menggendongnya.


"Ayo masuk San, ibu ada di belakang." Ucap Mila lagi.


"Iya Mil."


"Bagaimana Mil bisnis kita?" Kata Santi.


"Alhamdulillah berjalan dengan lancar." Jawab Mila dengan senyuman khas nya yang manis.


Kemudian Santi mengecek barang dan data-data, setelah itu kembali bermain dengan El juga ibunya.

__ADS_1


"Oh iya tadi ada nak Edgar kesini!" Ucap Rara pada anaknya, Santi.


Santi tak merespon, sikapnya biasa saja hanya tersenyum ketika ibu menceritakan kedatangan Edgar.


__ADS_2